MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
31


__ADS_3

Sadam menatap ke arah Keisha yang sama sekali belum menyentuh makananya padahal makanan yang dipesan Sadam sudah habis.


"Kenapa nggak dimakan?"


"U udah kenyang." Balas Keisha gugup.


"Mau dibungkus aja?" Tawar Sadam membuat Keisha menatapnya senang.


"Iya kalau boleh bungkus aja biar dimakan kucing gue dirumah." Balas Keisha membuat Sadam tersenyum.


Setelah membungkus dan membayar makanan, keduanya keluar dari restoran.


Saat akan menuju tempat parkir, Keisha melihat seseorang yang tak asing untuknya.


"A ayah..." gumam Keisha lalu berlari menghampiri pria paruh baya dan seorang wanita yang sedang mengendong anaknya.


"Ayah..." Keisha langsung saja mencekal tangan pria itu.


Sadam yang melihat Keisha ikut berlari mengejar Keisha.


"Ayah nggak pulang? Apa ini istri baru Ayah?" Tanya Keisha membuat pria paruh baya yang dipanggil Ayah itu sangat kesal.


"Kamu siapa? Saya nggak kenal!" Balas pria itu membuat Keisha terkejut.


"Heh nggak usah ngaku ngaku deh kamu, suami saya itu cuma punya anak satu, ini anaknya!" Kata Wanita memperlihatkan putranya yang masih balita.


"Jadi Ayah benar sudah nikah lagi? Ini alasan Ayah dulu pulang nggak pernah bawa uang? Karena Ayah lebih mikirin istri baru Ayah ketimbang Ibu yang lagi sakit?" Tanya Keisha masih tak menyangka.


"Gila nih anak, ngaku ngaku anak aku." Kata pria itu pada wanita disebelahnya.


"Udah mas, kita tinggal pergi aja. Paling ini model baru pemerasan." Kata wanita itu mengajak suaminya pergi.


"Ayah bakal nyesel!" Teriak Keisha yang sama sekali tidak digubris oleh Pria paruh baya itu.


Keisha berjalan lemas ke arah mobil Sadam, Keisha tahu jika Sadam mengikutinya sejak tadi namun Ia tidak peduli.


Keisha memilih ambruk ditanah, Ia tak tahan menahan diri dan memilih menangis.


Sadam yang melihat keadaan Keisha hanya bisa diam karena Ia tidak ingin ikut campur urusan pribadi orang yang baru dia kenal.


"Anterin gue pulang." Pinta Keisha berhenti menangis dan langsung memasuki mobil Sadam.


Keduanya berada dimobil tanpa ada yang bersuara, Keisha lebih memilih diam sambil menatap ke arah jalanan.


Mobil berhenti didepan sebuah rumah sederhana dimana ada seorang wanita paruh baya menunggu didepan.


"Ini rumah gue. Gue bukan orang kaya. Gue cuma anak orang miskin bahkan Lo lihat sendiri tadi Ayah gue selingkuh dan ini, makanan ini bukan buat kucing gue tapi mau gue goreng lagi buat makan Ibu. Gue nggak doyan makan ikan mentah karena biasanya gue cuma jajan nasi goreng pinggir jalan. Ini pertemuan pertama dan terakhir. Semoga setelah ini kita nggak ketemu lagi. Makasih karena udah nganterin gue." Kata Keisha lalu keluar dari mobil Sadam.


Sadam masih terpaku dengan ucapan Keisha. Sadam bahkan belum melajukan mobilnya. Ia masih menatap punggung Keisha.


"Dari mana aja? Bukannya ibu udah bilang jangan jual diri!" Teriak wanita paruh baya yang bisa didengar oleh Sadam.


Keisha tak mengubris ucapan Ibunya dan langsung memasuki rumah begitu saja.

__ADS_1


Sadam menghela nafas panjang, setelah Keisha dan ibunya tak terlihat lagi, Sadam melajukan mobilnya pergi dari rumah Keisha.


Pagi ini, Aruna turun ke bawah untuk sarapan karena akan pergi ke kampus hari ini.


"Lho, kak Bian belum turun?" Tanya Aruna pada Mbok Inem.


"Belum Non, mau Mbok panggilkan?"


"Nggak usah, biar Aruna aja."


Aruna kembali naik ke atas, memasuki kamar Bian yang tidak dikunci.


