
Melihat mata Aruna memerah ingin menangis membuat Bian sadar akan ucapannya. Bian sadar jika tidak seharusnya Ia mengucapkan kata menyakitkan itu pada Aruna.
Bian saat ini memang sedang marah. Marah mendengar kehamilan Mama, mengingat Papa nya sudah memiliki wanita lain, Bian tidak ingin membuat Mamanya sampai terluka jika Mama mengetahui fakta perselingkuhan Papanya yang sudah lama diketahui oleh Bian.
Aruna berdiri, hendak pergi namun Bian menahan tangannya, menarik tangan Aruna hingga jatuh ke pangkuan Bian.
Bian langsung memeluk erat Aruna, "Maaf, maafkan aku sayang." Bisik Bian semakin mempererat pelukannya yang akhirnya membuat Aruna menangis.
"Hey, jangan menangis." Kata Bian semakin merasa bersalah.
"Aku tidak pernah nakal, bahkan tidak pernah melakukan apapun yang tidak kakak sukai tapi kenapa kakak sangat membenciku?" Ucap Aruna masih sesenggukan menangis.
"Aku tidak membencimu, tidak lagi. Aku hanya sedang kecewa dan marah. Maafkan aku." Kata Bian mengecupi kening Aruna berkali kali membuat Aruna sedikit tenang.
"Apa yang membuat kakak marah? Bukannya kita harus bahagia karena sebentar lagi kita memiliki adik." Tanya Aruna saat Ia sudah berhenti menangis.
"Aku tidak benci memiliki adik, hanya saja keadaan yang membuatku marah dan benci mendengar Mama hamil."
"Keadaan seperti apa kak?" Tanya Aruna penasaran.
"Cukup aku saja yang tahu, kamu jangan sampai tahu." Kata Bian membuat Aruna memanyunkan bibirnya.
Bian tersenyum, lalu mengusap pipi Aruna yang basah, "Maafkan aku sudah membuatmu menangis." Ungkap Bian merasa bersalah.
"Ck, padahal dulu saat aku masih kecil kakak suka membuatku menangis." Protes Aruna.
"Karena dulu aku membencimu." Ungkap Bian membuat raut wajah Aruna terlihat sedih.
"Aku membencimu karena setelah kamu datang, kamu mendapatkan kasih sayang full dari Papa dan Mama sementara aku, seperti orang asing dirumah ini." Akui Bian membuat Aruna merasa tidak enak.
"Tapi benar kata orang, jika kita membenci seseorang secara berlebihan malah membuat kita mencintai orang itu pada akhirnya." Kata Bian sambil tersenyum. Hati Aruna yang tadinya sakit pun kini sudah meleleh bergantikan dengan senyuman tipis mengemaskan khas Aruna.
"Sejak kapan kakak jatuh cinta padaku?" Tanya Aruna mengingat selama ini mereka terpisah dan baru bertemu lagi sebulan yang lalu.
"Eumm....rahasia."
Aruna berdecak membuat Bian gemas dan langsung ******* bibir Aruna.
Tanpa mereka sadari, dari gerbang ada seorang pria yang menatap ke arah mereka dengan tangan mengepal.
Aruna melepaskan paksa ciuman Bian, "Bagaimana jika Papa dan Mama tahu kak?" Tanya Aruna khawatir.
"Itu malah lebih bagus, jadi kita bisa segera menikah."
__ADS_1
Pipi Aruna langsung saja memerah mendengar Bian mengatakan tentang pernikahan, tak menyangka jika Bian sangat serius dengan hubungan mereka.
"Tapi aku masih kuliah."
"Tidak masalah."
"Apa Mama dan Papa akan setuju jika kita menikah?" Tanya Aruna.
Bian terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Aku juga tidak tahu."
"Bagaimana jika Papa dan Mama tidak setuju kak?"
"Kita akan tetap menikah."
Aruna tersenyum, "lalu bagaimana dengan calon isti Kak Bian?"
Bian berdecak, "Sudah sana tidur, jangan tanyakan apapun lagi!"
Aruna terlihat kecewa karena Bian tidak menjawab, namun akhirnya Ia mengerti.
"Baiklah aku akan tidur sekarang." Aruna berdiri namun sedetik kemudian Bian kembali menarik tangannya hingga Ia kembali jatuh ke pangkuan Bian.
