
Liburan dua hari terasa sangat singkat untuk Bian dan Aruna karena pagi ini mereka kembali disibukan oleh rutinitas harian mereka.
"Kenapa Kak Bian terlihat lesu?" tanya Aruna yang baru saja menyeruput jus alpukat buatan Mbok Siti.
"Aku masih ingin liburan dirumah bersamamu."
Aruna hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Bian, "Apa masih belum puas kak, dua hari mengurungku dikamar?"
Bian tertawa, "Rasanya aku ingin mengurungmu dikamar selamanya."
Aruna berdecak, mulai mengigit sandwichnya.
"Apa nanti siang kamu ke kantor?" tanya Bian.
"Tentu saja tidak, tangan Kak Bian sudah sembuh."
"Datanglah ke kantor." pinta Bian.
"Untuk apa kak?"
"Kau akan tahu nanti."
Aruna mengangguk, "Tapi aku tidak janji kak."
"Baiklah, jika kau tidak datang mungkin aku yang akan menghampiri mu ke kampus."
"Jangan gila kak!"
"Aku tidak gila, aku mengatakan yang sebenarnya."
Aruna menggelengkan kepalanya tak percaya, jika dulu Ia mengatakan Bian crazy brother sekarang Bian sudah menjadi crazy husband untuknya.
Keduanya selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat, saat akan memasuki mobil tampak mobil milik Ryan memasuki pekarangan rumah.
"Kalian sudah mau berangkat?" tanya Ryan keluar dari mobil bersama Anneta.
"Ada apa kemari sepagi ini?"
"Kami hanya ingin mengantar ini." ucap Ryan memperlihatkan sebuah flashdisk.
"Wedding dream impian Mama dan Papa dulu, karena Mama sudah tidak mungkin mewujudkannya jadi sekarang Mama dan Papa akan memberikan ini untuk kalian."
"Kami sudah menyiapkan untuk kalian jadi Papa harap, kalian suka dengan konsep wedding dream ini." ucap Ryan.
Aruna terlihat senang menerima flashdisk itu meskipun Ia belum melihat isinya namun Aruna sudah yakin pasti konsep wedding dream milik Mama Anneta sangatlah luar biasa.
"Tidak perlu serepot itu." kata Bian.
"Ck, kau hanya malu untuk mengucapkan terima kasih!" protes Ryan yang hanya membuat Bian tersenyum.
Bian dan Aruna segera memasuki mobil karena takut terlambat.
__ADS_1
"Bawa kemari, biar aku yang simpan." pinta Bian.
"Aku sudah tak sabar ingin melihatnya kak." kata Aruna tidak mau memberikan flashdisknya pada Bian.
"Kita akan melihatnya bersama nanti malam jadi bawa kemari." pinta Bian lagi yang akhirnya membuat Aruna memberikan flashdisknya pada Bian.
"Jangan sampai hilang ataupun rusak kak!" kata Aruna memperingatkan.
"Aku malah ingin membuangnya."
"Kak!" Aruna menatap Bian penuh protes.
Bian tertawa, "Aku hanya bercanda sayang, kenapa harus marah?"
Aruna tak menjawab, hanya memanyunkan bibirnya.
"Apa kau tidak memiliki wedding dream sendiri?"
Aruna menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan tidak menyangka akan menikah di umur yang sangat muda seperti ini."
Bian kembali tertawa, "Lalu apa kau menyesal?"
"Tidak, tentu saja tidak." balas Aruna membuat Bian tersenyum dan mengelus kepalanya.
Keduanya sudah sampai di depan kampus Aruna, sebelum keluar dari mobil, Aruna mencium punggung tangan Bian yang dibalas kecupan kening oleh Bian.
"Jaga mata, jaga hati dan jangan nakal!"
Aruna tersenyum, "Seharusnya aku yang mengatakan itu pada Kak Bian, bukankah para gadis dikantormu sangat cantik dan seksi?"
"Dasar perayu."
Baru ingin membuka pintu mobil, Bian menarik tangan Aruna lalu mencium bibir Aruna.
"Kak... Malu ih dilihat orang juga!" protes Aruna.
Bian hanya tertawa, "Aku akan pulang awal lagi hari ini." ucap Bian yang langsung membuat Aruna berdecak, tahu maksud Bian.
