MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
111


__ADS_3

Ryan dan Anneta kini berada didalam mobil, perjalanan pulang kerumah Anneta.


"Aku masih tidak menyangka, Aruna berani meminta itu padamu." ucap Anneta masih belum percaya jika putranya sudah menikah dengan putri sahabatnya, sesuai seperti apa yang mereka impikan dulu.


"Ya aku saja terkejut saat Ia meminta kemarin, beruntung aku bisa menghadle semuanya, hanya waktu sehari pernikahan selesai di urus."


"Terimakasih untuk segalanya sayang." ucap Anneta pada Ryan.


"Apa yang kau katakan ini? Sudah kewajibanku melakukan itu untuk anak anak ku." kata Ryan.


"Tapi mungkin jika tidak ada kamu, semua tidak akan selancar ini."


Ryan tersenyum, "Lalu apa aku akan mendapatkan bayaran hari ini?"


Anneta mengerutkan keningnya, "Apa yang kau inginkan?"


"Hanya makan malam romantis, aku sudah tidak ingin melakukan dosa yang membuat kita akan terpisah lagi." ungkap Ryan.


Anneta tersenyum, "Baiklah, kita akan malam malam romantis nanti."


Sementara itu, Aruna yang baru selesai memakai baju langsung membuka pintu.


"Apa yang terjadi? Kenapa pintunya dikunci?" tanya Dokter yang akan memeriksa Bian tampak keheranan.


"Tidak ada apapun dok, maaf." balas Aruna sedikit gugup takut ketahuan jika mereka mesum dirumah sakit ini.


Dokter bersama salah satu perawatnya tampak mendekat ke arah Bian. Bian menatap ke arah keduanya dengan tatapan kesal karena sudah menganggu dirinya yang sedang menikmati memandang indahnya tubuh Aruna.


"Apa baru saja ada acara ulang tahun disini?" tanya Dokter itu melihat ruang rawat Bian dihias.


"Anak buahku sudah meminta izin pada rumah sakit, apa masalahmu?" sentak Bian merasa sangat kesal dengan Dokter itu.


"Jangan seperti itu." bisik Aruna merasa tak enak.


"Tidak masalah, setelah kecelakaan kebanyakan pasien memang sangat sensitif." ucap Dokter itu pada Aruna.


Dibantu oleh seorang perawat, Dokter itu mulai memeriksa keadaan Bian.


"Kapan perban ditangan ku ini bisa dilepas?" tanya Bian.


"Jika lukanya sudah kering, aku akan melepasnya."


"Aku pikir ini sudah kering." kata Bian.


Dokter itu memencet perban ditangan Bian membuat Bian meringgis kesakitan,


"Kau gila?" protes Bian pada Dokternya.


"Jika sudah kering seharusnya tidak sakit." ucap Dokter itu santai.


"Lalu kapan luka ini akan kering?"

__ADS_1


"Mungkin tiga minggu lagi."


Bian terkejut, "Apa tidak ada obat yang membuat lukanya cepat kering? Semahal apapun obatnya aku akan membelinya!"


Dokter itu tertawa, "Obatnya hanya sabar, tunggulah tiga minggu lagi dan semua luka mu pasti akan sembuh."


"Sial!" desis Bian.


"Bagaimana aku bisa bersabar selama tiga minggu? Benar benar membuatku gila!" batin Bian.


Selesai memeriksa, Dokter dan perawatnya itu segera keluar meninggalkan ruang rawat Bian.


"Sabar kak, hanya tiga minggu." hibur Aruna melihat wajah kesal Bian.


Bian berdecak, Ia kini sudah memiliki Aruna seutuhnya namun masih menunggu tiga minggu lagi untuk menikmati Aruna, sungguh sangat menyebalkan.


...


Malam harinya, Anneta menunggu Ryan menjemputnya, Ia sudah siap makan malam bersama Ryan.


"Maaf tadi dijalan sedikit macet jadi aku terlambat." ucap Ryan yang baru saja sampai.


"Tidak masalah, aku juga baru selesai bersiap. Jadi kemana kita sekarang?"


"Aku sudah memesan tempat untuk kita." kata Ryan yang langsung diangguki Anneta.


Keduanya sudah sampai direstoran bintang lima yang cukup terkenal dan sangat mahal. Namun Anneta dibuat heran saat melihat restoran itu sangat sepi, sama sekali tidak ada pengunjung satu pun.


"Aku sengaja membooking restoran ini agar kamu merasa nyaman makan malam bersamaku."