Dan tanpa mengatakan apapun, Bian kembali mencium bibir Aruna dan kali ini ciumannya lebih panas.
Keduanya melepaskan ciuman setelah cukup lama berciuman. Aruna tersenyum malu lalu pergi meninggalkan kamar Bian.
"Sabarlah sebentar lagi." Kata Bian sambil memandangi miliknya dibawah sana yang ingin memberontak keluar.
Sementara, Aruna segera mengunci pintu kamarnya, jantungnya masih berdegup sangat kencang. Aruna memegangi bibirnya lalu tersenyum, Bian pria pertama yang menjamah bibirnya.
"Ck, apa seperti ini rasanya jatuh cinta pada orang yang tepat?" Gumam Aruna mengingat saat pertama bersama Adam Ia malah tidak mau disentuh bahkan dicium namun bersama Bian, malah dirinya yang kadang ingin mencium Bian.
Aruna kembali tersenyum, Ia merasa gila karena jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Pagi ini masih weekend, semua orang sarapan bersama dimeja makan namun hening tidak ada yang berbicara. David, Anneta, Aruna dan Bian saling diam dengan pikiran masing masing. namun Sesekali Aruna dan Bian saling melirik dan tersenyum.
"Aku harus berangkat sekarang." Kata David mencium kening Anneta lalu berdiri dari duduknya.
"Papa berangkat dulu," ucap David sambil menepuk bahu Aruna.
Sementara Bian, tampak acuh tak mengatakan apapun.
"Memang ada kantor yang buka saat weekend?" Sindir Bian namun percuma karena David sudah pergi.
__ADS_1
"Ada yang harus di urus Papa dikantor." Jelas Anneta membela David.
"Ck, urusan apa dengan pakaian santai seperti tadi."
"Kak..." Aruna memberikan kode pada Bian agar berhenti namun Bian malah mendengus sebal.
"Mama lihat setelah Kamu pulang dari luar negeri kamu sangat membenci Papa mu, ada apa Bian?" Tanya Anneta akhirnya.
"Bian nggak benci Papa Ma." Sangkal Bian.
"Jangan berbohong Bian."
"Nggak ada alasan Bian benci sama Papa." Kata Bian lalu berdiri dan pergi meninggalkan meja makan.
"Sudah Ma, jangan dipikirkan lagi. Mama lagi hamil jangan banyak pikiran." Kata Aruna yang akhirnya diangguki Anneta.
Saat ini Anneta memang sangat sedih melihat putra sulung dan suaminya yang seolah tidak menyukai kehamilan Anneta. Kehamilan kedua yang sangat ditunggu Anneta meskipun Ia sudah memiliki Bian dan Aruna namun tetap saja, Anneta ingin memiliki anak lagi.
Anneta juga tidak tahu apa yang membuat suaminya tidak menyukai kehamilannya saat ini padahal dulu David juga pernah berharap ingin Anneta hamil lagi dan sekarang saat Anneta sudah hamil, David berbalik sikap tidak menyukainya.
Selesai sarapan, Aruna memasuki kamar Bian dimana Bian tengah memainkan ponselnya sambil duduk disofa.
Saat ini Bian sedang membaca pesan dari Sadam yang mengatakan jika Adam dipenjara karena kasus narkoba.
Jika melihat Adam secara jelas sepertinya Adam bukan pengguna narkoba namun mengingat ada Papa nya dibelakang Adam sudah pasti apa yang terjadi saat ini ulah Papanya.
"Kak..."
"Hmmm...."
"Mama sedang hamil kalau bisa jaga perasaan Mama. Kasihan Mama." Kata Aruna menasehati Bian.
Bian menghela nafas panjang, "Apa kamu mengajariku huh!" Bian meletakan ponselnya lalu membawa Aruna ke dalam dekapannya.
"Aku tidak ingin Mama kenapa napa kak." Ungkap Aruna terlihat khawatir.
Bian tersenyum, "Rasanya aku ingin membuatmu hamil agar aku juga bisa mengkhawatirkanmu." Celoteh Bian membuat Aruna melotot lalu memukuli dada Bian.
"Jangan sembarangan kalau bicara kak!"
"Aku serius, apa kau menantangku?" Bian mendekatkan wajahnya, ingin mencium bibir Aruna namun keduanya dikejutkan oleh pintu yang terbuka.
"Bian Ma-, apa yang kalian lakukan!"
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaa