MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
77


__ADS_3

Berkali kali Mia keluar masuk rumah, menunggu David pulang yang Ia sendiri saja tak tahu kemana David pergi.


Siang tadi saat Mia bangun, Ia sudah tak melihat keberadaan David hingga malam juga David belum pulang.


"Sebenarnya kemana dia? Menyebalkan sekali bisa bisanya pergi tanpa pamit padaku!" Umpat Mia.


Krucuk ... krucuk... perut Mia terasa keroncongan karena sejak siang tadi Ia juga belum makan sama sekali.


"Ck, sebaiknya aku makan malam lebih dulu dari pada menunggu pria tua menyebalkan itu!" Ucap Mia lalu memasuki rumah.


Mia berjalan menuju meja makan, Ia melihat sudah ada Bian dan Aruna yang duduk disana sedang makan malam.


"Hey hey, apa yang kau lakukan?" Teriak Mbok Inem saat Mia menyeret salah satu kursi untuk dia duduk.


"Tentu saja aku akan duduk dan ikut makan." Balas Mia penuh percaya diri.


Bian dan Aruna diam saja, hanya memperhatikan Mia dan Mbok Inem.


"Tidak, kau tidak bisa duduk sebelum Tuan dan Nona pemilik rumah selesai makan."


Mia tertawa, "Hey wanita tua, apa kau lupa jika aku wanita pemilik rumah ini?" Tanya Mia dengan bangganya.


Mbok Inem ikut tertawa, "Wanita pemilik rumah? Apa kau tidak tahu jika pemilik rumah ini bukan Tuan David?"


Mia terkejut, wajahnya memerah malu. David bilang jika ini rumahnya tapi semua orang yang ada disini memgatakan jika ini bukan rumah David, jadi siapa yang benar?


Mia tak lagi menjawab, dengan penuh percaya diri Ia duduk dan hendak mengambil nasi dipiringnya namun gerakan tangannya terhenti kala suara Mbok Inem kembali terdengar, "Nasinya sudah ku beri racun tikus.


"Apa kau gila!" Sentak Mia.


Bian dan Aruna sontak tersenyum geli, keduanya selesai makan dan langsung pergi meninggalkan meja makan.


"Tuan dan Nona sudah selesai makan, jika kau ingin mati makan saja semua makanan yang ada disini." Kata Mbok Inem santai membuat mata Mia melotot tak percaya.


"Bagaimana bisa kau berikan racun tikus pada makanan yang masih dimeja." Protes Mia.


"Setiap malam aku melakukan ini untuk tikus yang dibelakang rumah agar tidak merusak tanaman milik Nyonya jadi jika kau ingin makan ya makan saja. Aku tidak akan tanggung jawab jika sewaktu waktu kau mati."


Mia mengepalkan tangannya, Ia benar benar marah saat ini "Apa tidak ada makanan lain? Aku sangat lapar!"

__ADS_1


"Oh tentu saja ada, tunggu sebentar." Mbok Inem berbalik untuk mengambil sesuatu didapur lalu segera memberikan pada Mia.


"Makan saja ini jika mau, jika tidak terserah mau makan apa karena bahan makanan dirumah ini sudah habis." Kata Mbok Inem lalu meninggalkan Mia.


Mia tampak melonggo melihat piring yang berisi sedikit nasi dan sepotong tempe goreng. Rasanya seperti memberi makan kucing.


"Sial, dia benar benar menghinaku. Lihat saja jika David sudah pulang aku akan meminta David untuk memecat wanita tua sialan itu!" Umpat Mia lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


Nasi yang diberikan Mbok Inem sudah habis namun Mia masih merasa lapar karena porsi makanan yang sedikit.


Mia mencari cari makanan lainnya dikulkas namun tidak ada apapun disana hanya ada sayuran mentah.


"Sial, dimana Ia menyembunyikan semua makanan!" Umpat Mia lagi lalu pergi ke kamar.


Dikamar Mbok Inem tertawa puas saat memberi pelajaran pada Mia. Ia memandangi sebuah kulkas yang ada dikamarnya, kulkas darurat tempat menyimpan makanan agar tidak ketahuan oleh Mia.


