
Bian baru saja menerima bungkusan plastik hitam yang dibawa oleh anak buahnya.
"Apa ini?"
"Buka saja Tuan."
Bian membuka plastiknya dan terkejut karena isinya ternyata salah satu tas milik Mamanya.
"Dia berniat menjual tas nyonya Tuan tapi saya berhasil mengagalkannya."
Bian tersenyum, "Bagaimana caramu mengagalkannya?"
Anak buah Bian pun menceritakan apa yang dia lakukan untuk mengagalkan aksi David yang langsung membuat Bian tertawa.
"Aku ingin dia mendapatkan yang lebih dari itu karena berniat menjual tas Mama!"
"Tenang saja Tuan, selanjutnya dia akan lebih sial lagi."
"Bagus bagus, aku sangat suka cara kerjamu, aku sudah mentransfer uang bayaran juga bonus untukmu." Kata Bian.
"Terima kasih banyak Tuan."
Hari sudah sore, David membuka matanya dan merasakan tubuhnya kedinginan.
"Dimana aku?" Gumamnya segera bangun karena Ia tidur dilantai.
David mencoba mengingat apa yang terjadi, "Gadis sialan itu!" Umpat David setelah mengingat apa yang terjadi.
Tiba tiba David terlihat panik, Ia segera berdiri mencari tasnya yang sudah tidak ada. "Sial, aku ditipu!"
Ia sudah gagal menjual tasnya, gagal mendapatkan uang dan sekarang tas itu malah raib entah kemana, sungguh hari yang sangat sial untuk David.
"Dimana lagi aku akan mendapatkan uang untuk membeli ponsel?"
David menghela nafas panjang lalu memasuki kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, David berniat checkout dari hotel namun sampai di pintu lobi Ia dicegat oleh dua satpam.
"Tuan baru saja keluar dari kamar empat ratus dua?"
David mengangguk, karena Ia memang menggunakan kamar itu.
"Silahkan Tuan membayar kamar lebih dulu sebelum pergi."
David tentu saja terkejut, "Jadi gadis sialan itu belum membayar hotelnya?"
"Saya tidak mengerti maksud Tuan, Silahkan Tuan kesana untuk membayar." Satpam itu tampak menujuk ke arah pembayaran.
David mengangguk, Ia segera menuruti satpam itu. Berjalan menuju tempat pembayaran. Dalam hatinya tak henti hentinya mengumpat karena saat ini Ia tidak memiliki uang sepeserpun jadi bagaimana bisa dia membayar bill hotelnya?
"Jadi Tuan mau membayar?" Tanya Seorang karyawan hotel yang berjaga ditempat pembayaran.
David mengangguk, karena tak ingin malu Ia akhirnya mengeluarkan kartu kreditnya dan berharap kartu kreditnya masih digunakan.
__ADS_1
"Maaf pak tidak bisa, apa masih memiliki yang lain?"
David berdecak, Ia mengambil kartu kredit lainnya dan masih tidak bisa.
"Bagaimana ini? Aku tidak memiliki uang cash." Keluh David.
"Tapi Tuan harus tetap membayar kalau tidak kami akan membawa Tuan ke kantor polisi."
"Sial, apa harus separah itu? Aku hanya tidak bisa membayarnya bagaimana bisa kalian langsung membawaku ke kantor polisi." Omel David membuat kedua satpam yang tadi berjaga langsung mendekat.
"Ada apa?" Tanya satpam itu.
"Dia tidak mau membayar." Keluh Gadis yang menjaga tempat pembayaran.
"Bagaimana bisa kau menyewa kamar dan tidak bisa membayar!"
"Aku baru saja ditipu oleh seorang gadis, semua uang ku juga diambil apa kalian tidak kasihan padaku?" Tanya David dengan wajah sedih.
"Itu bukan urusan kami, yang terpenting sekarang Anda membayar sewa kamarnya!"
David menghela nafas panjang, Ia sangat frustasi saat ini karena tidak bis membayar.
"Apa tidak ada hukuman lain selain ke kantor polisi? Aku benar benar tidak bisa membayarnya."
Kedua satpam dan Gadis itu tersenyum licik,
David tidak menyangka, benar benar tak menyangka setelah hampir tiga puluh tahun lamanya Ia tidak melakoni pekerjaan ini, kini Ia kembali lagi melakoni pekerjaan yang mungkin akan membuatnya malu jika dilihat oleh orang yang mengenalnya apalagi mantan investor yang mungkin menginap dihotel ini.
