MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
115


__ADS_3

Bian tak menyangka, kekesalannya pada Ryan berujung keberuntungan si otong yang kini baru saja selesai dimanjakan oleh bibir tipis Aruna.


Dengan raut wajah lega, Bian memandang ke arah Aruna yang kini sedang membersihkan cairan yang tersisa menggunakan tisu.


"Mau kemana?" tanya Bian pada Aruna yang sedari tadi menunduk malu tak berani menatap ke arahnya.


"Cuci tangan." balas Aruna dengan suara serak lalu memasuki kamar mandi.


Bian tersenyum geli.


Didalam kamar mandi, Aruna meraup wajahnya dengan air dingin berharap rasa panas diwajahnya segera hilang.


Ia malu sangat malu namun Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan itu, Aruna sangat ingin membuat Bian senang.


Semua berawal dari Nysa sahabatnya yang mengirimkan video edukasi tentang hal seperti itu. Menyenangkan suami tanpa melakukan hubungan suami istri.


Dan yang terlihat di video, seorang wanita tampak menikmati milik pria seolah dia sedang makan es krim.


Berkali kali Aruna memutar video itu hingga akhirnya Ia praktekkan pada Bian.


Hasil awal yang Ia lihat senyuman merekah dari bibir Bian membuat Aruna merasa lega karena mungkin Bian menyukai usahanya meskipun sekarang dirinya merasa sangat malu dan tak tahu bagaimana Ia menghadapi Bian setelah ini, rasanya masih sangat gugup.


Aruna kembali meraupkan air dingin ke wajahnya hingga Ia terkejut saat pintu kamar mandi terbuka dan Ia melihat Bian berdiri disana.


"Aku ingin buang air kecil." kata Bian.


Aruna mengangguk, "Biar ku bantu kak."


Tanpa menatap Bian, Aruna segera membantu Bian buang air kecil.


"Dari mana kau tahu tentang itu?" tanya Bian saat keduanya sudah keluar dari kamar mandi.


"Nysa mengirimkan video seperti itu, aku hanya ingin mencobanya." balas Aruna masih menunduk malu.


"Apa kau sedang berusaha menyenangkan suamimu hmm?" tanya Bian sambil mengelus kepala Aruna.


Aruna mengangguk, "Apa rasanya tidak enak kak?"


"Sangat enak, membuatku melayang dan ingin merasakan lagi."


"Ck, sudah ketagihan." gerutu Aruna.


Bian tertawa, "Jadi apa kau akan menolak jika aku meminta lagi?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak kak, aku akan melakukan apapun untuk membuat Kak Bian senang."


Bian tersenyum, rasanya terharu mendengar ucapan istrinya itu.

__ADS_1


Malamnya, Bian kembali meminta lagi dan Aruna dengan senang hati melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


Dan kali ini Bian bahkan sampai mengeluarkan suara kenikmatan yang membuat Aruna semakin semangat memainkan otong milik Bian.


"Kenapa kau bisa sepintar ini?" heran Bian pada Aruna mengingat Aruna belum pernah melakukan dengan pria lain.


"Aku hanya mengikuti arahan video kak, menikmati seperti sedang makan es krim."


"Rasanya sungguh nikmat."


Aruna terdiam sejenak, "Apa aku boleh bertanya sesuatu kak?"


"Tanyakan apapun itu sayang."


"Apa kau pernah melakukan dengan wanita lain?"


Giliran Bian yang terdiam,


"Kenapa diam kak? Apa kau memang pernah melakukannya?" tanya Aruna lagi terlihat tak sabar.


"Jika aku mengatakan Ya, apa kau akan kecewa?"


Aruna tertunduk lesu, kecewa? Tentu saja Ia sangat kecewa.


"Maaf sayang tidak bisa menjaga diri dengan baik, kehidupan diluar negeri sangat keras. Sulit sekali menjaga diri disana."


"Dengan siapa kak? Dan kapan terakhir kau melakukannya?"


"Sudah sangat lama, waktu awal aku pindah disana dan aku memiliki kekasih. Kami melakukan beberapa kali lalu putus, setelah itu aku tidak pernah melakukannya lagi, aku tidak lagi memiliki kekasih."


