
Bian baru saja menyelesaikan pekerjaannya, Ia segera memasuki kamar pribadi yang ada diruangannya.
Bian melihat Aruna sudah terlelap. Bian mendekat, Ia baru ingin membangunkan Aruna dan mengajaknya pulang namun saat menyentuh dahi Aruna sangat panas membuat Bian panik.
"Demam, kamu demam." Ucap Bian segera keluar dan memanggil Sadam.
"Aruna demam, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Bian terlihat panik.
"Sepertinya kita harus memanggil dokter Pak."
Bian mengangguk setuju, "Cepat panggil dokter agar Aruna segera diperiksa."
Sadam mengangguk dan segera keluar dari ruangan Bian.
Dua puluh menit, Sadam kembali dengan membawa dokter pria muda yang tampan.
"Ck, kenapa tidak mencari dokter wanita saja!" Bisik Bian.
"Maaf Pak, hanya dokter ini yang masih ada diklinik dan mau datang kesini." Jelas Sadam.
Bian hanya menghela nafas panjang, mau protes pun juga tidak bisa karena Aruna membutuhkan dokternya.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Dia demam karena terlalu lama terkena suhu air dingin dan juga trauma, membuatnya banyak berpikir dan sakit, apa yang terjadi padanya?"
"Tidak ada, aku pikir dia hanya kelelahan." Kata Bian tak mau mengatakan yang sebenarnya.
"Ini resepnya, segera berikan obat penurun demam." Kata Dokter itu sambil mengulurkan resep obat.
"Jika sudah selesai silahkan pergi!" Usir Bian pada Dokter yang mencuri curi pandang pada Aruna yang terlelap.
"Dia..."
"Dia istriku!"
"Oh maaf, tadi asisten mu bilang dia adikmu." Kata Dokter itu tersenyum mengejek "Kalau begitu saya permisi, hubungi saya lagi jika terjadi sesuatu dengan Nona ini." Tambah Dokter itu sebelum Ia keluar dari ruangan pribadi Bian.
"Dasar mata keranjang, bisa bisanya dia memandang pasiennya dengan pandangan seperti itu!" Omel Bian.
Bian memberikan resep obatnya pada Sadam agar dibawa ke apotik untuk mendapatkan obatnya.
Tak sampai tiga puluh menit, Sadam sudah kembali membawa obatnya.
"Terimakasih untuk hari ini, sekarang pulanglah. Aku mungkin akan menginap disini." Kata Bian.
Sadam sempat melonggo, "Bukannya didalam hanya ada satu ranjang?"
"Tentu saja aku akan tidur disofa, kau pikir aku cabul sepertimu!" Ucap Bian sengit.
Sadam tertawa, "Maaf Tuan, kalau begitu saya permisi." Pamit Sadam lalu pergi meninggalkan Bian.
Bian memasuki kamar, membawa segelas air dan obat Aruna.
"Bangun Run, bangun sebentar." Kata Bian sambil mengoyang goyangkan tubuh Aruna.
Aruna membuka matanya namun belum merespon ucapan Bian.
"Minum obat dulu."
__ADS_1
Aruna mengerutkan keningnya, "Obat apa kak, aku tidak sakit."
"Kamu demam."
Aruna sadar, "Pantas rasanya tidak enak."
Aruna bangun, duduk bersandar pada ranjang. Mengambil obat yang sudah disiapkan Bian lalu menelannya.
"Terimakasih kak."
"Hmm, sekarang tidurlah lagi."
Aruna mengangguk dan kembali berbaring,
"Kakak tidur dimana?"
"Disini." Balas Bian berbaring di sofa.
"Tidurlah disini tidak apa apa kak." Kata Aruna menepuk nepuk ranjang sampingnya yang kosong.
"Kamu tidak apa apa, aku yang apa apa!" Gerutu Bian.
"Apa sih kak, ya sudah kalau nggak mau nggak usah ngomel!" Sewot Aruna lalu berbalik memunggungi Bian.
Bian tersenyum geli, mendengar kali pertamanya Aruna bisa sesewot itu padanya.
Bian mencoba memejamkan matanya, namun entah mengapa matanya sulit terpejam, posisinya sangat tidak nyaman karena ukuran sofa yang sempit.
"Tidurlah disini kak." Kata Aruna yang mendengar suara decakan Bian berkali kali.
Bian akhirnya menyerah, Ia bangun dan bergegas berbaring disamping Aruna.
"Aku jadi tidak bisa tidur lagi." Keluh Aruna.
"Ck, lalu kau mau apa? Berbaliklah. Jangan mengodaku!"
