MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
27


__ADS_3

Tangan Aruna gemetar, jantungnya memompa sangat cepat, matanya pun penuh dengan air mata yang ingin keluar. Aruna mencoba meyakinkan dirinya, bukan itu bukan Adam namun suara Bian memperjelas segalanya,


"Iya itu cowok Lo,"


Aruna masih menatap meja itu, meja dimana Adam bercanda ria dengan seorang gadis bahkan sesekali keduanya saling menyuapi satu sama lain.


"Kita pulang aja kak." Ajak Aruna berdiri dan langsung keluar.


"Nggak disamperin dulu? Minimal tanyalah siapa ceweknya biar besok Lo nggak dibodohi lagi." Saran Bian.


"Aku nggak mau sakit hati kak kalau tahu ternyata..."


Bian berdecak, "Lebih baik Lo tahu sekarang dari pada nanti malah lebih sakit." Kata Bian dengan suara lembut.


Bian mengenggam tangan Aruna, membawa Aruna berjalan mendekati meja Adam.


Adam yang sedang asyik makan sambil bercanda dengan gadis yang baru Ia tiduri tampak terkejut saat melihat dua orang berdiri disamping mejanya, apalagi setelah melihat siapa orang itu.


"Siapa mereka?" Tanya gadis yang bersama Adam saat Adam hanya menatap Aruna dan Bian tanpa mengatakan apapun.


"Kamu siapa?" Tanya Aruna dengan bibir bergetar, tangannya masih digenggam erat Bian agar Ia kuat tidak menangis didepan Adam.


"Aku pacarnya Adam, kamu siapa?" Tanya gadis itu sementara Adam masih diam termenung menatap Aruna dengan tatapan yang sulit dibaca.


"Aku bukan siapa siapa kok." Kata Aruna berbalik ingin pergi.


"Run..." panggil Adam.


"Siapa sih mereka? Temen kamu?"


"Run aku bisa jelasin semua sama kamu." Kata Adam menghalangi jalan Aruna tidak peduli Bian menatap dirinya tajam.


"Jelasin apa?"


Gadis yang bersama Adam itu ikut berdiri menyusul Adam,


"Gue sama dia nggak ada apa apa, jangan salah paham." Jelas Adam membuat gadis disebelahnya melotot tak percaya dengan apa yang Adam katakan.


Plak... satu tamparan mendarat dipipi Adam membuat semua pengunjung restoran menatap ke arah mereka, penasaran dengan apa yang terjadi.


"Gila, tega banget Lo ngomong gitu, udah lupa barusan kita main dihotel, gue kasih semua buat Lo dan sekarang Lo bilang kita nggak ada apa apa!" Kata Gadis itu tampak kecewa.


"Main dihotel?" Tanya Aruna menatap gadis itu yang juga hampir menangis.


"Nggak Run, jangan percaya. Dia bohong. Aku beneran nggak ada apa apa sama dia." Adam masih mencari pembelaan.


Gadis itu terlihat muak, dia mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sesuatu pada Aruna.

__ADS_1


Sedetik kemudian, Aruna langsung menutup matanya karena Ia melihat video yang sama seperti yang Bian perlihatkan kemarin, bedanya video Bian, Aruna tak mengenal siapa pemainnya sementara video gadis itu dimainkan oleh Adam dan gadis itu sendiri.


"Anjing, Lo bikin video?" Adam tampak terkejut.


"Iya, biar jadi jaminan kalau sewaktu waktu Lo buang gue kayak sampah, gue bakal sebarin ini." Kata Gadis itu tersenyum sinis dan pergi meninggalkan Adam, Bian dan Aruna.


"Run..." Adam berharap Aruna masih percaya padanya.


"Kita putus aja ya? Makasih kamu udah bikin aku seneng beberapa minggu ini." Kata Aruna langsung meninggalkan Adam yang terlihat panik.


Aruna dan Bian sampai dimobil mereka, saat Aruna ingin masuk, Adam mencekal tangan Aruna membuat Aruna memberontak mencoba melepaskan cekalan tangan Adam.


"Ikut aku sekarang, aku bisa jelasin semuanya." Ajak Adam namun Aruna tidak mau.


"Jelasin apa lagi? Obat perangsang, gadis itu, video tadi udah jelasin ke aku kalau kamu nggak sebaik yang aku pikir. Apa lagi sekarang?"


