
Setelah beberapa kali gagal menemui Anneta karena penjagaan dari Mbok Inem yang sangat ketat kini akhirnya David berhasil memasuki kamar yang ditempati Anneta saat Mbok Inem lengah, pergi kepasar dan lupa mencabut kunci pintu kamar.
"Kau terlihat sudah sehat!" Ucap David terdengar mengejek.
Anneta hanya diam saja, Ia tidak takut tidak juga memperdulikan David bahkan Anneta terlihat masih asyik menonton acara televisi, tak mengubris keberadaan David saat ini.
"Kapan kau akan mengurus perceraian kita? Rasanya aku sudah tak sabar ingin mengusir kalian dari rumah ini." Kata David lagi.
Anneta masih saja diam tak bergeming membuat David kesal karena merasa Ia mengoceh sendiri.
"Apa kau sangat patah hati karena aku sudah memiliki wanita lain dan meminta cerai?" Ejek David.
Anneta menghela nafas panjang, "Sebaiknya kau keluar saja karena ocehanmu sangat tidak berguna dan lagi aku tidak suka jika barang barang ku disentuh orang tetapi jika kekasihmu menyukai barang bekasku, aku ikhlas memberikan untuknya."
"Apa maksudmu?" David terpancing dan terlihat kesal.
"Ku dengar kau menampar Aruna karena Aruna melarang kekasihmu memakai barangku?"
"Semua yang ada dirumah ini milik ku!" Ucap David penuh penekanan.
"Ya ambil saja, aku bahkan tidak butuh semua itu tapi seharusnya kau tidak lupa siapa yang sudah membuatmu berada di posisi ini."
"Jika bukan karena perusahaan orangtua Aruna, kau bahkan bukan siapa siapa!" Ungkap Anneta membuat David sangat marah lalu berjalan mendekat.
Tangan David terangkat seolah ingin mencekik Anneta.
"Disini ada banyak cctv, jika kau berani menyentuhku, Bian tidak akan diam saja." Kata Anneta menunjukan dimana letak cctvnya.
"Sial, banyak sekali." Umpat David akhirnya menurunkan tangannya tidak berani melakukan apapun lagi.
David akhirnya keluar dari kamar Anneta membuat Anneta menghela nafas lega.
David membanting pintu kamarnya membuat Mia terkejut, "Ck, apa yang terjadi?"
"Tidak apa apa!" Balas David lalu memilih duduk dipinggir ranjang.
Mia ikut duduk disamping David, "Ku lihat akhir akhir ini kau sudah jarang ke kantor."
"Untuk apa ke kantor, perusahaanku sudah-" David tidak melajutkan ucapannya karena Ia hampir saja keceplosan jika perusahaannya sudah bangkrut. David tidak ingin Mia tahu, tidak jangan sampai Mia tahu.
Saat ini perusahaannya memang sedang terlilit banyak hutang, David berencana menjual rumahnya ini agar Ia bisa membayar semua hutangnya dan perusahaannya bisa kembali namun untuk menjual rumah ini tentu Ia harus menunggu perceraiannya selesai lebih dulu dan Ia memiliki hak asuh atas Aruna, dengan begitu Ia bisa menguasai Aruna karena semua harta yang Ia miliki adalah peninggalan orangtua Aruna dan atas nama Aruna.
__ADS_1
Sebelumnya memang sudah ada perjanjian jika terjadi perceraian diantara David dan Anneta, mereka akan membagi anak. Anneta bersama Bian sementara Aruna bersama David.
"Sudah apa?" Tanya Mia menatap David curiga.
"Apa kau lupa, aku bos disana jadi tidak perlu datang semua sudah diurus anak buahku!"
"Oh seperti itu, ya sudah aku lega. Ku pikir kau bangkrut karena kemarin kartu kreditku tidak bisa digunakan." Kata Mia.
"Tidak bisa digunakan?" David terkejut.
"Ya, saat aku membeli boba dan tidak bisa membayar minuman jadi aku menjual tas milik istrimu." Akui Mia.
"Kau gila? Tas itu sangat mahal, berapa kau menjualnya?"
"Sepuluh juta, aku juga menyesal karena tahu ternyata tas itu sangat mahal, wanita tua itu sudah menipuku!"
