MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
112


__ADS_3

Aruna berkacak pinggang, Ia menatap Bian dengan tatapan menyelidik. Setelah perawat itu pergi, Biar tersenyum cengegesan padanya membuat Aruna curiga telah terjadi sesuatu diantara mereka.


"Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?"


"Dia mencoba menggodaku jadi aku mengadu padamu." balas Bian terlihat santai.


"Apa kau yakin hanya seperti itu kak?" Aruna seolah tak percaya.


"Untuk apa aku berbohong, lagipula salahmu sendiri kamu meninggalkan ku tidur lebih dulu jadi perawat itu datang dan menggodaku!" kata Bian membuat mata Aruna melotot.


"Kak Bian menyalahkan ku?" Aruna tak terima.


"Atau mungkin aku yang terlalu tampan jadi membuat perawat itu menyukaiku!" kata Bian penuh percaya diri.


Aruna berdecak, Ia duduk dikursi samping ranjang Bian, "Dan aku akan menjaga pria tampan ini dari godaan ayam nakal!"


Bian tertawa mendengat ucapan Aruna, "Apa kau marah dan cemburu?"


"Tidak, aku hanya sedikit kesal, ya sedikit saja." balas Aruna tak mau mengakui.


"Katakan saja jika cemburu, aku akan menjaga diri lebih baik lagi."


"Jika aku tidak cemburu, Apa kak Bian tidak akan menjaga diri?" curiga Aruna.


"Aku akan memikirkannya lagi."


Aruna melotot, menatap Bian tak percaya, "Kita menikah baru siang tadi dan Kak Bian..."


Bian tertawa,"Aku hanya bercanda sayang, menggodamu sangat menyenangkan."


Aruna berdecak, "Sekarang tidurlah kak , aku akan menjaga Kak Bian disini."


"Aku tidak bisa tidur jika tidak ada yang menemani disini." Bian menepuk nepuk sampingnya, meminta Aruna berbaring disampingnya.


"Tidak mungkin aku tidur disana, ranjang ini sangat sempit, aku bisa saja melukai tangan kak Bian." ungkap Aruna.


"Jadi kau menolak? Ya sudah tidur saja disofa biarkan perawat tadi yang menemaniku disini!"


"Kau benar benar menyebalkan kak!" omel Aruna segera menuruti keinginan Bian, berbaring disamping Bian.


Bian tersenyum puas, kini Ia dan Aruna sangat dekat meskipun tak bisa melakukan apapun yang membuat miliknya menjerit namun setidaknya Bian mendapatkan rasa nyaman.


"Jangan salahkan aku jika aku tak sengaja melukaimu kak." kata Aruna memperingatkan sekali lagi.


"Tidak akan, justru aku merasa nyaman dan semakin mudah menciumi pipimu."


Bian menciumi pipi Aruna berkali kali, "Sedari tadi ini yang ku inginkan tapi kau sama sekali tidak mengerti." gerutu Bian kembali mencium pipi Aruna.


Wajah keduanya semakin dekat, mata mereka bahkan saling memandang satu sama lain hingga akhirnya Bian mendekatkan bibirnya, mereka berciuman.


Satu detik dua detik tiga detik dan ... Bian meringgis kesakitan saat Aruna tak sengaja menyenggol tangannya yang diperban.

__ADS_1


"Sudah ku bilang aku pasti akan menyakitimu kak jika berbaring disini." ucap Aruna merasa bersalah.


"Tidak, aku baik baik saja. Jangan pikirkan lagi. Sekarang tidurlah jika kamu mengantuk." ucap Bian.


Aruna mengangguk menurut karena jujur Ia masih sangat mengantuk. Keduanya sama sama terlelap.


Dini hari, tidur Bian terusik, Ia merasakan tangannya sakit.


Bian membuka matanya dan melihat Aruna menindih tangannya yang diperban.


Bian berdecak, mencoba menggeser Aruna namun tangannya sebelahnya juga sakit, tidak bisa mengangkat tubuh Aruna.


"Sayang bangun, geserlah sedikit jangan seperti ini." pinta Bian dengan suara pelan.


Bukannya geser, Aruna malah berbalik menghadap ke arahnya yang semakin membuat tangannya tertindih. Tangan Aruna bahkan melayang menampar luka dipelipisnya.


"Arghhh, sial! Apa yang kau lakukan!" umpat Bian merasakan sakit diseluruh tubuhnya karena Aruna yang tidak bisa diam.


Bian akhirnya menyerah, membiarkan Aruna melakukan apapun meskipun Ia kesakitan, Bian masih bisa menahannya.


Matanya masih belum bisa terpejam, Bian memilih memandangi wajah cantik istrinya saat terlelap.


Rasanya masih tak menyangka, gadis kecil yang dulu sering Ia buat menangis kini malah menjadi istri yang sangat Ia cintai.


Jatuh cinta pandangan pertama membuat Bian menggilai Aruna.


"Kak Bian tidak tidur?" tanya Aruna saat Ia membuka matanya, melihat Bian tidak memejamkan mata dan malah asyik memandanginya.


Aruna akhirnya sadar jika Ia menindih tangan Bian yang diperban.


"Maa maafkan aku kak." ucap Aruna bergegas bangun merasa sangat bersalah.


Wajah Bian terlihat lega karena Ia sudah menahan sakit sedari tadi.


"Kenapa kak Bian tidak mengatakan padaku jika aku melukai kak Bian?"


"Tidak masalah, aku masih bisa menahannya." kata Bian padahal dirinya hampir menangis jika Aruna tak kunjung bangun.


"Maafkan aku kak, sebaiknya nanti aku tidur disofa saja. Aku tidak mau menyakitimu lagi."


"Ya sebaiknya begitu, ranjang ini sangat sempit dan kau terlihat tak nyaman."


Aruna mengangguk meskipun dirinya merasa nyaman saja seranjang berdua dengan Bian.


Aruna bergegas bangun, Ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu Ia membantu Bian untuk membersihkan diri juga.


Setelah Bian selesai berganti baju, Aruna segera menyuapi Bian sarapan karena sarapan sudah datang.


"Rasanya tidak enak!"


"Lalu apa kak Bian ingin makan sesuatu? Biar aku belikan."

__ADS_1


Bian menggelengkan kepalanya, "Tetaplah disini, aku tidak akan membiarkan mu keluar seharian lagi seperti kemarin." kata Bian.


Aruna tersenyum, "Kemarin saat aku keluar seharian karena mengurus surat pernikahan kita kak, beruntung kau memiliki Papa pengacara yang bisa menyelesaikan surat pernikahan hanya dalam waktu sehari."


"Jangan memujinya, dia pasti akan besar kepala."


"Aku tidak memujinya, memang itu kenyataannya. Apa Kak Bian masih membenci Papa Ryan?"


Bian menggelengkan kepalanya, "Tidak ada alasan untukku membenci atau menyukainya, aku akan bersikap biasa saja." balas Ryan santai.


Aruna tersenyum, Ia segera membersihkan bibir Bian menggunakan tisu setelah selesai sarapan.


"Sekarang minum obatnya." kata Aruna membawa gelas dan beberapa butir obat.


"Nah kalau yang ini aku mau mengakui." ucap Bian selesai minum obat.


"Mengakui apa kak?"


"Mengakui jika aku beruntung memiliki istri sepertimu." ungkap Bian membuat pipi Aruna memerah malu.


"Jangan terlalu memuji ku kak!"


"Memang kenyataannya seperti itu."


"Baiklah, sekarang Kak Bian istirahat, aku akan duduk disana sambil mengerjakan tugas online ku."


Bian mengangguk setuju, Ia kembali berbaring menghadap ke arah Aruna yang kini serius menatap layar laptopnya.


Sesekali Bian mengulas senyum saat melihat Aruna menggerutu karena pusing dengan tugasnya.


Pintu terbuka, Anneta dan Ryan tampak memasuki ruang rawat Bian.


"Bagaimana keadaanmu putraku?" tanya Ryan.


"Baik."


"Tidak ada keluhan apapun?" tanya Ryan lagi penuh perhatian.


"Keluhanku karena kedatanganmu." balas Bian dengan tatapan malas.


Hari ini Bian hanya ingin berduaan dengan Aruna tidak ingin diganggu siapapun termasuk kedua orangtuanya itu.


"Mama dan Papa datang mengantar sarapan untuk Aruna dan juga ada yang ingin kami sampaikan." kata Anneta.


"Sampaikan apa?" Bian tampak penasaran.


"Minggu depan kami akan menikah."


Bian terkejut, "Apa kalian tidak bisa bersabar sebentar? Aku dan Aruna bahkan baru menikah kemarin dan kalian sudah mau menyusul?" tanya Bian terlihat tak suka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2