Setelah Aruna keluar dari mobil dan memasuki area kampus, Bian segera melajukan mobilnya menuju kantor.
Pagi ini Bian terlihat sumringah dan ramah saat memasuki kantor membuat para karyawannya menatap heran ke arahnya karena biasanya Bian selalu memasang wajah cuek dan jutek.
"Pagi Pak..." sapa Sadam yang terlihat lesu berbanding balik dengan sikap Bian.
"Ada apa dengan wajah lesu mu itu? Apa kau tidak mendapatkan jatah dari istrimu?" tanya Bian terdengar mengejek.
"Mungkin itu salah satunya pak karena istri saya sedang datang bulan." ungkap Sadam yang langsung membuat Bian tertawa.
"Namun ada masalah lain yang lebih penting pak." ucap Sadam membuat tawa Bian terhenti.
"Masalah apa?"
__ADS_1
"Pihak Prastama mengundurkan diri menjadi investor kita pak."
Bian tentu saja terkejut karena Prastama adalah perusahaan yang menjadi investor terbesar untuk perusahaannya.
"Kenapa mereka melakukan itu? Bukankah kerja sama kita selama ini baik baik saja?" heran Bian.
"Saya juga kurang tahu pak, tetapi yang saya dengar perusahaan itu dulu dibangun oleh dua bersaudara namun kini hanya dikendalikan oleh satu orang saja. Mungkin pemilik yang baru yang sudah memutuskan mengundurkan diri menjadi investor kita pak." jelas Sadam.
"Hubungi mereka, segera adakan pertemuan dengan pemilik yang baru." pinta Bian.
"Baik pak."
Setelah Sadam keluar dari ruangannya, Bian mulai menyibukan diri dengan pekerjaannya. satu jam kemudian, Sadam kembali keruangan Bian.
"Saya sudah menghubungi pihak Prastama pak namun mereka mengatakan jika sedang sibuk dan belum bisa bertemu dengan Bapak." ucap Sadam yang membuat Bian sedikit kesal.
"Cari tahu siapa pemilik Prastama yang baru, aku ingin tahu siapa dia!" pinta Bian.
"Baik Pak." Sadam kembali keluar dari ruangan Bian.
Bian mengendurkan dasinya, Ia merasa kesal dengan sikap arogan pemilik prastama yang memutuskan kontrak begitu saja bahkan tidak mau bertemu dengannya.
Sadam kembali lagi ke ruangan Bian dan kali ini Bian harus kembali di buat kecewa, "Maafkan saya pak, Prastama sangat merahasiakan pemiliknya, saya bahkan tidak bisa masuk ke akun mereka." ucap Sadam yang sudah biasa menjadi peretas.
"Ck, sial! Sebenarnya siapa mereka!" umpat Bian.
"Apa Bapak merasa memiliki musuh akhir akhir ini?" tanya Sadam.
"Tentu saja tidak, jika ada pasti kau juga sudah tahu."
Sadam mengangguk, selama ini Ia memang mengetahui segala sesuatu tentang hidup Bian jadi rasanya tidak mungkin jika Bian memiliki musuh dan Sadam tidak mengetahuinya.
"Saya rasa mungkin ada seseorang yang berniat menghancurkan kita pak." ungkap Sadam.
"Siapapun itu sebaiknya kau segera cari tahu agar kita bisa menghancurkan nya lebih dulu."
"Baik pak."
Setelah Sadam keluar dari ruangan, Bian menjambak rambutnya sendiri, Ia merasa frustasi kali ini.
Sementara ditempat lain, seorang pria tersenyum lebar setelah mendapatkan aduan dari salah satu anak buahnya.
"Jadi mereka berusaha meretas data kita untuk melihat ku?" tanya pria itu menghisap rokoknya dalam dalam lalu mengeluarkan secara perlahan.
"Benar Tuan."
"Jangan biarkan mereka mengetahui siapa aku karena aku ingin memberikan kejutan untuk mereka terutama untuk Bian."
"Baik Tuan, semua akan aman."
"Bagus, kita harus menghukum mereka karena sudah berani bermain main denganku, mereka tidak tahu siapa yang sudah mereka permainkan itu!"
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn