
Pagi ini Sadam menjemput Keisha, bukan untuk mengantarnya ke kampus melainkan mengajaknya kesuatu tempat.
"Kita mau kemana?" Bingung Keisha saat Sadam membelokan laju mobilnya ke kiri bukan ke kanan.
"Nanti kamu akan tahu saat sampai."
"Baiklah, aku akan mendapatkan surprise lagi." Gumam Keisha yang langsung membuat Sadam tersenyum.
Keisha mengerutkan keningnya kala Sadam menghentikan mobilnya disebuah pemakaman umum.
"Apa kau akan membunuhku lalu menguburkan disini?"
Sadam tertawa, "jangan banyak menonton film psyco, membuat imajinasimu liar lebih baik tonton saja blue film agar kamu pandai memuaskanku nanti." Celetuk Sadam membuat Keisha memanyunkan bibirnya karena memang Keisha sering menonton film bertabur psyco.
Keisha selalu menbayangkan jika Ia menjadi pembunuh beratai, orang pertama yang akan Ia bunuh adalah Ayahnya, Ia mungkin akan menguliti ayahnya hidup hidup sampai mati agar ayahnya mengerti rasa sakit yang Ibunya rasakan atas segala perlakuan keji ayahnya.
Rangkulan Sadam membuat Keisha terkejut, "Apa yang kau bayangkan huh?"
Keisha tersenyum geli dengan imajinasinya yang mengerikan, "Tidak ada."
"Ayo masuk, mereka sudah menunggu." Kata Sadam yang membuat Keisha semakin penasaran dengan siapa yang menunggunya.
Langkah Sadam terhenti ditengah dua makam, "Ini Ayah dan Ibuku, ayo meminta restu pada mereka." Ajak Sadam yang sudah berjongkok lebih dulu.
Keisha mengikuti Sadam, Ia berada disamping Sadam.
Rega Hartono bin Nagara hartono, nama yang tertulis di batu nisan yang Aruna yakini jika itu Ayah dari Sadam, mata Keisha langsung tertuju pada nisan sampingnya yang bertuliskan Yuliana binti Margono, yang tak lain adalah makam Ibu Sadam.
"Ayah ibu... akhirnya Sadam kembali kesini setelah beberapa tahun tidak datang." Ucap Sadam sambil menatap dua nisan yang ada didepannya.
"Banyak sekali yang terjadi pada hidup Sadam sebelum ini, Sadam ingin menceritakan pada Ayah dan Ibu tetapi mungkin tidak sekarang karena sekarang Sadam datang untuk mengenalkan seseorang yang akan menemani hidup Sadam setelah ini." Ungkap Sadam membuat Keisha terharu bahkan ingin meneteskan air matanya.
"Namanya Keisha, dia cantik kan Bu? Seperti ibu. Mungkin apa yang ku rasakan saat ini sama seperti apa yang dirasakan Ayah, saat Ayah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ibu, aku juga merasakan itu.
Aku akan membahagiakan Keisha sama seperti Ayah yang membahagiakan Ibu." Kata Sadam yang membuat Keisha tak tahan lagi hingga akhirnya memeluk Sadam.
Setelah dirasa cukup puas berbicara, Sadam mengajak Keisha kembali ke mobil.
"Dasar cenggeng!" Ejek Sadam memberikan tisu pada Keisha yang wajahnya masih dipenuhi air mata.
"Ck, aku sangat terharu hingga membuatku tak tahan dan menangis."
__ADS_1
Sadam tersenyum, masih menatap ke arah Keisha yang sedang menyeka air matanya dengan tisu.
Terkadang Sadam juga tidak menyangka bisa langsung jatuh cinta pada gadis yang Ia temui diclub malam padahal biasanya Sadam tak pernah serius menjalin hubungan dengan para wanita namun sangat berbeda saat bersama Keisha.
Tidak peduli bagaimana kelamnya masa lalu Keisha, saat ini Sadam hanya ingin hidup bahagia bersama Keisha.
"Apa kau ingin ke kampus? Lima hari lagi acara pernikahan kenapa masih harus ke kampus?" Tanya Sadam saat Keisha memintanya untuk mengantar ke kampus.
"Aku hanya ingin menyebar undangan karena aku ingin teman temanku hadir diacara pernikahan kita nanti."
"Baiklah, segeralah pulang naik taksi jika urusanmu di kampus sudah selesai."
"Baik pak." Ucap Keisha dengan tangan hormat membuat Sadam tersenyum geli.
