
Beberapa hari terakhir Adam merasa frustasi karena tidak bisa mendapatkan hati Aruna kembali. Apalagi setelah Aruna memutuskan hubungan mereka Adam belum sekalipun bertemu dengan Aruna dan Aruna juga memblokir nomor telepon Adam beserta semua akun sosial medianya.
Dan hari ini Adam kembali datang kerumah Aruna. Adam sudah berada didepan rumah Aruna pukul tujuh petang.
"Loh Non Aruna belum pulang dari kampus Den." Kata Mang Asep satpam rumah Aruna.
"Tapi hari ini Aruna nggak pergi ke kampus, jangan bohong pak."
"Enggak bohong, ngapain juga bohong sama kamu. Lagian kamu juga masih nggak dibolehin masuk sama Den Bian." Kata Mang Asep terlihat kesal.
"Nggak peduli saya akan tetap menunggu Aruna pulang dan mau ketemu sama saya pak." Kata Adam ngeyel.
"Terserah kamu saja." Mang Asep acuh dan kembali memasuki posnya.
Hampir dua jam Adam menunggu dan akhirnya Adam melihat mobil Bian datang. Adam juga melihat ada Aruna didalam.
"Aruna..." Adam menatap Aruna dengan raut wajah senang.
Adam berlari menuju pintu mobil Aruna namun sayang Ia sudah lebih dulu dicekal oleh Bian.
"Mau ngapain Lo!"
"Bukan urusan Lo, Gue mau ketemu sama Aruna."
Bughh... satu pukulan mengenai pipi Adam.
"Urusan Aruna juga urusan gue! Mau apa Lo sama Aruna! Dasar nggak tahu malu. Masih berani Lo kesini!"
Bian ingin memukul Adam lagi namun dihentikan oleh Aruna yang mencekal tangan Bian.
"Udah kak, udah!" Kata Aruna membuat Bian melepaskan cekalanya pada Adam.
"Nggak perlu Lo nemuin Aruna lagi. Inget Lo udah selingkuh dan itu udah kesalahan fatal jadi jangan berani Lo deketin Aruna lagi" sentak Bian.
"Gue nggak peduli, gue nggak akan nyerah sampai gue dapetin Aruna lagi."
"Anjing, berani Lo-"
"Kak Udah!" Cegah Aruna saat Bian ingin kembali memukul Adam.
"Kamu belain aku kan Run? Kamu mau sama aku lagi kan Run?" Tanya Adam penuh harap.
Aruna menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku cuma nggak mau kak Bian dapet masalah mukul kamu.
Dan untuk hubungan kita, aku pikir nggak ada lagi yang bisa diperbaiki, kita sudah selesai dan aku pikir itu sudah cukup." Kata Aruna lalu mengajak Bian yang emosi masuk kerumah.
"Nanti biar saya yang masukan mobilnya Den." Kata Mang Asep yang langsung diangguki Bian.
Adam mengepalkan tangannya, seumur umur Ia belum pernah diperlakukan seperti ini. Hanya Aruna, ya hanya Aruna yang berani membuatnya seperti ini.
__ADS_1
"RUN DENGER! GUE NGGAK AKAN PERGI SEBELUM LO KELUAR DAN KEMBALI SAMA GUE!" teriak Adam.
"Ya udah Den, tungguin saja disitu siapa tahu Non Arunanya nggak akan keluar." Ejek Mang Asep sambil tertawa lalu kembali masuk ke pos karena Adam menatapnya tajam.
"Kok Kak Bian senyum senyum?" Heran Aruna melihat baru saja Bian emosi karena kedatangan Adam dan sekarang wajah Bian berubah ceria.
"Siapa yang senyum, emosi gue sama cowok Lo!" Sangkal Bian.
"Bukan cowoknya lagi kak, mantan." Kata Aruna memperjelas.
"Yakin Lo? Ntar balikan lagi ngeliat usahanya yang mau nunggu disana sampai Lo keluar." Cibir Bian.
"Apa sih kak, males ah." Aruna kesal dan langsung memasuki kamarnya.
Sementara Bian masih saja tersenyum, akhirnya Ia berhasil menyingkirkan tikus penganggu dan sekarang Aruna bukan milik siapapun lagi.
Bian kembali turun kebawah, Ia mengunci pintu depan dan membawa kuncinya.
