MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
82


__ADS_3

Bian mengambil laptopnya, membawa ke kamar Aruna. Bian membuka laptopnya. Sambil menunggu rekaman cctv kamar Aruna terbuka, Bian mencoba mengecek pintu balkon dan ternyata pintu balkon sengaja dirusak agar bisa terbuka, memang sial sekali.


Kini Bian paham, jika mungkin orang itu melewati pintu balkon untuk masuk ke kamar Aruna. Melihat jejak kaki itu ada dari luar balkon kamar Aruna.


Cctv berhasil terbuka namun sangat mengejutkan karena tidak ada apapun disana. Tidak ada jejak rekaman apapun yang terlihat hanya gambar putih saja.


Bian berdiri untuk melihat cctvnya dan ternyata semua cctv dikamar Aruna tertempel stiker yang membuat kejadian malam ini tidak terekam oleh kamera Bian.


"Sial, dia lebih cerdik dari dugaanku." Ucap Bian mengepalkan tangannya.


Bian benar benar tak menyangka jika orang itu bahkan tahu dimana Ia meletakan cctv tersembunyi.


Hanya orang pintar dan berpengalaman yang bisa melakukan ini.


Bian akhirnya duduk disofa yang ada dikamar Aruna, Ia menutup laptopnya. Matanya memandangi ke arah Aruna yang masih terlelap, pikirannya melayang memikirkan apa yang sudah dilakukan pria itu.


"Apa dia menyentuh Aruna? Atau mungkin... ah tidak! Sangat sial, aku tidak akan lagi membiarkan apapun terjadi pada Aruna." Ucap Bian dengan tatapan penuh benci.


Paginya....


Bian dan Aruna turun, sudah ada Anneta dimeja makan sementara didapur ada Mbok Inem juga putranya Satria yang membantu memasak.


"Kalian akan pergi hari ini?" Tanya Anneta.


"Iya Ma, nanti Aruna usahakan pulang kampus lebih awal biar bisa nemenin Mama." Kata Aruna yang langsung membuat Anneta tersenyum.


Bian hanya diam saja, sedari tadi Bian menatap ke arah Satria yang mencuri pandang ke arah Aruna.


Mencurigakan memang tapi Bian tidak memiliki bukti untuk menuduh Satria.


"Kamu kenapa?" Tanya Anneta pada Bian yang hanya diam saja.


Bian menggelengkan kepalanya, "Mama udah sembuh total?'


Anneta mengangguk, "Mungkin minggu depan Mama akan pergi liburan bersama teman Mama."


"Ck, tidak perlu buru buru Ma, liburan bisa kapan saja. Yang penting Mama harus sehat dulu."


Anneta tersenyum lalu menganggukan kepalanya.


Selesai sarapan, Bian segera mengajak Aruna berangkat.


Diluar Bian dikejutkan dengan sepasang sepatu kotor yang tergeletak dilantai dekat vas bunga.


Sepatu kotor mengingatkan Bian pada jejak kaki dikamar Aruna.

__ADS_1


"Sepatu siapa ini?" Tanya Bian.


"Oh itu sepatu putra saya Den, biar nanti Mbok bawa ke belakang." Kata Mbok Inem segera mengambil sepatunya.


"Dia datang kesini jam berapa semalam?" Tanya Bian pada Mbok Inem.


"Saya juga tidak tahu Den, pagi tadi saya lihat dia sudah ada dikamar tidur dilantai." Jelas Mbok Inem.


Bian mengepalkan tangannya, kini Ia benar benar yakin jika pelakunya adalah Satria.


"Lihat saja, aku akan segera menangkap dan menghabisimu." Batin Bian.


"Maaf ya den kalau putra saya sering kesini karena dirumah dia kesepian jadi mungkin sering merindukan saya dan menyusul kesini." Ucap Mbok Inem yang hanya diangguki oleh Bian.


Tak mengatakan apapun lagi, Bian langsung memasuki mobil dimana sudah ada Aruna disana.


"Tumben ngobrol sama Mbok Inem, ngomongin apa kak?" Tanya Aruna penasaran.


"Bukan apa apa, nggak usah kepo deh!"


Aruna memanyunkan bibirnya, "Ngeselin!"


"Kamu deket sama Satria anaknya Mbok Inem?"


Aruna mengerutkan keningnya, "Enggak deket, cuma kenal aja. Kenapa kak?"