"Nggak Run, aku nggak mau putus. Aku mau kita tetep pacaran." Pinta Adam dengan tatapan memohon.


Sungguh Aruna tidak menyangka pria didepannya yang membuat Aruna jatuh cinta melakukan hal seperti itu dibelakang Aruna.


"Maaf Kak, aku tetep ingin putus." Kata Aruna melepaskan cekalan Adam dengan kasar namun Adam tak menyerah dan tetap mencekal Aruna lagi.


Bian yang muak melihat pemandangan seperti itu langsung menghampiri Aruna dan Adam.


Bughh... satu pukulan kembali mendarat di pipi Adam padahal lebam karena pukulan Bian kemarin masih belum sembuh dan sekarang sudah ditambahi lagi.


Bian melajukan mobilnya meninggalkan Adam yang masih tersungkur.


"Anjing, sial banget gue hari ini!" Umpat Adam memeganggi pipinya yang terasa sakit.


Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, perutnya berbunyi krucuk krucuk membuat Aruna yang sedari tadi hanya diam langsung mengulas senyum.


"Kak Bian laper?"


"Laper lah, ngeliat drama Lo tadi nggak bikin gue kenyang!"


"Ya udah cari makan ditempat yang lain aja kak." Ajak Aruna.


Bian berdecak, " kalau mau nangis, nangis aja nggak usah ditahan."


Seketika tangis Aruna pecah. Aruna sedari tadi menahan diri agar tidak menangis, Ia ingin terlihat kuat tapi tetap saja, hatinya hancur dan dirinya sangat sedih.


"Ck, nangis beneran!" Gumam Bian.


Tadinya Bian ingin mampir dikedai bakmi pinggir jalan namun melihat Aruna masih menangis, Bian mengurungkan niatnya dan memilih langsung pulang.


"Istirahat saja sana." Kata Bian yang langsung diangguki Aruna.

__ADS_1


Aruna keluar dari mobil, memasuki rumah masih dalam keadaan menangis.


"Loh, non Aruna kenapa?" Tanya Mbok Inem saat membuka pintu.


Aruna hanya menggelengkan kepalanya dan langsung naik ke kamarnya.


Tak berapa lama Bian ikut memasuki rumah membuat Mbok Inem menatap ke arah Bian curiga.


"Bukan aku yang bikin nangis." Kata Bian seolah tahu apa yang akan Mbok Inem tuduhkan.


"Trus siapa Den?" Mbok Inem terlihat masih tidak percaya.


"Pacarnya ketahuan selingkuh, putus trus nangis dia!"


Mbok Inem bernafas lega, "Syukur deh kalau Non udah putus, soalnya Mbok lihat juga bukan anak baik."


Bian mengangguk, "Bikinin nasi goreng dua porsi ya mbok."


"Buat Aden semua?"


"Nggaklah, sama buat Aruna. Kita belum makan soalnya."


"Siap Den.


Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng buatan Mbok Inem, Bian membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas susu ke kamar Aruna.


"Makan dulu, udah gue buatin nasi goreng." Kata Bian meletakan nampan ke meja, melihat Aruna sudah berganti piyama dan tidak menangis lagi.


"Aku nggak laper kak."


"Nggak mau tahu pokoknya makan, awas aja sampai nggak dimakan." Kata Bian lalu keluar dari kamar Aruna.


Tengah malam, Bian kembali memasuki kamar Aruna, melihat piring dan gelas susu sudah kosong membuat Bian tersenyum geli.


"Nggak laper tapi habis!" Cibir Bian menatap wajah polos Aruna.


Brakkk... suara hentakan kaki terdengar membuat Bian terkejut dan segera mendekat ke pintu balkon.


Bian membuka gorden sedikit agar bisa mengintip diluar, terlihat pria bertopeng itu kembali dan berusaha membuka pintu dengan kunci namun kuncinya tidak bisa membuat pria itu kesal kembali memasukan kunci disakunya lalu berbalik melompat ke bawah.


Bian keluar setelah pria itu melompat dari balkon, menatap pria itu berjalan mendekati pagar rumah dan keluar.


"Bukan Mang Torik?"


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen yaaa

__ADS_1


__ADS_2