MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
110


__ADS_3

Bian benar benar tak menyangka dengan kejutan manis yang Aruna siapkan untuknya. Setelah kemarin Ia dibuat kesal juga pagi ini Ia kembali kesal karena Aruna mendadak pergi tanpa pamit padanya namun ternyata kepergian Aruna itu membawa kebahagiaan untuknya.


Aruna sibuk mengurus pernikahan dadakan untuk dirinya, itulah yang dijelaskan Ryan padanya saat Ia kebingungan melihat pria paruh baya yang ternyata memang seorang penghulu.


"Jadi apa kamu sudah siap nak?"


"Siap pak, saya sudah sangat siap." ucap Bian begitu semangatnya menjawab penghulu itu.


"Tapi dimana calon istri saya?" tanya Bian celinggukan mencari Aruna yang tidak ikut masuk.


"Nanti setelah ijab kabul selesai, calon istri kamu baru boleh masuk." ucapnya yang langsung diangguki Bian.


Bian menarik nafas dalam dalam lalu mengeluarkan perlahan setelah itu Ia menjabat tangan penghulu itu, meskipun masih terasa perih karena tergesek perban namun Bian tak peduli yang terpenting saat ini pernikahannya bisa berjalan dengan hikmat.


"Sebentar, pakai ini untuk mas kawin mu, semalam aku dan Anneta membeli ini untukmu." kata Ryan memberikan sekotak besar berisi seperangkat alat sholat.


"Terima kasih Papa." ucap Bian sambil tersenyum tengil.


"Ck, seperti ini saja kau memanggilku papa!"


Bian tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.


"Baik kita mulai sekarang." ucap penghulu itu segera mengucapkan ijab kabul dan langsung dijawab oleh Bian dengan suara lantang.


...Saya terima nikah dan kawinnya Aruna Rinjani binti Rega Rinjani dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai....


"Bagaimana saksi?"


"Sah."


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulilah..."


Semua orang tampak mengucap syukur dan sangat bahagia, penghulu itu segera membacakan doa setelah ijab kabula yang langsung di amini semua orang yang ada disana.


Pintu kembali terbuka dimana Anneta memasuki ruangan bersama dengan Aruna yang memakai kebaya muslim juga hijab serta make up tipis yang membuatnya terlihat sangat cantik, benar benar cantik hingga Bian tak kedip saat melihatnya.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami dan istri secara agama dan negara. Istri bisa mencium tangan suaminya dan suami mencium kening istrinya." ucap penghulu itu.


Dengan tangan gemetar karena gugup, Aruna mencium tangan Bian setelah itu Bian mengecup keningnya lama, sangat lama hingga membuat suasana menjadi haru.


Setelah selesai, penghulu dan beberapa saksi itu pergi dari ruangan Bian. Hanya tinggal, Sadam, anak buahnya, Anneta serta Ryan yang menemani Aruna dan Bian diruangannya.


"Jadi kalian akan malam pertama diruangan ini nanti malam?" goda Ryan.

__ADS_1


"Mana bisa, Bian sedang sakit, tangannya saja tidak bisa menyentuh jadi biarkan dia sembuh lebih dulu." protes Anneta.


"Sayang sekali, padahal sekarang kalian sudah bebas melakukan apapun." goda Ryan dengan senyum tengilnya.


"Jika kalian memang mengerti keadaan kami, bukankah sebaiknya kalian pergi dari sini dan biarkan aku hanya berdua dengan istriku?" ucap Bian yang langsung membuat semua orang tertawa.


"Jangan seperti itu, mereka yang sudah membantuku mempersiapkan ini semua, bagaimana bisa kau malah mengusirnya seperti ini." protes Aruna.


"Tidak apa apa Nona, kami memang ingin pergi." kata Sadam yang langsung diangguki anak buahnya.


"Nah, aku suka kepekaan mu Sadam." Bian tersenyum tengil ke arahnya.


"Selamat ya pak atas pernikahannya, semoga semakin bahagia dan semakin baik hati sering memberikan bonus pada kami." ucap Sadam sambil tersenyum.


"Aku akan mentransfer bonus kalian karena sudah membantu istriku menyiapkan semua ini." kata Bian yang langsung membuat Sadam dan Anak buahnya tersenyum mengembang.


