
Mia benar benar tak menyangka sore tadi ada pria yang menghubunginya. Rico, pria tampan yang pernah berkencan satu malam dengannya mengirimkan pesan untuknya dan mengatakan jika Rico ingin bertemu lagi.
Tentu saja pesan Rico di tanggapi oleh Mia karena Mia memang menyukai Rico meskipun Mia tahu jika mungkin Rico hanya menginginkan tubuhnya bukan cintanya namun Mia tidak peduli selama Ia bisa melampiaskan rasa bosannya karena setiap hari hanyalah David, pria tua yang selalu Ia lihat. ya meskipun David juga tampan dan kaya namun David sangat membosankan untuk Mia.
Setelah mendapatkan izin dari David, malam ini Mia meninggalkan rumah mewah David dengan menaiki taksi yang Ia pesan melalui aplikasi online.
Sampai diclub, Mia langsung masuk dan melihat Rico sudah menunggunya.
"Kau terlihat semakin cantik dan seksi." Puji Rico saat Mia berjalan mendekatinya.
"Kau juga terlihat semakin tampan." Balas Mia langsung duduk dipangkuan Rico.
"Aku tidak menyangka kau menghubungiku." Ucap Mia menyadarkan dua tangannya dibahu Rico.
Rico tersenyum nakal, "Karena aku sangat merindukanmu."
"Baiklah, apa kita langsung pergi ke hotel saja?" Tawar Mia seolah tak sabar ingin bercinta dengan Rico.
"Kau yakin tidak minum dulu baby? Aku sudah memesan banyak minuman untukmu." Ucap Rico sambil menunjuk beberapa botol minuman yang sudah Ia pesan.
"Tidak, aku lebih suka bercinta dari pada minum."
Rico tersenyum, pekerjaan yang Bian berikan bukanlah hal yang sulit, menjebak Mia adalah hal yang sangat mudah untuknya.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." Ajak Rico.
Keduanya pun keluar dari club, berjalan ke samping club dimana ada sebuah hotel disana.
"Pakai uangku saja." Kata Mia menyodorkan kartu kreditnya.
"Apa kau meremehkan aku? Aku juga punya uang." Kata Rico memperlihatkan kartu kredit pemberian dari Bian. Dulu saat pertama Ia mengajak Mia berkencan memang bukan Rico yang membayar melainkan Mia dan saat ini jika saja bukan karena pekerjaan dari Bian mungkin Rico juga tak sudi membayar kamar bersama Mia.
"Kau terlihat berbeda." Puji Mia tak menyangka jika Rico membayar kamar yang mereka gunakan untuk bercinta karena dulu dirinyalah yang membayar kamar mereka.
"Apa kau suka?"
"Tentu saja."
Rico tersenyum, segera mengajak Mia ke kamar yang sudah Ia pesan. Disana Rico segera menuangkan minuman lalu obat perangsang tanpa sepengetahuan Mia.
Meskipun tanpa obat perangsang pun Mia akan menurut namun Rico ingin video yang dibuat nanti terlihat Mia lah yang nakal bukan dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kau memasang kamera?" Heran Mia saat keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan ligerie seksi, melihat Rico sibuk memasang kamera di segala arah.
"Karena aku ingin memiliki kenangan bersama mu, apa tidak boleh?"
Mia tampak bingung, disatu sisi Ia tidak ingin direkam karena mungkin akan membahayakan dirinya namun di sisi lain Ia juga tak ingin membuat Rico kecewa.
"Kalau tidak boleh aku akan memasukan ke tas lagi." Kata Rico terlihat kecewa.
"Jangan, direkam saja tidak masalah."
Rico tersenyum senang, Setelah kamera aktif, Ia membawa gelas berisi minuman lalu Ia berikan pada Mia.
"Minumlah sayang." Ucap Rico yang langsung diangguki Mia. Mia meneguk minuman itu hingga habis lalu meletakan gelas dimeja.
Mia berjalan mendekati Rico, langsung menyandarkan kedua tangannya dibahu Rico.
"Kau semakin tampan." Gumam Mia yang sudah merasakan pusing efek dari alkohol yang Ia minum.
"Benarkah?"