Anneta tentu saja terkejut, "Restoran ini sangat mahal, bagaimana bisa kau..."


Ryan hanya tersenyum, Ia merangkul bahu Anneta lalu mengajaknya berjalan masuk ke dalam.


saat memasuki pintu, Keduanya sudah disambut oleh red carpet yang terbuat dari kelopak mawar.


Anneta dan Ryan berjalan mengikuti kelopak mawar itu hingga mereka sampai di meja dekat kolam dimana terdapat lampu kerlap kerlip yang sangat indah.


Ryan menarik salah satu kursi agar Anneta duduk. Keduanya segera duduk dan mulai menikmati makan malam.


Usai menikmati makan malam, beberapa orang datang dan mulai memainkan alat musik yang terdengar indah dan romantis.


Ryan mengeluarkan kotak kecil beludru dikantong celanya. Ia membuka kota berisi sebuah cincin berlian lalu menyodorkan pada Anneta, "Marry me Anneta." pinta Ryan membuat Anneta terkejut.


"Apakah kamu mau menikah denganku? Menghabiskan masa tua kita bersama?" tanya Ryan lagi.


Seketika tangis Anneta pecah, Ia sebenarnya sudah tahu jika Ryan akan mengajaknya menikah, hanya saja Anneta tidak menyangka Ryan akan melakukan hal yang romantis seperti ini untuk melamarnya.


"Aku ini sudah janda, bertahun tahun hidup bersama pria lain, apa tidak masalah untuk mu?" tanya Anneta memastikan.


"Tidak, selama bersama mu, aku tidak akan mempermasalahkan apapun."

__ADS_1


Anneta menghentikan tangisnya, Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah, mari kita menikah."


Ryan tersenyum lebar mendengar jawaban Aruna, Ia segera memasangkan cincin berlian itu dijari manis Anneta.


Kebahagiaan menyelimuti keduanya, berbeda jauh dengan Bian yang belum bisa memejamkan matanya padahal Aruna sudah tidur lebih dulu disofa sementara Bian masih saja belum bisa tidur.


"Seharusnya malam ini aku tidak membiarkan nya tidur nyenyak seperti itu." gerutu Bian sambil memandangi wajah lelap Aruna.


Pintu terbuka, seorang perawat tampak masuk membawa nampan berisi suntikan.


"Selamat malam Pak, bagaimana keadaannya?" sapa perawat itu ramah.


"Seperti yang kau lihat!" balas Bian acuh.


"Saya ingin menyuntikan obat ini ke infus."


"Ya, lakukan saja."


Perawat itu segera melakukan tugasnya, tanpa sengaja Bian menatap ke arah baju perawat itu dimana kancing atas terbuka memperlihatkan belahan gunung kembar yang mungkin membuat pria mana saja akan tergoda apalagi gunung kembar milik perawat itu terlihat besar.


"Aduh, maaf pak saya tidak sengaja." ucap perawat itu kala dadanya menyentuh bahu Bian.


Bian berdecak, Ia merasa perawat itu sengaja menggodanya.


"Apa kau memang biasa melakukan ini?" tanya Bian.


"Melakukan apa Pak?" perawat itu pura pura tak mengerti.


"Menggoda pasien disini?"


Perawat itu hanya tersenyum.


"Berapa hargamu?" tanya Bian membuat perawat itu semakin tersenyum lebar.


"Jadi apa Bapak butuh kepuasan malam ini? Saya bisa membantu tetapi memuaskan bapak, untuk masalah harga kita bicarakan jika sudah selesai. masalahnya saat ini, Bisakah Bapak mengusir gadis itu agar tidak menganggu kita." ucap perawat itu penuh percaya diri.


Bian tersenyum, "Suruh dia bangun."


Perawat itu mengangguk dan langsung menghampiri Aruna, "Hey bangun lah, kakakmu meminta kau untuk bangun."


Aruna yang sedang terlelap terkejut dan langsung bangun, "Ada apa sus?" tanya Aruna melihat seorang perawat berdiri didepannya.


"Sayang kemarilah." panggil Bian membuat perawat itu terkejut.


Dengan mata masih mengantuk dan bingung, Aruna berjalan mendekati Bian.


"Suster ini menawarkan diri untuk memuaskan ku, apa aku boleh mencobanya?"


Aruna terkejut, menatap ke arah perawat itu dengan tatapan marah, sementara perawat itu mengambil peralatan medisnya lalu keluar dari ruangan Bian, Ia merasa sudah dipermalukan oleh Bian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2