"Terima kasih pak, semoga malam pertamanya sukses." ucap Sadam lalu mengajak anak buah Bian keluar dari ruangan Bian.


"Jadi kapan Papa dan Mama pergi dari sini?" tanya Bian terdengar mengusir.


"Aku masih ingin disini." balas Ryan santai.


"Maa... Apa Mama tidak ingin jalan jalan keluar?" tanya Bian tak menyerah.


Anneta tertawa, "Sudahlah jangan menganggu mereka, sebaiknya kita pergi saja." ajak Anneta membuat Bian tersenyum lebar.


"Tapi aku masih ingin disini." kata Ryan dengan suara manja.


"Hey kau mengumpat pada Papa yang sudah membantu menyiapkan semua ini?" protes Ryan.


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun. Mungkin Papa salah dengar karena sudah tua jadi pendengarannya pun terganggu." jawab Bian santai membuat Anneta dan Aruna terbahak.


"Sudahlah, ayo kita pergi." ajak Anneta yang akhirnya diangguki oleh Ryan.


"Lagi pula kau juga tidak akan bisa melakukan apapun dengan tangan diperban seperti itu." ejek Ryan membuat Bian kembali mengumpat.


Kini tinggalah Bian dan Aruna yang ada diruangan itu.


Aruna masih menunduk malu, tidak berani menatap Bian yang menatapnya.


"Kemarilah istriku." ucap Bian dengan suara lembut membuat jantung Aruna berdegup sangat kencang.


Aruna menurut, Ia duduk disamping Bian agar Bian semakin dekat menatapnya.


"Istriku sangat cantik hari ini." puji Bian membuat Aruna menundukan wajahnya, menyembunyikan pipinya yang memerah malu.


"Jangan menatap ku terus kak, aku malu." ucap Anneta akhirnya tak tahan.

__ADS_1


Bian tersenyum, "Mengapa harus malu, sekarang kita ini sudah sah menjadi suami dan istri, kita bisa melakukan apapun termasuk-"


"Tangan kak Bian bahkan masih sakit, tunggu sampai tangannya sembuh dan perbannya dibuka." kata Aruna.


Bian berdecak, "Tapi dibawah sana tidak sakit sepertinya tidak masalah."


"Kaki kak Bian juga sakit, apa kak Bian yakin bisa melakukannya?" tanya Aruna.


"Kita akan mencobanya nanti, jangan suka menunda nunda hal baik." ucap Bian membuat Aruna bergindik, membayangkan milik Bian yang sangat besar dan panjang masuk ke dalam miliknya, oh tidak rasanya pasti akan sangat sakit, batin Aruna.


"Kenapa wajahmu jadi pucat?" heran Bian.


"Ti tidak apa apa kak,"


"Gantilah pakaianmu jika tidak nyaman."


"Apa tidak apa apa kak jika aku ganti?"


"Tidak apa apa tapi..."


"Gantilah disini, didepanku."


Aruna terkejut, seketika Ia menggelengkan kepalanya tanda tak mau, "Aku malu kak lagipula bagaimana jika ada yang masuk kesini?"


"Kunci saja pintunya, beres."


"Tapi kak-"


"Apa kau ingin menolak keinginan suamimu?" protes Bian.


Aruna tertunduk lemas, Ia berjalan mengunci pintu dan segera menuruti keinginan suaminya itu.


Aruna mulai membuka kebaya yang Ia pakai satu persatu hingga kini Ia polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.


tubuh mulusnya terlihat jelas membuat Bian bahkan tak berkedip mengaggumi tubuh indah yang kini sudah menjadi miliknya itu.


Dibawah sana, milik Bian pun bahkan meronta menginginkan pelepasan.


"Mendekatlah." pinta Bian yang langsung dituruti oleh Aruna.


Baru ingin mengangkat tangannya untuk menyentuh Aruna, Bian merasakan nyeri luar biasa pada lukanya.


"jangan dipaksa kak." kata Aruna saat melihat Bian meringgis kesakitan.


Bian akhirnya memilih cara lain, menggunakan bibirnya untuk menjelajahi tubuh Aruna namun baru saja menempel sebentar keduanya dikejutkan oleh pintu yang diketuk dari luar.


Seketika Aruna panik, langsung mengambil baju gantinya dan berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


"Sialan" umpat Bian.


Bersambung...


__ADS_2