MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
141


__ADS_3

Aruna sedari tadi sibuk didapur bersama Keisha hingga tak sadar waktu sudah sore.


Aruna berhasil membuat kue brownies dan ayam woku, tentu dengan dibantu oleh Keisha.


"Sepertinya lezat." gumam Aruna tak henti hentinya memandangi hasil karya masakannya hari ini.


"Kenapa tidak mencobanya?"


"Aku ingin makan bersama kak Bian nanti."


"Baiklah jika begitu, apa mau ku antar ke kantor?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku bisa naik taksi."


Keisha diam sejenak tampak memikirkan sesuatu, "Jika tidak mau ku antar sebaiknya tunggu disini saja, biarkan Pak Bian yang menjemput kesini."


"Kak Bian sibuk akhir akhir ini, aku tidak yakin dia mau menjemputku." ungkap Aruna.


"Dia pasti menjemputmu, aku akan menghubungi mas Sadam agar dia menjemputmu." ucap Keisha yang akhirnya diangguki oleh Aruna.


Keisha merasa khawatir mengingat siang tadi ada yang mengikuti taksi yang Ia tumpangi bersama Aruna, meskipun Ia tak yakin apa mereka orang jahat atau bukan.


Tepat pukul tujuh malam, Sadam pulang bersama Bian yang ikut kerumah Sadam untuk menjemput Aruna.


"Aku belajar memasak bersama Keisha sepulang kampus." pamer Aruna saat keduanya sudah berada didalam mobil.


Bian tersenyum, "Untuk apa belajar memasak, ada Mbok Siti yang sudah masak setiap hari untuk kita."


Aruna berdecak, "Aku juga ingin Kak Bian memujiku didepan orang orang jika Kak Bian beruntung memilikiku yang pintar memasak."


Bian kembali tersenyum, "Tidak bisa memasak pun aku sudah merasa beruntung memilikimu."


"Dasar perayu, apa masalahmu sudah selesai kak? Tidak menginap di kantor lagi?" tanya Aruna membuat Bian terdiam sedih.


Sejujurnya Bian tidak tahu apa yang masalahnya, Ia merasa ada orang yang sengaja menghancurkan perusahaannya. Satu persatu investornya memutuskan kerja sama membuat Bian ketar ketir akan nasib perusahaannya meskipun kemungkinan bangkrut sangat tipis namun tetap saja, Bian merasa tidak tenang dengan kondisi perusahaannya yang sudah lama Ia bangun itu.


"Sudahlah, jangan pikirkan pekerjaan lagi, sudah pulang waktunya untuk bersenang senang bersama." hibur Aruna yang akhirnya membuat Bian tersenyum nakal.


"Bersenang senang seperti apa? Apa istriku sudah mulai ketagihan?" goda Bian membuat Aruna tersenyum malu.


Sampai dirumah, Bian dan Aruna sudah disambut senyuman hangat Mbok Siti.


"Saya kira Non sama Tuan nggak pulang lagi, untung saya udah masak buat makan malam." ucap Mbok Siti.


"Waduh udah masak ya Mbok, padahal aku sama Kak Bian mau makan ini." ucap Aruna memperlihatkan dua kotak bekal besar.

__ADS_1


"Tadi abis belajar masak dirumah Keisha jadi mungkin malam ini mau makan ini dulu, masakan Mbok Siti suruh habiskan Mang Asep sama Mang Torik aja ya." ucap Aruna membuat Mbok Siti terlihat kecewa.


"Ya sudah Non tidak apa apa." balas Mbok Siti.


"Besok lagi jangan masak setiap hari Mbok, karena kami juga jarang dirumah kan." pinta Bian.


"Baik Tuan."


"Tolong siapin ini dimeja ya Mbok, aku sama Kak Bian mau mandi dulu." pinta Aruna mengulurkan kotak bekal berisi masakannya.


"Baik nona."


Mbok Siti segera membawa makanannya ke meja makan sementara Bian dan Aruna naik ke atas untuk mandi lebih dulu sebelum makan malam.


"Ayo mandi bersama." ajak Bian mengingat semalam Ia tak melakukan apapun dengan Aruna karena dirinya kelelahan bekerja hingga malam.


Aruna menatap ke arah Bian curiga, "Yakin hanya mandi?"


Bian tersenyum nakal lalu memeluk istrinya dari belakang, "Yaps, mandi dan eumm..." Bibir Bian mulai nakal menjelajahi leher Aruna.


