
Malam semakin larut namun Bian masih belum bisa memejamkan matanya.
Pikirannya masih tertuju pada Aruna, gadis yang sangat Ia cintai saat ini.
Bian membuka ponselnya, kembali membaca pesan dari Nysa yang mengatakan jika Aruna sangat sedih namun yang membuat Bian lega, Aruna tidak mogok makan. Ya meskipun Aruna sedih namun Aruna masih bisa makan seperti biasa.
Bian menutup ponselnya, Ia bangkit dari ranjangnya, keluar kamar berjalan menuju kamar Aruna.
Bian berbaring diranjang Aruna, memeluk guling milik Aruna yang biasa Ia digunakan oleh Aruna.
"Ck, kenapa aku bisa seperti ini hanya karena gadis sepertimu." Omel Bian menatap guling Aruna.
"Kau pikir hanya kau saja yang sedih dan kecewa, aku pun juga sangat sedih dan kecewa!" Omel Bian lagi lalu meninju guling itu namun setelahnya Bian malah memeluk guling Aruna.
"Aku sangat merindukanmu!"
Di apartemen, hal yang sama juga dirasakan oleh Aruna.
Ia tak bisa memejamkan mata padahal disampingnya Nysa sudah terlelap hingga terdengar suara dengkuran yang membuat Aruna semakin terganggu.
Aruna berdecak, biasanya Ia tak sekesal ini hanya karena suara dengkuran Nysa.
Aruna bangkit dari ranjang, berjalan keluar kamar.
Aruna minum segelas air putih, perutnya terasa keroncongan padahal Ia sudah makan banyak sebelum tidur. Memang sudah menjadi kebiasaan Aruna jika sedang sedih, nafsu makannya malah meningkat, sangat berbeda dengan kebanyakan orang yang justru tak nafsu makan saat sedang sedih.
"Ck, aku lupa tidak belanja." Gumam Aruna membuka kulkas yang kosong hanya ada beberapa lembar roti tawar sisa sarapan pagi tadi.
Aruna mengambil roti tawar itu dan langsung melahapnya untuk menggajal perutnya yang lapar.
Selesai makan Aruna berbaring disofa, berharap Ia bisa terlelap disana namun sayangnya Ia masih belum bisa terlelap. Pikirannya kembali tertuju pada Bian.
Aruna sangat merindukan Bian malam ini.
"Apa besok dia akan datang?" Gumam Aruna penuh harap.
Esoknya...
Aruna bangun lebih awal, Tidurnya tidak nyenyak sama sekali, Ia memutuskan untuk pergi ke pasar pagi ini. Belanja untuk mengisi kulkasnya yang kosong.
Sebelum berangkat, Aruna sempat menuliskan note untuk Nysa yang masih terlelap, mengatakan jika Aruna pergi ke pasar agar saat Nysa bangun tidak kebingungan mencarinya.
Aruna memesan ojek online, sampai dipasar segera Aruna mencari barang yang Ia butuhkan.
Aruna keluar dari pasar setelah selesai belanja, Ia merogoh kantongnya mengambil ponsel untuk kembali memesan ojek online namun sayangnya ponselnya mati karena baterainya habis.
__ADS_1
"Ck, bagaimana ini." Gumam Aruna kebingungan karena Ia belum terlalu mengenal tempat ini.
"Nona Aruna..." suara seseorang yang tak asing memanggil namanya membuat Aruna menoleh dan ternyata itu Satria, putra mbok Inem.
Aruna tersenyum menatap Satria, sedikit lega karena melihat Satria disini.
"Apa yang Nona lakukan disini? Nona sendirian?" Tanya Satria melihat ke sekitar dan tidak ada siapapun yang menemani Aruna.
"Aku baru saja berbelanja dan saat ingin kembali memesan ojek online ponselku malah mati." Ungkap Aruna.
Satria tersenyum lebar, "Nona mau diantar?"
"Aku takut merepotkanmu, apa didepan ada taksi lewat?" Tanya Aruna.
"Tidak ada taksi yang lewat sini nona, biarkan saya yang mengantar Nona."
Aruna akhirnya mengangguk karena Ia juga butuh bantuan.
"Maaf jika merepotkanmu." Ucap Aruna.
"Tidak masalah Nona saya justru senang."
Satria segera melajukan motornya meninggalkan pasar.
"Dimana saya akan mengantar Nona?" Tanya Satria.
Satria kembali tersenyum, "Saya tahu Nona, jadi sekarang Nona tinggal disana?"
"Ya, Kak Bian meminta ku tinggal disana, aku tidak tahu kenapa dia memintaku tinggal disana." Ucap Aruna terdengar kesal jika mengingat itu.
"Mungkin Tuan ingin Nona agar bisa lebih mandiri." Kata Satria menghibur Aruna.
"Ck, sepertinya bukan masalah itu." Decak Aruna.
"Atau mungkin...."
"Mungkin apa?" Tanya Aruna karena Satria tak melanjutkan ucapannya.
"Tidak Nona, saya takut salah bicara."
"Katakan saja, apa itu?"
"Kemarin saya melihat Tuan Bian membawa pulang seorang gadis cantik, kebanyakan saudara pria tak ingin di ganggu oleh adik perempuan mereka jika sudah memiliki kekasih jadi mungkin itu alasan Tuan ingin tinggal terpisah dengan Nona." Jelas Satria yang langsung membuat Aruna terkejut.
"Seorang gadis? Siapa dia?"
__ADS_1
"Saya belum pernah melihat dia kerumah Nona, tapi keduanya terlihat mesra."
Jantung Aruna memompa semakin cepat, entah mengapa dadanya tiba tiba terasa sesak.
"Apa kau yakin tidak salah lihat?"
"Tidak Nona."
Aruna terdiam, Ia melihat hari manisnya dimana ada sebuah cincin yang tersemat disana, cincin pemberian Bian.
"Tidak mungkin, kak Bian akan segera menikahiku jadi tidak mungkin Kak Bian memiliki wanita lain." Batin Aruna sambil terus memandangi jari tangannya hingga tak sadar jika motor yang Ia tumpangi sudah berhenti didepan gedung apartemen.
"Biar saya antar ke dalam Nona." Kata Satria meminta barang bawaan Aruna.
"Tidak perlu disini saja. Terima kasih sudah mengantarku." Kata Aruna.
Satria tampak memaksa, Ia meminta barang bawaan Aruna, "Biarkan saya yang membawa Nona, saya tidak akan masuk ke dalam apartemen Nona, hanya ingin mengantar sampai didepan pintu." Kata Satria.
Karena pikiran sedang kacau dan kalut, Aruna akhirnya mengangguk, menyetujui Satria yang ingin mengantarnya masuk ke apartemen.
Nomor dua ratus tujuh, Satria tersenyum lebar kala sudah mengetahui nomor apartemen milik Aruna. Ia meletakan kantong belanja didepan pintu.
"Terima kasih dan maaf sudah merepotkan mu." Kata Aruna.
"Sama sama Nona, kalau begitu saya permisi dulu Nona." Ucap Satria pamit.
Aruna berdiri cukup lama didepan, Ia tak kunjung masuk menunggu Satria pergi lebih dulu.
Setelah Satria tak lagi terlihat, Aruna membawa kantong belanjanya lalu berjalan mendekati lift. Aruna naik satu lantai lagi karena apartemennya nomor tiga ratus tujuh belas bukan dua ratus tujuh. Aruna terpaksa melakukan itu karena Ia mengingat ucapan Bian jika Aruna tidak boleh mempercayai siapapun.
Selama ini Aruna tidak melihat ada yang aneh tentang Satria, namun setelah mendengar Satria menceritakan hal buruk tentang Bian baru saja tentu membuat Aruna tak suka.
Aruna tidak percaya dan tak akan terpengaruh ucapan Satria karena Ia lebih mempercayai Bian.
Bian sangat mencintainya, Aruna tahu itu dan Bian tidak akan mungkin mengkhianatinya.
Bahkan membawa gadis pulang kerumah terdengar seperti omong kosong. Bian tidak akan mungkin melakukan itu.
Entah apapun alasannya, Aruna merasa yakin bukan karena gadis lain.
Aruna membuka pintu apartemen, baru selangkah memasuki apartemen Ia melihat Bian berdiri didepannya dengan raut wajah khawatir.
"Bagaimana bisa aku percaya dengan ucapan orang lain sementara kamu selalu membuatku yakin akan cinta tulusmu itu kak." Batin Aruna tanpa sadar tersenyum menatap Bian yang akhirnya ikut tersenyum menatapnya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen