
Aruna membuka matanya, melihat atap yang berbeda dari atap kamarnya. Aruna bergegas bangun dan sadar jika Ia sedang berada diruangan Bian.
Aruna menghela nafas lega karena ini kamar Bian bukan kamar hotel.
"Ngapain Lo?" Suara Bian terdengar membuat Aruna menegok ke arah Bian yang duduk disofa yang ada disana.
"Kaget aja kak, bangun kok disini padahal kayaknya tadi aku nonton film diluar deh."
"Sengaja gue pindahin." Balas Bian acuh dan kembali fokus menatap layar laptopnya.
"Makasih kak Bian, duh baik banget deh." Ucap Aruna memasang wajah manisnya membuatnya terlihat mengemaskan.
Bian yang melihat tingkah gemas Aruna rasanya ingin menerkam Aruna saat ini juga.
"Sabar Bian, ini godaaan ini godaaan." Batin Bian tak sadar mengelus elus dadanya.
"Kak Bian sesak nafas?" Tanya Aruna.
"Ya, gegara Lo sok imut bikin gue sesak nafas mau mual."
Aruna memanyunkan bibirnya,
"Bisa nggak sih wajah Lo biasa aja!" Kesal Bian akhirnya keluar karena tak tahan melihat tingkah Aruna yang sangat mengemaskan.
"Ck, kenapa sih marah marah terus." Gumam Aruna bangun dari ranjang dan keluar mengikuti Bian.
"Udah mau pulang kak?" Tanya Aruna melihat Bian sudah merapikan meja kerjanya.
"Belum, masih ada meeting satu lagi trus balik." Kata Bian melihat jam tangannya sudah pukul enam sore.
"Jam segini masih ada meeting?" Aruna terkejut.
"Ketemu klien sekalian makan malam, elo ikut juga nanti sekalian balik." Kata Bian yang akhirnya diangguki Aruna.
Keduanya sudah berada didalam mobil,
"Kak Bian seharian ini sibuk banget tapi kalau siang kenapa bisa jemput Runa?" Tanya Aruna mengingat seharian ini Aruna melihat jadwal Bian sangat padat.
"Karena kemarin nggak masuk aja jadi sekarang kerjanya double." Jawab Bian padahal sebenarnya Bian memang sibuk setiap harinya hanya saja Ia selalu menyempatkan waktu untuk menjemput Aruna dan pulang lebih awal.
"Eh iya, kemarin kak Bian sakit."
Keduanya sudah sampai direstoran tempat Bian akan bertemu dengan kliennya.
"Mereka sudah menunggu didalam pak." Kata Sadam yang ikut ke restoran membawa mobilnya sendiri.
"Lo cukup diem dan makan, jangan ngrecokin gue!" Kata Bian mengingatkan.
__ADS_1
"Iya kak, iya. Runa paham, kan Aruna bukan anak kecil lagi."
Ketiganya kini memasuki restoran dimana kliennya sudah berada disana bersama putra dan asistennya.
"Ah jadi ini putranya David, sungguh aku tidak menyangka kita akan bertemu disini." Pria paruh baya seumuran David tampak menyalami Bian bergantian dengan satu wanita cantik juga pria muda tampan yang Bian yakini adalah putra dari Abraham. Pebisnis yang sangat cerdas dan memiliki banyak anak perusahaan.
Awal pertemuan yang sedikit membuat Bian kesal karena Abraham membawa nama David sang Papa padahal perusahaan ini milik Bian sendiri.
"Ini Netta asisten pribadiku dan Ini Cello putra ku satu satunya yang akan mewarisi perusahaan ku nanti." Kata Abraham memperkenalkan pada Bian.
Sadam dan Aruna ikut menyalami Abraham, Cello dan Netta.
Mereka akhirnya duduk berhadapan.
"Siapa gadis cantik ini?" Tanya Abraham saat melihat Aruna yang kini duduk diantara Sadam dan Bian.
"Dia adik ku."
Abraham terkejut, "Aku tidak tahu jika David memiliki putri secantik ini."
"Saya bukan putri- aduhhh..." ucapan Aruna terhenti kala Bian menginjak kakinya.
"Sakit..." keluh Aruna menatap Bian kesal.
"Udah gue bilang, diem dan nggak usah ikut campur." Bisik Bian membuat Aruna terdiam.
