
Setelah semua urusannya selesai, Ryan mengantar Aruna kembali kerumah sakit.
"Tak terasa sudah menjelang malam, Bian pasti mencarimu." khawatir Ryan saat keduanya sudah berada didalam mobil perjalanan menuju rumah sakit.
"Ya, dia pasti marah padaku." Aruna seolah bisa menebak apa yang akan terjadi padanya.
Dan benar saja, sesampainya diruang rawat Bian, Aruna sudah disambut oleh wajah tak menyenangkan Bian.
"Apa kau sudah makan?" tanya Aruna mencoba mencairkan suasana.
"Aku belum makan seharian karena tidak ada yang menyuapiku!" ucap Bian membuat Anneta terkejut dan menahan geli karena pertama kalinya mendengar putranya berbohong. Bian bahkan sudah makan tiga kali hari ini, Ia yang menyuapi sedari tadi namun hanya karena ingin mencari perhatian dari Aruna Bian sampai berbohong seperti itu.
"Apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan membelikan untuk mu." tawar Aruna.
"Apa kau masih ingin keluar lagi? Apa masih belum puas sudah keluar seharian?"
Aruna menghela nafas panjang, dugaannya benar, Bian pasti marah karena Ia meninggalkan Bian seharian.
"Sebaiknya kita pulang saja, biarkan Aruna yang menjaga Bian." ajak Anneta seolah mengerti apa yang Bian mau.
"Ohh baiklah, putraku sayang aku sudah mengembalikan kekasihmu. sekarang aku dan Mama mu akann pulang agar kalian bisa berdua disini." kata Ryan yang hanya diacuhkan oleh Bian.
Bian hanya menatap sebal ke arahnya lalu kembali memalingkan wajahnya.
Setelah Anneta dan Ryan keluar, kini tinggalah Bian dan Aruna yang sama sama diam. Aruna seolah enggan membuka suaranya lagi karena apapun yang Ia katakan pasti akan salah di mata Bian.
Aruna duduk dikursi dekat ranjang, Bian masih mengacuhkannya dan malah asyik menonton televisi.
"Apa kau benar benar tidak ingin makan?"
"Tidak! Untuk apa kau peduli? Kau bahkan meninggalkan ku seharian ini." balas Bian tanpa menatap Aruna.
"Aku minta maaf kak." ucap Aruna akhirnya mengalah.
"Kemana kau seharian ini?" tanya Bian akhirnya karena sedari tadi Ia memang penasaran kemana Bian pergi.
"Aku diajak paman Ryan pergi ke makam Papa dan Mama ku."
Bian terdiam sejenak,
"Apa kau seharian berada disana?"
Aruna menggelengkan kepalanya,
"Lalu kemana lagi?"
"Eum, aku ... Apa kak Bian benar benar tak ingin makan malam?"
"Katakan saja kemana kamu pergi hari ini, jangan mengalihkan pertanyaanku!"
__ADS_1
Aruna hanya tersenyum meringgis,
"Jadi kau tak ingin mengatakan padaku? Baiklah aku tidak akan bertanya lagi!" ucap Bian tampak semakin kesal.
"Jangan marah kak, aku akan membelikan makanan untuk Kak Bian, didepan ada kedai nasi padang enak, aku akan membelikan untuk kak-"
"Tidak perlu!" potong Bian "Aku tidak ingin makan apapun, biarkan saja aku mati kelaparan toh hidup pun tidak ada yang memperdulikanku!" ucap Bian.
"Baiklah jika seperti itu. Hoaammm... aku mengantuk kak, aku akan tidur disofa sana. Jika Kak Bian butuh sesuatu panggil saja aku." kata Aruna segera pindah ke sofa, berbaring disana dengan santainya membuat Bian menatap ke arahnya tak percaya.
"Dia benar benar! Apa yang sudah Ryan lakukan padanya hingga dia mengacuhkan ku seperti itu!" umpat Bian menatap ke arah Aruna yang kini sudah memejamkan mata.
Tengah malam Bian terbangun karena merasakan ingin buang air kecil. Ia memang belum turun dari ranjang, karena kakinya masih diperban dan belum bisa berjalan jadi seharian tadi Anneta membantunya buang air kecil dengan menggunakan pispot.
"Sial, bagaimana sekarang!" umpat Bian merasa tak tahan mengingat terakhir Ia buang air kecil sore tadi saat Anneta masih ada disini.
