
Aruna pikir jika Ia marah akan membuat Bian berubah pikiran. Aruna pikir Bian tidak serius dengan ucapannya namun ternyata Aruna salah.
Bian menjemputnya, tidak pulang kerumah melainkan dibawa ke sebuah apartemen mewah dimana semua barangnya juga sudah ada disana.
Aruna ingin kecewa dan marah tapi Ia juga sadar akan posisinya yang hanyalah anak angkat, tidak akan mungkin selamanya tinggal dirumah yang memberikan banyak kenangan itu.
"Hanya sementara sayang, sampai semuanya aman." Ucap Bian sambil mengelus punggung Aruna.
Aruna hanya diam, menyingkirkan punggungnya agar tak disentuh oleh Bian, Ia memasuki satu kamar yang ada disana dan langsung mengunci diri disana tanpa mengatakan apapun lagi.
Bian menghela nafas panjang, "Apa yang kau pikirkan sayang, kenapa harus semarah ini." Gumam Bian.
Satu jam lamanya Bian duduk disofa, menunggu Aruna keluar namun tak kunjung keluar padahal Ia sudah memesan makan siang untuk makan bersama.
Bian berdiri mendekati pintu apartemen, saat Ia ingin membuka, pintu masih terkunci membuat Bian tak bisa memiliki pilihan lain selain mengetuk pintunya.
"Sayang, ayo makan siang bersama." Ajak Bian dengan suara penuh kelembutan berharap Aruna bisa luluh dan membuka pintunya.
Cukup lama Bian mengetuk pintu namun Aruna tak kunjung keluar..
"Sepertinya dia benar benar marah dan salah paham." Ucap Bian yang akhirnya menyerah, membiarkan Aruna menenangkan dirinya lebih dulu.
Hingga sore, Aruna masih belum membuka pintu. Bian akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu karena masih banyak urusan yang harus Ia kerjakan.
"Sayang, aku pulang dulu. Ada banyak makanan diluar, hangatkan dan jangan lupa makan." Kata Bian yang didengar oleh Aruna didalam.
"Pulang? Ck menyebalkan! Jadi dia meninggalkan aku disini sendirian?" Gerutu Aruna merasa kesal. Aruna pikir Bian akan menemaninya namun ternyata Ia ditinggal sendirian.
Setelah cukup lama tidak ada suara Bian lagi diluar, Aruna memutuskan keluar untuk makan karena perutnya sangat lapar sedari tadi belum makan.
Aruna melihat dimeja makan ada banyak makanan juga sebuah note tulisan tangan Bian.
Hangatkan makanannya lebih dulu di microwave dan jangan marah lagi.
I love you.
Bibir Aruna melengkungkan senyum setelah membaca pesan dari Bian.
"Ck, kenapa aku harus tersenyum, aku kan sedang marah!" Ucap Aruna membuang asal kertas note itu.
__ADS_1
Namun sedetik kemudian, Ia kembali mengambil kertasnya, "Ck, kenapa dia bisa seromantis ini." Gumam Aruna tersenyum malu.
Aruna baru saja memasukan makanan ke dalam microwave agar kembali hangat dan Ia mendengar suara bel didepan.
"Siapa yang datang? Bukankah ini apartemen baru, apa itu tetangga?" Batin Aruna lalu berjalan mendekati pintu depan.
Aruna melihat ke layar monitor lebih dulu, jika yang datang orang asing mungkin Ia tak akan membukanya namun betapa terkejutnya Aruna saat mengetahui siapa yang datang.
Itu Nysa sahabatnya.
"Lo kok bisa tahu gue disini?" Tanya Aruna keheranan karena saat dikampus Ia bahkan tak mengatakan apapun tentang kepindahannya ini.
"Biarin gue masuk dan makan dulu, gue udah laper banget. Ada makanan kan?" Tanya Nysa langsung masuk begitu saja dan berjalan menuju dapur.
"Gila, banyak banget makanannya!" Nysa tersenyum senang melihat ada banyak makanan dimeja.
"Ck, jelasin ke gue dulu sebelum Lo makan." Cegah Aruna tak membiarkan Nysa mengambil makanan.
