
Pagi ini Aruna menyempatkan untuk kerumah sakit karena Bian harus kontrol mingguan.
Beruntung tidak terlalu banyak pasien jadi Aruna dan Bian tidak harus antri panjang.
"Perkembangan cukup bagus, jika seperti ini luka akan cepat kering dan sembuh." ucap Dokter membuat Bian tersenyum lebar.
"Jadi hari ini bisa lepas perban? Sepertinya tangan ku juga sudah mulai bisa digerak kan." ungkap Bian.
"Tidak, belum sekarang. Mungkin minggu depan."
Bian berdecak, "Apa aku masih harus puasa lagi!" kesal Bian.
"Ya kau harus lebih bersabar lagi untuk menyentuh istrimu." ucap Dokter itu sambil tertawa karena tahu masalah Bian.
"Apa kau yakin tidak mengerjaiku dok?" selidik Bian.
"Jika kau menuduhku, mungkin aku akan menambah perpanjangan perban hingga dua minggu, bagaimana?"
"Dan aku akan membuat rumah sakitmu bangkrut, bagaimana?" ancam Bian tak mau kalah.
"Sudahlah, ada apa dengan kalian ini." ucap Aruna merasa heran mendengar Dokter dan Bian yang seolah tak mau kalah.
"Baiklah aku akan memberi resep obat agar kalian bisa segera pergi." ucap Dokter itu segera menuliskan resep obat untuk Bian.
Selesai kontrol, Aruna mengantar Bian ke kantor.
"Apa nanti siang kau tidak datang lagi?" tanya Bian mengingat kemarin Aruna tidak datang.
"Aku akan datang,"
"Jika kau tidak datang lagi, aku akan meminta karyawan wanita ku untuk menyuapiku." ancam Bian yang malah membuat Aruna tertawa.
"Aku tahu kau tidak akan melakukan itu."
"Kau meremehkan ku? Lihat saja aku akan melakukannya!"
Aruna tersenyum, "Jangan melakukannya, aku tidak mau marah lagi denganmu, bukankah semalam kita sudah berjanji untuk menjaga hubungan?"
Bian tersenyum, Ia merasa sedikit kekanakan karena mengancam Aruna.
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya, jadi datanglah." kata Bian yang langsung diangguki Aruna.
Setelah Bian keluar, Aruna melajukan mobilnya menuju kampus. Aruna sengaja melewati jam pertama nya karena pagi ini kelas Jessi. Ia sedang tidak ingin berpikiran buruk jadi memilih tidak mengikuti kelas Jessi.
__ADS_1
Di jam kedua barulah Aruna masuk kelas namun siapa sangka jam kedua ini Ia malah bertemu dengan Jessi karena Jessi bertukar dengan kelas jam pertama.
Aruna mencoba tenang, Ia mengikuti pelajaran Jessi sebaik mungkin meskipun sedari tadi Jessi memandangnya dengan padangan tak suka.
"Aruna tolong maju ke depan!" perintah Jessi.
Aruna tidak melakukan kesalahan apapun dan diminta ke depan namun Aruna tetap berjalan ke depan, menghormati permintaan Jessi.
"Apa kau tahu kesalahanmu?" tanya Jessi.
Aruna menggelengkan kepalanya, Ia merasa tidak melakukan apapun yang salah.
"Kau menguap berkali kali dikelasku, apa kelas ini membosankan untukmu?"
Aruna melonggo, merasa tak percaya dengan apa yang baru Ia dengar.
Bisa bisanya Jessi mengatakan Ia menguap padahal Aruna sama sekali tidak menguap. Kini Aruna sadar jika Jessi sedang mencari kesalahannya.
"Maafkan aku Miss, aku tidak bisa menahan diri. Setiap malam suamiku selalu minta jatah hingga aku harus tidur larut. Miss tahu kan aku sudah menikah." ucap Aruna sambil memamerkan cincin yang melingkar dijari manisnya.
Semua teman dikelasnya tampak tertawa mendengar jawaban Aruna berbeda dengan Jessi yang terlihat geram dan sangat marah.
"Diam! Apa kalian pikir ini candaan?" sentak Jessi pada semua muridnya yang tertawa.
"Kau benar benar! Berdiri disana, jangan harap kau bisa duduk dikelasku!" perintah Jessi memberikan hukuman pada Aruna.
"Baiklah Miss."
Aruna berbalik, Ia tersenyum lebar karena bisa mengerjai Jessi.
Tadinya Ia kesal karena tak melakukan kesalahan apapun dan mendapatkan hukuman namun kini Ia justru senang bisa membuat Jessi sangat kesal padanya.
"Bagaimana rasanya berdiri satu jam, apakah enak?" ejek Jessi saat kelas usai dan menghampiri Aruna.
"Rasanya biasa saja, mungkin karena aku sudah biasa berdiri seperti ini. apa Miss tahu suamiku sedang sakit kami tidak bisa melakukan hubungan dengan baik jadi kami melakukan dengan cara berdiri seperti ini." pamer Aruna padahal Ia sama sekali belum tahu apapun tentang hubungan suami istri, Aruna hanya ingin membuat Jessi panas dan Aruna sudah melakukannya, melihat wajah merah marah Jessi serta tangan Jessi yang mengepal sudah dipastikan jika Jessi sangat marah.
"Apa kau berniat pamer padaku?"
Aruna menggelengkan kepalanya, "Jangan salah paham Miss, aku hanya mengatakan yang sebenarnya." ucap Aruna lalu tersenyum.
Jessi sempat menatap Aruna tajam sebelum akhirnya Ia pergi meninggalkan kelas.
"Gila, Lo kenapa tiba tiba jadi gini sih Run?" tanya Nysa yang baru saja menghampirinya.
__ADS_1
"Gini gimana?"
"Ya biasanya Lo kalau dimarahin meskipun nggak salah, Lo diem aja kayak orang bego!"
"Ck, sekali kali lah ngelawan." balas Aruna santai.
"Mungkin efek kalau udah married gini ya?" celetuk Nysa sambil tertawa.
Aruna hanya tersenyum, Jika yang memarahinya dosen lain mungkin dia tidak akan seberani itu, tapi dia hanya Jessi, wanita yang mungkin akan mencari kesalahannya. Aruna sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan Jessi berbuat semena mena padanya.
Aruna harus lebih kuat mulai sekarang.
Aruna, Nysa dan Keisha sedang berada dikantin menikmati jam istirahat mereka.
"Habis ini Lo ke kantor Kak Bian?" tanya Nysa.
"Iya, kasihan Kak Bian belum bisa makan sendiri."
"Kemarin dia disuapin sama Mas Sadam gegara Kamu nggak datang." ungkap Keisha yang langsung membuat Aruna dan Nysa terkikik geli.
"Gue nggak bisa bayangin, cowok sama cowok suap suapan gitu, pasti gemesin tahu nggak sih." celetuk Nysa.
"Gue kesana sekarang aja deh ntar keburu disuapin sama Kak Sadam lagi." ucap Aruna langsung berdiri.
Saat Aruna ingin keluar dari kursinya, ada orang yang sengaja menabrak dirinya hingga minuman orang itu tumpah dibaju Aruna tepat dibagian dada.
"Upss, sorry." ucap orang itu yang tak lain adalah Jessi.
"Nggak lihat kalau ada orang disini." ucapnya lagi.
"Miss sengaja ya?" tuduh Keisha tak terima.
"Kan udah dibilang nggak sengaja, ngomong ngomong ukurannya kok kecil banget kayak telur dadar, yakin Suami kamu puas?" ejek Jessi saat baju yang dipakai Aruna menjimplak, terlihat dua gunung kembar milik Aruna yang rata.
"Eh wajar lah Miss kalau kecil orang dia bukan wanita murahan yang tidurnya sama om om." celetuk Keisha masih tak terima.
Sejujurnya Aruna sangat insecure mendengar ejekan Jessi namun sepertinya ini bukan waktunya down, Aruna harus melawan.
"Nggak apa apa miss kalau ukurannya kecil kayak telur dadar yang penting dibawahnya masih rapet dan legit soalnya yang pakai cuma satu orang nggak untuk banyak orang." balas Aruna tersenyum mengejek diikuti suara tawa Keisha yang renyah.
Jessi hanya mengepalkan tanganny lalu segera pergi dari sana.
Bersambung...
__ADS_1