
David memasuki kamarnya, menutup pintu sekeras mungkin agar semua orang tahu jika Ia sedang marah saat ini.
David menjambak rambutnya sendiri merasakan kepalanya berdenyut nyeri.
"Arghh, sial! Semua yang sudah ku lakukan selama ini sia sia!" Umpat David merasa sangat kesal dan kecewa apalagi Rivalnya sekarang sudah kembali lagi.
Ya Ryan adalah rivalnya selama ini karena Anneta masih sangat mencintai pria itu.
Berkali kali David mendengar Anneta menyebut nama Ryan pada saat Anneta terlelap terkadang Anneta juga salah memanggil namanya dan lagi yang membuat David tak terima saat mereka bercinta, Anneta bahkan menyebut nama Ryan lagi bukan dirinya.
Benar benar membuat David muak hingga akhirnya Ia memilih menduakan Anneta, mencari hiburan diluar sana bersama para gadis yang mungkin bisa mencintainya namun ternyata mereka sama saja, hanya menginginkan uang David dan saat David tak memiliki apapun, mereka pergi meninggalkan David. Sungguh sial sekali bukan hidup David.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku benar benar tak mau hidup miskin lagi." Gumam David merasa sangat frustasi.
Sementara diluar, Anneta dan Ryan berada di taman belakang, keduanya duduk disana menikmati indahnya bunga bunga yang bermekaran.
Ryan menatap wanita cantik yang duduk disebelahnya itu. Anneta, wanita yang sangat Ia cintai sampai saat ini bahkan membuatnya tidak menikah dengan siapapun.
Anneta terlihat hanya diam, menatap ke arah depan dengan pandangan kosong.
Ryan mencoba mengenggam tangan Anneta yang langsung membuat Anneta terkejut, "Apa yang kau pikirkan?"
Anneta terlihat memaksakan senyum, "Aku tidak memikirkan apapun."
"Bohong, kau selalu memikirkan secara berlebihan setelah mendengar ucapan seseorang."
"Kau masih ingat?"
"Tentu saja masih, aku selalu mengingat apapun tentang dirimu." Ucap Ryan membuat senyum Anneta kembali muncul namun kali ini senyuman Anneta terlihat lebih tulus.
"Aku hanya merasa kasihan dengan David karena selama ini dia sudah tersiksa melihat aku yang tidak pernah mencintainya."
Ryan berdecak, "Tidak perlu kasihan, dia memang pantas mendapatkan itu lagipula dia sudah merusak masa depan mu dan masa depan kita, apa kau lupa?"
Anneta menggelengkan kepalanya, "Ya aku ingat, tetapi..." Ryan mengenggam tangan Anneta lebih erat membuat Anneta akhirnya diam tidak melanjutkan ucapannya.
"Dia sudah menghancurkan hubungan kita jadi jangan merasa bersalah karena dia pantas mendapatkan itu semua."
Anneta mengangguk, ingin rasanya Ia memeluk Ryan, meminta ketenangan disana namun Ia merasa malu mengingat usia mereka sudah bukan anak muda lagi.
Namun tiba tiba, Ryan menarik tubuh Anneta dan membawanya ke pelukan.
__ADS_1
"Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan mu disakiti oleh siapapun." Ucap Ryan yang langsung membuat Anneta terharu, ingin menangis namun Ia tahan.
Dibalik pintu dapur, David melihat ke arah keduanya. Tangannya mengepal tak terima melihat kisah cinta Anneta dan Ryan tampak terulang kembali.
"Kau sudah berjanji akan mengajak ku liburan." Tagih Anneta.
Ryan tersenyum, mengelus kepala Anneta, "Tunggulah sampai kau benar benar sembuh."
"Aku sudah sembuh, sudah bisa diajak liburan." Kata Anneta penuh semangat.
Ryan terkekeh geli, "Jika masalah traveling saja kau sangat bersemangat."
"Lagipula Bian dan Aruna juga mengatakan jika aku harus liburan setelah keluar dari rumah sakit." Ungkap Anneta.
"Bian terlihat tak suka padaku, apa dia akan mengizinkan jika kita liburan bersama?"
"Tentu saja dia harus mengizinkan karena jika tidak aku juga tidak akan memberi restu pada hubungannya."
Ryan tertawa, "Kau sangat kenakanan."
Anneta tersenyum malu, "Aku melakukan ini demi kita."
"Aku tidak menyangka kamu dan Bian saling mengenal."
