
Satria duduk tertunduk didalam dinginnya lantai sel penjara. Entah apa yang Ia pikirkan saat ini, tangannya tak berhenti mengepal, sorot matanya terlihat marah dan penuh dendam.
Seorang polisi membuka pintu sel, Ia membiarkan Bian memasuki sel penjara.
"Kau terlihat senang berada disini?" tanya Bian sambil tersenyum mengejek.
Satria tidak mengubris ucapan Bian, Ia hanya menatap Bian sebentar lalu kembali menunduk.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Bian akhirnya.
"Mengambil foto foto Aruna bahkan memasang kamera cctv di kamar mandi Aruna, kau pikir kau tidak salah jika seperti itu?"
Satria akhirnya mendongak, membalas tatapan mata Bian, "Lalu aku harus bagaimana? Aku menyukai Aruna tapi dia tidak mungkin menjadi milik ku!"
"Tapi apa kau harus melecehkannya seperti itu?'' sentak Bian tersulut emosi mendengar suara Satria.
"Sudahlah, bukankah kau seharusnya sudah puas melihatku di penjara, untuk apa kau menanyakan lagi!" balas Satria acuh.
Bian tidak bisa mengontrol diri lagi, Ia menarik kerah baju Satria lalu memukul pipi Satria yang sudah lebam.
"Apa kau tidak malu? Apa kau tidak kasihan pada Ibumu yang sudah bekerja keras untukmu?"
Satria tersenyum sinis, "Dia hanya bekerja tapi tidak pernah memikirkan keadaanku, untuk apa aku peduli." ucap Satria tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kau benar benar gila dan tak tahu malu!" ucap Bian kembali memukul Satria dan kali ini berulang ulang hingga wajah Satria babak belur.
"Kau sudah melecehkan calon istriku, kau juga tidak patuh pada Ibumu, seharusnya kau mati saja!" umpat Bian masih terus memukuli Satria.
"Lalu bunuh saja aku, kau pikir aku masih ingin hidup?"
Bian menghentikan pukulannya, Ia tak tahu lagi harus seperti apa Ia memukul Satria agar pria itu bisa sadar dan menyesali perbuatannya. Tangannya sudah terasa sakit karena terlalu keras memukul Satria, wajah Satria pun juga sudah tidak nampak seperti wajah manusia.
"Membusuklah dipenjara!" kata Bian lalu pergi meninggalkan sel Satria.
Satria kembali tertunduk dilantai, Ia tersenyum sinis menatap punggung Bian yang telah pergi meninggalkannya.
"Anak manja sepertimu mana bisa merasakan apa yang kurasakan selama ini. harus melihat ibunya menyayanggi putra majikannya sementara putranya sendiri ditelantarkan" kata Satria lalu kembali tersenyum sinis.
"Bagaimana Tuan?" tanya Anak buah Bian saat melihat Bian sudah keluar dan terlihat marah.
"Dia benar benar sudah gila, aku tidak tahu lagi harus seperti apa memberinya pelajaran agar dia bisa sadar." ungkap Bian dengan wajah lelahnya.
"Maka biarkan saja dia mendekam disini selamanya Tuan, saya yakin semakin dia berada disini, Ia akan semakin menderita." kata anak buah Bian yang akhirnya membuat Bian mengangguk setuju.
__ADS_1
Bian melajukan mobilnya, semua masalahnya selesai, waktunya Ia kembali kerumah untuk istirahat.
Sampai dirumah Ia sudah disambut cemas oleh Anneta yang masih belum terlelap karena menunggunya.
"Mandilah lebih dulu setelah itu Mama ingin bicara."
Bian mengangguk, menuruti Mamanya. Ia bergegas mandi dan setelah selesai, Bian turun untuk menemui Mamanya.
"Aruna sudah tidur?" tanya Bian yang langsung duduk disamping Mamanya.
"Sudah, tadinya mau menunggumu tapi aku memintanya untuk tidur lebih dulu." kata Anneta.
"Mbok Inem tidak pulang kesini?" tanya Bian melihat ke arah dapur yang sudah sepi.
Anneta menggelengkan kepalanya, "Apa dia marah?"
Bian mengangguk, seketika tubuhnya merasa lesu karena rasa bersalahnya pada Mbok Inem.
"Dia sangat menyayanggi putranya, mungkin dia kecewa dengan keputusanmu."
