MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
134


__ADS_3

Pagi ini Anneta dan Ryan sudah berada dimeja makan untuk sarapan namun hampir lima belas menit menunggu Bian dan Aruna tak kunjung turun untuk ikut sarapan bersama.


"Mungkin mereka masih tidur, jadi kita sarapan dulu saja." ajak Anneta.


"Apa perlu saya panggilkan Nyonya?" tawar Mbok Siti.


"Tidak perlu, biarkan saja." ucap Ryan yang langsung diangguki oleh Mbok Siti.


"Mereka masih menikmati masa masa manis pernikahan." ucap Anneta sambil tersenyum mengingat dirinya saat ini pun juga begitu.


"Apa kau dulu juga begitu saat bersama David?"


Anneta menghela nafas panjang, Ia merasa akhir akhir ini Ryan sering mengungkit masa lalu nya bersama David, seolah masih cemburu dan tidak terima dengan masa lalunya.


"Jika kau menikahiku seharusnya kau juga menerima masa lalu ku, jika sulit seharusnya jangan menikahiku."


Ryan tersenyum lalu mengenggam tangan Anneta, "Kenapa istriku sensitif sekali pagi ini?"


"Kau yang membuatku seperti itu!" kesal Anneta.


"Baiklah, aku minta maaf, mulai sekarang aku tidak akan menanyakan lagi tentang masa lalu mu bersama David."


"Berjanjilah, jangan hanya minta maaf lalu kau akan mengulanginya lagi." kata Anneta.


"Aku berjanji sayang." balas Ryan lalu mengecup kening Anneta.


Sementara itu di kamar atas, Aruna baru saja membuka matanya, terkejut saat melihat jam dinding sudah pukul delapan pagi.


"Astaga, kita terlambat Kak." ucap Aruna panik membuat Bian terkejut dan ikut bangun.


"Apa yang terjadi?" tanya Bian dengan mata masih mengantuk.


"Sudah jam delapan kak, kita terlambat bangun." keluh Aruna.


Bian berdecak, "Apa kau lupa jika ini hari libur?"


Aruna terdiam, baru ingat jika ini hari sabtu dan mereka libur.


"Dua hari libur dirumah, waktunya pas sekali." celetuk Bian tersenyum nakal.


"A apa kita akan melakukannya lagi kak?"


"Tentu saja agar proyek pembuatan cucu untuk Mama segera jadi, apa kau tidak ingin segera hamil?"


Aruna mengangguk, "Tentu saja aku ingin kak."


"Jika seperti itu, mari kita awali pagi ini dengan mandi bersama." ajak Bian.


"Ta tapi kak-"


"Jika kau kebanyakan protes bisa bisa proyek kita gagal sayang, apa kau ingin membuat Mama dan Papa kecewa?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Baiklah Kak." ucap Aruna dengan suara lesu.

__ADS_1


Dengan penuh semamgat, Bian membawa Aruna ke kamar mandi. Sesampainya dikamar mandi mereka mulai mandi namun mandi kali ini berbeda dari mandi yang biasa mereka lakukan.


Jika kemarin Aruna hanya merasakan sakit, kini bukan sakit lagi yang Aruna rasakan namun rasa nikmat yang membuatnya melayang oleh setiap sentuhan Bian.


"Apa kau sudah mulai menikmati huh?" Bisik Bian disela sela aktivitas panas mereka.


Aruna tidak menjawab, hanya tersenyum malu.


Satu ronde dan keduanya pun selesai mandi. Bian menghampiri istrinya yang sedang menyisir rambut, "Rasakan tidak seburuk itu kan?" tanya Bian sambil memeluk Aruna.


Aruna tersenyum, "Aku merasa dibuat melayang kak." ungkap Aruna dengan polosnya membuat Bian gemas dan menoel hidung Aruna.


Keduanya dikejutkan oleh ketukan suara pintu yang cukup kasar,


"Itu pasti si pria tua!" gerutu Bian berjalan mendekati pintu dan membuka pintu.


"Apa kalian belum selesai?"


"Kami tidak akan pernah selesai jadi jangan menganggu!"


Ryan berdecak, "Aku hanya ingin mengingatkan kalian untuk sarapan lebih dulu sebelum memulai lagi."


"Kami memang ingin turun untuk sarapan." balas Bian acuh.


"Pagi Pa.." sapa Aruna yang baru saja selesai menyisir.