"Dasar bodoh, bagaimana bisa kau menjual semurah itu padahal harganya saja hampir satu milyar! Lalu dimana uangnya sekarang?" Tanya David terlihat sangat kesal.
"Uangnya hilang bersama ponsel dan tas baru ku karena aku kecopetan saat dijalan."
David menjambak rambutnya, merasa frustasi kenapa Mia bisa sebodoh ini.
"Berhentilah mengomel dan marah, salah sendiri kartu kreditmu tidak bisa digunakan. Sekarang aku ingin minta uang untuk membeli ponsel baru." Pinta Mia tanpa merasa bersalah sedikitpun bahkan Mia tidak merasa takut dengan David yang sedang marah saat ini padahal kemarin Mia sempat takut karena menjual tasnya namun setelah semalam Ia memuaskan hasrat David, Mia merasa memiliki kuasa atas David.
"Kenapa? Kau bilang tidak bangkrut, kenapa tidak bisa memberi uang?" Mia tampak kecewa.
"Saat ini aku sedang marah padamu, tunggulah besok aku akan membelikanmu ponsel." Ucap David mencari alasan lalu pergi meninggalkan Mia.
Sementara itu dikantor, Aruna dan Ryan tampak asyik mengobrol berdua sambil menunggu Bian kembali.
Saat Ryan sampai disini memang Bian sedang keluar meeting jadi Ryan diminta menunggu diruangan Bian dan siapa sangka Ia malah bertemu gadis cantik yang sangat periang seperti Aruna.
"Mengobrol bersamamu seperti ini mengingatkan ku pada sahabat lamaku," ungkap Ryan.
"Sahabat lamamu? Siapa mereka?"
"Namanya Rega dan Amira, mereka sepasang suami istri yang sangat bahagia dan saling mencintai."
Mendengar nama kedua orang itu entah mengapa membuat hati Aruna menghangat, namanya seolah tak asing untuk Aruna namun Aruna juga bingung karena baru pertama kali mendengar nama itu.
"Kemana mereka sekarang? Aku juga ingin bertemu dengan mereka." Kata Aruna spontan mengucapkan itu.
__ADS_1
"Mereka sudah meninggal." Ucap Ryan dengan raut wajah sedih.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud-"
"Tidak apa apa, aku hanya bercerita saja." Potong Ryan.
"Jadi sebaik apa mereka hingga membuatmu masih mengingat mereka?" Aruna mulai penasaran.
"Dulu kami berempat, aku, Rega, Amira juga satu lagi seorang gadis yang sangat cantik."
"Siapa namanya? Pasti kau menyukainya?" Goda Aruna.
Ryan tersenyum, "Aku tidak bisa menyebutkan namanya tapi yang jelas aku sangat mencintai gadis itu hingga sekarang."
"Wah, Bapak romantis sekali." Puji Aruna.
"Kami bersahabat, membuat bisnis bersama hingga bisa membayar kuliah sendiri tanpa meminta uang orangtua, Rega dan Amira menikah disemester akhir, usaha kami semakin berkembang namun hanya Rega dan Amira yang melajutkan usaha itu. Aku pergi keluar negeri melajutkan kuliah disana sementara gadis yang kucintai juga sudah menikah dengan pria lain."
Wajah Aruna terlihat kecewa, seperti membaca sad story secara nyata.
"Kau bisa menerima gadis itu menikah dengan pria lain? Apa dia tidak mencintaimu?"
"Aku tidak memiliki pilihan lain hingga membiarkan mereka menikah."
"Apa itu alasanmu pergi keluar negeri?"
Ryan tertawa merasa tebakan Aruna benar, "Bisa dibilang waktu itu aku kabur karena terlalu kecewa, aku memang masih kekanakan."
"Hmm, rasanya wajar jika seperti itu." Ucap Aruna.
"Lalu bagaimana dengan Rega dan Amira? Kenapa mereka bisa meninggal?"
"Kecelakaan, mereka meninggal karena kecelakaan dan hanya putri mereka yang masih bayi yang selamat waktu itu."
Aruna terkejut, "Kasihan sekali, dimana putri mereka sekarang?"
Ryan diam tak lagi menjawab, rasanya ingin mengatakan, "Kamu, bayi yang selamat dimobil itu, kamu putri Rega dan Amira yang selamat." Namun bibirnya masih terasa berat untuk mengatakan itu semua.
Belum, sekarang belum waktunya...
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen