
Bian membawa tubuh Aruna ke pangkuannya, ciuman mereka semakin lama semakin panas, tanpa peduli jika mereka sedang ditempat umum saat ini.
Cekrek... cekrek... seseorang tampak memotret kegiatan panas mereka dari balik semak lalu meninggalkan tempat itu.
Bian dan Aruna melepaskan tautan ciuman mereka setelah cukup lama berciuman.
Bian memandangi wajah Aruna yang menunduk malu.
Aruna hendak menyingkir dari pangkuan Bian namun Bian menahannya.
"Malu kak, takut dilihat orang." Kata Aruna.
"Tadi kamu tidak malu menciumku, kenapa sekarang malu?" Goda Bian yang membuat wajah Aruna semakin memerah bak kepiting rebus.
Aruna memaksa diri untuk menyingkir dari pangkuan Bian karena Ia tak tahan dengan tatapan mata Bian kepadanya.
"Kayak nggak ada hotel aja." Cibir Aruna menirukan suara Bian saat awal mereka datang kesini.
Bian tertawa geli mendengar ucapan Aruna.
"Pulang kak." Ajak Aruna karena Bian masih belum berhenti memandanginya.
"Kemana? Hotel?" Goda Bian.
Aruna memukul lengan Bian, "Nggak usah mesum deh kak!"
"Siapa yang mesum, dihotel kita pesen dua kamar lah!" Kata Bian membuat Aruna menunduk malu karena salah paham.
"Lagian ngapain ke hotel, rumah kita aja deket." Aruna akhirnya tak mau kalah.
"Jadi mungkin kita harus liburan jauh dulu ya biar bisa kehotel."
"Eh liburan jauh?" Aruna tampak tertarik.
"Mau?"
Aruna mengangguk semangat, "Mau kak, kepantai ya kak." Pinta Aruna penuh harap karena sudah lama sekali Ia tidak liburan ke pantai. Terakhir liburan saat dirinya masih dibangku sekolah menengah.
"Nungguin kamu liburan semester dulu baru kita jalan jalan jauh." Kata Bian membuat Aruna langsung bersorak seperti anak kecil.
"Kakak udah janji lho, awas aja kalau bohong."
Bian mengangguk lalu tertawa kecil melihat tingkah mengemaskan Aruna.
Semakin malam udara semakin dingin membuat keduanya memutuskan untuk pulang.
"Kemana lagi kita?" Tanya Aruna saat keduanya sudah memasuki mobil.
"Pulang lah, udah malam sayang."
Deg... jantung Aruna rasanya berloncatan saat Bian memanggilnya sayang.
__ADS_1
"Kok diem? Marah? Masih mau jalan jalan?" Tanya Bian saat Aruna hanya diam saja.
"Eng, enggak marah kak. Kaget aja Kak Bian manggil sayang." Jujur Aruna.
"Ck, aku emang sayang sama kamu gimana?" Akui Bian akhirnya mengungkapkan perasaan yang selama ini Ia pendam karena takut jika Aruna tidak menyukainya namun ternyata Bian salah karena Aruna juga menyukainya.
Mengingat saat ditaman tadi Aruna yang selama ini pemalu mendadak agresif mencium bibirnya.
Aruna tidak menjawab malah menundukan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah malu karena ucapan Bian.
Sementara itu, David tampak membanting ponselnya diranjang setelah melihat foto ciuman Bian dan Aruna ditempat umum.
David memang sengaja meminta orang untuk mengikuti Bian dan Aruna karena Ia ingin memastikan jika hubungan keduanya hanyalah sebagai saudara namun nyatanya David salah. Melihat mereka sudah berani berciuman sudah dipastikan jika hubungan keduanya lebih dari saudara.
"Apa yang kalian lakukan? Benar benar mengecewakan!" Umpat David.
"Ada apa sayang?" Anneta yang sudah pulang sejak sore tadi tampak menghampiri David yang terlihat marah.
"Ada banyak masalah dikantor membuatku sedikit pusing." Kata David berbohong.
Anneta tersenyum, "Mungkin ini akan membuatmu senang." Anneta memberikan sebuah kotak kecil pada David.
"Apa ini?"
"Buka saja."
David membuka kotak kecil dan matanya melotot tak percaya saat melihat isi kotak kecil itu. Sebuah tespack bergaris dua.
"Honeymoon kita waktu itu berhasil karena aku hamil." Ucap Anneta dengan raut wajah senang.