"Pagi cantiknya Papa." balas Ryan membuat Bian melotot tak terima.


"Menjijikan!" ucap Bian lalu mengandeng tangan Aruna dan mengajaknya turun.


"Maaf Ma..."


Anneta tertawa, "Tidak apa apa sayang, nikmati masa masa berdua sebelum nanti jadi bertiga atau mungkin berempat?"


Aruna tersenyum malu, Ia duduk disalah satu kursi dan langsung di hidangkan jus alpukat kesukaannya.


"Makasih Mbok," ucap Aruna pada Mbok Siti yang sudah membuatkan jus untuknya.


Selesai sarapan, keduanya menyusul Anneta dan Ryan yang duduk di ruang keluarga.


"Jadi bagaimana, apa kalian akan mengadakan pesta pernikahan?" tanya Ryan.


"Tentu saja kami akan mengadakan pesta pernikahan dan setelah itu kami juga akan pergi honeymoon." balas Bian.


"Bagaimana Aruna?" tanya Ryan pada Aruna.


"Runa nurut aja kok Pa."


"Ya sudah jika memang begitu, Papa dan Mama akan bantu mempersiapkan acara kalian." ungkap Ryan yang langsung diangguki Bian.


Anneta dan Ryan segera pulang setelahnya, kini tinggalah Bian dan Aruna.


Bian tidak ingin membuang kesempatan, Ia segera mengajak Aruna naik ke kamar atas.

__ADS_1


"Berapa lingerie yang kau beli?" tanya Bian mengingat kemarin Aruna mengenakan lingerie untuk menggodanya.


"Tiga, tapi aku sudah tidak mau memakainya lagi."


"Kenapa?"


"Aku malu kak!"


Bian tersenyum, "Kau hanya belum terbiasa sayang."


Aruna menatap ke arah Bian, "Apa Kak Bian menyukainya?"


Bian mengangguk, "Ya, aku menyukainya jadi pakailah agar aku senang." pinta Bian yang akhirnya dituruti oleh Aruna.


Aruna kembali mengenakan lingerie nya namun dengan model yang berbeda dari kemarin. Aruna keluar dari kamar mandi dengan kepala menunduk, berjalan mendekati Bian yang menatapnya liar.


Aruna memakai baju lengkap saja, Bian sudah tergoda apalagi hanya memakai lingerie ini tentu saja membuat Otong Bian langsung meronta ronta.


"Aku akan membuatmu menjerit pagi ini baby." bisik Bian dan langsung memulai aktivitas panas mereka.


Tak terhitung entah hingga berapa ronde mereka melakukan itu yang jelas kini keduanya terlihat lemas tak berdaya diranjang.


"Aku benar benar tak ingin berhenti melakukannya." ucap Bian.


"Aku sudah lelah kak!" keluh Aruna.


"Aku juga lelah sayang, aku tidak akan melakukannya lagi untuk hari ini."


Aruna malah memanyunkan bibirnya, "Aku tidak percaya, kemarin Kak Bian bilang seperti itu dan nyatanya masih melakukannya lagi!"


Bian tertawa, "Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menahan diri." ucap Bian lalu memeluk Aruna.


keduanya terdiam, hanya saling mengeratkan pelukan.


"Jangan tinggalkan aku kak." ucap Aruna.


"Ck, kenapa malah mengatakan hal seperti itu, aku tidak mungkin meninggalkanmu."


Aruna tersenyum, "Aku takut ada wanita lain yang membuatmu tergoda dan bisa berpaling dari ku."


"Tidak akan, kamu sudah membuatku merasa cukup."


Aruna tersenyum, tak menyangka jika Ia akan menikah dengan pria yang Ia anggap kakak selama ini. Ya kakak menyebalkan yang selalu usil padanya dan sering membuatnya menangis saat masih kecil.


Sementara ditempat lain, seorang pria memasuki ruangan dengan keadaan emosi.


"Jakaa...." suara pria itu berteriak memanggil salah satu anak buahnya.


"Saya datang Tuan."


"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan informasinya?"


"Sudah Tuan, ternyata kita mengenal orang itu Tuan. Pengusaha muda yang bekerja sama dengan perusahaan kita nama orang itu adalah Bian, ini fotonya Tuan." ucap Jaka mengulurkan selembar foto pada Tuannya.

__ADS_1


Pria itu tersenyum sinis menatap foto Bian.


Bersambung...


__ADS_2