MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
21


__ADS_3

David menatap tajam ke arah Adam yang terlihat santai menatapnya. Adam bahkan ikut duduk dimeja David bersama gadis yang Ia bawa.


"Ternyata kamu tidak sebaik yang ku pikirkan!" Kata David.


Adam tertawa, "Bukankah Om juga sama, tidak sebaik yang saya pikirkan." Balas Adam membuat David mengepalkan tangannya emosi.


"Siapa sih?" Bisik wanita yang ada disamping David dan Adam bersamaan.


"Kembalilah ke kamar, aku akan menyusul jika sudah selesai." Kata David pada wanitanya yang langsung di angguki patuh.


"Sudah cukup untuk hari ini, pulanglah." Usir Adam pada gadis yang Ia bawa.


Gadis itu langsung cemberut, "Aku bahkan belum makan."


Adam menghela nafas panjang, Ia mengeluarkan beberapa uang ratusan didalam dompetnya lalu diberikan pada gadis yang langsung tersenyum dan pergi setelah menerima uang dari Adam.


"Putuskan hubungan mu dengan Aruna sekarang juga." Pinta David.


Adam tertawa, "Tentu saja aku tidak bisa melakukan itu karena aku belum mendapatkan apa yang ku inginkan."


Brakk... David mengebrak meja membuat semua pengujung restoran menatap ke arah meja mereka.


"Sialan, bocah brengsek! Apa yang kau inginkan dari putriku hah!" Sentak David tidak memperdulikan semua orang yang menatap ke arahnya.


Adam tersenyum tipis, "Satu malam bersama putrimu cukup membuatku tutup mulut dari apa yang kulihat pagi ini."


David menarik kerah baju Adam, membawa Adam keluar dari restoran. Kini mereka berdua sudah berada ditaman hotel.


David mendorong Adam hingga jatuh direrumputan.


"Jangan harap kau bisa meniduri putriku!" Kecam David.


Adam kembali tertawa, "Dan kau akan melihat wajah putrimu, istrimu dan putra kesayanganmu itu kecewa karena mengetahui perselingkuhanmu atau mungkin kau akan melihat keluargamu menjambak habis rambut indah selingkuhanmu itu. Jadi mana yang akan kau pilih?" Adam tersenyum puas, Ia merasa menang saat ini, karena mengancam Papa dari kekasihnya sendiri.


"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu!"


"Tidak perlu takut Om cukup waspadai saja."


David kembali mengepalkan tangan nya, "Apa yang kau inginkan Huh?"


"Tidak banyak Om, hanya satu malam bersama Aruna sudah cukup untuk menutup mulut."


"Sial, bagaiamana bisa aku memberikan putriku pada pria brengsek sepertimu!"


"Bukankah kita sama sama brengsek om?" Ejek Adam.


"Baiklah, akan kuberikan Aruna padamu tapi ingat jika sampai keluargaku tahu tentang ini, aku akan menghabisimu!"

__ADS_1


"Baiklah Om." Adam tersenyum puas.


David meninggalkan Adam yang masih tersungkur ditanah.


David kembali ke kamar hotel, saat ini pikirannya sangat kacau. David merasa sudah gila,  menjual putrinya hanya karena takut ketahuan berselingkuh, namun David tidak mempunyai pilihan lain, Ia harus melakukan ini agar hubungannya dengan Mia nama gadis simpanannya itu tetap berlanjut tanpa takut ketahuan lagi.


Toh Aruna juga bukan putri kandungnya jadi tidak masalah jika Ia merusak sedikit masa depan putri angkatnya itu.


David memasuki kamar, melihat Mia cemas menatapnya.


"Sebenarnya ada apa? Siapa dia?" Tanya Mia pada David.


"Bukan apa apa, hanya penganggu dan aku sudah menyelesaikannya, jangan khawatir." Balas David mengelus kepala Mia.


"Jika kamu diancam dan takut keluargamu tahu tentang kita, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini."


"Tidak sayang, kita tidak akan berakhir sampai kapanpun." Kata David.


"Kadang aku lelah menjadi simpananmu."


David duduk disofa, Ia menarik tangan Mia dan membawanya duduk dipangkuan. "Jadi apa kau ingin ku nikahi?"


Mia tersenyum lebar, "Tentu saja, aku ingin kita menikah, apa kau akan menceraikan istrimu dan menikah denganku?" Tanya Mia penuh harap.


