MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
119


__ADS_3

Keisha baru saja keluar dari kamar mandi, melihat suaminya baru saja selesai berbicara dengan seseorang melalui telepon.


"Siapa yang menelepon?"


"Pak Bian."


Keisha menatap Sadam seolah tak percaya dengan ucapan suaminya.


"Astaga, sejak kapan kau jadi seperti ini, lihahatlah memang benar pak Bian." jelas Sadam lalu memperlihatkan log panggilan pada Keisha dan barulah Keisha percaya.


"Kenapa kau seperti ini sekarang?" heran Sadam padahal baru siang tadi Ia memuji Keisha pada Bian jika Keisha bukan wanita posesif.


"Aku hanya khawatir saja jika kau seperti Pak Bian."


"Memang pak Bian seperti apa kau tahu?"


Keisha menggelengkan kepalanya, "Tapi sepertinya Pak Bian mengenal Jessi."


Uhuk uhuk... Sadam terbatuk membuat Keisha yakin jika Bian dan Jessi ada sesuatu.


"Itu hanya perasaanmu saja, sebaiknya kita jangan ikut campur masalah mereka." pinta Sadam.


"Jadi apa aku benar?"


"Tidak!"


"Kau membohongiku?"


Sadam menghela nafas panjang, "Itu bukan urusan kita sayang." ucap Sadam penuh kelembutan.


"Aku hanya ingin tahu."


"Dan jika ada yang kau ketahui jangan katakan apapun pada Aruna."


"Kenapa?"


"Itu bukan urusan kita sayang." ucap Sadam sekali lagi.


"Jadi aku benar kan mereka saling mengenal, apa mereka mantan kekasih yang terpisah lama?"


"Astaga Keisha... Kubilang cukup!"


"Baiklah baiklah, aku tidak akan mengatakann apapun lagi." ucap Keisha langsung memeluk Sadam, mencoba merayu suaminya yang sedang marah.


"Apapun yang terjadi pada mereka itu bukan urusan kita, sebaiknya kita tidak ikut campur kecuali jika Pak Bian meminta kita untuk membantunya." ucap Sadam yang langsung diangguki oleh Keisha.


"Baiklah aku minta maaf dan untuk permintaan maaf, aku ingin membuatmu sedikit senang malam ini."


"Apa hanya sedikit?"


"Baiklah aku akan memberi banyak."


Sadam tertawa, hilang sudah kekesalan Sadam karena rayuan maut istrinya itu.

__ADS_1


Sementara itu Aruna yang sangat kesal karena Bian membohonginya tidak mengubris teriakan Bian dari luar, Ia malah ikut mengomel sendiri didalam kamar.


"Memang siapa yang ingin bicara denganmu, dasar pembohong!" omel Aruna berbaring diranjang untuk bersiap tidur.


Aruna melihat ke arah pintu, memang tidak Aruna kunci karena Aruna tahu Bian tidak bisa membuka pintunya meskipun tidak dikunci.


Dan dikamar Bian pun tak kalah kesal, Ia mengumpat berkali kali meskipun Ia sadar dirinya yang salah dan yang membuat Aruna marah seperti itu.


"Aku berbohong demi kebaikan hubungan kita, agar kau tidak marah seperti ini, jika bukan karena kau terlalu posesif aku juga tidak akan berbohong." omel Bian.


"Sudahlah, terserah saja. aku juga lelah, aku tidak akan memikirkan mu lagi, lebih baik aku tidur saja." ucap Bian berbaring di ranjang dan mencoba memejamkan matanya.


Tengah malam Bian bangun karena merasakan perutnya sangat mulas.


"Sial, ada apa dengan perutku." omel Bian merasa tak tahan lagi ingin buang air besar.


Bian berlari ke kamar mandi, Sampai dikamar mandi Ia hanya berdiri karena lupa jika Ia tidak bisa melakukan apapun.


"Sial, apa aku harus meminta tolong pada gadis pemarah itu?" omel Bian.


Karena tak tahan, Bian akhirnya mengedor gedor pintu kamar Aruna menggunakan kakinya.


Cukup lama hingga pintu kamarnya Aruna terbuka.


"Aku ingin buang air besar." ucap Bian.


"Apa aku ini toilet?"