"Bisakah kita mulai saja? Pertemuan ini bukan untuk reuni keluarga melainkan untuk urusan bisnis, jangan bawa Papa ku karena perusahaan ini milik ku sendiri." Kata Bian pada Abraham.
Abraham tertawa, "Oh sungguh aku sangat menyukaimu, kau sangat menarik berbeda dengan papamu." Puji Abraham.
"Baiklah, kita mulai sekarang Tuan." Kata Sadam mengakhiri basa basi.
"Tunggu dulu." Suara Cello terdengar.
"Bisakah aku dan dia duduk disebelah sana saja karena jika disini pasti akan menganggu kalian." Kata Cello menunjuk Aruna.
"Tidak, dia akan tetap disini!" Kata Bian menatap Cello tak suka.
"Oh ayolah Tuan, kami pasti akan bosan mendengar pembahasan kalian jadi bisakah aku mengajaknya duduk disebelah sana?" Pinta Cello pada Bian.
"Putraku benar, kita akan membahas hal yang penting jadi biarkan mereka pergi." Kata Abraham yang akhirnya membuat Bian terdiam meskipun sebenarnya Bian tak ingin Aruna dengan dengan pria lain.
"Ayo kita duduk disana." Ajak Cello pada Aruna.
Aruna menatap Bian, meminta persetujuan namun Bian hanya diam saja tidak merespon membuat Aruna akhirnya mengikuti Cello.
"Kau pasti bosan berada disana, lebih baik kita disini." Kata Cello sudah mendapatkan meja untuknya dan Aruna.
__ADS_1
"Apa kau sering mengikuti kegiatan Ayahmu?" Tanya Aruna.
"Ya Ayahku sering mengajakku, padahal aku tidak suka." Keluh Cello sambil memainkan ponselnya.
Tidak ada pembicaraan lagi karena Cello asyik memainkan game diponselnya. Aruna ikut memainkan ponselnya.
Hampir tiga puluh menit mereka bermain ponsel sambil menikmati makan malam yang sudah datang hingga akhirnya ponsel Aruna mati karena kehabisan baterai.
"Aku mau ke toilet." Kata Aruna yang hanya diangguki Cello.
Aruna segera ke toilet, Ia buang air kecil dan mencuci muka. Saat Aruna kembali Cello sudah tidak ada dimejanya.
Aruna melihat ke meja Bian juga sudah tidak ada Bian disana.
Aruna panik dan segera keluar karena gawat jika ditinggalkan Bian, dompet dan uang cashnya ada ditas dan tasnya Ia tinggal di mobil Bian. Ponselnya mati, bagaimana Ia bisa pulang jika tidak membawa uang sepeserpun.
"Darimana Lo?" Suara menyebalkan bernada kesal terdengar membuat Aruna lega karena itu suara Bian.
Saking senangnya Aruna memeluk Bian tidak peduli ada Sadam disamping Bian.
"Saya permisi pak." Pamit Sadam tak ingin menganggu.
"Lo kenapa?" Heran Bian saat Aruna melepaskan pelukannya.
"Seneng akhirnya ketemu sama Kak Bian, kirain aku ditinggal." Kata Aruna.
"Ck, makanya jadi cewek jangan gatel, pake mau diajak duduk berdua sama cowok tadi!" Kesal Bian.
Baru saja Bian juga panik, melihat Aruna tidak ada dimejanya dan putra Abraham juga sudah tidak ada. Pikiran Bian sudah negatif thinking, Ia pikir Aruna pergi bersama Cello.
Dibantu Sadam, Bian mencari Aruna dan ternyata Aruna dari toilet.
"Tadi kan aku udah izin sama kakak, salah kak Bian malah diem aja!" Balas Aruna sambil menjulurkan lidahnya.
"Tetep aja gatel!" Kata Bian meninggalkan Aruna memasuki mobilnya.
Keduanya sudah berada dimobil, Bian langsung melajukan mobilnya pulang kerumah.
Sampai didepan pintu gerbang, mobil Bian tidak bisa masuk karena ada mobil yang parkir tepat didepan rumah.
Bian emosi saat melihat siapa pemilik mobil itu.
"Kak Adam..." gumam Aruna saat melihat Adam berdiri didepan gerbang rumahnya.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1