"Putranya bahkan tak pantas mendapatkan Ibu sebaik Mbok Inem, dia sangat brengsek!" ucap Bian emosi.
Anneta mengelus punggung Bian, "Sudah jangan pikirkan lagi. Masalah Mbok Inem biar Mama yang urus."
"Sepertinya Aruna juga sama. Ia ingin bisa segera menikah denganmu."
"Benarkah? gadis itu benar benar." Bian tersenyum nakal.
"Lalu bagaimana dengan Mama? Apa Mama juga akan menikah dengan Mantan kekasih Mama itu?" tanya Bian dengan nada kesal seperti tak suka.
Anneta terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia menjawab, "Apa Mama boleh menikah dengannya?"
Bian menghela nafas panjang, "Menikah saja, selama dia bisa membuat Mama bahagia, Bian tidak masalah." kata Bian.
Anneta tersenyum, "Apa kamu yakin tidak apa apa Bian?"
Bian mengangguk, "Mama sudah menderita selama ini, sekarang waktunya untuk Mama bahagia."
Anneta terharu, Ia lalu memeluk Bian, "Terimakasih Nak, sudah hadir dan menjaga Mama selama ini."
Dulu saat Anneta tahu jika Ia hamil Bian, Anneta marah dan ingin mengugurkan kandungannya namun Ia urungkan niat buruknya itu.
Ia mempercayai jika calon anaknya akan membawakan kebahagiaan untuknya dan benar saja sekarang Anneta bisa merasakan betapa beruntungnya Ia memiliki Bian.
__ADS_1
"Sekarang Mama tidur, Bian nggak mau Mama malah sakit di hari pernikahan Bian." kata Bian yang langsung diangguki oleh Anneta.
Anneta masuk ke kamarnya, sementara Bian memilih masuk ke kamar Aruna lebih dulu. Bian memandangi wajah cantik calon istrinya yang sudah terlelap pulas itu.
Bian melihat tangan Aruna memeganggi selembar foto, karena penasaran Bian akhirnya melihat foto siapa itu.
Bian tersenyum memandangi foto itu, "Apa kamu sudah bahagia sekarang mengetahui orangtuamu yang sebenarnya." gumam Bian lalu mengembalikan selembar foto itu ditangan Aruna.
"Tidurlah dengan nyenyak, karena setelah menikah aku tidak akan membiarkan kamu tidur dengan nyenyak." kata Bian tersenyum nakal lalu mencium kening Aruna.
Bian keluar dari kamar, entah mengapa perasaan masih saja tak nyaman. Ia masih memikirkan tentang Mbok Inem yang marah dan kecewa padanya.
Bian mencoba mengabaikan perasaannya, memilih untuk tidur namun sayangnya Ia tak kunjung terlelap.
Tepat pukul tiga pagi, Bian memilih keluar menggunakan mobilnya pergi kerumah Mbok Inem. Entah diterima atau tidak, Bian hanya ingin minta maaf.
"Den Bian mau berangkat kerja?" tanya Mang Asep yang masih berjaga melihat Bian ingin memasuki mobilnya.
"Mau kerumah Mbok Inem. Tolong bukain pintu gerbang ya mang." pinta Bian.
Tanpa menanyakan apapun lagi, Mang Asep segera membukakan pintu gerbang.
Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tiga puluh menit dan Ia sampai dirumah Mbok Inem.
Seolah mengetahui kehadiarannya, Mbok Inem membuka pintu rumah sebelum Bian mengetuk pintu.
"jangan datang dan jangan mengharapkan apapun lagi dari ku!" ucap Mbok Inem menatap Bian penuh kebencian.
"Aku hanya ingin minta maaf."
"Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah membuat putraku dipenjara." kata Mbok Inem.
"Baiklah, teruslah membenciku jika seperti itu. Aku tidak peduli lagi apapun tentangmu. Yang bersalah akan tetap bersalah, mereka tidak akan berubah baik sebelum mendapatkan hukuman yang setimpal." ucap Bian lalu pergi meninggalkan Mbok Inem.
Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perasaanya semakin tak karuan karena permintaan maafnya tidak diterima oleh orang yang sudah merawatnya sejak kecil.
Bian semakin menambah kecepatan hingga Ia tak melihat ada truk yang menyebrang dan...
Brakkkk....
Bian yang tak bisa mengendalikan laju mobilnya akhirnya menabrak truk itu.
Bersambung...
__ADS_1