
Aruna kini sudah masuk ke mobil Ryan karena Ia akan diantar ke kampus oleh Ryan.
"Kamu nggak kenal siapa orang tadi?" tanya Ryan menanyakan pengemudi mobil yang berhenti didepan Aruna.
"Enggak Pa, tapi dia kenal sama Kak Bian, mungkin temennya Pa."
Ryan diam sejenak, Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Papa minta kamu harus lebih hati hati mulai sekarang, jangan mudah percaya sekalipun dia kenal sama Bian." kata Ryan menasehati Aruna.
"Apa lagi ada masalah Pa?" tanya Aruna merasa curiga.
Ryan menggelengkan kepalanya, "Kamu tahu kan suami kamu itu pengusaha dan pasti ada beberapa orang yang tidak suka, jadi buat jaga jaga aja karena Papa nggak mau terjadi sesuatu sama kamu dan Bian." ungkap Ryan membuat Aruna merasa terharu.
Dibalik sikap usil dan konyol Ryan ternyata Ryan memiliki perhatian yang sangat besar untuknya dan Bian.
"Inget ya Run, jangan mudah percaya sama orang." ucap Ryan lagi saat Aruna akan keluar dari mobil karena mereka sudah sampai.
"Siap Pa..."
Aruna akhirnya keluar dan segera memasuki area kampus. Mata Ryan masih memandangi Aruna hingga Aruna tidak terlihat lagi.
Ryan mengambil ponselnya dan segera mendial nomor seseorang, "Tolong awasi putriku, jangan sampai ada orang yang berniat buruk padanya." ucap Ryan lalu mengakhiri panggilan.
Keadaan sudah mengkhawatirkan, Ryan tahu musuh Bian bukanlah orang sembarangan jadi Ia harus menjaga Aruna mulai sekarang karena hampir saja Aruna dibawa oleh penjahat itu jika saja Ia terlambat datang.
...****************...
Aruna berjalan menuju kelasnya, Ia melihat ada Keisha dan langsung menghampiri Keisha.
"Ada yang ingin ku tanyakan." ucap Aruna membuat Keisha mengangguk.
"Ada apa?"
"Kau pandai memasak?"
Keisha terkejut, "Siapa yang mengatakan itu? Aku tidak pandai hanya bisa memasak beberapa menu makanan saja."
"Jangan merendah seperti itu, jika memang bisa, maukah kamu mengajariku memasak?" pinta Aruna.
"Tentu saja, aku akan mengajari mu, jadi kapan kita mulai?" Keisha terlihat bersemangat.
"Bagaimana nanti jika sepulang kampus?"
"Boleh, aku juga tidak sibuk hari ini.
Sepulang dari kampus, Aruna dan Keisha segera menuju rumah Keisha untuk belajar memasak. Tadinya Aruna ingin meminta Keisha agar dirumahnya saja namun Aruna mengurungkan niatnya karena takut Keisha merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Kamu ngerasa kita di ikutin nggak sih Run?" tanya Keisha melihat ada mobil yang berjalan dibelakang taksi yang mereka tumpangi sejak dikampus.
Aruna ikut berbalik, melihat memang ada mobil yang mengikuti mereka.
"Mungkin mereka searah sama kita."
Keisha akhirnya setuju dengan ucapan Aruna, membuang pikiran buruknya.
Sampai dirumah, Keisha melihat sudah tidak ada lagi mobil yang mengikutinya, hilang sudah prasangka buruknya dan mungkin memang mobil tadi searah dengannya.
Aruna dan Keisha mulai disibukan oleh acara belajar memasak mereka.
Sementara itu, dikantor Bian merasa kesal karena sedari pagi Ryan berada dikantornya.
"Apa papa tidak memiliki pekerjaan lain?" tanya Bian menatap ke arah Ryan yang duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya.
Bian tidak tahu saja jika Ryan sedari tadi melihat laporan dari anak buahnya jika Aruna kembali diikuti oleh pria tidak dikenal itu.
Ryan tersenyum melihat foto foto anak buahnya yang berhasil mengelabui penguntit Aruna sehingga kehilangan jejak taksi yang ditumpangi oleh Aruna.
