MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
56


__ADS_3

Bian merasa heran dengan sikap Aruna yang mendadak diam. Ya sepanjang perjalanan, Aruna hanya diam dan terlihat melamun.


"Ada apa sayang, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Bian akhirnya merasa gatal ingin tahu apa yang terjadi pada Aruna.


Aruna masih diam seolah tidak mendengar apa yang Bian ucapkan. Bian akhirnya menghentikan laju mobilnya membuat Aruna akhirnya sadar.


"Kenapa berhenti disini kak?" Tanya Aruna dengan pandangan kosong.


"Kamu tidak mendengar apa yang baru saja ku tanyakan?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Memang kakak tanya apa?"


Bian menghela nafasnya, "Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"


"Aku tidak memikirkan apapun."


"Bohong!"


"Ak aku hanya lelah kak, bisakah kita langsung pulang saja?" Tanya Aruna.


Bian mengangkat tanganya, menyentuh  pipi Aruna dan mengelusnya, "Ada apa sayang?" Tanya Bian lebih lembut lagi.


Sorot mata Aruna jelas ingin menangis namun Aruna masih pandai menahannya.


"Aku tidak apa apa kak, aku hanya lelah."


"Ck, baiklah. Kita pulang sekarang." Bian terlihat tidak ingin memaksa dan kembali melajukan mobilnya.


"Maafkan aku kak, aku hanya tidak ingin Kakak tahu tentang perselingkuhan Papa dan merasakan sakit seperti yang ku rasakan saat ini." Batin Aruna kembali menatap kosong ke arah jalanan.


Sampai dirumah, Aruna langsung mengurung diri dikamar, Ia bahkan tak turun untuk makan malam.


Bian benar benar dibuat bingung dengan sikap Aruna namun Ia akhirnya mengerti mungkin Aruna masih belum siap menceritakan apa yang terjadi padanya. Sebagai kekasih yang baik, Bian harus bisa mengerti dan tidak memaksakan apapun yang mungkin bisa menyakiti Aruna nantinya.


"Sayang, kamu belum makan." Ucap Bian yang saat ini sudah membawa nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan sayur beserta jus jeruk kesukaan Aruna.


"Aku tidak lapar kak." Balas Aruna berbaring memunggungi Bian.


Bian meletakan makanan dimeja, Ia ikut berbaring disamping Aruna, memeluk Aruna dari belakang.


"Sebenarnya apa yang terjadi hmm?" Bisik Bian dengan suara yang lembut yang entah mengapa membuat Aruna lebih tenang, apalagi pelukan Bian, menambahkan rasa nyaman untuknya.


Aruna lagi lagi hanya diam tidak menjawab Bian.


"Baiklah jika masih belum mau bercerita, tapi kamu harus makan malam lebih dulu."

__ADS_1


"Aku sudah kenyang kak, sekarang aku hanya ingin tidur." Kata Aruna.


"Jangan berbohong, perutmu bunyi, aku mendengarnya sejak tadi."


Aruna dibuat malu oleh ucapan Bian, jujur Ia memang lapar karena makan saat berada dikampus siang tadi namun jika mengingat tentang Papanya, mendadak nafsu makan Aruna hilang.


"Aku tidak ingin makan kak, aku hanya ingin tidur."


Bian benar benar gemas dengan tingkah Aruna, Ia akhirnya membalikan tubuh Aruna hingga bola mata mereka bertemu, saling memandan satu sama lain.


"Jika tidak ingin bercerita apa masalahnya setidaknya jangan menyiksa diri!" Ucap Bian yang akhirnya membuat Aruna tak tahan lagi dan menangis.


Aruna menangis sangat kencang hingga Bian membawanya ke dalam pelukan, menepuk nepuk punggung Aruna agar tangisnya segera reda.


Tidak ada lagi suara Bian, yang terdengar hanyalah isak tangis Aruna.


Cukup lama  hingga tangis Aruna reda dan Ia merasa cukup lega.


"Udah?" Tanya Bian yang langsung diangguki Aruna.


"Sekarang makan dulu." Kata Bian bangun dan mengambil nampan berisi makan malam Aruna.


Aruna ikut bangun, Ia akhirnya menerima suapan Bian karena Ia juga harus makan untuk mengisi tenaganya.


