
Hari ini Keisha merasa sangat senang, pagi tadi Sadam menjemputnya namun bukan mengantar ke kampus melainkan pergi ke tempat wedding organizer yang sangat terkenal disana.
Banyak orang memilih wedding organizer untuk membuat pernikahan impian mereka.
"Disini sangat mahal." ucap Keisha tampak ragu untuk turun dari mobil.
"Seberapa mahal?" Sadam tertawa geli.
"Ck, jangan bercanda, aku tidak ingin uangmu habis hanya karena ini."
"Tapi bukankah ini impianmu?"
"Dari mana kamu tahu?" heran Keisha.
"Tidak perlu tahu dimana aku tahu, lebih baik sekarang kita masuk dan katakan apapun yang kamu inginkan dalam pernikahan kita nanti. Aku harus ke kantor siang ini." kata Sadam mengingat Ia hanya mendapatkan izin setengah hari dari Bian.
"Kau benar benar yakin, aku sama sekali tidak punya uang jika harus membayar sendiri." kata Keisha lagi dan terlihat ragu.
Sadam kembali tertawa, "Apa kau tidak percaya padaku?"
"Tentu saja aku percaya."
"Ya sudah ayo masuk." ajak Sadam yang akhirnya diangguki Keisha.
Keduanya tampak disambut ramah oleh pemilik WO.
Keisha segera mengatakan apa yang Ia inginkan dalam pernikahannya nanti. Keisha terlihat semangat menceritakan pada pihak Wo membuat Sadam kembali tersenyum geli. Mengingat saat dimobil, Keisha enggan turun namun saat sudah berada disini, Keisha tampak sangat antusias.
Sebelum mengajak Keisha ke tempat Wo, Sadam memang sudah menemui Asih, Ibu Keisha lebih dulu. Untuk meminta restu dan menanyakan impian pernikahan Keisha.
Beruntung sekarang Sadam punya banyak uang jadi Ia bisa menyenangkan wanita impianya itu.
Sebelum bertemu dengan Bian, Sadam hanyalah seorang buruh yang merantau diluar negeri, hingga Ia bertemu dengan Bian dan berkat kebaikan Bian, Ia bisa kuliah lalu membuat perusahaan bersama Bian.
Kini tentang uang, Sadam sudah tidak kesulitan lagi karena Bian membayarnya dengan bayaran yang tinggi berbeda dari asisten pribadi pada umumnya.
"Apa kau senang hmm?" tanya Sadam melihat selama perjalanan pulang Keisha tak henti hentinya melekungkan senyuman.
"Aku senang hingga rasanya ingin menangis."
Tangan Sadam terulur, tampak mengelus kepala Keisha penuh sayang.
__ADS_1
"Jika aku tidak bertemu denganmu, mungkin aku masih menjadi pelampiasan nafsu semua pria dan aku juga mungkin tidak akan bisa mewujudkan pernikahan impianku." ungkap Keisha sambil menahan air mata yang akan jatuh.
"Sudah jangan dibahas lagi, sebentar lagi hari bahagia kita, aku tidak ingin kamu mengingat masa lalu yang membuatmu menjadi sedih." kata Sadam yang memang mempercepat tanggal pernikahan mereka karena Sadam tak ingin menunggu lama lagi untuk bahagia bersama Keisha.
Keisha mengangguk, memang benar masa lalu pahit itu sebaiknya jangan di ingat lagi, sekarang waktunya Ia menjalani hari bahagia dengan Sadam sampai akhir.
Sadam mengantar Keisha sampai rumah karena Keisha memang tidak kuliah hari ini.
"Tidak masuk dulu?" tawar Keisha yang langsung digelengi kepala oleh Sadam.
"Aku bisa dipenggal kepala ku oleh Boss jika lebih terlambat dari ini." ungkap Sadam yang langsung membuat Keisha tertawa.
"Baiklah, aku akan keluar sekarang."
Keisha baru saja membuka pintu, Ia ingin keluar namun Sadam menahan tangannya, "Kau selalu melupakan sesuatu." kata Sadam mengecup kening Keisha.
Keisha tersipu malu, "Aku tak akan lupa lagi besok."
Keisha keluar, Sadam segera melajukan mobilnya meninggalkan Keisha.
