
Aruna memasuki kamarnya, tubuhnya terasa sakit karena perlakuan brutal sang Kakak.
"Emang gila tuh orang, bisa bisanya dia banting gue, mentang mentang badan gue kecil jadi semena mena ama Gue!" Umpat Aruna yang kini sudah berbaring di ranjang kamarnya.
Aruna membuka ponselnya, terdapat sepuluh panggilan tak terjawab dari Adam juga lima pesan yang belum Ia buka.
Kamu baik baik aja kan sayang?
Kak Bian marah lagi?
Kamu nggak di apa apain kan?
Apa aku harus kesana?
Sayang bales.
Satu persatu pesan dari Adam Ia baca dan tersenyum senang melihat betapa perhatiannya Adam padanya.
"Ck, emang nggak salah nih, punya pacar super perhatian." Gumam Aruna tersenyum senang dan langsung mendial nomor Adam.
"Halo sayang, kamu nggak apa apa kan?" Tanya Adam terdengar sangat khawatir namun suara Adam terdengar kecil karena ada suara musik yang mendominasi membuat suara Adam tidak jelas.
"Enggak apa apa kak, maaf baru bales soalnya baru buka hp." Jelas Aruna.
Suara musik berganti jedag jedug yang ramai, bahkan Aruna tidak lagi bisa mendengar suara Adam.
"Kakak lagi dimana?" Tanya Aruna penasaran.
"Lagi ditempat eventnya temenku. Dah dulu ya sayang." Kata Adam langsung mematikan panggilan sepihak.
Aruna mengerutkan keningnya, "Emang ada event malam begini?" Batin Aruna menggelengkan kepalanya tidak ingin terlalu memikirkan.
Aruna meletakan ponselnya dan segera tidur.
"Siapa?" Tanya Keisha melihat Adam ditelepon seseorang dan terlihat menyembunyikan ponselnya.
"Biasa Nyokap ngirim transferan uang."
"Oh." Keisha kembali meneguk segelas whisky nya.
"Jangan banyak banyak, ntar mabuk pusing gue!" Adam mengingatkan.
"Biarin lah, gue masih kesel!"
"Kesel kenapa? Ribut lagi sama Nyokap Lo?"
"Biasalah." Balas Keisha kembali meneguk minumannya hingga habis. Keisha berbohong, Ia kesal bukan karena orangtuanya namun karena pria yang kemarin malam menolaknya, entah mengapa masih membuat Keisha kesal.
"Hotel aja lah dari pada pusing disini." Ajak Adam.
Keisha tersenyum, "Mesum amat bang!"
Adam ikut tersenyum, "Tapi Lo suka kan?"
__ADS_1
Keisha tidak membalas, Ia langsung berdiri meski sempoyongan berjalan keluar club diikuti Adam.
Sementara itu, Bian memasuki kamar Aruna dan melihat Aruna sudah terlelap di ranjangnya.
Bian mengambil ponsel Aruna, Ia lalu membuka ponsel Aruna yang tidak dikunci itu.
Ada satu nama kontak yang membuat Bian kesal seketika, Sayang dengan emote love.
Bian ingin menghapus kotak itu namun seketika Bian urungkan karena Bian tidak ingin Aruna tahu jika Bian mengecek ponsel Aruna.
Bian kembali fokus dengan tujuannya kesini, Bian segera memasang alat pelacak diponsel Aruna karena mulai besok Ia sudah disibukan dengan pekerjaan jadi mungkin dengan alat ini Bian bisa mengontrol keberadaan Aruna.
Selesai memasang, Bian meletakan kembali ponsel Aruna. Bian memandangi wajah Aruna sejenak, Ia saat ini memang sedang kesal karena Aruna memiliki kekasih namun rasa kesalnya tidak menghilangkan rasa sayang pada Aruna yang sudah tumbuh entah sejak kapan.
Bian mengecek pintu balkon dan sudah di kunci, Bian akhirnya kembali ke kamarnya untuk tidur.
Paginya, Aruna bangun dalam keadaan senang. Yah Ia sangat senang jika mengingat saat ini sudah menjadi kekasih Adam, pria yang sudah lama Ia sukai itu.
Aruna membuka ponselnya, Ia melihat tidak ada satu pesan dari Adam. Aruna memutuskan untuk mendial nomor Adam.
Satu panggilan tidak dijawab, Aruna tidak menyerah, Ia mendial nomor Adam lagi karena Aruna pikir Adam masih tidur.
