
Tangan Mbok Inem masih bergetar, bahkan membuat nampan berisi sarapan Anneta yang Ia bawa saat ini juga ikut bergetar.
"Ada apa Mbok?" Tanya Anneta melihat wajah Mbok Inem pucat, kali pertamanya Bian semarah itu menatap Mbok Inem dengan tatapan marah.
"Kenapa Mbok?" Anneta masih merasa heran, memaksa Mbok Inem mengatakan yang sebenarnya. "Aku dengar Bian teriak teriak, apa dia bertengkar lagi dengan Papanya?" Tanya Anneta.
"Anu nyonya, bukan masalah itu."
"Lalu kenapa?"
"Non Runa..."
"Ada apa dengan Runa? Ia juga tak menemuiku sejak kemarin." Heran Anneta mengingat selama Anneta sakit, Aruna tidak pernah absen untuk menjaganya.
"Sebenarnya..." akhirnya Mbok Inem menceritakan pada Anneta tentang apa yang terjadi kemarin siang.
"Jadi Aruna menghindari Bian karena tak ingin Bian tahu jika Aruna ditampar oleh papanya? Pantas Bian marah." Gumam Anneta yang seolah tak memperdulikan barang barangnya dipakai oleh Mia.
"Nyonya tidak marah barang barang Nyonya dipakai Mia?"
Anneta tersenyum, "Jika dia menyukai semua barang bekasku, aku akan memberikan nya termasuk suami ku sendiri. Aku bisa mendapatkan yang baru yang mungkin lebih bagus lagi." Ungkap Anneta membuat Mbok Inem tersenyum lega, ya wanita seperti Mia yang menyukai barang bekas memang pantas mendapatkan yang bekas, barang baru mungkin tidak akan cocok untuknya yang murahan.
"Sekarang yang aku pikirkan hanyalah Bian dan Aruna, aku tidak ingin mereka bertengkar hanya karena masalah ku dan David."
"Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah mereka nyonya, tenang saja." Kata Mbok Inem yang langsung diangguki Anneta.
Sementara dikampus, Bian berdiri memandangi Aruna penuh tanya, saat ini mereka menjadi tontonan anak anak kampus.
"Kita bicara dimobil!" Ajak Bian.
Aruna menolak, "Sebentar lagi kelas mulai kak."
"Persetan dengan kelasmu!" Sentak Bian menatap Aruna marah membuat Aruna menunduk dan akhirnya menurut.
Bian mengenggam tangan Aruna lalu mengajaknya keluar.
Cie cie... Arunaa..
Gilak, suaminya so sweet amat!
Teriakan dan ledekan terdengar dari teman teman Aruna membuat Aruna menunduk malu.
Bian mengajak Aruna memasuki mobil, "Jadi karena ini kamu menghindariku?" Tanya Bian sambil menyentuh pipi Aruna yang lebam.
Aruna hanya diam.
"Siapa yang sudah melakukan ini Aruna?" Tanya Bian lagi.
"Melakukan apa kak? Kemarin aku jatuh lalu-"
__ADS_1
"Jangan bohong dan jangan membodohiku!" Sentak Bian.
"Katakan saja siapa yang melakukan ini atau aku akan mencari tahu sendiri!"
Aruna mulai panik, "Sudahlah kak jangan diperpanjang lagi hanya masalah sepele."
"Sepele katamu?" Bian sangat kesal karena Aruna terlalu meremehkan hal seperti ini.
"Aku baik baik saja."
"Katakan siapa pelakunya selagi aku masih baik Aruna." Kata Bian masih terus memaksa.
"Papa..." jawab Aruna menyerah lalu menundukan kepalanya tak berani menatap Bian.
Bian menghela nafas panjang, "Sudah ku duga, apa yang terjadi, kenapa dia melakukan ini?" Bian menatap ada satu luka lagi dipelipis, seperti goresan yang sudah mulai mengering "Dan ini juga karena pria itu?" Tanya Bian lagi sambil menyentuh pelipis Aruna yang terluka.
"Katakan apa saja yang sudah dia lakukan padamu?"
"Ku bilang jangan diperpanjang lagi Kak, aku baik baik saja."
"Katakan sekarang Aruna!"
Aruna menghembuskan nafas panjang, Ia menyerah dan memilih mengakui segalanya dari pada harus berdebat dengan Bian yang mungkin tidak akan ada habisnya.
Setelah Aruna menceritakan dari awal kejadiannya seperti apa, Bian terlihat semakin marah dan langsung melajukan mobilnya keluar dari kampus Aruna.
"Kita mau kemana kak, sebentar lagi kelasku mulai."
Aruna berdecak, tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan selain menuruti Bian.
Bian menghentikan mobilnya di rumah sakit terdekat, Ia melepaskan seatbelt miliknya juga milik Aruna.
"Turun!" Perintah Bian.
"Tapi kak, untuk apa? Aku baik baik saja."
"Nggak usah ngeyel!" Bian turun lebih dulu menunggu Aruna diluar.
"Dasar gila!" Umpat Aruna mulai kesal dengan tingkah Bian.
Bian membawa masuk Aruna, Ia segera menuju loket pendaftaran,
"Aku ingin visum." Kata Bian yang membuat Aruna sangat terkejut.
"Kak..." Aruna mengenggam tangan Bian, ingin protes namun Bian tampak acuh dan tetap melanjutkan pedaftaran.
Setelah selesai mengurus administrasi, Aruna dibawa masuk keruangan Dokter dan Ia segera diperiksa disana. Butuh waktu hampir satu jam untuk visum ini.
"Hasilnya mungkin akan keluar sore ini." Ucap dokter setelah selesai memeriksa Aruna.
__ADS_1
"Baik, terimakasih." Kata Bian lalu mengajak Aruna keluar.
"Kak, kenapa harus melakukan ini? Biar bagaimanapun dia juga Papa kita." Kata Aruna merasa Bian sudah terlalu jauh melangkah.
"Bahkan setelah semua yang terjadi kamu masih menganggapnya Papa? Bagaimana jika kamu tahu lebih dalam lagi, apa kamu masih bisa menganggapnya Papa?" Sinis Bian.
Aruna terdiam, ucapan Bian yang mengatakan tahu lebih dalam lagi menandakan mungkin bukan hanya ini kejahatan papanya, masih banyak lagi yang dia lakukan tanpa Aruna ketahui.
"Lebih baik menurut saja, jangan terlalu banyak protes. Pria jahat itu memang harus diberi pelajaran." Kata Bian lagi.
Aruna lagi lagi hanya diam, Ia sudah pasrah dan tidak ingin membela papanya lagi, toh juga percuma Bian tidak akan mendengarnya.
Keduanya sudah sampai dikantor Bian, "Tidak perlu kuliah, istirahat saja diruanganku."
Aruna menghela nafas panjang, "Pasti akan sangat membosankan." Batin Aruna.
Aruna memasuki ruangan pribadi Bian, Ia berbaring diranjang mengikuti perintah Bian yang memintanya untuk istirahat.
Diluar, Bian tampak mulai sibuk dengan pekerjaannya.
"Sore ini ambil hasil visum dirumah sakit." Pinta Bian sambil memberikan kwitansi pada Sadam.
"Baik pak, eghh bapak tidak lupa kan jika besok saya cuti?"
Bian menatap ke arah Sadam dan ingat jika besok adalah hari pernikahan Sadam.
"Sial, aku hampir lupa!"
"Jangan lupa datang pak dan jangan lupa membawa pasangan." Kata Sadam terdengar mengejek.
"Tentu saja aku akan datang membawa pasanganku, kau pikir aku belum berhasil mendapatkan nya?" Bian tak terima membuat Sadam tersenyum geli.
"Baik pak, maaf jika kata kata saja terdengar mengejek, saya hanya memastikan saja. Permisi pak." Kata Sadam lalu keluar masih tersenyum geli.
"Sialan, dia pikir hanya dia saja yang menikah, sebentar lagi aku juga akan menikah!" Umpat Bian sampai membanting pulpennya dimeja.
Cukup lama Aruna rebahan hingga Ia merasa bosan dan kini Aruna memilih keluar untuk melihat Bian yang sedang bekerja namun betapa terkejutnya Aruna saat melihat diruangan Bian ada seorang pria yang tak asing untuknya.
Aruna dan pria itu sama sama terkejut,
"Loh bukannya Bapak yang makan bubur dikedai?" Ingat Aruna.
Ryan, pria itu tersenyum, "Kau masih mengingatku nak?"
Aruna mengangguk lalu menghampiri Ryan, "Apa yang Bapak lakukan disini?" Aruna menatap Ryan kagum karena Ryan sangat rapi hari ini.
"Ada yang harus ku kerjakan jadi aku menunggu Bian disini, lalu apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu juga bekerja disini?" Tanya Ryan menatap ke arah pintu ruangan pribadi milik Bian.
Aruna hanya menunduk malu karena Ia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komenn