"Biar tahu rasa, salah sendiri sudah menyakiti Nyonya dan Nona dirumah ini."


Sementara itu dikamar atas, Bian dan Aruna sibuk dengan aktifitas malam mereka masing masing. Setelah makan malam, mereka tak saling bicara, langsung memasuki kamar masing masing.


Aruna melanjutkan belajar sementara Bian juga sibuk dengan laptopnya.


"Ah sudahlah, dia sangat menyebalkan!" Ucap Aruna kembali melanjutkan belajar sementara Bian yang tak tahan langsung menutup laptopnya dan pergi ke kamar Aruna.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Bian saat melihat Aruna masih belajar.


"Kenapa harus peduli?" Balas Aruna tanpa melihat ke arah Bian.


Bian menghela nafas panjang, Ia langsung mengendong tubuh Aruna membawanya ke ranjang melakukan hal yang sama seperti yang Ia lakukan siang tadi.


"Jangan melakukannya lagi jika setelah itu hanya ditinggalkan!"


Bian tersenyum, "Jadi kau marah karena itu? Kamu ingin aku melakukan hingga akhir?"


Pipi Aruna langsung saja memerah malu, "Tidak, bukan seperti itu. Setidaknya bicara lah sedikit sebelum meninggalkanku!"


Bian kembali tersenyum, "Maaf sayang, aku hanya sedang menahan diriku agar tidak melampaui batas. Aku tidak ingin kita menyesal karena melakukan sebelum waktunya." Jelas Bian lalu mengecup kening Aruna membuat Aruna tak lagi salah paham.


"Aku sudah salah paham ternyata." Ucap Aruna lalu menundukan pandangan tak menatap Bian.

__ADS_1


"Memang apa yang kau pikirkan?"


"Aku pikir Kak Bian tidak ingin melakukan denganku." Jawab Aruna dengan pipi merona membuat Bian gemas.


"Tentu saja aku ingin tapi sekarang bukan waktunya, jangan marah lagi."


Aruna mengangguk tersenyum sejenak sebelum Ia kembali cemberut, "Lalu apa kak Bian besok akan pergi dengan wanita lain?"


"Jika kamu tidak mau, mungkin..."


Aruna langsung memukul dada Bian, "Aku besok mau ikut, jangan pergi dengan wanita lain!"


Bian tersenyum geli, "Baiklah, sekarang tidurlah. Besok kita bangun pagi untuk menemani Sadam melakukan Ijab kabul lalu malamnya kita pergi ke pesta pernikahan Sadam."


Aruna mengangguk setuju, "Aku ingin tidur tapi jika seperti ini apa bisa tidur?" Protes Aruna saat Bian masih berada diatasnya.


Bian kembali tersenyum, Ia segera mengangkat tubuhnya,"Maaf aku terlalu nyaman."


"Tidurlah sekarang." Bian mengecup kening Aruna lalu mematikan lampu. Bian segera keluar saat Aruna sudah terlelap.


Tengah malam, Mia terbangun karena merasakan perutnya sangat mulas. Mia segera berlari ke kamar mandi sebelumnya Ia sempat melihat samping ranjang tidak ada David, Ya David belum pulang.


"Sial kemana pria itu pergi." Omel Mia yang saat ini sudah berada dikamar mandi.


Setelah merasa lega Mia keluar dari kamar mandi, baru selangkah Mia kembali merasa mulas hingga akhirnya Ia memasuki kamar mandi.


Berulang ulang hingga hampir dua jam Mia berada dikamar mandi.


"Sialan, aku hanya makan nasi dan tempe kenapa perutku bisa sakit seperti ini!" Kesal Mia.


Mia pergi ke dapur untuk mengambil air putih hangat, tak sengaja matanya melihat bungkusan aneh ditempat sampah saat Ia ingin membuang bungkus obat diare yang Ia temukan dikotak obat.


"Bukankah ini...."


Mia tampak mengingat sesuatu hingga akhirnya Ia sadar, jika itu obat pelancar buang air besar.


"Sialan, wanita tua itu. Berani beraninya dia membuat perutku diare!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2