MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
136


__ADS_3

Aruna sudah bersiap menyambut kepulangan Bian sejak sore namun hingga pukul tujuh malam masih belum ada tanda tanda Bian pulang.


Aruna yang saat ini sudah mengenakan lingerie berniat memberikan surprise untuk suaminya pun harus kecewa dan mengambil kimono lalu Ia lilitkan untuk menutupi tubuh polosnya.


Aruna mengambil ponselnya, Ia mengirim pesan untuk Bian namun masih belum dibalas, akhirnya Aruna mengirim pesan pada Keisha untuk menanyakan apakah Sadam sudah pulang atau belum.


Dan tak berapa lama, Aruna mendapatkan balasan dari Keisha,


Mas Sadam belum pulang, sepertinya sedang banyak pekerjaan karena Mas Sadam bilang jika pulang larut hari ini.


Aruna tertunduk lesu setelah membaca pesan dari Keisha, "Bahkan Sadam saja mengabari istrinya tapi kenapa Kak Bian tidak melakukan itu, apa Kak Bian lupa jika sudah punya istri?" omel Aruna lalu kembali meletakan ponselnya. Ia tak mau menunggu balasan dari Bian karena Ia akan kesal jika Bian tidak segera membalas.


Bian hanya mengatakan jika tidak bisa menjemput Aruna siang tadi dan saat Aruna menanyakan alasannya, Bian sudah tidak menjawab sampai sekarang.


Aruna berniat meluapkan kekesalanya dengan belajar, baru saja membuka bukunya, Ia mendengar suara pintu terbuka, Aruna berbalik karena Ia pikir itu Bian namun ternyata Mbok Siti.


"Nona tidak makan malam?"


Aruna menggelengkan kepalanya, Ia kembali dibuat lesu karena bukan Bian yang datang.


"Nunggu Kak Bian dulu Mbok."


"Atau mau saya antarkan makan malamnya kesini Nona?"


"Nggak Mbok, mau nunggu Kak Bian dulu aja."


"Mau Mbok bikinin jus alpukat non?" tawar Mbok siti lagi.


"Boleh deh."


Mbok Siti segera turun dan kembali membawa segelas jus alpukat dengan setoples kue kering.


"Silahkan Non..."


"Makasih Mbok."


Aruna menikmati jus alpukat dan fokus belajar, melupakan sejenak kekesalannya pada Bian. tak terasa sudah pukul sepuluh malam dan Bian belum juga kembali.


"Apa dia mau menginap dikantor?" kesal Aruna karena selama ini Bian tidak pernah pulang terlambat.


Aruna akhirnya berbaring diranjang, berniat tidur lebih dulu namun seketika Ia mengurungkan niatnya setelah mendengar suara mobil Bian memasuki pekarangan rumah.


Aruna bergegas untuk turun dan menyambut kepulangan Bian. Tadinya Aruna sudah berencana untuk mengomel pada Bian namun setelah melihat wajah lelah Bian, Aruna mengurungkan niatnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Bian dengan suara berat.

__ADS_1


"Menunggu Kak Bian pulang."


"Jika sudah mengantuk tidur saja duluan." ucap Bian berjalan menaiki tangga meninggalkan Aruna.


Aruna membuntuti Bian hingga keduanya kini sudah berada di kamar, "Kak Bian sudah makan malam?"


Bian menggelengkan kepalanya,


"Kak Bian mandi dulu biar ku siapkan makan malamnya." ucap Aruna kembali turun ke bawah untuk menghangatkan masakan Mbok Inem karena Ia tak ingin menganggu Mbok Inem yang sudah terlelap.


Aruna selesai menyiapkan makan malam dimeja bersamaan dengan Bian yang sudah turun untuk makan malam.


Aruna mulai menyiapkan nasi dipiring dan memberi lauk secukupnya untuk Bian.


"Kau juga belum makan malam?" tanya Bian saat melihat Aruna makan bersamanya.


"Sejak ada Kak Bian, aku tidak terbiasa makan malam sendiri jadi aku lebih baik menunggu Kak Bian pulang." balas Aruna membuat Bian tersenyum.


"Maafkan aku karena pulang terlambat."


"Apa sedang ada masalah kak?"


