
Bian kembali ke mobil, Ia merasa sedikit lega setelah mendengar jawaban dari Jessi. selama ini Ia hanya menginginkan Jessi hidup lebih baik lagi meskipun tanpanya.
"Apa rindumu sudah terobati pak?" tanya Sadam yang sedari tadi menunggunya di mobil.
"Kau benar benar ingin dipecat ya?"
"Jika Bapak memecatku mungkin saya akan mengadukan pada Nona jika Bapak menemui Jessi." ancam Sadam tak mau kalah.
"Sialan, kau sudah berani mengancamku!"
Sadam tertawa puas, "Sekarang kemana lagi pak?"
"Carikan aku dokter terbaik untuk mengurus tanganku ini, aku merasa tanganku sudah sembuh tapi dokter sialan itu masih memberi perban dikedua tanganku." ungkap Bian dengan nada kesal.
"Baiklah, kita cari ditempat lain, jadi apa Bapak sudah tak sabar ingin belah duren?"
"Tentu saja, setiap malam aku selalu menahan diri karena tidak bisa melakukan apapun."
Sadam terkikik mendengar pengakuan Bian, Ia tak bisa membayangkan jika hal seperti itu terjadi padanya mungkin... Ah entahlah, rasanya tak sanggup, menunggu seminggu saat Keisha datang bulan saja Ia sudah tak sabar apalagi berminggu minggu seperti Bian.
"Kau menertawakanku?" selidik Bian menatap Sadam kesal.
"Tidak Pak, mana berani saya melakukan itu."
"Kau pikir aku bodoh? Jelas jelas kau tertawa!"
"Sudah sampai pak, mau saya antar ke dalam atau bapak masuk sendiri?" tawar Sadam ingin menghindari kekesalan Bian.
"Aku sendiri saja!" Bian sempat menatap Sadam tajam sebelum keluar dari mobil.
Sadam kembali tertawa dan kali ini lebih kencang karena tidak takut lagi ketahuan Bian.
"Kenapa masih diperban? seharusnya ini tidak diperban karena lukanya sudah kering." ucap dokter yang melepas perban Bian.
Bian hanya bisa mengumpat dalam hati, sejak pertama Ia sudah curiga jika dokter dirumah sakit itu mengerjainya.
"Coba gerakan jarimu." pinta Dokter itu.
Bian memggerakan jarinya dan Ia tersenyum lebar karena sudah sembuh, benar benar sudah sembuh.
"Jika masih diperban, mana tahu kalau sudah sembuh."
"Terima kasih dok, terima kasih banyak karena kau sudah menyelamatkan masa depanku." ucap Bian dengan senyum girang.
Dokter itu menatap Bian penuh keheranan, tak mengerti apa maksud Bian.
Setelah mendapatkan resep vitamin, Bian segera keluar dari ruangan Dokter.
Bian memasuki mobil tanpa bantuan Sadam lagi, "Lihat.. kau lihat ini, tanganku sudah sembuh. Aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi!" ucap Bian memperlihatkan kedua tangannya yang sudah tidak diperban.
"Wow, amazing." Sadam ikut senang.
"Dokter sialan itu, dia benar benar sudah mengerjaiku." ucap Bian.
"Tidak perlu dipikirkan lagi pak, yang penting sekarang Bapak sudah sembuh."
__ADS_1
Bian mengangguk setuju, "Batalkan jika ada pertemuan untuk hari ini karena aku ingin pulang lebih awal."
Sadam tersenyum geli, "Baiklah pak."
Sampai dikantor, Bian dikejutkan oleh kedatangan Ryan dan Anneta.
"Kami sudah menunggu cukup lama." keluh Ryan.
"Ck, siapa suruh datang kesini." balas Bian acuh.
"Kau sensitif sekali nak, padahal kami datang ingin memberi kabar bahagia untukmu."
Bian mengerutkan keningnya, perasaanya sudah tidak enak mendengar Ryan mengatakan itu, "Kabar bahagia apa?"
"Kami baru saja pulang honeymoon dan..."
"Kalian hamil?" tebak Bian yang langsung membuat Anneta dan Ryan tertawa.
"Shitt!" umpat Bian terdengar kesal.
"Apa kau tidak suka jika kamu hamil lagi? kau akan memiliki adik nak." ucap Ryan masih tertawa.
