MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
89


__ADS_3

Bian baru saja kembali ke kantor setelah Ia keluar bersama Sadam. Bian terkejut saat memasuki ruangan dan sudah ada salah satu anak buahnya yang menunggunya.


"Apa terjadi sesuatu?"


Pria muda itu tersenyum lalu meletakan sebuah paper bag dimeja.


"Sial, apa dia melakukannya lagi?" Kesal Bian melihat paper bag berisi sebuah tas yang Bian yakini jika itu milik Mamanya.


"Benar Tuan."


"Dia masih belum jera, lalu apa yang kau berikan padanya?"


"Maafkan saya Tuan, anak buah saya tidak bisa dihubungi jadi saya tidak melakukan apapun, hanya mengelabuinya agar bisa mendapatkan tasnya." Jelas pria muda itu.


Bian berdecak, seolah tidak puas dengan hasil kerja anak buahnya, "Lain kali berikan pelajaran agar dia jera, tidak menjual tas milik Mama ku dengan seenaknya."


"Baik Tuan."


"Pergilah, awasi lagi dia jangan sampai lengah."


"Baik Tuan."


Pria muda itu segera pergi dari ruangan Bian.


Bian berdiri membawa paper bag berisi tas dan Ia letakan diruang pribadinya.


Sudah ada tiga tas mahal milik mamanya yang gagal dijual oleh David dan selingkuhannya.


Bian tersenyum memandangi ke arah tas tas yang kini berjejer rapi disebuah lemari kaca.


"Benar kata Mama, jika kita punya uang kita bisa melakukan apapun termasuk membawa tas Mama kembali." Gumam Bian.


Ingatan Bian melayang, beberapa tahun yang lalu sebelum Bian sesukses sekarang, Bian melakuan pekerjaan apapun diluar negeri saat kuliah. Bian juga pernah menjadi seorang barista, pekerjaan sambilan disebuah kafe setelah pulang kuliah.


Dikafe itu pula Bian bertemu dengan Sadam yang waktu itu hanya menjadi cleaning service.


Melihat Sadam sangat cerdas membuat Bian mengajaknya untuk bekerja sama, mendirikan usaha hingga usaha mereka berkembang pesat dan menjadi perusahaan yang menghasilkan banyak uang untuknya.


"Dan sekarang aku bukan anak kecil lagi yang meminta uang Papa jadi aku tidak akan membiarkan Papa menyakiti Mama lagi!" Gumam Bian dengan tangan terkepal.


...


Kelas Aruna untuk hari ini sudah selesai. Ia berniat mengajak Nysa untuk kembali ke apartemennya.


"Lo lagi chat sama siapa?" Tanya Aruna menatap Nysa yang sedari tadi asyik dengan ponselnya.


Nysa tampak menutupi ponselnya, "Nggak usah kepo!"


"Nggak." Balas Aruna acuh dan memilih berjalan lebih dulu meninggalkan Nysa.


"Tungguin gue!" Kejar Nysa.


Keduanya berjalan keluar menunggu taksi lewat.


"Eh nge mall sebentar yukk?" Ajak Nysa.

__ADS_1


"Gue capek Nys, mau langsung balik aja."


"Elah bentaran doang, anterin gue nyari baju." Ajak Nysa lagi.


"Nggak mau!"


"Ya udah gue nggak mau nginep di tempat Lo lagi."


Aruna berdecak mendengar ancaman Nysa, Ia tidak bisa tinggal sendirian mungkin itu juga penyebab Aruna sangat kesal dengan Bian karena memidahkan dirinya ke apartemen sendirian.


"Nggak usah ngeselin deh Nys!"


"Makanya anterin gue!"


Aruna akhirnya mengangguk setuju membuat Nysa merasa girang.


"Ck, tumben taksinya lama amat." Keluh Nysa karena hampir lima belas menit mereka berdiri didepan kampus dan belum ada satupun taksi yang lewat.


"Sabar, mungkin mereka lagi pada makan, ini kan jam makan siang." Balas Aruna.


Nysa berdecak, tanpa sadar matanya melihat ke arah seorang pria pengguna motor yang tak jauh dari sana. Pria itu tampak duduk diatas motor sambil memandang ke arah Aruna.


Jangan jangan dia... Nysa langsung menggelengkan kepalanya, Ia tahu apa yang harus dilakukan sekarang.


Taksi akhirnya datang, keduanya segera masuk dan taksi melaju menuju sebuah mall.


Sesekali Nysa memandang ke arah belakang, melihat apakah pria tadi mengikuti taksinya dan benar saja pria bermotor itu terlihat mengikuti taksi yang ditumpangi Aruna dan Nysa.