"Aku tidak mengoda kakak." Sangkal Aruna yang memang tidak merasa mengoda Bian.
"Jika kau berbalik dan menatap ku dengan wajah seperti itu sama saja kau mengodaku." Batin Bian.
"Ah sudahlah." Kini Bian berbalik memunggungi Aruna.
Aruna berdecak lalu ikut berbalik memunggungi Bian. Keduanya sama sama memunggungi satu sama lain.
Paginya...
Aruna merasa tubuhnya terasa berat, Ia membuka matanya, merasakan hembusan nafas tepat dipipi kirinya, Ia juga merasa ada yang menindih kakinya dan juga ada yang memegang salah satu gunung kembarnya.
Aruna menyadarkan dirinya, melihat kesamping dan terkejut melihat wajah tampan Bian sangat dekat dengannya.
"Kak..." panggil Aruna dengan suara pelan, Aruna sama sekali tidak bergerak apalagi menyingkirkan tangan Bian dari gunung kembarnya.
"Kak..." sekali lagi Aruna memanggil Bian.
"Hmmm..." suara Bian terdengar, namun masih dengan mata terpejam.
"Sadarlah, lihat apa kamu lakukan padaku." Kata Aruna membuat Bian membuka matanya.
"Kenapa aku tidur disini dan kenapa ini empuk sekali, apa yang ku peggang?" Heran Bian malah meremas pelan gunung kembar yang ada ditangannya.
__ADS_1
Aruna menahan, remasan Bian bak listrik yang menyentrum tubuhnya, memberikan sensasi aneh namun terasa nikmat.
"Kak..."
"Hmm..." Bian masih belum sadar dan masih ******* ***** gunung kembar Aruna.
"Sadarlah dan lihat apa yang kau lakukan." Kata Aruna.
Bian akhirnya menyadarkan dirinya, menatap Aruna yang sangat dekat denganya, menyingkirkan kakinya yang menindih kaki Aruna dan terakhir, tangan... tangan Bian masih berada digunung kembar Aruna.
"Haa... pantas saja empuk." Ucap Bian tanpa merasa berdosa.
Bian menyingkirkan dirinya, menjauh dari tubuh Aruna yang membuat miliknya tegang.
"Kak... nggak minta maaf?" Sindir Aruna saat Bian bangun begitu saja tanpa merasa bersalah sudah mengerayangi tubuh Aruna.
"Ck, aku nggak sadar, lagian kamu juga keenakan gitu." Balas Bian santai mengambil handuk lalu memasuki kamar mandi.
"Sial, malu banget gue. Bisa bisanya gue pegang gunungnya Aruna." Umpat Bian merutuki kebodohannya.
"Tapi gunung Aruna gede juga ya." Bian tersenyum nakal, Ia segera menguyur tubuhnya dengan air dingin agar segera sadar.
Bian keluar, hanya melilitkan handuk dipinggangnya memperlihatkan tubuhnya yang kekar.
"Nggak usah liat liat!" Ketus Bian saat Aruna menatapnya tak berkedip.
Aruna hanya mendengus sebal,
Bian menghampiri Aruna, memegang dahi Aruna, ingat jika semalam Aruna demam.
"Udah nggak demam tapi kamu harus istirahat, nggak usah ngampus dulu." Kata Bian namun Aruna tidak mendengarkan malah fokus menatap dada kotak kotak milik Bian.
Aruna tidak pernah melihat Bian olahraga atau ngegym tapi kenapa badan Bian bisa sebagus ini batin Aruna.
"Dengerin nggak sih!"
"Eh apa kak?" Aruna tampak terkejut karena sedari tadi memang tidak mendengarkan Bian berbicara.
"Ck, nggak usah ngampus dulu. Istirahat aja disini."
Aruna mengangguk, "Lagian Aruna juga takut kalau sampai ketemu Adam lagi."
"Udah nggak akan ketemu Adam lagi, kamu tenang aja." Kata Bian sambil mengelus kepala Aruna.
"Kok bisa gitu kak?"
"Ya bisa-" ucapan Bian terpotong karena ponselnya berdering.
"Ada apa?" Suara Bian terdengar dingin saat menjawab panggilan dari Sadam.
"Apa? Bagaimana bisa!" Sentak Bian membuat Aruna menatap ke arahnya.
Bian mengakhiri panggilan, Ia baru saja mendapatkan laporan jika kelima anak buahnya yang berjaga di apartemen Adam di usir oleh David yang tak lain adalah Papa Bian.
Ya David membebaskan Adam dari tawanan Bian.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komennn
__ADS_1