MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
122


__ADS_3

Aruna berjalan ke kelasnya dengan senyuman mengembang. Ia sangat senang karena berhasil membuat Jessi kesal dan sangat marah.


"Mulai sekarang aku akan memakai semua baju yang ada di lemari Kak Bian." ucap Aruna lalu tersenyum licik.


Setelah selesai dengan semua kelasnya, Aruna bergegas keluar dari kelas. kampus sudah sepi, Ia kini berjalan sendirian karena Nysa sudah pulang lebih dulu.


Disatu sisi Aruna merasa diperhatikan sementara disisi lain Aruna merasa di ikuti oleh seseorang.


Saat Aruna berbalik tidak ada siapapun.


Aruna menjadi takut dan Ia memilih berjalan cepat menuju parkiran namun sayang sebelum sampai diparkiran Aruna dicekal beberapa orang lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi kosong yang ada dibelakang kampus.


"Apa yang kalian lakukan!" Teriak Aruna pada ketiga wanita yang memakai topeng.


"Kami membawamu kesini karena ada tugas penting yang harus kami selesaikan." ucap salah satu wanita itu. Suara nya tampak tak asing karena mungkin mereka adalah mahasiswi kampusnya.


"Apa maksud kalian?"


Salah satu wanita lain tampak mengeluarkan gunting yang membuat Aruna merinding ketakutan.


"Kalian memeganggi kedua tangannya, biar aku lebih mudah memotong rambutnya." perintah wanita yang membawa gunting.


"Apa kalian gila?" teriak Aruna lagi saat kedua tangannya sudah dicekal.


Wanita yang membawa gunting itu berjalan mendekat lalu menarik segenggam rambut Aruna.


"Sepertinya botak cocok untukmu." kata wanita itu.


Brakk... Salah satu pintu kamar mandi yang tak terpakai terbuka, mengejutkan semua orang yang ada disana.


tampak seorang pria tampan keluar dari dalam kamar mandi.


Aruna merasa tak asing dengan wajah pria tampan itu.


"Apa masih ada bullying disini?" tanya Pria itu menatap ketiga wanita satu persatu.


"Siapa kau? bagaimana bisa kau berada disini?" tanya wanita yang membawa gunting terlihat tangannya bergetar.


"Tidak penting siapa aku, yang pasti aku sudah menangkap kalian, lihat aku menaruh cctv disini dan sebentar lagi polisi akan datang kesini."


Wanita yang membawa gunting itu menjatuhkan guntingnya, begitu juga dengan dua wanita yang mencekal tangan Aruna, langsung melepaskan cekalannya.


Ketiga wanita itu segera kabur, lari ketakutan karena ancaman Pria itu.


"Nona baik baik saja?" tanya pria tampan membantu Aruna berdiri.

__ADS_1


"Ya aku baik baik saja. Terimakasih, semua berkat kamu mereka tidak jadi melakukan hal buruk padaku." ucap Aruna.


"Sudah menjadi tugas saya Nona, saya hanya ingin memastikan Nona baik baik saja."


"Kau ini..." Aruna masih mencoba mengingat.


Pria itu tersenyum, "Saya Leo anak buah Tuan Bian yang ditugaskan untuk menjaga Nona."


"Ah seperti itu," gumam Aruna.


Aruna merasa jika Jessi pasti bukan orang sembarangan jadi Bian meminta Seseorang untuk menjaganya.


Dan ketiga wanita itu pasti suruhan Jessi.


"Mereka pasti suruhan Jessi?" tanya Aruna memastikan jika dugaannya benar.


Leo mengangguk, sebelum menemui Aruna Ia sempat mendengar percakapan Jessi dengan ketiga wanita yang ingin memotong rambut Aruna. itulah sebabnya Leo bisa berada di kamar mandi tempat Aruna ingin di eksekusi.


"Sebaiknya Nona segera pulang, biar saya antar sampai tempat parkir." ucap Leo yang langsung diangguki Aruna.


Setelah dipastikan mobil Aruna aman, Leo mempersilahkan Aruna mengemudikan mobilnya.


Mobil Aruna sudah melaju meninggalkan Kampus, saat Leo ingin memasuki mobilnya, seseorang menghadangnya, Jessi. Wanita bule yang sangat cantik dan seksi.


""Bukankah rencana jahat memang seharusnya dihancurkan?"


