MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
23


__ADS_3

Bian baru saja keluar dari ruang meeting. Ia kembali mengecek ponselnya. Sebelum memasuki ruangan meeting Bian melihat gps Aruna berada direstoran namun sekarang Bian terkejut kala gps Aruna berada disebuah apartemen.


Apartemen yang sangat Ia kenali.


Bian kembali memperjelas gpsnya dan memang benar jika Aruna tengah berada disebuah apartemen yang tak jauh dari kantornya.


"Gue pergi dulu, Lo urus sisanya." Kata Bian pada Sadam.


Bian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena Bian tahu jika itu apartemen milik Adam pacar Aruna.


Sebelumnya memang Bian sempat meminta bantuan seseorang untuk mencari tahu tentang Adam termasuk dimana Adam tinggal dan sekarang Bian harus segera menyelamatkan Aruna dari kebrengsekan Adam.


Bian sampai di apartemen Adam segera naik ke lantai lima karena kamar Adam berada dilantai lima.


Tak menunggu waktu lama, Bian segera mendobrak pintu apartemen Adam karena pintu apartemen masih manual jadi sangat mudah didobrak.


"MAU LO APAIN ADEK GUE HAH!" Teriak Bian saat melihat Adam memeganggi bibir Aruna.


Bian langsung berlari dan memberi bogeman pada Adam yang masih sangat terkejut dengan kedatangannya. Wajah Aruna tak kalah terkejut dan ketakutan, Ia langsung berada dibelakang punggung kakaknya karena jujur Aruna masih shock saat Adam berusaha menciumnya.


Melihat Adam tersungkur dilantai karena bogemannya, Bian berbalik menatap Aruna yang ketakutan berada dibelakang punggungnya.


"PULANG LO!"


Aruna mengangguk mengikuti langkah Bian yang keluar dari apartemen Adam sementara Adam merasa kesakitkan, pipi kanannya terasa mau remuk karena bogeman Bian yang sangat keras.


"Sial, gue hampir berhasil!" Umpat Adam kesal karena gagal lagi mendapatkan Aruna.


Aruna memasuki mobil Bian, tangannya masih gemetar ketakutan, Ia takut saat Adam akan menciumnya dan lebih takut lagi saat melihat wajah marah Bian.


Bian memang sering marah dan kesal namun baru sekali ini Aruna melihat wajah sangat marah Bian, menakutkan untuk Aruna.


"LO JADI CEWEK BISA NGGAK SIH NURUT SAMA GUE!" teriak Bian padahal mereka sudah berada didalam mobil namun Bian tidak mengecilkan volume suaranya.


Aruna hanya menunduk, tidak berani menjawab apalagi melihat Bian.


"Kalau tadi gue telat, habis Lo sama dia." Kata Bian lagi yang kini sudah menurunkan volume suaranya.


Aruna masih diam, mendadak Ia merasa aneh dengan tubuhnya yang tiba tiba merasa panas.


"Kak... panas." Keluh Aruna.


"Panas kan kuping Lo dengerin omelan gue." Sentak Bian.


"Bu bukan itu kak, pan panas. Tubuh Runa panashhh." Suara Aruna terdengar mendesah membuat Bian langsung paham apa yang terjadi pada Aruna.


"Lo abis minum apa? Obat perangsang?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "jus jeruk."

__ADS_1


"Ck, Adam brengsek! Pasti dia ngasih obat perangsang ke minuman Lo." Umpat Bian akhirnya menepikan mobilnya dan menghentikan mobilnya.


Bian menyentuh dahi Aruna, entah mengapa terasa menenangkan untuk Aruna.


"Lagi kak lagi...." pinta Aruna menginginkan sentuhan Bian.


"Jangan gila Lo!"


"Please kak, lagi." Pinta Aruna lagi mengenggam tangan Bian membuat jantung Bian berdegup sangat kencang.


"Kak..." suara Aruna terdengar manja dan lemah mengoda Bian.


"Sialan Lo!" Umpat Bian saat tangan Aruna mulai nakal meraba raba dada bidangnya.


Tak tahan dengan godaaan yang Aruna berikan, Bian memajukan bibirnya, Ia ******* bibir Aruna.


Manis... itulah yang Bian rasakan saat pertama kali ******* bibir ranum milik Aruna.