"Loh mau dibawa kemana Den kuncinya?" Tanya Mbok Inem melihat apa yang baru saja Bian lakukan.
"Diumpetin Mbok, biar Aruna nggak bisa keluar buat nemuin mantannya." Jelas Bian.
"La kalau Mbok mau keluar gimana Den?"
"Ya udah bawa Mbok aja, tapi ingat jangan lupa dikunci biar Aruna nggak bisa keluar." Kata Bian memberikan kunci pintu pada Mbok Inem.
Aruna baru selesai mandi, Ia mendengar petir kecil diluar menandakan akan turun hujan.
Aruna terlihat cemas, Ia melihat dari balkon kamarnya, Adam masih berdiri didepan gerbang rumahnya.
"Sebentar lagi hujan, kenapa dia masih disana."
Aruna menghela nafas panjang, mengingat betapa Ia sangat menyukai Adam sejak dulu namun dalam sekejap Adam memberikan luka yang teramat dalam untuknya.
Sekarang Aruna sedang menyembuhkan luka yang diberikan oleh Adam. Aruna tidak lagi marah, Ia sudah memaafkan Adam namun Ia tidak ingin kembali lagi bersama Adam. Kebahagiaannya bersama Adam sudah berakhir sekarang.
Hujan turun, Aruna melihat Adam masih berdiri disana, tidak peduli hujan semakin deras.
Aruna yang merasa kasihan hendak turun untuk menemui Adam agar Adam mau pulang namun saat sampai pintu depan, Aruna tidak bisa membuka pintunya karena terkunci dan kuncinya tidak ada.
"Mau kemana Lo?" Tanya Bian yang ada dibelakang Aruna.
"Hujan kak, kasihan Adam."
"Ck, luluh kan Lo!" Kesal Bian.
"Nggak gitu kak, beneran kasihan Adam. Aku cuma mau ketemu biar dia mau pulang." Jelas Aruna.
"Ya udah sana!" Kata Bian terlihat malas.
__ADS_1
"Kuncinya mana kak?"
"Ya mana gue tahu, tanya noh sama Mbok Inem."
Aruna berlari menuju kamar Mbok Inem,
"Udah tidur kak." Keluh Aruna melihat pintu kamar Mbok Inem dikunci.
"Ya udah, mau gimana lagi. Masa iya Elo mau bangunin Mbok Inem cuma gara gara cowok yang udah selingkuhin Elo." Kata Bian membuat Aruna menghela nafas panjang.
"Eh lewat pintu belakang." Kata Aruna langsung berlari menuju dapur namun disana pintu juga terkunci.
"Udahlah biarin aja dia hujan hujan diluar paling juga sekalian mandi." Canda Bian.
"Nggak lucu kak!"
"Ya kalau Lo mau nekat keluar ada jalan lain." Kata Bian.
"Lewat mana kak?"
"Lo terjun aja lewat balkon, beres kan?"
"Kak Biann!" Aruna menatap Bian kesal karena Bian malah mengajak bercanda padahal dirinya sedang bingung saat ini.
"Dahlah, capek gue, mau istirahat." Kata Bian meninggalkan Aruna yang masih kebingungan.
Sementara diluar, Adam sudah menggigil kedinginan karena hampir tiga puluh menit Ia diguyur hujan.
"Masih betah Den? Lihat tuh lampu Non Aruna aja udah mati masa masih mau ditungguin." Ejek Mang Asep menghampiri Adam sambil membawa payung.
"Nggak peduli, gue tetep nunggu disini!" balas Adam, kekeh masih menunggu Aruna menemuinya.
"Kalau ujan gini paling enak minum kopi anget sama makan mie rebus abis itu kelonan sama Istri. Duh surga dunia, eh tapi situ belum punya istri ya? Ajak selingkuhannya aja kalau gitu." Ejek Mang Asep membuat Adam mengepalkan tangannya, rasanya Adam ingin memukul bibir Mang Asep saat ini juga.
Adam mendekat namun Mang Asep langsung berlari menutup pintu gerbang.
"Sial!"
Adam benar benar sudah tak tahan lagi, hujan semakin deras dan akhirnya Ia memilih menyerah.
Adam memasuki mobilnya dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aruna.
Bian yang masih berdiri dibalkon kamarnya tersenyum melihat Adam pergi dari rumahnya.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komeenn...
Gilaa... niat banget... 5 eps gaysss hehee udah ya besok lagi...
__ADS_1