Jessi tersenyum, "Berapa Bian membayarmu? Aku akan memberikan padamu dua kali lipat."


Leo ikut tersenyum, "Tidak ada yang bisa membayar loyalitasku pada Tuan."


Jessi mulai frustasi, "Lalu bagaimana dengan satu malam bersama, ku pikir kau pasti menginginkannya." ucap Jessi lagi, tangannya meraba dada bidang milik Leo, menggoda Leo.


Leo segera menyingkirkan tangan Jessi, "Jika kau masih perawan mungkin aku akan menerima tawaranmu tanpa berpikir namun sayang, kau bekas banyak orang. Aku tidak suka barang bekas."


Plakkkk... Jessi menampar pipi Leo karena ucapan Leo menyakitinya.


"Berhentilah bersikap murahan hanya karena ingin mengejar pria yang bahkan sudah tidak mencintaimu lagi, akan sia sia saja." ucap Leo lalu pergi meninggalkan Jessi.


Jessi masih berdiri ditempatnya, Ia memikirkan semua ucapan Leo, "No, aku tidak murahan. Apa yang ku lakukan ini benar. Aku harus tetap hidup dan memiliki segalanya jadi aku juga harus berjuang meskipun melakukan hal murahan seperti ini, ya aku benar, tidak ada yang salah dengan apa yang ku lakukan ini." gumam Jessi.


Leo memasuki mobilnya, Ia memeganggi pipinya yang terasa panas karena tamparan Jessi, "Wanita sialan, jika saja dia pria sudah ku habisi karena berani menamparku!" omel Leo.


"Ck, wajah tampan ku rusak karena bule murahan itu!" umpat Leo lagi.


Tiba tiba Leo tersenyum, "Bagaimana bisa dia mengajak ku tidur bersama? benar benar murahan." omel Leo lagi saat mengingat ucapan Jessi.

__ADS_1


Bagi Leo, loyalitasnya pada Bian adalah tanda terimakasih karena Bian sudah menyelamatkan ibunya dari sekarat karena tabrak lari.


Beberapa bulan yang lalu, ibunya ditabrak oleh sebuah mobil dan langsung kabur begitu saja. Waktu itu Mobil Bian berhenti dan membawa Ibunya kerumah sakit, Bian bahkan membayar biaya rumah sakit Ibunya.


Setelah Ibunya sembuh, Bian menawarkan pekerjaan untuknya, menjadi anak buah Bian.


Tentu saja Leo langsung menyetujui karena Ia berbakat dalam hal itu.


Bian langsung memberinya mobil dan uang sebagai gaji awal.


Bian sangat baik padanya, bagaimana mungkin Ia akan mengkhianati Bian karena tubuh seorang wanita?


Leo melajukan mobilnya meninggalkan kampus Aruna.


Sementara Jessi yang sedang frustasi karena rencananya gagal pun bersiap untuk pulang.


Baru selesai membereskan barangnya, seseorang memeluknya dari belakang dan Jessi tahu siapa itu.


Pria tua bangka salah satu donatur kampus yang membuatnya memiliki kuasa dikampus ini.


"Baby, aku sudah tak tahan lagi." ucap pria itu sambil mengerayangi tubuh Jessi.


"Apa kita akan melakukan disini? Aku sangat lelah. Mengertilah!" ucap Jessi merasa muak dengan pria tua itu.


"Apa kau menolak ku?"


Jessi memaksakan senyumnya, "Tentu saja tidak, tapi jangan disini. Ini kampus aku takut ada seseorang yang masuk."


"Aku sudah mengunci pintunya."


Jessi menatap pria tua itu sebal, Sungguh Ia sangat muak dengan pria ini. Jika saja bukan karena uang dan kariernya mungkin Jessi sudah menendang pria tua itu saat ini juga.


"Baiklah, kau ingin aku bergaya seperti apa?" tanya Jessi membuat senyum pria itu mengembang.


"Apapun gayamu, aku sangat menyukainya."


Dan Ruangan Jessi menjadi saksi percintaan Jessi dan kekasih tua nya itu.


Tanpa Jessi sadari, ada benda kecil mengkilap yang tertempel di dinding ruangannya.


Benda kecil yang mungkin akan menghancurkan hidupnya.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komeenn

__ADS_1


__ADS_2