"Lah, masih ngorok." Celetuk Aruna melihat Bian masih tidur.


Aruna mendekat ke ranjang Bian dan langsung mengoyangkan tubuh Bian,


"Kak, mau nganter ke kampus nggak?"


Tidak ada jawaban dari Bian,


"Kak... bangun!" Kata Aruna sekali lagi.


Masih tidak ada respon dari Bian, Aruna akhirya membuka selimut Bian dan tak sengaja menyentuh kulit tangan Bian.


"Demam, kak Bian demam." Panik Aruna saat menyentuh dahi Bian yang terasa panas.


"Ck, ngapain sih Lo nyentuh nyentuh gue, bikin pengen aja." Gumam Bian, matanya masih terpejam.


Plak... Aruna menampar pipi Bian pelan membuat Bian sadar dan akhirnya bangun.


"Kak Bian sakit?"


"Enggak, mana ada gue sakit."


"Badan Kak Bian panas."


Bian terdiam, merasakan suhu tubuhnya yang memang terasa aneh bahkan kepalanya berdenyut pusing.


"Aruna nggak jadi ngampus aja, kasihan Kak Bian sakit." Kata Aruna.


"Enggak, gue nggak sakit." Kata Bian bangkit dari ranjang namun saat berdiri, tubuh Bian terasa lemas dan hampir jatuh.


"Dasar bandel, dibilang sakit ngeyel." Omel Aruna kembali membantu Bian berbaring.


"Runa panggilin dokter dulu."


"Enggak, enggak perlu. Gue tidur aja paling sembuh."


"Ck, ya udah."


Aruna keluar dari kamar Bian.


"Ya udah? Gitu aja? Dasar nggak peka, sama sekali nggak perhatian!" Kesal Bian.

__ADS_1


Bian tak kembali tidur karena jika Ia sudah bangun, Ia tidak bisa tidur lagi.


Bian mengambil ponselnya untuk menghubungi Sadam agar menghandle semua pekerjaannya.


Selesai menghubungi Sadam, Bian menscrol layar ponselnya hingga akhirnya Bian bosan.


"Kemana sih tuh anak, ngeselin banget! Udah ganggu orang tidur, nggak nemenin!" Kesal Bian.


Baru ingin bangkit dari ranjang, pintu kamar terbuka, Bian melihat Aruna masuk. Bian bergegas kembali berbaring diranjang dan menyelimuti tubuhnya.


Aruna sudah berganti pakaian, mengenakan setelan baju pendek dan celana pendek, memperlihatkan kaki jenjang putih mulusnya.


Aruna membawa nampan berisi mangkuk dan gelas.


"Udah Runa beliin bubur, sekarang Kak Bian sarapan dulu abis itu minum obat." Kata Aruna membuat Bian tersenyum karena Ia sudah salah paham, Aruna perhatian padanya.


"Tangan gue lemes Run, nggak bisa angkat sendok." Keluh Bian dengan suara lemas.


"Ya udah Aruna suapin deh."


Aruna mengambil mangkuk berisi bubur dan mulai menyuapi Bian perlahan.


Sesekali Bian melirik ke arah Aruna yang fokus menyuapinya.


Wajah cantik Aruna, leher mulus Aruna yang terlihat karena rambur Aruna yang dikuncir membuat Bian...


"Kak Bian!" Sentak Aruna yang terkejut saat Bian melepaskan ikatan rambutnya.


"Jelek Lo kalau dikuncir gitu!"


"Ck, biarin aja napa. Jelek gini juga adek Kak Bian."


"Malu lah, gue aja ganteng gini masa Elonya jelek."


"Ya gimana lagi, aku kan bukan adik kandung Kak Bian."


Seketika Bian langsung tersedak sementara Aruna menutupi bibirnya karena Ia sudah keceplosan mengatakan apa yang seharusnya tidak Ia katakan.


"Lo bilang apa tadi?" Tanya Bian menatap Aruna dengan tatapan terkejut.


"Engg enggak bilang apa apa kak." Aruna terlihat gugup.


"Gue nggak tuli Runa, coba Lo bilang sekali lagi!"


Aruna terdiam,


"Lo bilang apa tadi?"


"Kita kan memang bukan saudara kandung."


"Lo udah tahu?" Bian masih tak percaya.


Aruna menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen..


__ADS_2