
Adam memasuki apartemennya dalam keadaan basah kuyup. Ia segera mandi dan minum kopi hangat sesuai saran dari Mang Asep yang menyebalkan itu.
Adam masih memikirkan bagaimana Ia bisa mendapatkan Aruna kembali dan membuat Aruna bertekuk lutut padanya.
Adam mendial nomor Om David namun sialnya nomor Om David tidak aktif.
"Sial, pria tua bangka itu benar benar ingin rahasianya terbongkar!" Umpat Adam.
Adam terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia mendapatkan ide yang bisa Ia gunakan untuk menjebak Aruna.
....
Aruna bangun setelah jam wekernya berbunyi. Ia mengunpulkan nyawanya lebih dulu sebelum akhirnya bergegas bangun untuk mandi.
Selesai mandi, Aruna mengenakan setelan yang biasa Ia pakai saat ke kampus karena pagi ini Ia akan pergi ke kampus mengingat sudah hampir seminggu Aruna bolos kuliah.
Aruna menyempatkan membuka pintu balkon lalu melihat ke bawah, sudah tidak ada Adam disana.
"Jam berapa Ia pergi?" Gumam Aruna.
Aruna turun kebawah, sudah ada Bian yang sedang menikmati sarapannya.
"Pagi kak Bian..." sapa Aruna begitu ramah namun respon Bian, hanya meliriknya sebentar lalu kembali fokus mengunyah roti bakarnya.
"Mbok, aku mau selai coklat." Pinta Aruna yang langsung diacungi jempol oleh Mbok Inem.
"Roti bakar coklat untuk Neng Aruna yang cantik." Kata Mbok Inem sambil menyodorkan piring berisi roti bakar.
"Makasih Mbok, eh tunggu Aruna mau nanya sama Mbok Inem." Kata Aruna membuat Mbok Inem berdiri sejenak disamping Aruna.
"Tanya apa Neng cantik?"
"Emang setiap malam Mbok Inem selalu bawa kunci pintu depan dan belakang?" Tanya Aruna mengingat semalam Ia tidak bisa keluar karena kuncinya tidak ada.
"Eh..." mbok Inem melirik ke arah Bian dan langsung mendapatkan kode dari Bian.
"Iya Non, sengaja soalnya dapat kabar dari para tetangga kalau akhir akhir ini banyak maling jadi Mbok ambil aja kuncinya biar aman." Alasan Mbok Inem yang langsung diangguki paham oleh Aruna.
"Demi keamanan Non." Kata Mbok Inem lagi.
"Oh ya sudah mbok kalau memang seperti itu." Aruna terlihat percaya dengan ucapan Mbok Inem membuat Bian terkikik geli.
"Ngapain kak? Kok senyum senyum?" Heran Aruna lalu melihat apa ada yang salah dengan penampilannya.
"Suka suka gue lah!"
"Iya iya." Aruna mulai kesal.
"Gue kira semalam Lo nekat terjun dari balkon kamar." Ucap Bian.
"Aku nggak gila kak,"
"Ya siapa tahu Elo nggak waras." Ejek Bian.
__ADS_1
"Ck, ngeselin." Aruna membawa roti bakarnya berjalan menuju mobil Bian.
"Heh, nggak boleh makan dimobil, ntar kotor mobil gue!"
"Ck, kalau kotor ya dicuci kak!" Balas Aruna santai langsung masuk mobil Bian begitu saja.
Bian memasuki mobilnya, melihat Aruna santai makan roti bakarnya, Bian langsung merebut roti bakar Aruna dan memakannya hingga habis.
"Kak Bian!" Teriak Aruna tak terima.
"Apa? Salah sendiri bandel!" Balas Bian dengan nada mengejek.
Bian melihat jari jari Aruna terkena minyak yang ada diroti bakar. Bian mengulurkan satu lembar tisu dan memberikan pada Aruna namun respon Aruna tak terduga.
Aruna menempelkan jarinya ke dashboard dan langsung mengosokan disana.
"Run, Elo ya!" Mata Bian melotot seolah akan keluar melihat tingkah Aruna.
"Apa? Kenapa? Cuma minyak ini." Balas Aruna tak kalah santai.
Bian mencekal kedua tangan Aruna, menarik Aruna hingga keduanya berhadapan.
"Kak..." suara Aruna terdengar gugup.
"Apa? Fyuhhh..." Bian meniup mata Aruna hingga Aruna berkedip.