"Ngapa sih Lo!" Heran Aruna melihat wajah Nysa tampak gelisah.


"Nggak, nggak apa apa!"


Keduanya sampai di mall, buru buru Nysa mengajak Aruna masuk karena takut dikejar pria tak dikenal itu.


"Ck, ngapain dah malah celinggukan!" Ucap Aruna saat mereka sudah berada didalam dan Nysa tidak memilih baju malah menatap kesana kemari dengan tatapan khawatir.


Nysa menenangkan dirinya, Ia kembali fokus dengan tujuannya.


"Ya udah ayo cari baju dulu." Ajak Nysa.


Keduanya memilih milih baju, Nysa tampak berjalan mendekat sambil membawa sebuah dress.


"Ini kayaknya cocok deh buat Lo!" Kata Nysa mengulurkan dress berwarna merah muda.


"Cantik sih tapi gue lagi nggak kepengen beli apapun." Ucap Aruna yang memang sedang tidak mood belanja.


"Lo masih kesel sama Kak Bian?"


Aruna mengangguk,


"Gue ada ide, gimana kalau ntar malem kita jalan, Lo dandan cantik pakai dress ini." Ajak Nysa.


Mata Aruna langsung melotot mendengar ajakan Nysa, "Gila, nggak mau ah. Bisa diamuk gue sama Kak Bian." Kata Aruna bergindik ngeri membayangkan betapa posesifnya Bian.


"Lo bilang lagi kesel sama Kak Bian, tapi kok Lo takut?" Ejek Nysa.

__ADS_1


"Ya emang gue lagi kesel tapi nggak cari masalah juga kan Nys!"


"Kalau gue jadi Elo, gue bikin Kak Bian kesel balik biar dia tahu gimana posisi Lo sekarang." Kata Nysa.


Aruna tampak diam memikirkan ucapan Nysa, dirinya memang masih minim pengalaman menjalin hubungan seperti ini.


"Gimana tertarik nggak nih? Siapa tahu dengan begini Lo bisa balik kerumah."


Tak ingin berpikir panjang lagi, Aruna akhirnya menyetujui saran dari Nysa, Ya Ia ingin membuat Bian kesal agar Bian bisa lebih mengerti dirinya.


Nysa tampak tersenyum puas, Ia segera membayar dress itu.


"Kali ini gue traktir elo deh." Kata Nysa tersenyum cengengesan.


"Lo kesini cuma beliin baju buat gue?"


Nysa mengangguk, "Bajunya jelek jelek, nggak suka gue!"


Aruna memutar bola matanya, merasa heran dengan tingkah aneh sahabatnya itu.


Aruna dan Nysa kembali memasuki taksi untuk pulang. Awalnya mereka ingin langsung pulang ke apartemen namun mendadak Nysa berubah pikiran.


"Ke jalan merpati aja pak." Ucap Nysa.


"Loh kok malah kerumah Lo?" Tanya Aruna.


"Mau ambil baju dulu gue!"


Aruna akhirnya mengangguk sementara Nysa hanya diam, sesekali menatap ke belakang dimana pria penggendara motor itu kembali mengikuti taksi yang mereka tumpangi.


"Istirahat disini dulu aja ya, baliknya ntar malem sekalian jalan ntar malem." Kata Nysa saat mereka sudah sampai dirumah Nysa.


"Serah Lo deh." Balas Aruna langsung rebahan diranjang Nysa.


Nysa berdiri dibalkon kamarnya, Ia melihat pria bermotor itu kini berhenti tepat didepan rumahnya.


Nysa benar benar yakin jika itu pria penguntit yang dimaksud Bian namun sayangnya pria itu memakai masker membuat Nysa tidak bisa melihat jelas wajah pria itu.


Malamnya... Aruna terlihat cantik mengenakan dress yang dibelikan oleh Nysa apalagi make up tipis yang menempel diwajah Aruna membuatnya semakin cantik.


Taksi yang mereka tumpangi berhenti disebuah resort yang tak jauh dari rumah Nysa.


"Loh kok sepi?" Heran Aruna melihat tidak ada pengunjung lain diresort itu.


Nysa hanya diam mengandeng tangannya membawa ke taman belakang.


"Lo lihat ke bawah." Pinta Nysa.


Aruna melihat ke lantai dimana ada banyak kelopak bunga mawar yang dibuat menyerupai jalan seperti dired carpet.


"Lo ikutin kelopak bunga ini." Pinta Nysa yang akhirnya diikuti oleh Aruna.


Langkah Aruna terhenti kala dipuncak kelopak bunga yang sudah habis dan didepan ada rangkaian kelopak mawar lagi bertuliskan,


WILL YOU MARRY ME ARUNA?

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaa


__ADS_2