
Bian menatap kesal ke arah Aruna karena mengatakan hal seperti itu pada orangtua mereka. Bian berdiri meninggalkan meja makan padahal makanannya belum habis.
"Sayang... mau kemana? Habisin dulu makanannya." Teriak Anneta yang sama sekali tidak digubris oleh Bian.
"Kak Bian marah lagi." Aruna tertunduk lesu merasa dirinya sudah salah bicara.
"Kamu tahu dari mana kanlau Bian sudah punya calon istri?" Tanya David pada Aruna.
"Kemarin temenku ada yang ngajak Kak Bian kenalan ee kak Bian bilang gitu sama temen aku Pa, tapi pas Runa tanya Kak Bian nggak mau ngaku." Jelas Aruna membuat kedua orangtuanya terlihat berpikir.
"Kira kira siapa ya Pa, calon istrinya Bian?" Tanya Anneta.
"Jangan jangan calon istri Kak Bian, bule Ma. Kan Kak Bian lama diluar negeri." Tebak Aruna.
Anneta tampak mengangguk setuju, "Mungkin iya calon nya orang bule."
"Sudah sudah, biar nanti Papa yang cari tahu sendiri." Kata David yang langsung diangguki Anneta dan Aruna.
Selesai makan siang, Anneta memasuki kamar Bian dimana Bian sedang duduk sambil menatap layar laptopnya.
Anneta duduk dipinggir ranjang agar bisa dekat dengan Bian, "Sayang..."
"Kalau Mama kesini cuma mau nanyain calon istri lebih baik Mama keluar aja." Kata Bian yang langsung membuat Anneta gugup karena Ia kesini memang ingin menanyakan itu.
"Apa Mama nggak boleh tahu tentang putra Mama?"
"Buat apa sih Ma? Toh selama ini Mama selalu sibuk nggak pernah peduli sama aku!"
"Maaf kalau Mama nggak pernah ada waktu buat jenguk kamu diluar negeri, Mama-"
"Mama sibuk, udah tahu Bian. Jadi please Ma nggak usah ingin tahu tentang apapun!" Kata Bian sedikit menyentak.
"Oke oke, Mama akan keluar sekarang." Kata Anneta tak ingin membuat Bian semakin marah.
Anneta keluar, didepan pintu sudah ada Aruna yang terlihat cemas.
"Kakak beneran marah Ma?"
Anneta mengangguk, "Nggak usah di ganggu dulu sayang dari pada kamu kena marah." Kata Anneta lalu pergi meninggalkan Aruna.
Aruna menghela nafas panjang, tadi Ia sangat kesal hingga tak sengaja mengatakan yang tak seharusnya Ia katakan. Sekarang Aruna hanya bisa menyesali ucapannya.
Malam ini, Aruna mengantar Papa dan Mama nya yang akan berangkat.
"Jaga diri baik baik baby girl." Ucap David mengecup kening Aruna dan langsung memasuki mobil.
__ADS_1
Anneta juga melakukan yang sama, Memeluk Aruna lalu memasuki mobil yang berbeda dari David.
Dua mobil berjalan keluar dari rumah, segera Aruna masuk ke dalam setelah mobil orangtuanya tidak terlihat lagi.
"Kak Bian belum turun mbok?"
"Belum neng, dianter ke atas aja makanannya." Saran Mbok Nah yang langsung diangguki Aruna.
Aruna membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk.
Aruna memasuki kamar Bian dan melihat Bian sudah terlelap diranjangnya.
"Kak..." Aruna menggoyangkan badan Bian dengan pelan.
"Kak..." Aruna masih menggoyangkan badan Bian hingga tiba tiba Aruna merasa tangan nya ditarik dan jatuh ke pelukan Bian.
Wajah Aruna dan Bian sangat dekat, Bian langsung membuka matanya hingga mata mereka saling bertemu.
"Kak..." Aruna mencoba menyadarkan Bian karena Ia merasa sangat gugup dengan posisi seperti ini.
Dan sekali dorongan, Aruna terjungkal ke bawah.
"ADUHHH... kak Bian!" Teriak Aruna merasakan tubuhnya sakit karena didorong hingga jatuh ke bawah.