"Aku akan menikahimu tapi mungkin tidak menceraikan istriku, aku tidak bisa menceraikan istriku." Kata David membuat Mia terlihat kecewa.


"Jika seperti itu, tidak perlu menikahiku!" Mia tampak kesal, berdiri dan duduk disamping David.


"Tentu saja marah, memang siapa yang mau jadi wanita simpanan!" Ungkap Mia dengan bibir manyun.


David hanya bisa menghela nafas panjang, selalu seperti ini. David tidak ingin menceraikan Anneta namun Ia juga tidak bisa meninggalkan Mia, posisi yang sangat membingungkan untuknya.


Sementara itu, Bian dan Aruna memasuki mobil selesai sarapan. Mereka hanya diam sejak dimeja makan tadi karena Aruna masih kesal dengan Bian yang mendorong tubuh Aruna semalam, rasanya masih sakit.


"Jika nanti aku belum datang menjemput, pulanglah naik taksi." Kata Bian pada Aruna.


"Baiklah, aku akan meminta Adam mengantarku!"


Citttt... mobil berhenti mendadak membuat dahi Aruna terbentur dashboard.


"KAK BIAN!" kesal Aruna.


"Jangan sekali kali Lo pulang diantar cowok itu!" Bentak Bian terlihat marah.


"Apa masalahnya sih kak, dia pacar ku!"


"Masalahnya dia cowok brengsek, Lo harus tahu itu Run!"

__ADS_1


Aruna tak menjawab lagi, rasanya percuma berdebat dengan Bian yang selalu menyalahkan dirinya.


Aruna keluar dari mobil Bian namun tangannya ditahan oleh Bian.


"Mau kemana Lo?"


"Naik taksi, lepasin!" Balas Aruna terlihat memberontak namun Bian tidak melepaskan tangan Aruna, Bian malah melajukan mobilnya membuat mengurungkan niatnya untuk keluar.


Sesampainya dikampus, Aruna langsung keluar dari mobil Bian tanpa mengatakan apapun lagi.


Bian hanya bisa menatap punggung Aruna sambil menghela nafas panjang. Seandainya waktu itu Bian membuat video tentang Adam yang selingkuh mungkin semua akan lebih mudah dan Aruna akan percaya jika Adam itu hanyalah cowok brengsek yang memiliki niat tak baik padanya namun sayang, Bian bahkan tidak membuat bukti perselingkuhan Adam hingga membuat Aruna tak pernah mempercayainya.


Hari ini Bian, sedikit sibuk karena memang pembukaan kantor barunya yang sudah selesai. Ada banyak hal yang harus Ia kerjakan.


Bian membuka ponselnya, Ia melihat keberadaan Aruna melalui ponselnya. Bian sengaja memasang gps diponsel Aruna tanpa sepengetahuan Aruna agar Ia bisa mengontrol kemana saja Aruna pergi.


"Masih dikampus." Gumam Bian.


"Anda tidak menjemput Non Aruna Pak?" Tanya Sadam yang sedari tadi mendampingi Bian.


"Aku sudah bilang tidak bisa menjemputnya hari ini, lagipula kita sangat sibuk hari ini, aku tidak akan meninggalkan kantor." Ucap Bian.


"Tapi Anda terlihat sangat cemas, sebaiknya jemput saja dulu Pak." Kata Sadam yang memang sedari tadi menatap wajah Bian tampak cemas dan mengkhawatirkan sesuatu.


"Tidak, aku baik baik saja. Sudah waktunya kita bertemu klien." Ajak Bian yang langsung diangguki Sadam.


Keduanya memasuki ruangan dimana sudah ada klien yang menunggu mereka.


Setelah meeting dengan klien, Bian kembali mengecek ponselnya dan melihat Aruna masih di kampus padahal ini sudah jam pulang.


Bian akhirnya mendial nomor Aruna,


"Apa!" Suara Aruna terdengar galak.


"Pulang sama siapa?"


"Papa!"


Bian mengerutkan keningnya, "Jangan bohong, bukannya papa lagi di luar kota?"


Terdengar suara decakan Aruna, sejenak panggilan telepon berubah menjadi panggilan video.


"Papa ketinggalan pesawat semalam dan berangkat sore nanti jadi Papa mau ajak Aruna makan siang, apa kamu mau ikut?" Tawar David yang memang benar menjemput Aruna.


"Nggak!" Balas Bian lalu mengakhiri panggilan.


Melihat Aruna sudah dijemput oleh Papa membuat Bian sedikit tenang.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2