"Ck, habis juga." Cibir Bian yang langsung membuat Aruna tersenyum malu. Tadinya Aruna memang tidak ingin makan namun setelah Bian telaten menyuapinya akhirnya Aruna bisa menghabiskan makan malamnya.


Keduanya berjalan menuju balkon kamar, Bian duduk dilantai diikuti Aruna.


Bian menggeser tubuh Aruna hingga keduanya sangat dekat.


"Langit cerah, ada banyak bintang disana." Kata Bian menunjuk ke arah langit.


Aruna tidak mengatakan apapun, Ia memilih bersandar dibahu Bian.


"Apa rasanya sangat menyakitkan?" Tanya Bian akhirnya.


Aruna mengangguk,


"Siapa yang sudah menyakitimu hmm?" Tanya Bian dan lagi lagi Aruna hanya diam.


Bian mencoba menebak nebak apa yang terjadi pada Aruna, tidak mungkin jika karena Adam karena Adam sudah dipenjara, atau mungkin ada ucapan Papa Mama yang menyakiti Aruna? Bian akhirnya bingung sendiri dengan tebakannya.


Keduanya sama sama diam, hanya memandangi langit, mengenggam tangan satu sama lain.


"Tadi aku ke kampus kak."

__ADS_1


Bian mengerutkan keningnya, "Bukan nya tadi..."


"Nggak jadi nungguin Mama, soalnya Mama maunya ditungguin Papa akhirnya aku ke kampus, pulang dari kampus aku ke klinik lagi."


Bian tersenyum, mengelus kepala Aruna, "Jadi karena itu kamu nangis? Wajar sayang Mama lagi down gara gara keguguran jadi mungkin dia cuma mau ditemenin Papa, jangan diambil hati oke."


"Bukan karena itu Kak."


Bian kembali mengerutkan keningnya, "Trus karena apa?"


Aruna menggelengkan kepalanya, Ia ingin menceritakan semua pada Bian namun Ia takut jika Bian malah emosi.


"Cium kak."


"Haa?" Bian terkejut tak mengerti maksud Aruna.


Aruna bangun dan langsung duduk dipangkuan Bian, tanpa mengatakan apapun, Aruna langsung ******* bibir Bian.


Bian tentu saja tidak menolak permintaan nakal Aruna, Ia akhirnya ikut menyesapi bibir Aruna.


Nyaman, itulah yang Aruna rasakan saat berciuman dengan Bian.


Cukup lama keduanya berciuman, Bian ingin melepaskan ciumannya namun Aruna masih menahan hingga ciuman keduanya berlanjut.


Aruna akhirnya melepaskan ciuman Bian, bola mata keduanya bertemu, Aruna melihat mata Papanya saat melakukan dengan wanita itu seperti mata Bian saat ini.


Aruna memang belum berpengalaman tentang hal seperti ini namun Aruna paham, sorot mata Bian terlihat Ingin dan penuh dengan cinta.


Aruna ingat dengan jelas apa yang dilakukan Papanya dengan wanita itu. Aruna bahkan mencoba melakukan apa yang Ia lihat siang tadi.


Tangan Aruna mengelus dada Bian membuat nafas Bian memburu. Aruna memajukan bibirnya dan menempelkan dileher Bian.


Nafas Bian semakin memburu, tangan Bian bahkan meremas kedua pinggang Aruna. Apa yang mereka lakukan saat ini seperti apa yang Aruna lihat siang tadi.


Rasanya sungguh luar biasa, sensasi sensasi yang belum pernah Aruna rasakan sebelumnya, sangat menenangkan juga menyenangkan.


Bian yang sadar jika ini salah akhirnya menghentikan pergerakan bibir Aruna, "Apa yang kamu lakukan, aku mungkin tidak bisa berhenti jika sudah memulainya." Ucap Bian dengan suara serak.


"Lalu lakukan saja kak..."


Bian mengeram, Ia mengangkat tubuh Aruna dan membawanya ke ranjang, kini Bian sudah berada diatas Aruna, membalas apa yang sudah Aruna lakukan padanya. Menjelajahi leher Aruna menggunakan bibirnya membuat Aruna mengeliat dan mengeluarkan suara yang akhirnya membuat Bian sadar.


"****! Apa yang sebenarnya terjadi padamu!" Sentak Bian dan akhirnya Aruna menangis.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yah


__ADS_2