Aruna ingin melepaskan cekalan Bian namun sayang Bian semakin mempererat cekalannya.
Aruna benar benar sangat gugup bahkan jantungnya berdegup sangat kencang.
Bian berdecak saat melihat Mang Torik yang mengetuk kaca mobilnya.
Bian segera melajukan mobilnya tanpa mengubris ucapan Mang Torik dari luar mobil.
"Ntar kita dikira ngapa ngapain kak." Kata Aruna tampak khawatir.
"Ya kan emang kita lagi ngapa ngapain." Balas Bian santai.
"Ck, kak Bian mah..."
"Lo yakin mau ngampus?"
Aruna mengangguk, "Aku tetep dengan pendirian ku kak, nggak akan kembali pada Adam apapun yang dia lakukan."
Bian mengacungkan jempolnya, "Good girl."
Aruna tersenyum.
"Kalau ada sesuatu yang aneh langsung kabarin gue." Kata Bian.
"Siap kak Bian."
Bian menghentikan mobilnya, tepat didepan mobilnya ada mobil yang sangat Ia kenali. Dan saat orang dimobil itu keluar, Bian benar benar tak menyangka karena itu Sadam yang sedang mengantar seorang gadis ke kampus dan saat melihat gadisnya...
__ADS_1
"Kak ngeliatin apa sih?" Tanya Aruna saat Ia berpamitan keluar mobil malah melihat mata Bian melotot melihat sesuatu.
Bian keluar dari mobilnya, diikuti Aruna. Keduanya menghampiri Sadam yang sedang mengobrol dengan Keisha.
"Oh jadi ini yang bikin kamu terlambat?" Sindir Bian membuat Sadam terkejut, apalagi Keisha. Mata Keisha melotot saat melihat Bian, pria yang pernah Ia goda ternyata mengenali Sadam.
"Pak..." Sadam tersenyum malu.
"Kalian saling kenal?" Tanya Keisha.
"Dia bos aku dikantor." Balas Sadam.
Keisha terlihat gugup, rasanya Ia ingin pergi dari sini sekarang juga. Ia malu sangat malu karena sempat mengoda Bian yang ternyata Bos dari Sadam, teman pria yang kini dekat dengannya.
"Keisha kamu dan Sadam pacaran?" Tanya Aruna.
"Belum." Balas Keisha dan Sadam bersamaan.
Aruna tersenyum geli melihat tingkah gugup Keisha dan Sadam.
Tanpa mereka sadari, ada mobil yang berhenti dan pengemudinya melihat ke arah mereka.
"Masuklah, aku akan menjemputmu nanti." Kata Sadam yang akhirnya diangguki Keisha.
"Mau masuk bersama ku?" Tawar Keisha pada Aruna.
Aruna menganguk setuju, dulu Ia sempat tidak menyukai Keisha karena Keisha dekat dengan Adam dan perilaku Keisha yang arogan namun hari ini, melihat Keisha begitu welcome padanya, rasa tidak suka Aruna mendadak hilang.
"Calon pacar atau calon istri?" Tanya Bian saat Keisha dan Aruna memasuki kampus.
"Belum tahu pak," balas Sadam tersenyum malu.
"Jangan terlalu lama membuat wanita menunggu." Kata Bian menepuk bahu Sadam lalu memasuki mobilnya.
Sadam tersenyum, menatap punggung Keisha yang kini sudah tidak terlihat lagi. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan Keisha, Ia langsung menyukai gadis itu. Bahkan Sadam tidak peduli tentang masa lalunya, tentang keluarga Keisha, yang Ia inginkan hanya berbahagia bersama Keisha.
"Jadi dia kakakmu?' Tanya Keisha saat berjalan memasuki kampus bersama Aruna.
"Iya, dia kakak aku."
"Tapi orang orang bilang dia suami kamu."
Aruna berdecak, "Emang ngeselin tuh orang, suka nyebar fitnah!"
Keisha tertawa, "Kalian lucu deh, pasti sering bertengkar ya?" Tebak Keisha.
"Setiap kami bertemu pasti bertengkar." Adu Aruna membuat Keisha kembali tertawa.
Aruna sudah memasuki kelasnya, sementara Keisha masih berjalan menuju kelasnya.
Keadaan lorong masih sepi karena ini masih sangat pagi, hingga tiba tiba ada yang menarik tangan Keisha dan membawanya masuk ke kamar mandi kosong yang tak terpakai.
"Adam..."
__ADS_1
Bersambung...