"Ada apa kak?" tanya Aruna yang terbangun karena mendengar umpatannya.
Aruna segera mendekat ke arah Bian, merasa ada yang aneh dari raut wajah Bian, seperti sedang menahan sesuatu.
"Ada yang sakit? Mau dipanggilkan dokter?" tawar Aruna mulai khawatir.
Bian hanya diam saja membuat Aruna semakin khawatir.
"Tunggu sebentar aku akan memanggil dokter."
"Aku... Aku hanya ingin buang air kecil." ucap Bian terdengar gugup.
"Kak Bian mau pipis? Ya sudah Aruna bantu ke kamar mandi." kata Aruna.
"Ck, apa kau tidak lihat kedua kakiku diperban? Aku tidak bisa jalan!"
Aruna baru menyadari jika kedua lutut Bian diperban dan mungkin akan terasa sakit untuk berjalan ke kamar mandi.
"Lalu bagaimana kak?" tanya Aruna dengan polosnya.
"Ambilkan benda itu, biarkan aku buang air kecil menggunakan benda itu." pinta Bian menunjuk ke arah pispot yang ada dilantai dekat pintu kamar mandi.
Aruna menatap ke arah benda yang ditunjuk oleh Bian, tak menunggu lama Ia segera mengambil benda itu.
terheran heran karena kali pertamanya Ia menatap benda seperti ini.
"Bagaimana bisa kak Bian pipis mengunakan ini?" gumam Aruna sambil berpikir dengan polosnya.
"Cepat, aku sudah tidak tahan lagi!"
"Bagaimana caranya kak?"
Bian benar benar merasa kesal dengan kepolosan Aruna, "Bantu aku membuka celana ku sekarang."
__ADS_1
Mata Aruna langsung melotot, "Ti tidak mau!"
"Apa kau tidak lihat kedua telapak tanganku diperban?"
Aruna menghela nafas panjang, dengan memejamkan matanya, Aruna akhirnya membantu Bian membuka celananya.
"Jika kau menutup matamu seperti itu bagaimana bisa kau memasukan ke dalam lubangnya?" kesal Bian.
Aruna akhirnya membuka matanya dan terkejut melihat milik Bian, "Besar sekali." gumam Aruna kali pertamanya melihat milik orang dewasa dan ternyata sebesar itu.
Bian akhirnya merasa lega karena sudah membuang apa yang sedari tadi Ia tahan. Aruna segera mengambil tisu basah untuk membersihkan sisa air pipis yang menempel di milik Bian.
Tak sengaja menyentuh, milik Bian langsung berdiri tegak membuat Aruna terkejut.
"Kenapa bisa seperti ini."
"kau yang membuatnya seperti itu, sudah cukup dan tutup lagi!" pinta Bian dengan wajah memerah malu.
Aruna mengangguk, Ia segera ke kamar mandi untuk membuang pipis Bian dan mencuci tangannya.
Bian melihat Aruna keluar dengan raut wajah Aneh,
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku hanya terkejut, ternyata benda itu bisa sangat panjang dan besar." ungkap Aruna jujur.
Bian menahan tawanya, "Apa kau belum pernah melihat benda seperti itu?"
"Tentu saja sudah."
Bian terkejut, langsung menatap Aruna, "Kau melihat milik siapa?"
"Waktu itu ada penggalangan dana di panti asuhan lalu ada anak kecil yang meminta bantuan karena dia ingin pipis. Miliknya sangat kecil, aku tidak menyangka bisa sebesar itu saat sudah dewasa." ungkap Aruna dengan polosnya yang langsung membuat Bian tertawa.
"Kenapa Kak Bian tertawa?" sebal Aruna karena merasa Bian sudah mengejeknya.
"Entah kau ini polos atau bodoh, aku tidak bisa membedakan!"
"Kak Bian mengatakan aku bodoh!" Aruna tampak tak terima membuat Bian semakin terbahak.
"Tidak semua milik pria sebesar milik ku." ucap Bian.
"Setelah menikah mungkin kau akan terbiasa melihatnya karena benda inilah yang nanti akan masuk ke dalam milikmu yang dibawah sana." jelas Bian.
"Haa? Aku tidak mau! Bagaimana bisa benda seperti itu dimasukan ke dalam milik ku yang sangat keci!"
Sontak Bian kembali tertawa.
Bersambung...
__ADS_1