Ryan tersenyum, selama ini Ia memang menyelidiki tentang Anneta bahkan Ia juga tahu penyebab orangtua Aruna meninggal namun Ia masih diam, belum waktunya membuka semuanya dan masalah Bian juga Aruna, sebelum mereka bertemu dikedai bubur, Ryan juga sudah tahu jika Bian adalah putra Anneta sementara Aruna putri dari sahabatnya.
Ryan memang mengoda Bian, Ia hanya ingin tahu sebesar apa Bian mencintai Aruna dan sudah sangat jelas jika Bian sangat mencintai Aruna melihat keposesifan Bian.
"Kami tak sengaja bertemu dikedai bubur. Wajah Bian mirip dengan mu sementara Aruna sangat mirip dengan Rega bahkan senyumnya mirip sekali dengan Amira, aku langsung mengenal mereka saat pertama bertemu."
Anneta berdecak, "Sudah pasti kau menipu kan? Kau pasti sudah menyelidiki mereka sebelum bertemu mereka."
Ryan tertawa keras karena apa yang dikatakan Anneta benar, Ia tidak akan bisa menipu Anneta.
Anneta berdecak, "Kau masih sama saja."
"Tentu saja aku masih orang yang sama. Masih mencintaimu seperti dulu." Ucap Ryan yang langsung membuat pipi Aruna memerah malu.
....
Bian tidak menuju ke kantor melainkan Ia menuju ke apartemen Aruna. Ia hanya ingin memastikan keadaan Aruna baik baik saja.
__ADS_1
Bian sampai di apartemen, terlihat Aruna dan Nysa asyik menikmati sarapan mereka yang hanya roti tawar dan segelas susu.
"Aku membawakan bubur untuk kalian." Ucap Bian meletakan bungkusan plastik dimeja.
"Wah kebetulan sekali kak, aku masih lapar karena hanya makan dua lembar roti." Keluh Nysa.
"Ya makanlah yang banyak, ajak temanmu yang sedang marah padaku makan juga." Ucap Bian sambil menatap ke arah Aruna yang masih saja mengacuhkannya.
"Aku sudah kenyang." Kata Aruna lalu beranjak dari duduknya dan kembali memasuki kamar.
Nysa tampak melonggo menatap punggung Aruna, "Aneh sekali, padahal dia baru saja bilang jika kelaparan dan baru menghabiskan dua lembar roti, bagaimana Ia bisa kenyang secepat itu?"
Bian tersenyum mendengar ucapan Nysa, "Habiskan buburmu, aku akan menyusul Aruna ke kamar."
Nysa mengangguk, menatap punggung Bian yang kini berjalan memasuki kamar, Ia langsung saja tersenyum nakal, "Apa mereka akan bercinta didalam sana?"
Bian menutup pintu kamar, Ia melihat Aruna berbaring sambil memainkan ponselnya.
"Menghubungi siapa?" Tanya Bian melihat Aruna begitu serius menatap layar ponselnya sambil sesekali mengetik.
Bian berdecak kesal karena Aruna tak meresponnya, Ia segera merebut ponsel Aruna dan melihat jika Aruna sedang bermain gamenya.
Aruna semakin kesal, Ia akhirnya memunggungi Bian, tak ingin melihat Bian.
"Sampai kapan kau akan marah seperti ini?"
"Sampai aku bisa kembali kerumah lagi."
Terdengar helaan nafas Bian, "Sabarlah sebentar lagi sayang." Balas Bian mengingat Ia belum bisa menemukan pelaku yang sudah memasuki kamar Aruna.
Aruna berbalik, menatap Bian dengan tatapan kesal, "Setidaknya katakan padaku apa yang terjadi jangan seperti ini."
Bian kembali menghela nafas panjang, Ia segera berdiri dari duduknya, "Aku harus ke kantor sekarang." Kata Bian meninggalkan Aruna begitu saja membuat Aruna semakin kesal.
Bian sempat menatap wajah kesal Aruna sekali lagi sebelum Ia menutup pintu kamar.
Bukan Bian tidak ingin mengatakan pada Aruna, Bian hanya tidak ingin Aruna menjadi panik atau mungkin ikut menyelidiki yang bisa membahayakan keselamatan Aruna sendiri. Bian cukup tahu seperti apa sifat Aruna.
Apapun yang dilakukan Bian demi keselamatan Aruna sendiri.
Bersambung...
__ADS_1