
Aruna menatap penuh selidik ke arah Bian, Ia merasa ucapannya tidak ada yang lucu dan Bian menertawakannya.
"Kak Bian menipu ku ya?" tuduh Aruna yang semakin membuat Bian tergelak.
"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu sayang?"
"Kak Bian malah tertawa,"
"Karena kau lucu dan mengemaskan."
Aruna berdecak, "Jadi bagaimana? Kenapa ukurannya masih kecil?"
Bian menghela nafas panjang, "Jika kita memakai yang alami, kita harus sabar dengan prosesnya."
Aruna menunduk lesu,
Bian tersenyum lalu memeluk Aruna, "Ada apa denganmu? Aku tidak mempermasalahkan apapun."
"Tapi Jessi mengatakan jika Kak Bian menyukai yang besar."
Bian kembali tersenyum, "Dia salah, aku menyukai proses. Aku ingin membuat ini besar karena aku yang melakukannya."
"Apa milik Jessi besar juga karena ulah Kak Bian?"
Bian berdecak, pertanyaan nada menuduh yang selalu Aruna lontarkan padanya, "Tidak, bahkan sebelum denganku dia sudah melakukan dengan pria lain."
Aruna membulatkan matanya, "Separah itu?"
Bian mengangguk, "Itulah kenapa aku mengatakan jika kamu lebih baik dari pada Dia, tidak peduli bagaimana dengan fisikmu, aku tetap mencintaimu, kamu tidak tersentuh dan pandai menjaga diri sementara dia... Jadi jangan bandingkan dirimu dengan dirinya lagi dan jangan pernah insecure karena kamulah yang terbaik."
Meleleh hati Aruna mendengar rayuan maut Bian, tidak hanya pipinya yang memerah namun juga jantungnya berdegup kencang.
"Sekarang tidak perlu memusingkan ukuran besar atau kecil, sebaiknya kita bersiap untuk berangkat." ucap Bian yang langsung diangguki Aruna.
Setelah sarapan bersama, seperti biasa Aruna mengantar Bian ke kantor sebelum akhirnya Ia berangkat ke kampus.
Sesampainya dikampus, Aruna merasa aneh karena semua orang terlihat memandang ke arahnya lalu berbisik.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Aruna merasa tidak ada yang salah dengan yang Ia pakai hari ini.
"Run..." panggil Nysa yang menatap ke arahnya dengan tatapan kasihan.
"Kenapa sih? Semua orang pada ngeliatin gue, emang ada yang salah sama gue?" tanya Aruna pada sahabatnya yang sudah menunggunya didepan kelas itu.
"Gue nggak tega mau ngasih tahu tentang ini tapi kayaknya Lo harus tahu."
"Tahu apa?" Aruna semakin penasaran,
__ADS_1
Nysa membuka ponselnya, "Gue ngerasa kalau Kak Bian dijebak deh Run." ucap Nysa lalu memperlihatkan sebuah foto dimana Jessi tengah memeluk Bian.
Seketika jantung Aruna memompa begitu cepat, bibir dan tangannya bergetar, air matanya pun ingin keluar namun Ia tahan.
"Jangan salah paham dulu Run, baiknya kamu tanya sama Kak Bian."
"Jadi ini yang membuat anak anak pada ngeliatin aku?"
"Disebarin di sosmed kampus, jelas semua anak pada tahu."
"Ngapain kalian masih disini? Buruan masuk!" suara Jessi terdengar disamping Nysa.
"Lho, emang hari ini ada kelasnya Miss Jessi?" heran Nysa.
"Emang nggak ada, tapi saya mau masuk ke kelas sini kalian segera masuk atau mau saya hukum?"
Aruna dan Nysa menatap ke arah Jessi sengit namun sedetik kemudian mereka memasuki kelas.
Sementara dikantor, Sadam yang baru saja mendapatkan pesan dari Keisha langsung berlari dan panik menuju ruangan Bian.
"Pak, ada kabar buruk." ucap Sadam.
"Apa ini tentang Jessi?"
"Ya pak, dikampus ramai tersebar foto Bapak dan Jessi sedang berpelukan."
Bian menghela nafas panjang, "Aku sudah tahu dari Leo, dia baru saja mengirim pesan padaku."
Bian kembali menghela nafas panjang, "Wanita itu benar benar tidak mengubris ancamanku!"
"Mungkin dia mengira bapak masih sayang karena Bapak juga mau dipeluk." celetuk Sadam yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bian.
"Saya hanya bercanda pak." ucap Sadam tersenyum lebar memperlihatkan gigi rapinya.
"Lalu sekarang bagaimana pak?"
"Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan!"
"Siap pak."
Sadam segera keluar dari ruangan Bian. Tak berapa lama Leo memasuki ruangan Bian.
"Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Bukankah aku sudah memintamu untuk memastikan jika tidak ada orang yang melihat ku dengan Jessi kemarin?" tanya Bian pada Leo.
"Maafkan saya Tuan, tetapi kemarin saya sudah mengecek seluruh area kampus memang tidak ada seorang pun disana kecuali dua satpam yang memang berjaga disana." akui Leo.
"Kau yakin? Tidak ada satu orangpun?"
__ADS_1
"Sangat yakin Tuan."
"Jadi apa aku salah jika menuduhmu yang melakukan ini?"
Leo terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, tentu saja saya tidak mungkin melakukan itu."
Bian tersenyum, "Aku sangat mempercayai mu Leo, kau bahkan sudah ku anggap seperti adik ku sendiri." ucap Bian yang langsung membuat jemari Leo bergetar.
"Te terima kasih Tuan, begitu baik pada saya."
"Pulanglah, aku memberimu waktu libur. Untuk Aruna biarkan aku yang menjaganya hari ini."
"Ta tapi Tuan, saya masih belum ingin libur." protes Leo
"Tidak apa apa, beberapa minggu ini kau sibuk dengan semua tugas yang ku berikan. Sekarang berliburlah sejenak."
"Baiklah Tuan" ucap Leo terdengar lesu.
Leo berbalik keluar dari ruangan, Bian masih memandangi punggung Leo lalu menghela nafas panjang.
Dikampus... Aruna yang sedang mengikuti kelas Jessi terlihat sama sekali tidak semangat dan tidak berminat.
Sesekali Jessi memandang ke arahnya dengan pandangan mengejek membuat Aruna semakin kesal.
Namun mendadak kelas menjadi ricuh saat salah satu mahasiswa berteriak, "Oh Wow, sangat mengoda."
Jessi menatap kesal ke arah mahasiswa itu, "Apa yang kau lakukan? Kau mau dihukum?"
Mahasiswa itu malah tertawa mengejek, "Apa ini yang membuat Miss berkuasa dikampus ini?" Mahasiswa itu memperlihatkan ponselnya yang langsung membuat buku yang Jessi bawa terjatuh karena terkejut.
Video percintaan Jessi dengan donatur kampus saat berada diruangannya kemarin siang.
"Ternyata Miss menjadi peliharaan para donatur kampus pantas saja Miss bisa sesuka hati berkuasa dikampus ini!" ucapnya membuat semua mahasiswa yang ada dikelas penasaran dan langsung melihat isi ponsel temannya itu.
Semua orang terkejut dan menatap ke arah Jessi jijik,
"Apa saya juga boleh Miss? Saya punya banyak uang juga." tawar salah satu mahasiswa dengan senyuman nakal, "Tubuh Miss teramat menggoda."
"Itu bukan saya, itu pasti editan." ucap Jessi lalu keluar kelas.
Jessi berjalan menuju ruangannya, dirinya kini menjadi pusat perhatian. Ada yang menatapnya jijik ada pula yang menggoda menawar tubuh Jessi dengan uang mereka.
Brakkk... Jessi menutup pintunya kasar. Sedikit lagi ya tinggal selangkah lagi Ia bisa memisahkan Bian dan Aruna namun malah dirinya kini yang mendapatkan masalah.
"Sial, siapa yang sudah merekam dan menyebarkan video itu!" umpat Jessi.
Ponsel Jessi berdering bersamaan dengan telepon kantor membuat Jessi semakin pusing apalagi saat tahu yang menghubunginya adalah Pras, pria tua donatur kampus.
__ADS_1
"Dasar wanita gila, apa yang kau lakukan!" teriakan marah Pras lewat panggilan ponsel.
Bersambung....