
Didalam mobil, Bian tampak tersenyum puas berbeda dengan Aruna yang menatap Bian kesal karena menciumnya didepan Papa.
"Kak Bian pasti sengaja kan?" Tebak Aruna sambil memanyunkan bibirnya.
"Bukankah sangat menyenangkan membuat dia kesal sayang." Ucap Bian cengegesan.
Aruna hanya menghela nafas panjang, Ia tidak ingin mendebat ataupun protes dengan apa yang Bian katakan, Aruna tidak ingin Bian kesal lagi.
"Kita cari sarapan dulu, aku sangat lapar gara gara pria sialan itu aku jadi tidak bisa sarapan dirumah." Umpat Bian.
Kali ini Aruna mengangguk setuju, semakin hari kelakuan David semakin menjadi, tidak hanya melakukan hal gila di klinik namun juga membawa selingkuhan pulang kerumah, rumah yang seharusnya menjadi surga untuk keluarganya kini terasa seperti neraka karena perbuatan David.
"Kau tidak membela papamu lagi?" Tanya Bian merasa heran karena Aruna hanya diam saja tidak mendebat seperti biasanya saat Ia mengumpat David.
"Tidak, karena semakin hari Papa semakin keterlaluan."
Bian tersenyum karena Aruna berada di pihaknya kali ini, "Aku ingin setelah Mama pulang, mama bisa segera mengurus surat perceraiannya agar kita bisa segera mengusir pria itu dari rumah karena itu rumah milikmu."
Aruna mengerutkan keningnya, "Milik ku?"
Merasa sudah salah bicara, Bian segera mengalihkan perhatian Aruna, "Kita makan bubur disini, orang bilang bubur disini sangat enak." Kata Bian menghentikan mobilnya didepan kedai bubur.
"Tunggu dulu, tadi Kak Bian mengatakan jika itu rumahku? Apa maksudnya kak?" Aruna tampak sangat penasaran.
"Memang aku mengatakan itu? Aku hanya bilang kalau mama bercerai kita bisa segera mengusir pria itu karena sertifikat rumah itu sudah atas nama Mama. Sudahlah ayo turun dan segera memesan makanan." Ajak Bian keluar dari mobil lebih dulu meninggalkan Aruna.
"Tidak, aku sangat yakin jika Kak Bian mengatakan itu rumahku, sudahlah.. mungkin aku salah dengar." Gumam Aruna ikut keluar dari mobil.
Bian sudah memesan bubur, keduanya kini menunggu pesanan datang.
Bian dan Aruna sama sama sibuk dengan ponselnya hingga ada seseorang yang menyapa keduanya.
"Bolehkan saya ikut duduk disini?" Tanya seorang pria paruh baya yang terlihat seumuran David.
Bian tampak melihat ke sekitar, semua meja sudah penuh tidak ada meja kosong lagi. Bian menghela nafas panjang, merasa tak nyaman berdekatan dengan orang asing berbeda dengan Aruna yang langsung mengiyakan permintaan pria paruh baya itu tanpa persetujuan Bian.
"Aku hanya ingin makan, aku janji tidak akan menganggu kalian." Kata pria itu melihat Bian menatapnya kesal.
"Tidak apa pak, duduk saja."
Pria itu tersenyum dan langsung duduk disebelah Bian.
__ADS_1
Pria itu menatap ke arah Aruna, Bian yang tahu akan hal itu merasa sangat kesal.
"Jika ku lihat kau mirip seseorang yang ku kenal di masa lalu." Kata pria itu pada Aruna.
"Benarkah? Apa dia juga cantik sepertiku?" Tanya Aruna penuh percaya diri dengan nada bercanda membuat Bian melotot tak terima ke arahnya.
Pria itu tertawa, "Ya kau sangat cantik, sama seperti dirinya yang dulu menjadi primadona dikampus."
Aruna berdecak, "Ck, sayang sekali aku tidak menjadi primadona kampus seperti temanmu pak."
Bian kesal akhirnya menendang kaki Aruna memberikan peringatan pada Aruna.
"Tapi aku yakin kau disukai banyak pria." Tebak pria itu.
Aruna hanya tersenyum saja, jika Ia membalas mungkin Bian akan semakin menjadi.