Kini Aruna tidak lagi merasakan panas, yang Ia rasakan adalah rasa nyaman saat Bian memanggut bibirnya dengan lembut apalagi tangan Bian terangkat dan mengelus tengkuk lehernya memberikan rasa nikmat dan nyaman yang luar biasa.


Entah sampai berapa menit, mereka masih saling beradu bibir hingga pintu kaca mobil diketuk membuat keduanya terkejut dan akhirnya sadar apa yang mereka lakukan.


Tok... tok... tok..


"Jangan mesum woyyy!" Teriak seseorang dari luar.


"Kalau mesum dihotel woyy jangan di mobil." Teriak orang orang yang masih bisa didengar oleh Bian dan Aruna.


"Kak, masih panas." Keluh Aruna lagi.


"Lo minum berapa banyak sih?" Kesal Bian yang mencoba menahan diri dari godaan Aruna meskipun dirinya sempat kalah karena mencium Aruna. Namun Bian lega mereka ada dimobil, jika diranjang mungkin Bian sudah menghabisi Aruna.


"Dikit, aku cuma minum jus jeruk."


"Itu jus jeruk dikasih obat perangsang makanya Lo jadi gini."


"Nggak mungkin!"


Citttt... Bian menghentikan mobilnya saat Aruna mengatakan tidak mungkin.


"Lo bego boleh tapi jangan kebangetan bisa nggak!" Sentak Bian emosi sendiri dengan Aruna yang masih saja mempercayai Adam padahal dirinya sudah hampir diperkosa oleh Adam.


"Masih panas kak!"keluh Aruna lagi.


"Rasain! Makanya jangan bandel!"


Keduanya sampai dirumah,


"Lho Non Runa kenapa mukanya merah gini?" Tanya Mbok Inem terkejut melihat wajah Aruna memerah.

__ADS_1


"Nggak apa apa Mbok, Runa mau ke atas dulu." Kata Aruna berjalan mengikuti Bian yang masih terlihat kesal.


"Sini Lo!" Bian meminta Aruna memasuki kamar mandi.


"Mau ngapain kak?" Aruna terlihat ragu.


"Bikin anak!"


Sontak Aruna melotot mendengar ucapan Bian.


"Mau sembuh nggak?"


"Mau tapi nggak mau bikin anak. Jangan gila kak!" Kata Aruna.


"Makanya buruan sini!"


Aruna akhirnya menurut, memasuki kamar mandi miliknya. Aruna pasrah apapun yang akan Bian lakukan padanya asalnya Ia bisa sembuh dari rasa panas yang menerjang tubuhnya.


"Duduk Lo!" Perintah Bian meminta Aruna duduk di bath up.


Dan byur...


Bian menyalakan shower dengan aliran deras tepat di kepala Aruna membuat Aruna langsung gelagapan.


"Kak, bisa mati aku." Ucap Aruna langsung berdiri menghindari guyuran shower.


Aruna yang memakai kaos warna putih memperlihatkan lekuk tubuhnya juga warna bra yang Ia kenakan membuat Bian hanya bisa menelan ludahnya.


Bian mendorong Aruna hingga Aruna jatuh ke bath up.


"Kak Biaaannn..." jerit Aruna yang kembali diguyur dengan air shower.


"Rendem sampai pusing dan panasnya hilang." Kata Bian lalu keluar dari kamar mandi tak tahan melihat lekuk tubuh Aruna yang membuat Bian ingin.


"Ya ampun Non Aruna!" Jerit Mbok Inem yang baru saja memasuki kamar mandi.


"Non Runa abis disiksa sama Den Bian ya?" Tebak Mbok Inem terlihat khawatir, mengambilkan handuk untuk Runa dan langsung melilitkan handuk ke tubuh Runa yang basah kuyup.


"Nggak Mbok, jangan salah paham, justru Kak Bian bantuin Runa kok walaupun caranya nyebelin." Ungkap Runa.


"Udah sekarang Non Runa ganti baju biar Mbok bikinin minum anget," kata Mbok Inem segera keluar dari kamar Aruna.


Sementara itu Bian juga menguyur tubuhnya dengan air dingin. Setelah berciuman dengan Aruna dan melihat lekuk tubuh Aruna membuat miliknya berdiri dan tidak mau turun sedari tadi.


"Ck, sialan! Tidak bisakah kau bersabar sedikit lagi!" Omel Bian sambil memandangi miliknya.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2