
Aruna yang masih terlelap mendadak bangun dan merasakan dadanya sakit. Ia mengambil botol air mineral yang ada dimeja lalu meneguknya hingga habis setengah botol.
"Apa yang terjadi? kenapa dada ku sakit sekali." gumam Aruna.
Aruna mengelus dadanya hingga kini sudah tak terasa sakit lagi, berganti dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
"Sebenarnya apa yang terjadi." gumam Aruna kembali berbaring memeluk guling karena Ia merasakan takut tanpa sebab.
Dikamar lain Anneta juga merasakan hal yang sama, tiba tiba terbangun dan merasakan sesak padahal Ia tidak pernah mengalami sesak sebelumnya.
"Apa yang terjadi, kenapa perasaanku tidak enak."ucap Anneta memilih bangun dan keluar kamar untuk mengambil air minum.
Baru saja selesai meneguk segelas air, Anneta mendengar Mang Asep berlari memasuki rumah dengan wajah panik.
"Gawat nyonya, gawat..." ucap Mang Asep membuat Anneta mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Tenangkan dirimu, ada apa?" tanya Anneta.
"Den Bian Nyonya... Den Bian..." ucap Mang Asep sambil mengantur nafasnya.
"Bian? Bian tidur dikamar atas." jawab Anneta.
"Tidak Nyonya, tadi Den Bian keluar dengan mobilnya dan bilang mau kerumah Mbok Inem. Sekarang ada dua polisi lalu lintas yang datang dan mengatakan jika Den Bian kecelakaan."
Pyarr.... Anneta menjatuhkan gelasnya hingga pecah dan berceceran dilantai.
Seketika Anneta ikut terjatuh dilantai ''Ke... Kecelakaan?"
Mang Asep yang panik dan tak berani membantu Anneta untuk bangun memilih berlari ke atas ke kamar Aruna untuk membangunkan Aruna .
"Non... Bangun Non... Bangun." teriak Mang Asep dari luar kamar Aruna sambil mengetuk pintu kamar Aruna.
Tak berapa pintu terbuka, "Ada apa Mang?" heran Aruna melihat Mang Asep sangat panik.
"Nyonya jatuh Non dibawah say-"
Mang Asep belum menyelesaikan ucapannya, Aruna sudah berlari ke bawah dan terkejut melihat Anneta tersungkur dilantai dan ada banyak pecahan gelas yang berceceran.
"Ma.. Ada apa Maa?" tanya Aruna melihat Anneta sangat shock.
"Panggil Kak Bian mang...panggil sekarang biar bisa bawa Mama kerumah sakit." pinta Aruna pada Mang Asep yang mengikuti Aruna.
__ADS_1
"Tapi Non... Den Bian... Den Bian..."
"Bian kecelakaan." kata Anneta memperjelas ucapan Mang Asep dengan suara lirih dan pandangan kosong.
"Bian kecelakaan Aruna." ucap Anneta lagi dan kali ini dengan air mata bercucuran.
"Ke kecelakaan..." Aruna menatap Anneta tak percaya, Ia menatap Mang Asep meminta kebenaran pada Mang Asep dan Mang Asep mengangguk membenarkan ucapan Anneta.
"Tidak mungkin." gumam Aruna dengan suara lirih.
"Sebaiknya kita segera kerumah sakit Nyonya, saya sudah menyiapkan mobil." kata Mang Torik memasuki rumah.
Aruna segera membantu Anneta bangun dan berjalan memasuki mobil. Baik Aruna maupun Anneta sangat shock dengan berita ini namun Aruna mencoba untuk tegar karena Anneta membutuhkan dirinya saat ini.
Keduanya sampai dirumah sakit, Aruna meminta mang Torik menghubungi Ryan karena mungkin dengan adanya Ryan bisa membuat Anneta lebih tenang karena sedari tadi Anneta tak henti hentinya menangisi Bian.
Hampir tiga puluh menit Aruna dan Anneta berada didepan ruang UGD namun dokter yang menangani Bian masih belum keluar.
"Sayang..." Suara Ryan terdengar dan langsung memeluk Anneta.
Anneta menangis dipelukan Ryan.
"Semua akan baik baik saja." kata Ryan sambil mengelus kepala Anneta.
Tangan Ryan terulur menggapai punggung Aruna lalu mengelus punggung Aruna.