"Sedikit, tapi akan segera ku atasi agar aku bisa pulang lebih awal seperti biasa." ucap Bian yang langsung diangguki Aruna.


Selesai makan malam, Bian membantu Aruna membersihkan meja makan dan mencuci piring setelah itu keduanya naik ke kamar untuk istirahat.


Sedikit merasa kecewa namun Aruna harus mengerti keadaan Bian yang sedang kelelahan.


Aruna akhirnya ikut berbaring, Ia memberanikan diri memeluk Bian yang memunggunginya hingga beberapa menit kemudian Bian berbalik dan langsung memeluknya.


"Maafkan aku sayang, aku sangat lelah malam ini." ucap Bian masih dengan suara lelah, menandakan jika Bian benar benar kelelahan.


"Mau ku pijit kak?" tawar Aruna yang malah membuat Bian tersenyum.


"Apa kau berniat menggodaku?"


"Aku tidak menggoda kak Bian, aku hanya ingin memijit Kak Bian yang kelelahan."


"Lalu ini apa?" tanya Bian saat Bian membuka kimono yang dipakai Aruna dan melihat lingerie Aruna yang menggoda mata Bian.


"Ck, tadinya aku hanya ingin membuat Kak Bian senang jadi aku memakainya."


"Baiklah mari kita lakukan sekali." kata Bian tersenyum nakal.


"Benar benar tidak bisa dipercaya, Kak Bian mengatakan jika kelelahan dan tidak akan melakukan malam ini!"

__ADS_1


"Tidak, aku berubah pikiran. Aku ingin menghargai usaha istriku yang berniat membuatku senang." ucap Bian lalu memulai permainan panas mereka.


Aruna melepaskan diri dari kungkungan Bian setelah permainan mereka usai. Kini tubuh keduanya berkeringat.


"Aku ingin mandi lagi." ungkap Aruna.


"Sudah terlalu larut untuk mandi, tidak baik jika mandi selarut ini." kata Bian memperingatkan.


"Tubuhku berkeringat kak, rasanya tidak enak."


"Aku akan membuatnya kembali enak." ucap Bian lalu kembali berada di atas Aruna.


"Kak Bii...."


Bian tertawa, "Kenapa? bukankah tadi kau mengatakan jika ingin menyenangkan ku?"


"Ku pikir Kak Bian sudah lelah!"


"Rasa lelahku hilang setelah bercinta denganmu, jadi bagaimana jika sekali lagi?"


Tak menunggu jawaban Aruna, Bian kembali melanjutkan permainan dan kali ini Aruna yang kelelahan, langsung terlelap setelah selesai permainan.


Bian tersenyum menatap wajah lelap Aruna yang dipenuhi keringat. Ia tak menyangka hanya dengan seperti ini bisa menghilangkan semua penat yang Ia dapatkan dari kantor.


"Kenapa kau bisa secantik ini?" ucap Bian lalu mencium kening Aruna.


Bian kembali menatap Aruna, tiba tiba Ia teringat saat masih kecil dulu dimana Ia sangat tidak menyukai kehadiran Aruna.


Ya setelah ada Aruna, Bian merasa Mamanya lebih sayang dan perhatian dengan Aruna membuatnya iri dan semenjak saat itu Bian selalu nakal dengan Aruna bahkan sering membuat Aruna menangis.


Mengingat itu membuat Bian tersenyum lalu kembali mengecup kening Aruna, "Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan mu menangis lagi karena ku."


Paginyaa...


Aruna baru saja membuka matanya, Ia melihat jam dinding masih pukul lima pagi dan Bian sudah tidak ada disampingnya.


Aruna bangun dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Ia berjalan ke kamar mandi dan tidak ada juga disana.


"Kemana kak Bian, apa sudah berangkat ke kantor sepagi ini?" gumam Aruna hingga matanya menatap sebuah kertas di atas meja.


Sayang maafkan aku karena tidak menunggumu bangun, aku harus segera berangkat.


jangan lupa sarapan dan biarkan Mang Torik yang mengantarmu.


Aruna tertunduk lesu setelah membaca surat dari Bian,

__ADS_1


"Mungkin mulai sekarang aku harus terbiasa dengan kesibukan Kak Bian."


Bersambung....


__ADS_2