"Sudah cukup mas, jangan goda putramu lagi." Anneta memperingatkan.
"Seharusnya kalian tidak perlu memiliki anak lagi, biarkan aku saja yang memberi cucu." ucap Bian.
"Apakah sudah ada tanda tanda cucu untuk kami?" tanya Ryan terdengar mengejek.
"Lihat ini, tangan ku sudah sembuh dan aku akan segera memberi kalian cucu!" ucap Bian sambil memperlihatkan kedua tangannya yang sudah tak diperban.
"Dasar pria tua, kau benar benar semakin menyebalkan!"
Ryan tertawa puas karena berhasil membuat Bian kesal.
"Jadi kau baru akan memulai malam ini? Baiklah aku akan menginap disana." ucap Ryan.
"Untuk apa? Apa kau berencana menganggu malam ku bersama Aruna?"
"Tentu saja aku harus melakukan itu."
"Sudahlah mas, jangan membuat Bian semakin marah." ucap Anneta.
"Aku senang sekali menggoda putraku."
"Tapi aku tidak senang, jika sudah selesai sebaiknya kalian segera pergi!" usir Bian.
"Baiklah nak, kami juga masih ingin menikmati hari kami." ucap Ryan lalu merangkul Anneta membuat Bian muak.
"Dasar, dia bahkan sudah tua untuk melakukan itu didepan putranya sendiri." omel Bian saat Ryan dan Anneta sudah keluar dari ruangannya.
Tiba tiba Bian tersenyum, mengingat semalam Ia juga dibuat kesal oleh Aruna dan malam nanti Ia berencana membalas Aruna.
"Sadaaaammmm." panggil Bian dari dalam ruangannya.
Sadam terlihat memasuki ruangan sedikit berlari, "Ada apa pak?"
__ADS_1
"Carikan perban apapun dan perban kembali kedua tanganku." pinta Bian.
"Haa, untuk apa pak?" heran Sadam.
"Sudah lakukan saja perintahku atau kupecat kau sekarang juga!"
"Siap pak." Sadam berlari keluar dan tak berapa lama, Sadam sudah kembali membawa perban.
"Perban kembali tanganku." pinta Bian.
"Bapak benar benar membingungkan." ucap Sadam sambil menggelengkan kepalanya tak percaya dan tetap menuruti perintah Bian kembali menutup perban di tangan Bian.
Bian membatalkan rencananya untuk pulang lebih awal, Ia pulang seperti biasa menunggu jemputan dari Aruna.
"Apa kak Bian sudah ke dokter?" tanya Aruna melihat kedua tangan Bian masih diperban.
Bian hanya menganggukan kepalanya,
"Masih belum boleh dilepas?"
Bian kembali menganggukan kepalanya dan kali ini dengan wajah sedih.
"Tidak usah sedih kak, mungkin memang harus bersabar lagi."
Bian kembali menganggukan kepalanya,
"Apa tadi siang Kak Sadam yang menyuapi makan siang? Aku tidak bisa datang karena ada ujian dadakan." akui Aruna merasa tak enak dan takut jika Bian marah.
Lagi lagi Bian hanya menganggukan kepalanya, "Apa Kak Bian marah?" tanya Aruna.
"Tidak, mungkin kau sibuk menyuapi pria lain yang lebih muda dari pada pria renta sepertiku."
Aruna melotot tak percaya, lagi lagi Bian menuduhnya seperti itu,
"Astaga kak, aku sama sekali tidak seperti itu."
"Ya mana ku tahu karena aku tidak ada disana."
Aruna yang kesal membanting pintu mobilnya,
"Hey aku tidak bisa membuka pintu!" teriak Bian membuat Aruna kembali dan hanya membuka pintu setelah itu Aruna masuk ke rumah lebih dulu.
Dan seperti apa yang Bian harapkan, jika membuat Aruna kesal pasti Aruna akan membalasnya dengan mengunakan pakaian seksi serta rambut yang dikuncir tinggi.
"Wah mau menggodaku lagi ya?" Bian tersenyum nakal.
"Kak Bian tergoda tapi tidak bisa melakukan apapun." ejek Aruna.
"Benarkah?"
Bian membuka perban ditangannya perlahan membuat Aruna terkejut setengah mati.
"Dasar gadis nakal. lihatlah, malam ini aku akan membuatmu tidak tidur!"
Bersambung...
__ADS_1