Aruna bergindik geli dengan perlakuan Bian, Ia segera mengajak Bian masuk ke kamar mandi.


Dan hampir satu jam mereka menghabiskan waktu dikamar mandi, tentu saja tidak hanya mandi yang membuat mereka lama berada disana.


"Apa mau ku bawakan ke sini makan malamnya? Kak Bian terlihat kelelahan." ucap Aruna selesai memakai piyama.


Keduanya pun turun ke bawah, dimeja makan sudah ada brownies dan ayam woku buatan Aruna.


"Aku tidak yakin kau yang membuat semua ini." ucap Bian.


"Jangan meremehkan ku kak, sekarang coba saja."


Aruna memotong brownies dan meletakan di piring kecil lalu menyodorkan pada Bian.


"Cobalah kak." pinta Aruna tak sabar mendengar komentar Bian.


Bian menyuapkan brownies ke dalam mulutnya, Ia menikmati kunyahannya dan langsung mengatakan, "Enak, manisnya juga pas."


Aruna langsung tersenyum lebar mendengar komentar Bian, Ia pun ikut memotong brownies lalu mencobanya sendiri karena memang Aruna belum mencoba brownies buatannya.


"Yeayy akhirnya aku berhasil membuat kue kesukaan kak Bian." ucap Aruna begitu senangnya setelah Ia mencicipi sendiri dan rasanya memang enak.


"Dari mana kau tahu jika aku suka brownies?" heran Bian.


"Ck, apa kak Bian lupa? Dulu kita sering berebutan brownies waktu masih kecil dan Kak Bian juga menghabiskan milik ku!"

__ADS_1


Sontak Bian tertawa, "Kenapa hanya hal hal buruk seperti itu yang kau ingat."


"Karena memang tidak ada yang baik, Kak Bian dulu sangat nakal padaku!" ungkap Aruna sambil memanyunkan bibirnya.


"Maafkan aku sayang, mulai sekarang aku tidak akan melakukannya lagi." ucap Bian kembali tertawa lalu mengelus puncak kepala Aruna.


"Sekarang, cobalah yang ini kak." pinta Aruna mulai mengambilkan nasi dipiring lalu diberi Ayam woku buatannya.


"Sepertinya juga enak." puji Bian.


Baru saja menyuapkan satu suapan, rasanya Bian ingin memuntahkan namun karena tak tega melihat Aruna kecewa, terpaksa Bian menelan hingga habis satu kunyahan.


Bian segera minum satu gelas air putih untuk menghilangkan rasa asin yang amat luar biasa.


"Rasanya tidak enak kak?"


"Aku tidak ingin membuatmu kecewa tapi cobalah sendiri."


Aruna segera mencicipi ayam wokunya sedikit dan Ia langsung tersedak karena Ayam woku buatannya sangat asin.


"Bagaimana bisa rasanya seasin ini padahal aku hanya memberikan garam sedikit." ungkap Aruna.


"Tidak masalah sayang, kamu sedang belajar jadi wajar jika gagal waktu pertama." ucap Bian.


"Tapi aku yakin kak tidak memberi garam sebanyak itu, rasanya tidak mungkin seasin ini." ucap Aruna masih tak percaya.


Bian tersenyum, membawa piring berisi ayam woku ke dapur. Bian segera mengeksekusi ayam woku asin itu agar tidak terbuang.


Menambahkan air dan bumbu lainnya lalu di masak lagi.


"Sekarang cobalah..."


Aruna mencoba sesuap, rasanya sudah beda bukan lagi Ayam woku namun enak dan tidak lagi keasinan.


"Enak kan?"


Aruna mengangguk, Ia merasa malu pada Bian.


"Begini solusinya, jadi jangan patah semangat jika gagal waktu pertama kali." kata Bian memberi nasehat yang langsung diangguki oleh Aruna.


Namun Aruna masih merasa yakin jika masakannya tidak mungkin seasin itu. Untuk menghilangkan keraguannya, Aruna segera menghubungi Keisha setelah selesai makan malam.


"Asin? Aku mencobanya tidak asin sama sekali, justru rasanya kurang asin sedikit." jawab Keisha membuat Aruna terkejut.


Lalu kenapa rasanya bisa seasin itu, apa mungkin ini ulah... Ah sudahlah Aruna tidak ingin suudzon.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komeenn


__ADS_2