Seketika Aruna terbahak, "Nggak mungkin lah kak, dia aja punya pacar kok."


"Haa, pacar?"


Aruna mengangguk, "Dia sering bawa pacarnya kerumah buat dikenalin sama Mbok Inem."


Bian terdiam, kini Ia dibuat bingung oleh kecurigaannya sendiri.


"Satria bisa masuk kerumah tanpa perlu menyusup ke balkon bahkan sepatunya saja didepan lalu sebenarnya siapa yang menyusup ke kamar Aruna dan merusak pintu balkon kamar? Arghh sialan, siapa pelaku yang sebenarnya!" Umpat Bian dari dalam hati merasa kesal karena tak kunjung menemukan pelaku yang sebenarnya.


"Kak Bian kenapa?" Tanya Aruna melihat raut wajah Bian berubah.


"Run, gimana kalau sementara kamu tinggal di ruang pribadi aku yang ada dikantor?"


Aruna terkejut, "Kenapa kak? Apa ada masalah?"


"Enggak ada cuma aku mikir demi keamanan kamu kayaknya kamu tinggal dulu dikantor deh atau mungkin aku cari apartemen ya khusus buat kamu."


"Kak Bian mau ngusir aku dari rumah?" Aruna terlihat tak suka.

__ADS_1


"Bu bukan ngusir sayang, semua demi keamanan kamu."


Aruna berdecak, "Keamanan apa kak? Runa baik baik saja tinggal dirumah."


Bian bingung bagaimana menjelaskan pada Aruna, Ia tidak ingin Aruna tahu dan akhirnya menjadi takut.


"Dahlah nurut aja, mulai hari ini kamu nggak bisa tinggal dirumah!"


"Nggak, Runa nggak mau!"


"Harus mau! Nanti aku jemput dan bawa kamu ke tempat yang baru, aku nggak mau denger kamu protes lagi!"


Aruna menatap ke arah Bian kecewa, benar benar tak tahu apa yang Bian pikirkan hingga tega mengusirnya dari rumah.


"Kak Bian egois!" Ucap Aruna lalu keluar dari mobil yang sudah sampai didepan kampus.


Bian menghela nafas panjang, pikirannya sedang kalut saat ini dan pemikiran sesaat yang menginginkan Aruna pergi dari rumah membuat Aruna tampak kecewa dan marah padanya.


"Maaf sayang, aku harus melakukan ini demi kebaikan kamu." Gumam Bian segera melajukan mobilnya meninggalkan kampus Aruna.


Hari ini Bian tidak pergi kekantor, Ia pergi mencari apartemen sementara untuk ditinggali Aruna.


Ya Bian harus melakukan ini demi keamanan Aruna.


Apartemen yang Ia belikan untuk Aruna memiliki keamanan yang ketat dimana tidak semua orang bisa masuk ke sana dengan mudah.


Setelah melakukan transaksi pembelian, Bian membawa beberapa orang untuk mengisi barang barang yang mungkin diperlukan Aruna Ia bahkan mengambil beberapa barang Aruna yang ada dirumah.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu meminta Aruna keluar dari rumah ini Bian. Apa kamu tidak tahu pemilik rumah ini adalah A-"


"Bian tahu Ma... Bian sudah tahu semuanya bahkan yang tidak Mama ketahui pun Bian tahu." Potong Bian.


"Bian melakukan ini demi keamanan Aruna."


Anneta mengerutkan keningnya, tak paham dengan ucapan Bian.


Selesai mengemasi barang Aruna, Bian segera mengajak Anneta ke kamarnya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Anneta sangat terkejut dan tak menyangka hal seperti itu terjadi dirumahnya.


"Mama benar benar sudah gagal, tidak hanya sebagai istri tapi juga sebagai ibu yang baik untuk Aruna, mama bahkan tidak tahu kalau selama ini putri Mama..." Anneta tak sanggup lagi mengatakan, Ia menangis membuat Bian langsung merengkuh tubuh Mamanya itu.


"Tidak perlu mengatakan hal seperti itu Ma, mulai sekarang Bian yang akan melindungi Mama dan Aruna, serahkan semua pada Bian, sebentar lagi Bian akan menangkap pelaku penguntit Aruna." Ucap Bian dengan tatapan amarah dan penuh dendam.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2