"Gue kelaperan Run, gimana bisa ngomong kalau gue aja belum makan. Baiknya kita makan dulu abis itu gue jelasin semuanya." Kata Nysa yang akhirnya diangguki oleh Aruna.
Keduanya makan bersama menghabiskan semua makanan yang ada dimeja. Aruna sendiri yang sangat kelaparan pun makan cukup banyak hingga tanpa sadar Ia kekenyangan.
"Kak Bian nyamperin gue kerumah, minta tolong buat nemenin Lo disini dan gue nggak boleh ngomong sama siapapun kalau Lo ada disini,"
Aruna mengangguk paham, cukup senang karena Bian sangat peduli padanya hanya saja Ia masih belum tahu alasan Bian membuatnya tinggal disini sendirian seperti ini.
"Lagian kenapa Lo bisa tinggal disini, emang rumah Lo kenapa?"
Aruna menggelengkan kepalanya, "Gue juga nggak tahu, emang Lo nggak nanya?"
"Tanya sih, tapi kak Bian cuma bilang kalau semua ini demi keamanan elo."
"Sama kak Bian juga cuma bilang gitu, seriusan gue bingung sama apa yang terjadi."
Nysa menepuk bahu Aruna, "Mungkin Kak Bian belum bisa cerita sekarang, positif thinking aja Run mungkin semua memang demi keamanan Lo sendiri." Ucap Nysa menghibur Aruna.
Aruna menganggukan kepalanya, dalam hatinya Ia masih saja kesal karena dipaksa tinggal disini tanpa tahu alasan yang sebenarnya.
...
__ADS_1
Bian tersenyum lega, baru saja Ia mendapatkan pesan dari Nysa sahabat Aruna jika Aruna sudah mau makan dan kembali ceria.
Bian memang sengaja meminta Nysa menemani Aruna karena Bian tak ingin Aruna merasa kesepian berada diapartemen sendirian mengingat Ia belum bisa menemani Aruna. Dan ternyata pilihan Bian sangat tepat karena Nysa bisa membantunya membuat Aruna kembali ceria.
Bian meletakan ponselnya dimeja, Ia segera turun untuk makan malam dimana Anneta sudah menunggunya dimeja makan.
"Non Aruna masih diatas? Biar saya panggilkan ya Den." Tawar Mbok Inem.
"Aku aja Bu..." usul Satria yang masih ada dirumah itu.
Ucapan Satria sontak saja memancing Bian.
Bian menatap ke arah Satria namun Satria memalingkan wajahnya, pura pura tak melihat Bian.
"Aruna nggak ada." Balas Anneta.
Mbok Inem dan Satria sama sama terkejut, "lho memang Non Runa belum pulang dari kampus?" Tanya Mbok Inem terlihat khawatir.
"Runa nginep dirumah temannya," jelas Bian yang akhirnya membuat Mbok Inem mengangguk, sementara Satria terlihat masih belum puas dengan jawaban Bian.
Siang tadi sebelum Bian menngambil barang Aruna, Bian meminta Mbok Inem membelikan sesuatu dan Mbok Inem diantar oleh Satria membuat keduanya tak tahu jika Bian memindahkan barang barang Aruna dan Bian juga mengisi kamar Aruna dengan barang baru agar tidak ada yang curiga dengan perpindahan Aruna.
Selesai makan malam, Bian dan Anneta kembali ke kamar masing masing.
Bian berdiri dibalkon kamarnya, Ia menghisap rokoknya sambil menatap ke bawah.
Tak berapa lama Bian melihat Satria keluar melewati gerbang rumahnya dengan menggunakan motor miliknya.
Bian tersenyum, sesuai dengan apa yang Ia pikirkan, Satria tidak akan betah disini jika tidak ada Aruna.
Bian mengambil ponselnya, Ia segera menghubungi seseorang.
"Awasi orang yang baru saja keluar dari rumahku, jika ada yang mencurigakan segera hubungi aku." Ucap Bian lalu mengakhiri panggilan.
Bian tersenyum licik, "Dia tidak akan bisa mempermainkan aku!"
Bersambung ...
Jangan lupa like vote dan komenn
__ADS_1