MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
113


__ADS_3

Bian menatap ke arah kedua orangtuanya dengan tatapan tak percaya. Tidak bisakah mereka bersabar sebentar? Dirinya dan Aruna bahkan belum melakukan malam pertama dan sekarang kedua orangtuanya sudah akan menyusulnya menikah, benar benar tak bisa diterima.


"Kenapa kami harus menunda rencana baik?" tanya Ryan seolah tak setuju dengan pendapat putra kandungnya.


"Bukan menunda, setidaknya bersabarlah, tunggu aku sampai sembuh total." jelas Bian.


"Terlalu lama Nak, Papa sudah tidak bisa menahannya lagi." celetuk Ryan.


"Dasar pria tua, bagaimana bisa-"


"Kak!" Aruna menatap Bian penuh peringatan membuat Ryan tersenyum kemenangan.


"Berikan kami alasan yang logis kenapa kamu melarang kami menikah minggu depan?" tanya Anneta.


"Biarkan aku sembuh dulu dan setelah itu kalian bisa menikah."


"Kenapa harus menunggu mu sembuh sementara kamu saja sudah menikah padahal belum sembuh?" heran Anneta.


"Masalahnya itu... Ck, sudahlah memang susah ngomong sama orangtua yang sedang bucin!" kata Bian terdengar kesal.


"Masalahnya mungkin Bian iri, melihat kita bisa bulan madu setelah menikah sementara dirinya masih harus menunggu sembuh untuk bisa menyentuh Aruna, eh." ejek Ryan lalu memukuli bibirnya merasa sudah salah bicara.


Bian menatap Ryan tak terima, meskipun ucapan Ryan memang benar. Ya Bian memang tidak ingin kalah dari orangtuanya.


"Kata siapa harus menunggu sembuh untuk melakukannya, kami bahkan sudah melakukannya semalam, benar kan sayang?" Bian menatap ke arah Aruna lalu mengedipkan matanya, memberikan kode pada Aruna agar menganggukan kepalanya.


Pipi Aruna memerah, sungguh Ia sangat malu karena ucapan Bian terlalu vulgar.


"Benarkah? Tapi aku tidak yakin." ucap Ryan tak percaya.


"Sudah jangan berdebat lagi, sebaiknya kita pergi saja. Membiarkan kalian berdua bersama hanya akan menimbulkan keributan!" ajak Anneta yang langsung membuat Ryan tertawa.


"Kami pergi dulu nak, cepatlah sembuh. Apa aku tidak kasihan pada adikmu yang ada dibawah sana." ejek Ryan sambil menatap ke arah Adik Bian yang tertutup celana.


"Dasar pria tua menyebalkan, lihat saja aku akan membalasmu nanti." Ancam Bian yang semakin membuat Ryan terbahak.


"Kalian seperti anak kecil." ucap Aruna saat Anneta dan Ryan sudah keluar.


"Dia yang memulainya lebih dulu!" balas Bian tak terima.


Aruna tersenyum, kembali mengerjakan tugas onlinenya.


"Sarapan dulu sayang." Pinta Bian.


"Sebentar lagi kak, aku juga belum lapar."


"Jangan membantah suami!"


Aruna menghela nafas panjang, Ia meletakan laptopnya lalu berdiri untuk mengambil makanan yang ada dimeja.


"Baiklah, aku akan makan sekarang." kata Aruna mulai menikmati sarapannya.

__ADS_1


Bian tersenyum penuh kemenangan, Ia tak menyangka menjadi seorang suami ternyata sangat menyenangkan.


"Apa enak?" tanya Bian melihat Aruna sarapan bubur ayam yang dibelikan oleh Anneta, terlihat lahap membuat Bian ingin makan lagi.


"Enak, kak Bian mau? Masih ada satu disana." Aruna menunjuk ke arah meja dimana memang masih ada satu bungkus.


"Aku mau yang kamu makan itu, sendoknya juga jangan diganti." pinta Bian.


Aruna melonggo, "Tidak kak, Runa ambilkan yang baru ya?"


"Tidak mau, aku maunya bekasmu saja." kata Bian.


Aruna menghela nafas panjang, sepertinya sekarang Ia harus sabar menghadapi segala keanehan Bian.


"Ini bahkan sudah habis." Aruna memperlihatkan steofom yang hampir kosong.


"Ck, ambilkan yang baru tapi aku ingin menggunalan sendok bekasmu." pinta Bian.


Aruna mengangguk, menuruti permintaan aneh Bian. Dengan telaten, Aruna kembali menyuapi Bian.