Keisha segera memasuki rumah setelah mobil Sadam tidak terlihat lagi.
Keisha langsung menatap ke arah Ibunya yang menangis dilantai,
"APA YANG AYAH LAKUKAN!" Bentak Keisha menatap Ayahnya dengan tatapan marah.
Ayah Keisha tersenyum sinis, "Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya mengatakan pada Ibumu yang renta itu jika kau menikah dan ingin memintaku jadi wali, dia harus memberikan sertifikat rumah ini padaku."
Keisha melotot tak percaya mendengar ucapan Ayahnya, "Apa kau sudah bangkut hingga membuatmu menginginkan rumah jelek ini?"
Ayah Keisha mengeram marah, "Bukan urusanmu, hanya itu yang ingin aku katakan pada kalian, ku dengar calon suamimu kaya raya, ternyata kau pandai juga memilih suami."
Keisha tersenyum sinis, "Tentu saja aku harus pandai karena aku tidak ingin mempunyai suami benalu seperti suami Ibu, yang hanya datang meminta uang bahkan tidak pernah bertanggung jawab, seharusnya kau malu!"
Plakk... Keisha ditampar oleh Ayahnya hingga pipinya membekas merah.
"Sudah cukup! Berhenti melakukan itu pada putrimu. Aku akan memberikan padamu, sekarang pergilah." teriak Asih sambil menangis.
Ayah Keisha tersenyum puas berbeda dengan Keisha yang terlihat ingin protes.
"Apa yang Ibu katakan? Jangan berikan sertifikat rumah kita pada pria tak tahu malu ini!"
__ADS_1
"Biarkan saja biarkan saja." kata Asih dengan wajah lelah seolah tak ingin berdebat.
"Tapi Bu-"
"Jangan lupa siapkan uang sepuluh juta untuk membayar jasaku menjadi wali mu." kata pria kejam itu lalu keluar dari rumah Keisha.
"Jangan lakukan itu Bu, jangan berikan sertifikat rumah kita pada pria kejam itu!" ucap Keisha sambil menangis.
"Sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi. yang penting kau bisa menikah."
"Tapi bu, kita akan tinggal dimana jika rumah ini diberikan pada Ayah?"
Asih tersenyum, "Tentu saja kau akan tinggal bersama suamimu dan untuk Ibu, biarkan Ibu tinggal dipanti jompo yang ada di ujung kota, disana gratis tidak dipunggut biaya."
Tangis Keisha semakin pecah, "Apa yang Ibu katakan, aku tidak akan pernah meninggalkan Ibu dan membiarkan Ibu tinggal di panti jompo."
Asih pun ikut menangis, masih tak menyangka dengan pria yang Ia cintai tega melakukan ini padanya juga putri mereka.
Sementara Sadam baru saja sampai di kantor. Melihat suasana kantor sangat tegang membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi.
"Didalam sana ada Papanya pak Bian dan kelihatannya lagi marah soalnya teriak teriak." ucap salah satu karyawan yang dekat dengan ruangan Bian.
Sadam menghela nafas panjang, Ia sangat tahu apa yang terjadi diantara David dan Bian, sudah pasti didalam sana tidak akan baik baik saja.
"Apa kau gila? dia adikmu, bagaimana bisa kamu menikahinya?" tanya David terlihat marah.
"Dia bukan Adik kandungku dan aku bisa menikahinya. Papa merestui atau tidak aku akan tetap menikahinya." kata Bian.
David tertawa hambar, Ia sangat tak menyangka Bian akan membangkang seperti ini. Bian memang sudah tahu tentang perselingkuhannya, Ia pikir jika bertahan dengan Anneta bisa membuat Bian menuruti semua ucapannya namun nyatanya David salah.
"Kau harus menuruti ucapan Papa, nikahi wanita pilihan Papa!"
"Aku tidak mau, aku akan tetap menikahi Aruna."
"Lalu Papa akan membunuh Aruna!" ancam David.
Bian tersenyum sinis, "Dan Bian juga akan membunuh Mia, wanita yang Papa cintai." ucap Bian membuat David mengepalkan tangannya karena tahu Bian tidak pernah bohong dengan apa yang Ia ucapkan.
"Jadi apa Papa harus meninggalkan Mama mu agar kau bisa menuruti ucapanku?"
Bersambung...
__ADS_1