Aruna mendongak menatap ke arah Ryan dan memaksakan sedikit senyuman.
"Semua akan baik baik saja." Ucap Ryan yang langsung diangguki Aruna.
Satu jam berlalu, pintu UGD terbuka membuat Anneta, Aruna dan Ryan langsung berlari menghampiri Dokter.
"Keluarga pasien?"
Anneta mengangguk, "Saya Mamanya, bagaimana keadaan Putra saya dok?" tanya Anneta.
"Lukanya cukup parah dan pasien kehilangan banyak darah, apakah ada dari keluarga pasien yang bisa mendonorkan darah untuknya karena stok darah O dirumah sakit ini sedang kosong."
"Darah O?" baik Anneta dan Ryan tampak terkejut.
"Darah saya A dah Papa nya B." kata Anneta.
__ADS_1
"Saya akan mendonorkan darahnya, darahnsaya O." ucap Ryan membuat Anneta terkejut.
"Darahmu O? Bagaimana bisa darah mu dan darah Bian sama sementara dengan papa kandungnya saja tidak sama." heran Anneta menatap Ryan dengan tatapan tak percaya.
"Jangan pikirkan apapun dulu yang terpenting sekarang keselamatan Bian." kata Ryan.
Ryan mengikuti salah satu perawat yang akan mengambil darahnya.
setelah selesai transfusi darah, Keadaan Bian mulai membaik dan Bian segera dibawa ke ruang rawat.
"Tunggulah, sebentar lagi pasien akan segera sadar." kata Dokter itu lalu meninggalkan ruang rawat Bian.
Aruna yang sedari tadi menahan diri untuk tidak menangis, melihat Bian dipenuhi tempelan perban membuatnya tak bisa menahan lagi dan menangis kencang.
"Kenapa harus seperti ini kak, Bukankah sebentar lagi kita menikah?" ucap Aruna sambil menangis didepan Bian yang belum sadar.
Anneta mendekat lalu mengelus punggung Aruna, "Semua sudah baik baik saja, jangan menangis lagi." kata Anneta.
"Aku ingin bicara dengan mu, bagaimana jika kita biarkan Aruna menemani Bian disini?" bisik Ryan yang langsung diangguki oleh Anneta.
Anneta dan Ryan keluar dari ruang rawat Bian. Keduanya berjalan menuju taman rumah sakit dan duduk disana.
"Apa selama ini kamu tidak tahu golongan darah Bian?" tanya Ryan.
Anneta menunduk, "Selama ini Bian baik baik saja jadi aku tidak terlalu memikirkan masalah golongan darahnya, aku tidak menyangka jika golongan darah Bian dan David berbeda, apa bisa seperti itu?" tanya Anneta.
"Apa kau yakin jika itu anak David?"
Anneta menatap Ryan, "Apa maksudmu? Kau pikir aku juga berhubungan dengan pria lain waktu itu?"
"Bu bukan seperti itu maksudku, jangan salah paham dulu. Coba ingatlah kembali terakhir kita berhubungan aku sengaja memasukannya ke dalam lalu kita berpisah selama sebulan karena aku harus ke luar negeri dan setelah aku pulang kau memutuskan hubungan kita, apa kau ingat berapa usia kandungan mu waktu itu?" tanya Ryan.
Anneta terdiam memikirkan ucapan Ryan, Ia kembali mengingat masa lalu. Saat pertama kali Ia hamil, David langsung mengklaim itu anaknya padahal mereka baru berhubungan selama sebulan dan Anneta juga tak diberi kesempatan untuk memeriksa usia kandungannya waktu itu.
Tujuh bulan setelahnya Bian lahir, Anneta sempat curiga karena terlalu cepat jika Ia hamil anak David namun David mengatakan jika Anneta lahir secara prematur.
Anneta sama sekali tak curiga, dengan bodohnya mempercayai David begitu saja hingga akhirnya sekarang semua kebenaran terungkap.
Bian bukan putra David melainkan putra Ryan kekasih yang dulu sangat Ia cintai. Sebelum Ryan keluar negeri, Ryan memberikan benih cintanya hingga membuahkan putra yang kini sedang terbaring lemah di ruang rawat rumah sakit.
Tangis Anneta kembali pecah dipelukan Ryan.
__ADS_1
"Maaf... Maafkan aku.."
Bersambung...