"Berat badanku bisa naik jika seperti ini." keluh Bian.


Aruna tersenyum, "Aku akan senang jika berat badan Kak Bian naik."


"Nanti aku tidak terlihat keren dan tampan lagi!"


Aruna berdecak, "Apa Kak Bian berniat menggoda wanita lain?"


Aruna menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah malu karena ucapan Bian.


Beberapa hari berlalu, Dokter akhirnya memperbolehkan Bian pulang kerumah dan hanya melakukan kontrol seminggu dua kali.


"Buka perban di tangannya." perintah dokter itu pada perawat yang menemaninya.


Bian tersenyum mengembang, "Apa tangan ku sudah sembuh?"


"Belum, hanya ganti perban."


Bian berdecak, Ia melihat luka ditangannya sudah kering meskipun masih sakit.


"Tapi aku merasa ini sudah sembuh." protes Bian.


"Apa kau dokter?" tanya Dokter itu membuat Bian terdiam. "Jika dipaksa tidak diperban lalu ada debu yang menempel dan terjadi infeksi malah akan membuat tanganmu semakin lama untuk sembuh."


Bian bergindik, entah dokter itu menipu atau tidak yang jelas Bian tidak ingin terjadi sesuatu yang membuat tangannya semakin sakit.


"Baiklah, aku akan menurut." balas Bian mengalah.


Setelah selesai diperban dan mengurus semua administrasi, Aruna mendorong kursi roda yang dipakai Bian, membawanya keluar dari rumah sakit.


"Itu Papa dan Mama." celetuk Aruna melihat mertuanya sudah standby di mobil.

__ADS_1


"Papa akan mengendongmu masuk ke mobil nak." ucap Ryan sambil tersenyum tengil.


"Tidak perlu, aku bisa masuk sendiri." tolak Bian memilih berjalan masuk ke dalam mobil karena kakinya sudah lebih baik meskipun masih pincang.


"Kakimu sudah sembuh tapi tangan mu masih diperban, kau belum bisa melakukan semuanya sendiri." ejek Ryan.


"Aku mempunyai istri yang bisa membantuku melakukan segala hal termasuk... Ehem." kini giliran Bian yang tersenyum tengil.


"Dua pria ini benar benar, lihatlah Aruna bahkan malu mendengarnya." omel Anneta membuat Bian dan Ryan tertawa bersamaan.


Ryan segera melajukan mobilnya menuju rumah Anneta.


Sampai dirumah, mereka sudah disambut oleh wanita paruh baya.


"Selamat datang kembali Tuan dan Nona," sapa wanita paruh baya itu dengan ramah.


Bian dan Aruna menatap ke arah wanita yang tak dikenalinya itu,


"Dia Mbok Siti, penggantinya Mbok Inem yang akan membantu kalian mengurus rumah." jelas Anneta menjawab kebingungan Bian dan Aruna.


"Semoga betah ya Mbok." ucap Aruna ramah.


Mbok Siti tersenyum, "Saya akan berusaha bekerja dengan baik Nona."


Aruna mengangguk, mereka pun segera masuk.


"Kalian duduk disini dulu, ada yang ingin kami bicarakan." pinta Anneta saat Bian dan Aruna hendak naik ke kamar mereka.


"Mau bahas rencana nikah lagi?" tebak Bian.


Anneta menggelengkan kepalanya, "Bukan, ada hal lain lagi."


Aruna dan Bian menurut, duduk disofa bersama Ryan dan Anneta.


Anneta memberikan sebuah map pada Aruna, "Ini sertifikat rumah ini atas nama kamu karena memang rumah ini dibangun oleh Rega dan Amira untuk kamu."


Dengan tangan bergetar, Aruna menerima map itu.


"Ada banyak peninggalan Rega dan amira namun Mama hanya bisa mempertahankan rumah ini, maafkan Mama Aruna karena ternyata semua harta orangtua kamu dihabiskan oleh David. Maafkan mama." ucap Anneta merasa menyesal.


"Bukan salah Mama, sekalipun harta peninggalan sudah habis tapi selama ini Aruna tidak kekurangan kasih sayang. Aruna sangat berterimakasih pada Mama."


Anneta tersenyum lega, "Setelah Mama menikah, kalian tinggal disini biar Mama ikut Papa."


"Ck, kenapa Mama tidak tinggal disini bersama kami?" protes Bian.


"Tidak, kami tidak akan bebas melakukan apapun jika ada kalian." celetuk Ryan.


"Dasar pria tua menyebalkan!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2