"Dasar gila, aku bertanya bukan menjawab malah tersenyum sendiri seperti itu." omel Bian.
"Ayo makan siang diluar." ajak Ryan berdiri dari duduknya dan menghampiri meja Bian.
"Aku tidak ada waktu, Papa makan siang saja sendiri."
Bian bergidik menatap Ryan, membayangkan jika Ryan menyuapinya, oh tidak ... Bian segera menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana? Mau disuapi saja?" tawar Ryan lagi.
"Tidak mau!"
Ryan tersenyum penuh kemenangan, "Jika tidak, ayolah kita makan siang diluar sekarang."
Bian berdecak, Ia tidak memiliki pilihan lain, "Setelah itu pergilah dari kantorku!"
Ryan tertawa, Ia segera keluar bersama Bian untuk makan siang.
Saat keluar dan sepanjang perjalanan, Ryan sudah merasa ada beberapa pria yang mengikutinya. Ryan sadar namun sepertinya Biam tak sadar.
Hingga saat Ryan dan Bian sudah berada direstoran, kedua orang yang sama masih terlihat mengikuti mereka.
Ryan menatap ke arah Bian, terlihat santai karena Bian seperti belum mengetahui apa yang terjadi.
"Apa kau merasa memiliki musuh yang berbahaya?" tanya Ryan akhirnya saat keduanya sedang menunggu pesanan datang.
"Tidak, memang aku terlihat seperti orang jahat?" balas Bian menatap Ryan sinis.
__ADS_1
"Ck, justru terkadang orang yang baik yang memiliki banyak musuh."
"Aku bukan orang baik namun juga bukan orang jahat jadi mana mungkin punya musuh." ucap Bian penuh percaya diri.
Ryan berdecak, selama ini Ia selalu mengajak Bian bercanda jadi saat Ia mengatakan hal serius, Bian malah menganggapnya bercanda.
"Baiklah jika memang seperti itu, aku akan menganggapmu aman." ucap Ryan.
"Tentu saja, tidak perlu mengkahwatirkan aku lagipula aku sudah bisa menjaga diri." ucap Bian yang akhirnya diangguki Ryan.
Makanan pesanan mereka sudah sampai, Bian bersiap makan namun Ryan malah mencicipi makanan Bian lebih dulu dan tidak hanya makanan saja, Bian juga mencicipi minuman Bian.
"Apa yang Papa lakukan?" Bian terlihat kesal.
"Tidak ada, aku hanya ingin mencicipi saja."
Bian berdecak, "Bahkan makanan kita saja sama!"
Ryan hanya tersenyum, tidak membalas ucapan Bian. Ia merasa tenang karena makanan Bian tidak ada racunnya.
Ditempat lain, seorang pria tampak sedang memarahi anak buahnya.
"Hanya membawa satu gadis saja kalian tidak mampu lalu untuk apa kalian memiliki otot besar seperti itu?" sentak pria itu dengan nada marah.
"Seharusnya kalian langsung menculiknya saja!" tambah pria itu.
"Ada banyak orang disana Tuan, jika kami nekat menculiknya bisa bisa kami di amuk massa."
"Kalian saja yang bodoh dan tidak becus."
"Tapi Tuan, gadis itu bahkan memiliki pengawal, saat kami mengikuti taksi, seseorang yang memakai motor menghadang jalan kami hingga kami kehilangan jejak." jelas salah satu anak buahnya.
"Apa Bian tahu rencana kita?"
"Tidak Tuan,"
"Jika tidak bagaimana bisa gadis itu memiliki pengawal, kalian saja yang bodoh!" umpat pria itu lalu mengambil ponselnya karena ada pesan masuk.
Pria itu melihat foto yang dikirimkan anak buahnya, foto Bian makan siang bersama dengan seorang pria yang tak asing untuknya.
"Siapa dia, sepertinya aku mengenal orang ini." gumam Pria itu melihat foto Bian lebih dekat hingga Ia sadar jika pria yang bersama Bian adalah Ryan, Pengacara sukses serta seorang pengusaha.
"Sial, apa hubungan Bian dengan Ryan? Posisi ku bisa bahaya jika Bian dibantu oleh Ryan." umpat Pria itu merasa takut.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1