Dan panggilan kedua dijawab namun membuat Aruna sangat terkejut,
"Siapa sih Lo! Ganggu tidur aja." Ucap seseorang lalu mematikan panggilan sepihak.
Deg ... jantung Aruna berdetak sangat cepat, tangannya tiba tiba bergetar mendengar jika yang menerima panggilan dan mengumpat tadi adalah seorang wanita.
Sementara itu Adam yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Keisha baru saja meletakan ponselnya.
"Ngapain?"
"Barusan ada yang telepon, sumpah ganggu banget. Kenapa sih nggak disilent aja." Omel Keisha kembali berbaring dan menarik selimutnya hingga menutupi tubuh polosnya.
"Siapa yang telepon?" Adam terlihat khawatir.
"Tau deh, Lo liat aja sendiri." Balas Keisha acuh lalu kembali memejamkan matanya.
Adam sedikit panik, Ia berharap bukan Aruna yang menelepon namun sepertinya semua tidak sesuai harapannya karena benar, Aruna yang baru saja menelepon.
Adam keluar ke balkon hotel, Ia kembali mendial nomor Aruna karena tidak ingin Aruna tahu segalanya.
Satu panggilan tak dijawab, dua panggilan hingga tiga panggilan masih tak dijawab.
"Sial, dia pasti marah!" Gumam Adam kembali mendial nomor Aruna dan barulah dipanggilan keempat Aruna menerima panggilan Adam.
Tampak Aruna hanya diam saja,
"Sayang..." sapa Adam.
"Kak Adam." Barulah terdengar suara Aruna.
"Tadi aku telepon kakak tapi yang angkat cewek, siapa kak?"
__ADS_1
"Ck, itu adikku. Tadi aku lagi mandi dan dia masuk kamar mau pinjem topi trus dia denger suara ponsel aku jadi diangkat sama dia, emang gitu dia anaknya, suka rese." Jelas Adam.
Terdengar helaan nafas lega dari arah Aruna, "Ya udah kak, aku pikir siapa."
"Kamu pasti mikirnya aku selingkuh kan?" Tebak Adam.
"Hehehe iya kak." Aruna terdengar cengengesan.
"Jangan negatif thingking ya sayang, aku selalu setia kok sama kamu."
"Iya kak maaf ya."
"Ya udah aku mau siap siap dulu, ada kelas pagi. Nanti aku samperin kamu ya sayang."
"Iya kak."
Adam mengakhiri panggilannya, merasa sedikit lega karena Aruna percaya dengan ucapannya.
Adam kembali masuk ke kamar, melihat Keisha kembali terlelap. Adam menghampiri Keisha, Ia menciumi pipi Keisha, menganggu tidur Keisha.
"Nggak kuliah?"
"Nggak ah males!" Balas Keisha dengan mata masih terpejam.
"Gue berangkat kampus dulu, Lo ntar checkout sendiri nggak apa apa kan?" Pamit Adam yang diangguki Keisha.
Adam menatap Keisha sekali lagi sebelum akhirnya Ia keluar dari kamar hotelnya.
Sementara itu, Aruna keluar dari kamarnya dalam keadaan happy. Padahal Ia sempat menangis di kamar mandi karena mengira Adam selingkuh namun saat Adam menelepon dan menjelaskan semua padanya membuat Aruna sangat lega.
Dimeja makan, Aruna melihat Bian asyik menikmati sarapan sambil memainkan ponselnya.
"Pagi kak Bian..." sapa Aruna ramah meskipun semalam terjadi pertengkaran diantara mereka namun Aruna terlihat baik baik saja.
Bian tidak menjawab, Ia masih acuh dan sibuk dengan ponselnya.
"Ciee... yang lagi chat sama calon istrinya sampai adiknya dikacangin." Goda Aruna.
Bian menatap Aruna, "Lo mau dibanting lagi?"
Seketika Aruna menggelengkan kepalanya, "Canda doang kak, sensi amat kayak jomblo!"
Baru ingin menjitak kepala Aruna, suara teriakan seseorang membuat keduanya terkejut.
"Biaaaaaaann, nggak boleh nakal!"
Bian dan Aruna melihat ke arah suara dan ...
"Mama ... Papa..." Aruna terlihat girang dan langsung menghambur ke pelukan kedua orangtuanya itu berbeda dengan Bian yang tampaknya tidak menyukai kepulangan orangtuanya.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komennn
__ADS_1