
Aruna terkejut karena ternyata tangan Bian sudah sembuh namun sedetik kemudian Ia malah tersenyum.
"Jadi tangan Kak Bian sudah sembuh?"
Bian mengerutkan keningnya heran, Ia pikir surprise untuk Aruna kali ini akan membuat Aruna cemas dan ketakutan namun Bian salah karena Aruna malah ikut tersenyum sama sepertinya.
"Jadi kau sudah tidak takut untuk menikmati malam panas bersama ku huh?" tanya Bian menyentuh pipi Aruna menggunakan tangannya yang sudah sembuh.
Aruna kembali tersenyum, "Tapi sepertinya Kak Bian harus kembali kecewa."
"Kau tidak bisa menolak ku malam ini Aruna!"
"Tapi kak, aku sedang datang bulan. Apa Kak Bian akan memaksa?"
Deg... kini giliran Bian yang terkejut sekaligus kecewa.
"Jangan bohong, aku tahu itu hanya alasanmu saja!"
Aruna menghela nafas panjang, Ia menyibak dressnya lalu memperlihatkan pada Bian.
"Sejak kapan kau datang bulan?" tanya Bian terlihat frustasi dan kecewa karena rencananya gagal.
"Kemarin."
"Kapan selesai?'
"Mungkin lima hari lagi." balas Aruna santai.
"Lima hari lagi?" sentak Bian tak percaya.
Aruna mengangguk, Ia tersenyum lalu tangannya meraba dada bidang Bian, "Hmm, bersabarlah sebentar lagi ya kak."
Bian mengeram kesal, Ia membawa Aruna ke ranjang dan kini Ia sudah berada diatas Aruna, "Kau tahu kan aku sangat menunggu ini, jangan berani lagi menggodaku atau kau akan menyesal." ucap Bian dan kali ini benar benar marah.
"Aku juga tidak akan melakukan ini jika Kak Bian tidak menuduhku seperti tadi!" balas Aruna tidak mau kalah.
Bian berdecak, dengan tangan dan bibirnya Ia menikmati setiap inci tubuh Aruna karena hanya itu yang bisa Ia lakukan saat ini.
Aruna terlihat menikmati bahkan Ia mengeluarkan suara yang membuat Bian semakin semangat menjelajahi bagian sensitif tubuh Aruna.
"Apa kau senang huh?" tanya Bian.
Aruna tersenyum, karena Bian membuatnya melayang merasakan sesuatu yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya.
"Maafkan aku kak." ucap Aruna merasa bersalah sudah menggoda Bian.
"Maafkan aku juga karena sudah membohongimu." ucap Bian lalu mengecup kening Aruna membuat Aruna merasakan nyaman luar biasa.
"Apa kau tidak ingin menyenangkan si otong?"
__ADS_1
Aruna tersenyum, Ia mengangguk dan melakukan apa yang seharusnya Ia lakukan pada si otong.
Bian tersenyum puas setelah pelepasan menggunakan bibir Aruna. Meskipun tadi Ia sempat ingin marah karena kecewa namun perasaan itu mendadak hilang tergantian rasa nyaman luar biasa.
"Sekarang aku bebas melakukan ini." ucap Bian tangannya terlihat masih memainkan gunung kembar milik Aruna.
Aruna tersenyum, membiarkan Bian melakukan apapun toh Ia juga merasakan nikmat luar biasa dengan semua perlakuan Bian.
Paginya, Aruna dan Bian bangun dalam keadaan mood yang baik meskipun semalam keduanya sempat dibuat kesal satu sama lain.
"Jadi Kak Bian yang mengantarku ke kampus?" tanya Aruna saat keduanya memasuki mobil dan kali ini Bian yang menyetir mobil.
"Hmm, tangan ku sudah sembuh, sudah bisa digunakan untuk menyetir mobil."
"Apa kak Bian yakin?" tanya Aruna terlihat ragu.
"Jadi kamu takut?"
Aruna menggelengkan kepalanya, "Aku hanya masih khawatir kak."
Bian tersenyum, Ia mengelus kepala istrinya lalu mengecup keningnya, "Lihat, aku akan baik baik saja." ucap Bian mulai melajukan mobilnya.
Aruna tersenyum meskipun Ia sedikit khawatir namun Ia percaya Bian akan baik baik saja.
"Wah saya pikir Bapak akan terlambat pagi ini, ternyata Bapak berangkat lebih awal, apa tidak lelah pak?" goda Sadam saat Bian sampai dikantor.