Cleaning service... Ya sebagai hukuman karena tidak bisa membayar hotel, David harus menjadi cleaning service selama dua hari dihotel.
"Sepertinya pekerjaan ini cocok untukmu pak karena lantainya terlihat sangat bersih setelah kau bersihkan." Ejek salah satu satpam yang membuat mata David melotot ke arahnya.
Satpam itu tertawa lalu pergi meninggalkan David yang masih mengepel lantai.
Sementara itu Bian yang baru saja menghentikan mobilnya didepan rumah, baru saja mendapatkan pesan dan langsung membuka ponselnya.
Sebuah rekaman dimana David tengah mengepel lantai yang langsung membuat bibir Bian melekungkan senyum lebar.
"Aku melihat Papa lebih cocok bekerja seperti ini dari pada harus merebut hak orang lain." Ucap Bian lalu memasukan ponselnya ke saku.
Bian keluar membawa sebuah paper bag, Ia langsung menuju kamar Aruna. Melihat Aruna sedang belajar, Bian tidak ingin menganggu, meletakan paper bag di ranjang Aruna.
"Besok Sadam menikah, aku ingin mengajakmu kesana."
"Aku tidak mau!" Balas Aruna dengan cepat sebelum Bian keluar kamar.
Bian menghela nafas panjang, Ia tahu jika Aruna marah padanya masalah siang tadi dimana Bian sudah melecehkan Aruna.
"Lalu aku harus pergi dengan siapa? Wanita lain?" Tanya Bian.
"Terserah kak Bian."
"Oke!" Balas Bian lalu keluar dari kamar Aruna.
__ADS_1
Mata Aruna melotot tak percaya, bagaimana bisa Bian dengan santainya mengatakan oke tanpa memikirkan perasaannya sedikitpun?
"Dasar menyebalkan!"
Bian berjalan ke kamarnya, mandi dan bergegas turun untuk menemui Mamanya.
Baru menuruni tangga, Ia melihat Mia mondar mandir dipintu depan.
Bian tersenyum geli melihatnya, dia pasti sedang menunggu David yang tidak akan pulang selama dua hari batin Bian.
"Mama sudah makan malam?" Tanya Bian saat berada dikamar Anneta.
Bukannya menjawab, Anneta malah balas bertanya pada Bian, "Tadi pagi kamu memarahi Mbok Inem?"
Bian menghela nafas panjang, "Mbok Inem bantuin Aruna buat bohong, jelas aku marah!"
"Tuh sekarang Mbok Inem takut sama kamu. Minta maaf sana!"
"Iya iya Ma, nanti Bian minta maaf."
Anneta tersenyum, "Kapan kamu akan menikahi Aruna?"
"Segera, setelah selesai mengurus perceraian Mama."
"Sudah sampai mana perceraiannnya?"
"Sudah masuk ke pengadilan tinggal menunggu hasilnya."
Anneta mengangguk, "Mama ingin bertemu dengan pengacaramu untuk mengucapkan terimakasih."
Bian langsung memutar bola matanya malas, mengingat Ryan entah mengapa Ia juga teringat saat Aruna mengobrol asyik dengan Ryan pagi tadi membuat Bian kesal.
"Tidak perlu bertemu, aku sudah membayarnya dan memang sudah pekerjaannya untuk membereskan masalah Mama."
Anneta menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mama tetap ingin bertemu dengan pengacaramu."
"Baiklah, jika dia sudah menyelesaikan masalah Mama, aku akan mempertemukan Mama dengan dia."
Anneta mengangguk lalu tersenyum.
Bian pergi ke dapur, mbok Inem yang sedang menyiapkan makan malam tampak terkejut saat Bian datang. Mbok Inem bahkan langsung menundukan kepalanya. benar kata Mama jika Mbok Inem masih takut padanya pikir Bian.
"Maaf Mbok untuk tadi pagi." Ucap Bian merasa bersalah.
Mbok Inem langsung tersenyum, tidak lagi menunduk, "Mbok juga minta maaf, bukannya mau bantuin Non Aruna bohong tapi Mbok cuma nggak mau Aden ngamuk sama bapak." Jelas Mbok Inem.
"Udah nggak usah dibahas lagi Mbok, Bian ada kerjaan untuk Mbok Inem."
"Kerjaan apa Den?"
"Jangan biarkan selingkuhan Papa itu makan, kalau dia maksa mau makan Mbok Inem tau lah apa yang harus di lakukan." Kata Bian membuat Mbok Inem tersenyum licik.
"Siap Aden..."
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komenn