"Aku tidak bisa melakukannya sendiri apa kau tidak lihat ini?" Bian memperlihatkan kedua tangannya yang diperban.


Seperti biasa, otong Bian selalu berdiri jika Aruna membantu membersihkah selesai buang air besar.


"Apa kau tidak menyelesaikan yang satu ini?" tanya Bian tersenyum nakal mengarahkan matanya ke bawah dimana otong Bian masih berdiri tegak.


"Aku lupa tadi aku mendengar jika ada yang tidak ingin berbicara denganku." ucap Aruna yang langsung membuat Bian berdecak menahan malu.


"Ck, jadi kau menolak? Bukankah kewajiban seorang istri harus patuh dan menuruti keinginan suaminya?"


"Lalu apa boleh Seorang Suami membohongi istrinya?" Aruna membalikan pertanyaan membuat Bian kembali berdecak.


"Aku minta maaf sayang, aku hanya tidak ingin kau marah, sekarang coba katakan jika Aku tadi mengatakan jujur apa kau tidak marah?" tanya Bian akhirnya.


Aruna terdiam, Ia memikirkan ucapan Bian yang memang benar, Jika Bian tadi tidak berbohong mungkin dirinya kesal dan sekarang Ia pun Kesal karena mengetahui faktanya.


"Berbohong atau tidak, aku tetap akan salah kan?" tanya Bian lagi karena Aruna tak kunjung menjawab.


"Aku memang kekanakan." gumam Bian menunduk lesu.


"Sudah, jangan katakan itu lagi. Sekarang ada yang lebih penting. Lihatlah ini." ucap Bian menatap ke arah bawah dimana si otong masih berdiri tegak.


"Baiklah."


"Eitss, jika tidak ikhlas tidak usah saja!" kata Bian.

__ADS_1


"Baiklah jika tidak mau."


"Sayang!" Mata Bian melotot.


Aruna tertawa, "Aku hanya bercanda." ucap Aruna lalu memposisikan dirinya untuk memuaskan otong Bian.


Selesai memuaskan otong Bian, keduanya kini berbaring diranjang Aruna.


"Nyaman sekali." guman Bian.


"Apa Miss Jessi masih menyukaimu?" tanya Aruna.


Bian berdecak, "jangan tanya masalah itu lagi, aku tidak mau kau marah lagi."


"Tidak, aku akan mulai mengerti sekarang." ucap Aruna.


Bian menatap Aruna lalu menghela nafas panjang, "Aku tidak tahu masalah itu," balas Bian jujur.


"Apa menurutmu dia masih menyukaimu?" tanya Aruna lagi.


"Aku tidak tahu dan aku tidak mau peduli!" balas Bian mulai kesal.


"Apa kau benar benar sudah tidak memiliki perasaan padanya?"


"Tidak sayang, jika aku masih menyukainya tentu aku akan mengajaknya menikah."


Aruna terdiam sejenak, "Lalu kenapa kalian bisa putus waktu dulu?"


"Apa aku harus menjawabnya?"


"Tentu saja, katakan apa alasannya?"


"Dia selingkuh, aku melihatnya bercinta dengan wanita lain." ungkap Bian.


Aruna tampak terkejut, "Kenapa nasib kita bisa sama kak." ucap Aruna mengingat Ia putus dengan Adam karena Adam telah berselingkuh.


"Ya maka dari itu jangan cemburu lagi padanya karena aku tidak akan mungkin kembali padanya. Aku sudah sangat bersyukur memilikimu," kata Bian membuat pipi Aruna merona, memerah malu.


"Dasar perayu!''


"Aku mengatakan yang sebenarnya sayang." ucap Bian lalu tertawa. "Jika tanganku tidak seperti ini mungkin aku sudah menerkam mu sedari tadi, kau terlihat sangat mengemaskan jika seperti ini." ucap Bian lagi dan Aruna benar benar tak tahan.


"Sudah cukup, aku mau tidur dan tidak akan mendengarkan rayuanmu lagi."


"Jadi aku akan memilih mencium mu saja."


Bian mencium pipi kanan kiri juga leher Aruna membuat Aruna tertawa geli.


"Berjanjilah tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi."


Aruna mengangguk dan keduanya kembali berciuman, menikmati malam panjang yang indah berdua meskipun masih belum bisa melakukan apapun.


BErsambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaa


__ADS_2