"Anda bilang hanya ingin makan, kenapa malah mengoda calon istri saya!" Kata Bian menatap kesal pria itu.
Pria itu tampak terkejut, "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, tidak bermaksud mengoda dan lagi aku juga tidak tahu kalau kalian sepasang kekasih, ku pikir dia adikmu." Balas pria itu yang membuat Bian semakin kesal saja.
"Dia calon istriku jadi jangan mengajaknya bicara lagi!" Tegas Bian.
"Baiklah, maafkan aku." Ucap pria itu.
Makanan pesanan mereka datang, segera ketiganya menikmati sarapan tanpa ada yang berbicara lagi hingga Aruna dan Bian selesai lebih dulu. Bian langsung mengajak Aruna keluar dari kedai.
"Maafkan atas sikapnya ya Pak, dia memang seperti itu tapi sebenarnya dia sangat baik." Ucap Aruna saat Bian sedang membayar bill makanan.
"Ya aku tahu, anak muda memang suka posesif dengan pasangannya."
"Siapa nama bapak?" Tanya Aruna yang entah mengapa Ia ingin tahu nama pria itu.
"Ryan, panggil aku Ryan jika kita bertemu lagi."
"Baiklak pak Ryan, semoga kita bertemu lagi." Kata Aruna lalu pergi menghampiri Bian yang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
Pria bernama Ryan itu tersenyum geli, "Dia gadis yang manis,"
Sementara diluar, Bian menutup pintu mobil dengan kencang hingga menimbulkan suara yang keras. Aruna hanya bisa menghela nafas panjang, sangat tahu jika Bian sedang marah saat ini.
Aruna hanya diam saja, tidak mengatakan apapun. Baginya lebih baik diam dari pada semakin salah.
__ADS_1
"Apa kau selalu seperti itu?" Tanya Bian saat Aruna tak merespon amarahnya.
"Seperti itu yang bagaimana kak?"
"Selalu menanggapi pria lain dengan ramah!"
"Astaga kak, dia hanya pria tua yang umurnya sama seperti Papa kita. Apa Kak Bian cemburu?" Heran Aruna.
"Apa kau lupa jika simpanan Papa seumuran denganmu? Jangan mempercayai pria meskipun Ia sudah Tua karena semua pria sama saja, sama sama brengsek saat melihat gadis muda sepertimu!"
"Apa kak Bian juga brengsek?"
"Kecuali aku! Ingat jangan membatah jika aku sedang menasehatimu!" Kata Bian semakin kesal karena Aruna malah mengajaknya bercanda.
"Baiklah kak, maafkan aku karena terlihat mengoda bapak tadi padahal aku hanya kasihan karena dia datang sendiri tidak ada teman mengobrol." Ungkap Aruna.
Bian menghentikan mobilnya, "Lalu apa aku harus putar balik dan mengantar mu pada Bapak tadi, siapa tahu dia masih butuh teman mengobrol!"
"Ck, aku sudah minta maaf tapi kak Bian masih marah." Keluh Aruna.
"Karena kau sangat menyebalkan!"
Aruna menghela nafas panjang, Ia melepaskan seatbeltnya lalu mendekatkan wajahnya dan cup... Aruna mengecup bibir Bian.
"Apa sekarang aku masih menyebalkan kak?"
"Ya, kau masih menyebalkan!"
Aruna kembali mendekatkan wajahnya, dengan keberanian penuh, Aruna mencium bibir Bian.
Bian yang tadinya kesal kini tampak menikmati permainan bibir Aruna yang masih kaku.
"Apa aku masih menyebalkan?" Tanya Aruna setelah melepaskan ciuman.
"Tidak." Bian tersenyum lalu kembali melajukan mobilnya membuat Aruna mengelengkan kepalanya tak percaya, semudah itu mengembalikan mood Bian.
Sementara Ryan, pria yang tadinya makan bersama Bian dan Aruna kini sudah berada dimobilnya, Ia tampak menghubungi seseorang.
"Jadi hari ini dia di klinik bersama asisten rumah tangganya? Apa kau yakin?" Tanya Pria itu pada si penelepon.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang."
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komenn