"Sebelum kita honeymoon aku sengaja melepaskan Kb dan siapa sangka aku berhasil hamil." Ungkap Anneta dengan raut wajah senang.
"Apa kamu tidak menyukainya sayang?" Anneta memeluk tubuh David.
"Te tentu saja aku menyukainya." David mengelus kepala Anneta dan memaksakan senyumnya.
Sejujurnya David tidak menyukai kehamilan Anneta, karena Ia sudah berniat menceraikan Anneta saat rencananya untuk Bian berjalan lancar namun dengan keadaan Anneta saat ini tentu saja David harus memikirkan ulang tentang perceraiannya.
"Tapi kenapa wajahmu terlihat tidak menyukai kehamilanku?" Tanya Anneta dengan wajah cemberut.
"Aku hanya terkejut sayang dan tidak menyangka kau akan hamil di usia kita sekarang ini dan lagi anak anak kita sudah besar, rasanya mungkin akan aneh jika kita memiliki baby lagi." Ungkap David.
"Tentu saja tidak aneh, Bian dan Aruna sudah dewasa, sebentar lagi pasti mereka akan meninggalkan kita karena menikah dengan pasangannya masing masing dan kita masih memiliki baby yang menemani masa tua kita." Ungkap Anneta terlihat antusias.
"Baiklah terserah kamu saja." Kata David memaksakan senyuman.
Anneta mendengar suara Bian dan Aruna sudah pulang, buru buru Anneta mengambil tespack yang ada ditangan David dan berlari ke pintu.
"Aku akan memberitahu Bian dan Aruna." Kata Anneta sebelum akhirnya Ia keluar dari kamar.
David menghela nafas kasar, "Sial, masalah dengan Adam sudah selesai kini ada masalah baru lagi!"
__ADS_1
David menjambak rambutnya frustasi.
Bian dan Aruna baru saja memasuki rumah, terkejut melihat Anneta berlari ke arah mereka.
"Mama... sudah pulang?" Aruna terlihat senang dan langsung memeluk Anetta membuat Bian ikut tersenyum senang.
"Mama ada kejutan buat kalian." Kata Anneta.
"Kejutan apa Ma?" Tanya Anneta terlihat tak sabar.
David ikut keluar kamar dan mendekat ke arah mereka.
"Kalian lihat sendiri." Anneta memberikan kotak dan saat dibuka oleh Aruna langsung saja Aruna menjadi girang.
"Beneran ma?"
Bian yang penasaran langsung melirik isi kotak yang sangat membuatnya terkejut.
Mama hamil,
"Bener dong, bentar lagi kalian punya adik." Ungkap Anneta.
Aruna bersorak gembira berbeda dengan Bian yang memperlihatkan wajah marahnya lalu pergi meninggalkan Anneta, Aruna dan David.
"Kak Bian kenapa?" Gumam Aruna merasa heran dengan sikap sang kakak.
"Mungkin dia nggak suka mau punya adik lagi." Ungkap David membuat Anneta dan Aruna merasa sangat kecewa.
"Trus aku harus gimana? Gugurin kandungan ini?" Wajah Anneta terlihat kecewa, langsung pergi meninggalkan David dan Aruna.
Tak berapa lama, David ikut menyusul Anneta tanpa mengatakan sepatah katapun pada Aruna.
Aruna menghela nafas panjang, baru saja merasakan bahagia namun sekarang harus merasakan sedih lagi.
Aruna menaiki tangga, Ia tidak ke kamarnya melainkan masuk ke kamar Bian.
Aruna mencari Bian yang ternyata duduk di balkon kamar sambil merokok. Kali pertama Aruna melihat Bian merokok.
"Kak..." sapa Aruna lalu duduk disamping Bian meskipun Ia sangat tidak menyukai asap rokok.
"Hmm..."
"Kenapa kakak seperti ini? Kenapa kakak tidak suka punya adik lagi?" Tanya Aruna to the point.
"Ribet!" Balasan Bian dengan suara kasar.
"Mama keliatan bahagia banget kak," kata Aruna.
"Ck, gue punya adik kayak Lo aja udah ribet gimana mau tambah satu lagi!"
Deg... Aruna terkejut dengan ucapan Bian, padahal baru saja mereka bercanda ria saling mengungkapkan perasaan satu sama lain seolah tidak akan menyakiti namun sekarang, Bian kembali lagi menjadi Bian yang dulu.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa