MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
99


__ADS_3

Jam kampus usai, semua mahasiswa berhamburan keluar.


Selesai membereskan semua barangnya, Aruna dan Nysa juga bergegas keluar kelas.


"Ck, gue nggak bisa ikut lo balik ke apartemen." Ucap Nysa tiba tiba.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Aruna.


"Lihat, nyokap gue  ngirim pesan dan bilang kalau pulang hari ini." Kata Nysa memperlihatkan ponselnya.


Aruna tersenyum, "Lo balik aja, gue nggak apa apa sendirian di apartemen."


"Lo yakin? Mendingan ikut gue balik kerumah aja gimana?" Tawar Nysa yang langsung di gelenggi oleh Aruna.


"Enggak Nys... waktu Lo sama nyokap itu sangat berharga, gue nggak mau ganggu." Kata Aruna mengingat Nysa adalah anak kesepian yang sering ditinggal bekerja kedua orangtuanya.


Nysa berdecak, tetap saja Ia merasa tak enak jika membiarkan Aruna sendirian di apartemen.


"Udah balik aja, kalau gue butuh sesuatu ntar gue hubungi elo." Kata Aruna.


"Bener ya? Kalau ada apa apa langsung hubungi gue sama Kak Bian."


Aruna tertawa, "Iya iya..."


"Jangan bunuh diri!"


Aruna berdecak, "Nggak akan, gue masih waras Nys."


Nysa tersenyum geli, "Sekarang gue anterin pulang dulu deh." Kata Nysa lalu mengandeng tangan Aruna.


"Enggak usah, Lo langsung balik aja, gue dijemput sama Kak Bian."


"Ck, ya udah deh, gue duluan ya." Pamit Nysa yang langsung diangguki oleh Aruna.


Aruna berjalan sendirian keluar kampus, Ia menunggu dihalte. Cukup lama Aruna menunggu disana namun Bian tak kunjung datang menjemput.


Aruna membuka ponselnya berniat menghubungi Bian namun ternyata ada satu pesan dari Bian yang belum Ia baca.


Bian mengatakan jika Ia tidak bisa menjemput siang ini


Aruna berdecak, "Ck, padahal tadi pagi ngambek gara gara aku nggak mau dijemput ee sekarang malah dia yang nggak bisa jemput." Gerutu Aruna.


Baru ingin memesan ojek online, sebuah motor berhenti tepat didepan Aruna berdiri.


"Ojek neng..." suara pria yang Aruna kenali.

__ADS_1


Satria lagi.


Aruna menatap ke arah Satria, sedikit heran karena Satria selalu ada disaat dirinya butuh seperti saat ini.


"Kamu kok disini?"


"Pulang kerja non kebetulan lewat sini." Ucap Satria yang memang masih mengenakan seragam cleaning service bertuliskan nama sebuah hotel bintang lima yang cukup besar dikota itu.


"Ohh, aku ngojek aja Sat, nggak enak diantar sama kamu terus." Ucap Aruna sebelum Satria menawarkan lagi.


"Ck, santai aja Non. Lagian bahaya Non naik ojek itu. Kemarin sempat ada berita tukang ojek melecehkan penumpangnya, emang Non Aruna nggak tahu?" Tanya Satria.


Sontak Aruna bergindik ngeri, Ia belum pernah mendengar berita seperti itu.


"Ayo Non, aman sama saya." Kata Satria lagi yang akhirnya diangguki oleh Aruna.


Satria tersenyum lebar kala Aruna sudah membonceng dirinya.


Ia segera melajukan motornya pelan, agar dirinya bisa lama bersama Aruna.


"Udah disini aja nggak usah diantar sampai dalam." Kata Aruna saat Satria ikut turun bersamanya.


"Saya cuma memastikan Nona aman sampai tujuan."


"Disini aja Sat."


"Enggak Non, saya tetap akan mengantar sampai atas." Kata Satria memaksa.


"Ck, dibilang disini aja!" Aruna terlihat marah membuat Satria menghentikan langkahnya.


"Ya sudah Non, saya tidak akan mengantar sampai atas."


"Makasih Sat buat tumpangannya." Kata Aruna lalu meninggalkan Satria.


Satria masih berdiri ditempat, Ia memandangi punggung Aruna yang berjalan masuk ke apartemen, tanpa Ia sadari, Satria mengepalkan tangannya.


Aruna memasuki lift untuk sampai diruangannya, didalam lift ada dua orang wanita yang bersamanya sedang mengobrol.


"Iya serem banget tahu nggak sih kalau sampai ada penguntit masuk. Aku udah bilang sama satpam bawah biar lebih jaga lagi keamanan disini," cerita salah satu wanita yang ikut didengar Aruna.


"Tapi masa sih ada penguntit di apartemen sebagus ini, disini udah terkenal bagus kok keamanannya." Kata wanita satunya lagi seolah tak percaya.


"Ck, aku nggak bohong. Semalam kayak ada yang ngotak atik pintu apartemen aku." Kata wanita itu lagi.


"Ya udahlah nggak usah takut, lagian hari ini suami kamu juga pulang kan?" Kata teman wanita itu mencoba menenagkan.

__ADS_1


"Pokoknya kalau sampai ada penguntit aku mau tuntut keamanan di apartemen ini." Ucap wanita itu lalu keluar dari lift sementara Aruna kini sendirian, masih satu lift lagi untuk sampai di apartemennya.


"Kok hari ini ceritanya pada serem ya, Satria cerita kalau ada tukang ojek yang melecehkan penumpangnya, trus mbaknya baru aja juga cerita masalah penguntit." Gumam Aruna merasa takut.


Sampai di apartemennya, Aruna langsung mengunci pintunya, takut terjadi hal yang sama jika sampai ada penguntit yang masuk ke apartemennya.


Aruna segera membersihkan diri lalu berbaring istirahat.


Ia sedikit kesal dengan Bian yang batal menjemputnya jadi memilih tidur untuk melupakan kekesalannya.


Aruna terbangun pukul delapan malam, Ia merasakan perutnya sangat lapar.


Aruna akhirnya beranjak dari ranjangnya pergi ke dapur untuk memasak makan malam.


Sepi... itulah yang dirasakan Aruna saat ini. Jika dirumah Ia memang sering merasakan hal seperti ini dulu namun setidaknya masih ada Mbok Inem yang selalu dirumah sementara disini, tidak ada siapapun selain dirinya sendiri.


Aruna hanya memasak mie instan untuk dirinya sendiri. Selesai makan malam, Aruna duduk disofa menonton televisi sambil sesekali melihat ke ponselnya, berharap Bian menghubunginya atau hanya sekedar chat menanyakan keadaannya.


Hampir satu jam lamanya, tidak ada notif satupun dari Bian membuat Aruna lagi lagi merasa kesal.


Pukul sepuluh malam, Aruna tidak tahu lagi apa yang harus Ia kerjakan untuk menghilangkan kebosanan. Belajar pun juga tidak fokus hingga akhirnya Aruna memilih untuk keluar dari apartemen.


Dengan setelan celana panjang, kaos pendek yang dipadukan dengan cardigan, Aruna nekat keluar malam ini. Tujuannya Ia ingin pulang kerumah  karena Ia benar benar sangat kesepian.


Aruna masuk ke lift, melihat lift hampir penuh. Semua orang tampak ingin turun dan kebanyakan mereka hanya mengenakan piyama.


"Iya penasaran mau lihat kayak gimana wajah penguntitnya." Ucap salah satu orang yang berada di lift.


"Oh apartemen dua ratus tujuh itu ya? Ya gimana lagi yang punya cantik dan juga tinggal sendirian jadi kesempatan orang orang jahat datang." Kata orang disampingnya membuat Aruna terkejut saat mendengar nomor dua ratus tujuh.


"Memang ada masalah apa kak dikamar itu?" Tanya Aruna akhirnya kepo.


"Ada penguntit katanya, sekarang lagi di grebek banyak orang. Makanya ini pada kesana mau lihat orangnya." Jelasnya membuat Aruna mengangguk paham.


Saat semua orang keluar lift, Aruna pun ikut keluar karena Ia juga penasaran dengan apartemen nomor dua ratus tujuh dimana kemarin Ia sempat mengakui apartemen itu miliknya pada Satria.


Dan betapa terkejutnya Aruna saat melihat pria yang digrebek itu adalah Satria.


Satria tampak menunduk malu tidak berani melihat ke arah orang orang yang mengelilingginya.


"Jadi penguntitnya Satria..."


Aruna menatap ke arah Satria dengan tatapan tak percaya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2