Aruna menghela nafas panjang, mendengar cerita suaminya membuat Ia merasakan cemburu.


"Apa Kak Bian masih menyukai gadis itu?"


Bian tersenyum, "Jangan menanyakan apapun jika itu menyakitimu."


"Tapi aku sangat ingin tahu."


Bian menggelengkan kepalanya, "Tidak, kami sudah sangat lama putus dan aku pastikan sudah tidak ada dia dihatiku." ucap Bian penuh keyakinan.


"Apa kak Bian yakin? Dia cinta pertamamu juga yang membuatmu merasakan hal seperti itu pertama kalinya." kata Aruna terlihat tak percaya.


Giliran Bian yang menghela nafas panjang, "Apa kau cemburu?"


"Tidak, sudah kubilang aku hanya ingin tahu!" Aruna tiba tiba kesal.


"Baiklah jika memang tidak cemburu biarkan aku bertanya, Apa masih ada nama Adam dihatimu? Bukankah sudah lama kau mengaggumi pria itu?"

__ADS_1


Aruna berdecak, "Kenapa Kak Bian malah menanyakan itu!"


"Jawab saja lalu kau akan mendapatkan jawaban dariku."


Aruna terdiam sejenak, "Setelah bersama Kak Bian aku sama sekali tak pernah mengingatnya." ucap Aruna jujur.


Bian tersenyum, "Begitupun juga dengan ku, setelah bersama mu, aku sama sekali tidak pernah mengingatnya."


"Jadi sebelum bersama ku, Kak Bian belum bisa move on? Benar kan cinta pertama sulit dilupakan?" tanya Aruna terdengar menuduh sekaligus kesal.


"Aruna, kita sama sama memiliki masa lalu, kita sama sama pernah jatuh cinta dengan orang lain sebelumnya lalu apa masalahnya sekarang?"


Aruna terdiam, memang benar ucapan Bian jika mereka sama sama memiliki masa lalu namun tetap saja Aruna masih tak terima dengan itu.


"Ck, sudahlah. Aku mau tidur." ucap Aruna terdengar ketus lalu berbaring memunggungi Bian.


Bian hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya, bagaimana bisa Aruna cemburu dengan masa lalu nya sementara Aruna sendiri saja juga memiliki masa lalu.


Mengingat masa lalu membuat Bian teringat akan Jessie, gadis bule tetangga apartemennya sekaligus pacar pertama, yang sangat ramah juga baik hati padanya waktu itu saat Bian masih menjadi orang baru disana.


Semua tentang Jessie sudah Ia kubur, Bian tak ingin lagi mengingat gadis masa lalunya itu. Sekarang Bian hanya ingin fokus membahagiakan istrinya, Aruna.


Bian mengecup pipi Aruna, "Love you more." bisik Bian ditelinga Aruna.


Pagi ini sangat berbeda dengan pagi biasanya, Aruna tampak banyak diam. Bian sudah mengira hal ini akan terjadi karena mungkin Aruna masih marah padanya masalah semalam.


Sebelum berangkat ke kantor dan ke kampus, mereka berdua sarapan lebih dulu. Aruna tampak menyuapi Bian sambil sesekali Ia menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Selama tangan Bian sakit, Aruna begitu telaten menyuapi serta membantu Bian melakukan apapun.


Selesai sarapan keduanya berangkat, Aruna mengantar Bian ke kantor lebih dulu.


"Apa kau masih ingin marah seperti ini?" tanya Bian saat keduanya sudah sampai didepan kantor Bian.


"Aku tidak marah kak."


"Lalu kenapa kau hanya diam sedari tadi?"


"Aku hanya sedang malas bicara."


"Baiklah, tolong buka pintunya aku ingin keluar sekarang." pinta Bian.


Aruna menuruti, membuka pintu mobil dan Bian segera keluar.


Bian berjalan memasuki kantor tanpa mengatakan apapun lagi pada Aruna.


"Apa dia juga membalasku? Apa dia juga marah?" gerutu Aruna menatap punggung Bian yang kini sudah tak terlihat lagi.


Dengan wajah kesal, mood yang buruk Aruna kembali melajukan mobilnya menuju kampus.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2