MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
60


__ADS_3

Anneta menghentikan tangisnya, Ia sudah merasa lega saat ini. Melihat kedua anaknya yang sangat menyayangginya membuat Anneta berpikir untuk bangkit dari pada harus terpuruk hanya karena kehilangan cinta seseorang.


"Pulanglah, kalian juga butuh istirahat." Pinta Anneta melihat Bian masih mengenakan setelan kantornya juga Aruna yang masih membawa tas ransel kampusnya.


"Tidak apa, biarkan kami menemani Mama malam ini." Ucap Bian.


"Tidak, kalian harus pulang dan istirahat, Mama sudah ditemani oleh suster."


Bian masih menggelengkan kepalanya, "Biarkan kami disini Ma."


Anneta menghela nafas panjang, putranya sangat keras kepala, mana mungkin mau menuruti ucapannya.


"Lebih baik kalian keluar mencari makan malam dulu, kalian baru pulang dan pasti belum makan."


Bian tersenyum lalu mengangguk setuju, Ia segera mengajak Aruna keluar untuk makan malam karena Ia sangat lapar.


Selama perjalanan keluar klinik, Aruna hanya diam saja entah apa yang Ia pikirkan padahal biasanya Aruna sangat bawel.


Bian mendekat dan langsung merangkul Aruna, "Apa yang kau pikirkan hmm?"


"Aku hanya tidak menyangka ternyata kak Bian juga sudah tahu."


"Tahu apa?" Bian pura pura tak mengerti.


"Tahu jika Papa selingkuh."


Bian tersenyum, "Sudah lama aku tahu, sejak masih berada diluar negeri."


Aruna menatap Bian tak percaya, "Sejak kapan Kak Bian tahu?"


"Mungkin empat tahun yang lalu."


Lagi lagi Aruna dibuat terkejut oleh pengakuan Bian, "Selama itu dan kakak hanya diam saja selama ini?"


Bian mengangguk dan tersenyum "Lalu kapan kamu tahu kalau Papa selingkuh?"


"Kemarin."


Bian mengerutkan keningnya, mungkinkah kemarin saat Aruna...


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Bian penasaran.


Aruna menundukan kepalanya, Ia tidak bisa menceritakan apa yang Ia lihat kemarin.

__ADS_1


"Tidak perlu menjawab, aku sudah bisa menebaknya." Kata Bian melihat Aruna hanya diam saja.


"Aku hanya tidak menyangka, Papa tega melakukan itu pada Mama."


"Ya semua orang bisa berubah kapan saja."


"Apa kakak juga akan sepertiĀ  itu?" Tanya Aruna yang langsung membuat Bian diam sejenak.


Bian mempererat rangkulannya, "Setia itu mahal, tidak semua orang memilikinya."


Aruna mengangguk setuju, ingatannya kembali saat bersama Adam dan Ia melihat Adam bersama wanita lain, menyakitkan sangat menyakitkan mungkin inilah yang Mamanya rasakan saat ini atau mungkin rasanya lebih sakit dari ini.


Keduanya sudah sampai di kedai nasi goreng, segera memesan agar bisa cepat kembali ke klinik karena rasanya tak tenang meninggalkan Mamanya meskipun sudah bersama suster.


Selesai makan, keduanya segera kembali ke ruang rawat Anneta. Dan betapa terkejutnya Bian juga Aruna saat memasuki ruangan melihat David ada disana namun tidak sendirian, David bersama dengan Mia yang terus menempelinya.


Bian mengepalkan tangannya, Ia benar benar ingin menghantam papanya sekarang juga apalagi melihat raut wajah Mama Anneta yang begitu terluka.


"Sayang, lihatlah kedua anak ku sudah datang." Ucap David tersenyum puas menatap Bian dan Aruna.


"Anak anakmu sangat tampan dan cantik." Balas Mia tersenyum tengil ke arah Bian dan Aruna.


Bian yang sangat muak akhirnya keluar, tak berapa lama Bian kembali datang membawa tiga orang security.


"Jika mereka memaksa, seret saja dari sini." Kata Bian lagi yang akhirnya diangguki oleh tiga security itu.


Ketiga satpam itu segera menarik lengan David dan Mia yang malah membuat David tertawa puas, "Apa kalian sangat sakit hati padaku hingga melakukan ini." Ucap David dengan nada mengejek.


"Tidak, justru kami muak dengan sikap kampunganmu, membawa wanita lain kemari." Balas Anneta lantang setelah Ia hanya diam saja sedari tadi.


David kembali tertawa, "Kau lupa, kemarin malam kau mengemis agar aku tidak meninggalkanmu dan sekarang apa kau pura pura tegar padahal hatimu sangat sakit saat ini?" Ejek David meremehkan Anneta.


Anneta benar benar tak tahan ingin menangis saat ini namun Ia mencoba menahan diri lebih kuat, Ia tidak ingin David semakin menginjak harga dirinya.


"Pesanku hanya satu untukmu, rawatlah diri agar suamimu tidak lari pada wanita lain. Kau terlalu sibuk dengan duniamu hingga membuat suamimu berpaling. Jangan menyalahkan orang lain tapi salahkan dirimu sendiri." Ucap Mia menatap Anneta remeh.


Anneta kembali diam, Ia membenarkan ucapan Mia yang memang benar adanya. Selama ini Ia sibuk berbisnis bersama teman temannya hingga membuatnya kadang lupa akan kewajibannya sebagai istri dan ibu.


"Tidak perlu menyeretku dan jangan menyentuh kekasihku, aku bisa pergi sendiri." Kata David melepaskan cekalan tangan satpam lalu merangkul Mia dan mengajaknya keluar.


Pintu sudah tertutup, tangis Anneta akhirnya pecah, tangis yang Ia tahan sedari tadi saat didepan David.


Bian segera mendekat dan memeluk Anneta.

__ADS_1


"Mama pasti bahagia setelah ini, percaya dengan Bian."


Anneta mengangguk, "Mama tidak sedih dengan kedatangan Papamu dan kekasihnya, Mama hanya sedih karena ucapan wanita itu benar. Mama tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik, mungkin itu yang membuat Papa mu berpaling."


"Ma... jangan ngomong seperti itu. Mama sudah melakukan yang terbaik, mungkin Papa saja yang tidak bersyukur memiliki Mama." Ucap Aruna sambil mengenggam tangan Mamanya.


Cukup lama hingga akhirnya Anneta berhenti menangis.


Malam semakin larut, Bian meminta Aruna tidur disofa sementara dirinya tidur di lantai beralaskan tikar.


Bian keluar sebentar untuk merokok, Ia ingin melepaskan kekesalannya atas apa yang terjadi hari ini.


Bian menghisap rokoknya sambil memikirkan apa yang harus Ia lakukan untuk membalas segala perbuatan Papanya hingga akhirnya Ia memiliki sebuah ide.


Bian kembali memasuki ruangan Anneta, Ia melihat Anneta sudah terlelap, pandangan nya beralih pada Aruna yang juga sudah terlelap.


Bian mendekat ke arah Aruna, Ia menarik selimut selimut Aruna agar seluruh tubuh Aruna tertutup selimut. Diam sejenak sambil menatap wajah lelap Aruna.


"Kenapa kau sangat mengemaskan huh!" Ucap Bian sambil menoel pipi Aruna lalu tersenyum dengan sendirinya.


Bian berbalik, ingin berbaring ke tempatnya namun Ia terkejut kala melihat Mamanya bangun dan menatap ke arahnya dengan tatapan yang tak biasa. Sepertinya Mama tahu apa yang baru saja Ia lakukan.


Bian gugup dan langsung mendekati Mamanya, "Mama kok bangun?"


Anneta tersenyum, "Apa yang kau lakukan pada adikmu?"


"Egh, ti tidak ada."


"Apa kau menyukai Aruna?" Tanya Anneta akhirnya.


Bian menghela nafas panjang, sepertinya memang ini saatnya Anneta tahu yang sebenarnya tentang hubungannya dan Aruna.


"Dia adikmu." Tambah Anneta.


"Tapi dia bukan adik kandungku." Balas Bian mendekat dan mengenggam tangan Anneta.


"Jadi benar kau menyukainya?"


"Apa aku boleh bersama Aruna ma? Bukan lagi perasaan suka namun Bian sudah mencintai Aruna." Ungkap Bian akhirnya.


Anneta terdiam membuat jantung Bian berdegup sangat kencang menunggu jawaban dari Anneta.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2