Tangan Rico mulai nakal, memberikan sentuhan sentuhan ditubuh Mia yang membuat Mia merasakan sensasi luar biasa.
Mia tampak garang dan paling bersemangat sementara Rico hanya pasrah saja dibawah menikmati setiap gerakan Mia yang sebenarnya rasanya biasa saja.
Tiga kali ronde membuat Mia kelelahan dan akhirnya terlelap.
Rico tersenyum puas, Ia segera mematikan kameranya. Melihat Mia terkapar diranjang tanpa sehelai benang pun.
Rico memiliki ide lain, Ia akhirnya memberikan banyak tanda merah dileher dan dada Mia, karena jika Mia sadar, Rico tidak akan boleh melakukan itu.
"Sudah selesai dan sekarang waktunya untuk pergi!" Ucap Rico memberesi semua barangnya lalu pergi meninggalkan Mia yang terlelap.
Paginya... Mia bangun dan merasakan kedinginan, Ia akhirnya sadar jika tidak ada selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Pantas saja dingin." Gumam Mia.
Ia melihat ke sekitar, kosong tidak ada siapapun.
"Dimana Rico? Apa dia mandi?" Gumam Mia yang langsung tersenyum nakal.
"Aku akan masuk dan menggodanya lagi."
__ADS_1
Mia bangun, masih dalam keadaan tubuh polos Ia memasuki kamar mandi namun kosong tidak ada siapapun.
Mia mengambil handuk lalu melilitkan ke tubuhnya, Ia keluar dari kamar mandi, tas yang dibawa Rico sudah tidak ada menandakan jika mungkin Rico sudah pulang.
"Kenapa dia tidak menungguku!" Mia terlihat kesal karena Ia memang benci jika ditinggal sendirian.
Mia mengambil ponselnya, ingin menghubungi Rico namun ponselnya mati karena kehabisan baterai.
"Ck, sial!"
Mia akhirnya memilih mandi dan segera bersiap pulang kerumah David.
Sementara itu, Bian merasakan senang luar biasa. Setelah semalam Ia mendapatkan surprise ulang tahun dari Aruna dan Mama serta sudah mendapatkan restu, Bian juga baru saja menerima video dari Rico yang memperlihatkan betapa liarnya selingkuhan Papanya itu.
Bian segera membalas pesan dari Rico,
Kerja bagus, aku akan memberimu bonus.
Bian memasukan ponsel disakunya, Ia kembali keruangan Anneta dimana masih ada dokter yang memeriksa Anneta.
"Sepertinya Ibu sudah bisa pulang hari ini." Ucap Dokter itu yang langsung membuat semua orang senang.
"Tapi harus bedrest selama beberapa hari dan jangan melakukan pekerjaan berat." Ucap Dokter itu lagi.
"Baiklah Dokter, saya akan mengikuti saran dari dokter dan terimakasih banyak karena dokter sudah baik merawat saya selama disini." Ungkap Anneta yang entah mengapa membuat dokter pria itu malah menangis dan bersimpuh dikaki Anneta.
"Saya yang bersalah, saya sudah bersalah maafkan saya Bu." Ucap Dokter yang terlihat masih muda itu.
Tentu saja apa yang dilakukan dokter itu membuat Bian, Aruna dan Anneta terkejut serta bingung.
"Apa masalahmu dok?" Tanya Bian akhirnya.
Dokter itu menghentikan tangisnya, Ia mengingat perjuangannnya menjadi dokter sangat berat hingga akhirnya Ia bisa menjadi dokter seperti saat ini namun bukan dokter pembunuh yang Ia inginkan, Ia ingin mengobati bukan membunuh.
Uang yang diberikan David membuatnya buta hingga memberikan obat penggugur kandungan namun setelahnya Ia merasa sangat bersalah dan ingin mengakui segalanya pada Anneta karena Ia sudah tak tahan memiliki perasaan bersalah terus menerus.
"Maafkan saya, sehari sebelum Anda datang, Suami anda datang kepada saya dan meminta obat penggugur kandungan, saya akhirnya member-"
Bugh... Bian segera memberi bogem pada dokter itu.
Bersambung....
__ADS_1