MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
114


__ADS_3

Beberapa hari berlalu,


Hari ini adalah hari spesial untuk Ryan dan Anneta karena mereka akan melangsungkan pernikahan.


Meskipun tidak ada pesta mewah, hanya ijab dan kabul yang disaksikan oleh keluarga namun keduanya terlihat sangat bahagia tak terkecuali Bian, yang awalnya tidak menyetujui pernikahan keduanya.


Sah ....


Sah...


Teriakan para saksi yang mengikuti proses ijab dan kabul dipernikahan Anneta.


Anneta tampak mencium tangan Ryan dibalas oleh Ryan yang mencium kening ditambah kedua pipi Anneta.


"Lihatlah pria tua itu, apa dia tidak malu mencium Mama didepan banyak orang seperti ini!" gerutu Bian pada Aruna.


Aruna tersenyum, "Kau juga bisa melakukannya jika mau."


"Tidak, aku masih mempunyai rasa malu untuk melakukan itu didepan umum." tegas Bian.


"Benarkah? Aku tidak yakin." goda Aruna mendekatkan bibinya mencoba merayu Bian namun sepertinya pertahanan Bian cukup kuat karena bisa menahan godaan Aruna.


"Aku tidak akan tergoda disini tapi nanti kalau sudah dirumah, aku tidak janji." kata Bian lalu tertawa.


Aruna hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya itu.


Semua tamu yang hadir sudah pulang, karena tidak ada pesta, hanya syukuran dan undangan pun terbatas, untuk beberapa keluarga dekat saja.


"Aku sudah tidak sabar sayang, bagaimana kalau kita masuk ke kamar sekarang?" ucap Ryan pada Anneta saat ada Bian didekatnya.


Bian berdecak kesal karena merasa sudah di ejek oleh papanya.


"Hey pria tua, apa kau tidak lihat? Masih siang dan kau sudah mau masuk kamar?" tanya Bian terdengar sinis dan menatap Ryan sebal.


"Aku sudah memastikan jika tidak ada tamu yang datang lagipula kami sudah sah menikah jadi bebas mau melakukan kapanpun kami mau." balas Ryan tak mau kalah.


Ryan kembali mencium pipi Anneta didepan Aruna dan Bian.


"Sudah hentikan, jangan menggoda putramu." kata Anneta mulai kesal dengan tingkah kekanakan Ryan dan Bian yang sama sama tak mau mengalah.


"Lihatlah, Mama mu marah sepertinya dia sudah tak tahan lagi jadi sebaiknya kalian segera pulang saja." usir Ryan sambil tertawa.


"Kami memang ingin pulang, rasane sudah malas melihat wajah pria tua tak tahu malu." ucap Bian lalu mengandeng tangan Aruna dan mengajaknya keluar dari rumah Ryan.


"Jangan keterlaluan sayang, dia bisa membencimu." kata Anneta memperingatkan.


"Tidak akan, dia tahu aku hanya bercanda. Lagipula dia kesal karena masih harus berpuasa padahal sudah ada makanan didepannya." ucap Ryan lalu tertawa.


"Ck, kalian sama saja."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Kamarku ada disebelah sana." kata Ryan menunjuk ke arah kamarnya.


"Tapi ini masih siang,"


"Tidak masalah, sudah tidak ada lagi yang datang." kata Ryan yang akhirnya diangguki Anneta.


Anneta masuk lebih dulu, sementara Ryan tampak menghampiri salah satu asisten rumah tangganya, "Bik nanti kalau ada yang datang usir saja, bilang jika pengantinnya sedang istirahat." pinta Ryan sambil tersenyum tengil.


"Siap Tuan, saya pastikan tidak ada siapapun yang datang untuk menganggu waktu romantis Tuan dan Nyonya."


"Bagus."


Ryan segera berlari menuju kamarnya, Ia sudah tak tahan dan tak bisa bersabar lagi.


Bertahun tahun Ia menahan diri dari godaan para wanita yang mendekatinya agar cinta dan jiwanya tetap utuh untuk Anneta dan sekaranglah waktu yang Ia tunggu, waktu dimana Ia bisa menikmati hari tuanya bersama Anneta.


Ryan memasuki kamar tak lupa mengunci pintunya, Ia mendengar suara gemericik air dikamar mandi pertanda Anneta sedang mandi saat ini.


"Apa aku harus menyusul?" gumam Ryan tersenyum nakal.


Ryan membuka jas hitam yang Ia pakai tak lupa melepaskan dasi yang masih terlilit dileher. Baru selangkah berjalan ingin menyusul ke kamar mandi, pintu kamar mandi sudah terbuka, Anneta keluar dan hanya mengenakan dress satin tipis yang menerawang.


Namun ada satu yang aneh, Anneta terlihat murung.


"Ada apa?"


"Sepertinya aku harus mengecewakanmu." ucap Anneta.


"Aku baru saja datang bulan."


Bak tersambar petir disiang bolong mendengar Anneta mengucapkan itu.


"Kenapa? Kenapa harus hari ini?"


"Maaf sayang... Mungkin kita bisa melakukan dengan cara lain." kata Anneta.


Ryan menggelengkan kepalanya, seketika hilang sudah rasa inginnya karena terkejut sekaligus kecewa harus menahan diri lagi.


"Sudahlah, mungkin aku harus bersabar seminggu lagi." kata Ryan dengan raut wajah lesu.


Ryan segera memasuki kamar mandi, meninggalkan Anneta yang merasa sangat bersalah.


"Ayolah Ryan, hanya seminggu menunggu kenapa harus bersikap seperti ini." gumam Ryan saat berada dikamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, Ryan dikejutkan oleh Anneta yang polos tak mengenakan apapun berdiri didepannya.


"Jangan menggodaku," pinta Ryan yang tentu saja tidak bisa menahan diri melihat Anneta seperti itu.


"Kau bisa melakukannya." kata Anneta sambil tersenyum geli berjalan mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Ryan.

__ADS_1


"Apa maksudmu? kau sedang datang bulan aku tidak akan melakukannya, aku bisa menahan diri." ucap Ryan.


"Tidak, sebenarnya aku tadi menipumu. Maafkan aku."


Ryan terkejut antara senang sekaligus kesal.


Ryan yang gemas segera mengendong tubuh Anneta membawanya ke ranjang.


"Bagaimana bisa kau melakukan itu padaku huh? Dasar nakal!"


Anneta tertawa, "Aku kesal kau mengoda Bian, seharusnya aku ingin menipumu seminggu namun aku tak tega melihat wajah lesu mu itu." ungkap Anneta membuat Ryan semakin gemas dan langsung menciumi pipi Anneta.


"Dasar nakal, aku akan menghukum mu, lihat saja." kata Ryan langsung menjelajahi tubuh Anneta menggunakan bibirnya.


"Hukumanmu terasa menyenangkan sayang." ucap Anneta membuat Ryan semakin liar.


Sementara itu Bian dan Aruna baru saja sampai dirumah. Sepanjang perjalanan Bian hanya diam, melihat ke arah luar sedangkan Aruna sendiri pun fokus menyetir mobil.


"Apa kau masih kesal?" tanya Aruna saat membuka pintu untuk Bian.


"Tidak, tiba tiba moodku sedang tidak baik, aku hanya ingin istirahat dikamar." kata Bian berjalan lebih dulu meninggalkan Aruna.


Aruna menghela nafas panjang, Ia sungguh tak tahu apa yang bisa membuat mood Bian kembali.


Aruna pergi ke dapur dimana ada Mbok Siti yang sedang mencuci piring.


"Nona Aruna cari apa?"


"Es krim." balas Aruna memperlihatkan es krim yang baru Ia ambil didalam kulkas.


Mbok Siti hanya tersenyum lalu mengangguk.


Aruna memasuki kamar yang kini juga menjadi kamarnya, Ia membawa satu bungkus es krim coklat.


"Es krim," kata Aruna membuka bungkus es krim lalu mendekatkan ke bibir Bian, "Biar bad moodnya ilang." ucap Aruna.


Bian mencoba es krim yang dibawa Aruna, melihat ada es krim yang tertinggal di bibir Bian, Aruna segera membersihkannya namun menggunakan bibirnya.


"Ck, nakal!"


Aruna tersenyum,


Aruna terdiam cukup lama, hingga Ia merasa yakin harus melakukan ini.


Aruna membuka celana Bian, melihat si otong sudah berdiri dengan tegaknya.


Aruna menelan ludahnya, "Nikmati seperti saat kamu makan es krim Runa." batin Aruna lalu mendekatkan bibirnya dan...


"****!" umpat Bian terkejut dengan apa yang Aruna lakukan.

__ADS_1


Bersambung..


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2