Sementara di klinik tempat Anneta dirawat, Bian dan Aruna bersiap untuk pulang karena mereka harus ke kantor dan ke kampus.
Mbok Inem sudah datang, waktunya Bian dan Aruna pergi.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Bian lebih banyak diam. Ia masih memikirkan tentang semalam dimana saat meminta restu pada Mama namun Mamanya hanya diam.
"Tidurlah, sudah sangat larut. Mama tidak ingin kamu kelelahan karena menjaga Mama." Ucap Anneta saat Bian menunggu jawaban tentang hubungannya dengan Aruna.
"Tidurlah Bian." Ucap Anneta lagi yang akhirnya membuat Bian mengangguk dan menuruti ucapan Anneta untuk tidur.
Sampai pagi ini, Anneta masih diam tidak memberikan jawaban membuat Bian ketar ketir takut tidak mendapatkan restu dari Mamanya.
"Ada apa kak? Tumben kak Bian diem aja?" Heran Aruna melihat Bian hanya fokus menyetir.
Bian memaksakan senyuman, "Tidak apa, aku hanya merasa sedikit lelah."
Wajah Aruna langsung khawatir, "Apa Kak Bian sakit?"
Aruna memegang dahi Bian namun tidak demam, mengingat semalaman Bian tidur dilantai.
"Aku tidak sakit sayang." Suara Bian terdengar berat.
"Pasti kak Bian masih memikirkan Papa dan Mama ya?" Tebak Aruna.
Bian menggelengkan kepalanya, "Tidak, untuk apa aku memikirkan pria brengsek itu!" Ucap Bian dengan nada marah.
"Seburuk apapun Papa, dia akan tetap menjadi Papa kita kak."
__ADS_1
Bian berdecak, "Ambil saja, aku tidak mau memiliki Papa seperti itu!"
Aruna akhirnya diam, berdebat dengan Bian saat Bian masih emosi membuat mereka tidak baik jadi Aruna memilih diam saja.
Sampai dirumah, keduanya masuk langsung dibuat terkejut dengan keberadaan Mia dan David yang ada dimeja makan.
Mia terlihat masih mengenakan piyama yang menandakan jika mungkin semalam tidur dirumah ini. Pantas saja wajah Mbok Inem tadi terlihat berbeda saat datang ke klinik, sekarang Bian tahu apa penyebabnya.
"Selamat pagi, apa kalian ingin sarapan bersama kami?" Tawar Mia tersenyum ramah ke arah Bian dan Aruna.
"Makanlah dengan Papa kesayanganmu, aku akan naik ke atas." Kata Bian pada Aruna dan langsung naik ke atas meninggalkan Aruna.
Aruna hanya menghela nafas panjang, Bian marah padanya. Aruna lebih memilih ikut naik ke atas dari pada muak melihat romatisme Papa dan juga selingkuhannya yang tidak tahu malu itu.
Selesai mandi dan sudah rapi mengenakan pakaian untuk ke kampus, Aruna menghampiri Bian ke kamarnya. Aruna melihat Bian sedang mengenakan dasi, segera Aruna mendekat dan mengambil alih, membantu Bian memasang dasi.
"Dia sangat brengsek, apa kau lihat? Dia bahkan membawa perempuan itu kerumah ini bahkan mungkin semalam dia bercinta disini saat Mama sedang sakit, aku benar benar membencinya." Ungkap Bian dengan mata memerah menahan amarah.
Aruna segera memeluk Bian, mencoba menenangkan amarah Bian.
"Maaf, maaf masih belum mengerti tentang apa yang kak Bian rasakan." Ucap Aruna.
Bian membalas pelukan Aruna, pelukan yang sangat membuatnya tenang disaat seperti ini.
Bian dan Aruna turun, Mereka masih melihat David dan Mia yang masih berada dimeja makan.
"Lisptikmu berantakan." Ucap Bian menyentuh bibir Aruna tepat didepan David.
Dan tak disangka, Bian menarik dagu Aruna lalu mencium bibir Aruna tepat didepan David membuat David mengepalkan tangannya.
"Bibirmu sangat seksi dan manis membuatku bergairah." Ucap Bian lalu mengajak Aruna keluar dari rumah.
"Bagaimana bisa Ia mencium adiknya sendiri?" Heran Mia saat Bian dan Aruna sudah tidak terlihat.
David diam, sorot matanya terlihat sangat kesal.
"Bian sudah berani terang terangan didepannya, tidak bisa dibiarkan begitu saja!"
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komenn
__ADS_1