"Rasain, salah sendiri punya mulut ember!" Kata Bian menatap Aruna kesal.
"Ya emang brengsek, Lo nya aja yang bego!"
"KAK!" sentak Aruna.
"Berani Lo sama gue!" Bian menatap Aruna tajam membuat Aruna menunduk ketakutan.
"Keluar sana Lo, males gue liat Lo!" Usir Bian.
Aruna tak mengatakan apapun lagi, Ia segera berdiri dan pergi dari kamar Bian.
"Jadi cewek bandel amat dibilangin." Gerutu Bian sangat kesal.
Tengah malam Bian keluar dari kamarnya, Ia memasuki kamar Aruna. Melihat Aruna yang terlelap diranjangnya.
Bian mendekat, Ia menaikan selimut Aruna, mengecek pintu balkon dan semuanya aman.
Bian keluar dari kamar Aruna dan terkejut saat melihat Mang Torik berada didepan pintu.
"Tu tuan Bian."
__ADS_1
"Ngapain Lo disini?" Tanya Bian menatap Mang Torik curiga.
"Tuan kok ke kamar Non Aruna tengah malam begini?"
"Gue cuma mastiin nggak ada penjahat yang masuk ke kamar Aruna." Sindir Bian.
"Tapi Tuan-"
"Sekarang jawab, ngapain Lo kesini?"
"Saya cuma mau, ah itu mengambil sapu." Kata Torik mengambil sapu yang tertinggal di samping kamar Aruna.
Bian tersenyum sinis, "Gue nggak tahu apa yang sebenarnya Lo lakuin tapi sampai nanti gue tahu, mati Lo!" Ancam Bian membuat wajah Torik pucat seketika.
Bian meninggalkan Torik dan kembali ke kamarnya.
Kini Ia semakin yakin jika Torik itu pelaku yang memasang cctv dikamar Aruna dan yang sering masuk ke kamar Aruna setiap tengah malam.
Sementara itu ditempat lain, David yang kini berada disebuah hotel baru saja mendapatkan laporan jika Bian baru saja keluar dari kamar Aruna tengah malam begini.
"Sialan, anak itu benar benar semakin berani sekarang!" Umpat David membuang ponselnya.
Sejak awal kepulangan Bian, David memang sengaja meminta Mang Torik untuk mengawasi gerak gerik Bian dan memastikan jika Bian tidak menjalin hubungan terlarang dengan Aruna mengingat mereka adalah saudara meskipun bukan saudara kandung dan Bian sudah mengetahui fakta itu membuat David ketar ketir Bian akan melewati batasnya.
Seorang wanita memeluk David dari belakang, "Apa yang membuatmu marah baby?"
David berbalik dan menatap wanita itu, "Ada yang membuatku sangat kesal tapi bukan dirimu." Kata David sambil mengelus bibir tipis wanita cantik yang ada didepannya itu.
"Dan aku akan membuatmu senang agar bisa melupakan kekesalan mu sayang." Kata wanita itu mulai meraba bagian sensitif tubuh David membuat David tersenyum nakal.
David membawa wanita itu ke ranjang, "Kau semakin nakal baby, tapi aku senang kau berhasil membuatku bergairah!" Kata David mulai melucuti baju wanita muda yang kini ada dibawahnya.
"Lalu bagaimana dengan istrimu?"
"Ck, dia semakin membosankan dan membuatku tidak bergairah." Kata David memulai permainannya.
Paginya, David mengajak gadis simpanannya sarapan direstoran hotel. Mereka berdua tampak menikmati makanan yang dipesan sambil sesekali bercanda ria hingga tak sengaja mata David menatap ke arah pintu restoran dimana seseorang yang Ia kenal memasuki restoran.
Adam, pria yang kemarin datang kerumahnya memperkenalkan diri sebagai kekasih Aruna kini terlihat merangkul seorang gadis cantik seksi namun bukan Aruna.
"Bocah brengsek!" Umpat David sambil mengepalkan tangannya.
Dan Adam pun tak sengaja melihat ke arah David. Mata keduanya saling bertemu. Awalnya Adam terkejut namun sekarang Adam malah menghampiri meja David.
"Pagi Om.."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....