"Lebih baik kau tutup mulutmu jika masih ingin bekerja denganku!" Bian menatap Sadam kesal.
"Berikan aku pekerjaan sebanyak mungkin untuk hari ini." ucap Bian lalu memasuki ruangannya membuat Sadam melonggo tak percaya.
"Ada apa dengannya, apa dia gagal melakukannya semalam?" gumam Sadam sambil menggelengkan kepalanya masih tak percaya.
Sadam memasuki ruangan Bian membawa beberapa map berisi pekerjaan untuk Bian.
"Apa anda tidak lelah pak?" tanya Sadam lagi.
"Aku melakukan berkali kali hingga kelelahan tapi tidak membuat semangat kerja ku surut." ungkap Bian yang langsung membuat Sadam bertepuk tangan.
"Bapak hebat, Bapak keren." ucap Sadam lalu mengacungkan jempolnya.
"Tentu saja aku seperti itu." balas Bian dengan sombongnya.
"Jadi Bapak ingin pulang lebih awal lagi?" tawar Sadam.
Bian terdiam sejenak, Ia tak ingin membuat Sadam curiga jika Ia belum melakukan dengan Aruna, bisa bisa Sadam mengejek dirinya habis habisan.
"Ya, tentu saja kita akan pulang lebih awal lagi hari ini." ucap Bian yang langsung membuat Sadam girang.
"Kenapa malah kau yang senang, untuk hari ini hanya aku yang pulang awal, kau harus lembur."
__ADS_1
"Tidak bisa seperti itu pak." protes Sadam.
"Jadi harusnya bagaimana? Kupecat saja?"
"Baiklah, saya akan lembur hari ini." ucap Sadam meninggalkan file dimeja Bian lalu berjalan keluar dari ruangan Bian dengan perasaan kesal.
"Dasar menyebalkan, seharusnya dia membiarkan ku pulang awal juga." omel Sadam saat sudah berada diluar.
Di dalam Bian membuka satu persatu file yang dibawakan oleh Sadam namun tidak ada satupun yang membuatnya fokus dengan pekerjaan, pikirannya masih tertuju pada tubuh indah Aruna yang menggoda pikirannya.
"Argh sial, sampai kapan aku harus menahan diri lagi."
Pintu kembali terbuka, Caca salah satu karyawan Bian dibagian marketing tampak masuk membawa satu file.
"Selamat pagi pak Bian, saya ingin meminta tanda tangan." ucap Caca terdengar genit.
Bian menatap ke arah Caca, penampilan Caca yang sedikit terbuka sungguh menganggu dirinya. Tidak hanya sekali dua kali namun berkali kali Caca berusaha menggoda dirinya.
Bian berdiri dari duduknya, Ia segera mendekat ke arah Caca.
"Apa kau berusaha menggodaku?" tanya Bian dengan senyuman nakal.
Caca terlihat senang, Ia merasa berhasil menggoda bosnya yang tampan itu, "Apa Bapak tergoda? Jadi apa malam ini kita bisa-"
Bian menggelengkan kepalanya, "Tapi sayangnya aku tidak suka barang bekas."
Wajah Caca langsung saja memerah menahan malu,
"Jika kau masih ingin bekerja dengan ku, perbaiki pakaianmu jika kau masih seperti ini, aku tak segan untuk memecatmu!"
Caca mengangguk, Ia terlihat ketakutan dan segera keluar.
"Dasar, apa dia pikir dia cantik? dia bahkan tidak ada apa apanya jika dibandingkan istriku." omel Bian lalu kembali duduk.
Pukul empat sore Bian menjemput Aruna namun ternyata Aruna sudah pulang lebih dulu.
Bian bergegas menyusul pulang karena Ia memang berencana pulang lebih awal hari ini.
"Tuan sudah pulang?" tanya Mbok Siti saat membuka pintu untuk Bian.
"Aruna mana?"
"Dikamar Tuan, Nona juga baru saja pulang." ucap Mbok Siti yang langsung diangguki Bian.
Bian segera naik ke atas, Ia membuka pintu kamarnya dan terlihat gelap karena semua tirai jendela tertutup, Bian menyalakan lampu dan terkejut saat melihat Aruna berdiri disamping ranjang.
Aruna mengenakan ligerie yang hanya menutupi bagian gunung kembarnya juga goa bagian bawah miliknya.
Rambutnya di kuncir tinggi dan terdapat bandana kucing yang membuat Aruna terlihat mengemaskan.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
Bersambung....