
Aruna kembali berdecak setelah panggilan dimatikan sepihak. Aruna memasukan ponsel ke dalam tas.
"Apa Bian selalu seperti itu?" Tanya David yang kini sudah melajukan mobilnya meninggalkan kampus.
"Ya Pa, dia selalu saja posesif seperti itu."
David tertawa, "Mungkin karena Kakakmu ingin menjagamu."
"Aruna tahu Pa, tapi kan Aruna juga butuh waktu bermain sama temen Aruna, sama Adam," ungkap Aruna menyebut nama Adam yang langsung membuat David mengepal, tidak menyangka dia akan melakukan hal jahat pada putri polosnya yang sangat Ia sayangi itu.
David mengingat ucapan Bian saat makan siang waktu itu yang mengatakan jika Adam bukanlah pria baik, dia pria brengsek namun semua orang tidak mempercayai Bian waktu itu dan sekarang David baru percaya jika Adam tidak sebaik kelihatannya.
"Seneng deh Papa bisa jemput Aruna lagi setelah sekian lama Papa selalu sibuk." Ungkap Aruna dengan senyum mengembang.
"Mumpung Papa lagi free jadi Papa jemput putri Papa yang cantik ini aja."
"Coba ada Mama, wah tambah seneng Runa." Kata Aruna.
"Kamu pasti kesepian ya selalu ditinggal Papa sama Mama?" Tanya David yang menyadari jika selama ini Ia memang jarang ada waktu dengan putrinya itu.
"Kesepian Pa, tapi aku tahu kok Papa sama Mama kerja juga cuma buat aku."
David tersenyum, mengelus kepala Aruna, jika saja Aruna mengetahui tentang perselingkuhannya, mungkin Ia tidak akan melihat Aruna seceria ini.
David menghentikan mobilnya disebuah restoran, Ia ingin mengajak Aruna makan siang lebih dulu.
"Yeayy makan siang bareng Papa." Ucap Aruna begitu senangnya.
David mengulas senyum geli melihat tingkah kekanakan Aruna.
Keduanya masuk dan segera memesan makanan. Menunggu makanan datang, mata Aruna tak sengaja melihat Adam memasuki restoran sendirian.
"Eh..."
Mata keduanya bertemu, Adam tersenyum melihat Aruna, Ia juga memberikan senyuman untuk David namun tidak digubris oleh David.
"Kok bisa kebetulan gini ya." Kata Adam yang kini sudah mendekati Aruna.
"Aku juga nggak nyangka bisa ketemu disini," Aruna terlihat senang.
"Siang Om..." sapa Adam pada David.
David hanya tersenyum tipis lalu memilih memainkan ponselnya.
"Makan siang bareng aja." Tawar Aruna pada Adam. "Nggak apa apa kan Pa?"Aruna menatap David penuh harap.
__ADS_1
David hanya mengangguk, sesekali David menatap Adam yang tersenyum mengejek ke arahnya membuat David sangat marah karena Ia harus menuruti perintah bocah ingusan macam Adam.
"Mau pesen apa?" Aruna memberikan buku menu pada Adam.
"Samain kayak kamu aja."
"Oke deh." Aruna memberikan pesanan tambahan pada pelayan restoran.
"Hari ini aku nggak liat kamu dikampus?" Tanya Aruna yang memang tidak melihat keberadaan Adam Ia sampai mencari ke kelas Adam.
"Iya, ada acara sosial dipanti jadi aku nggak masuk kuliah hari ini." Kata Adam sambil melirik ke arah David yang juga melirik tajam le arahnya.
Adam tersenyum sementara David menatap penuh kebencian. Benar benar pandai sekali berakting.
"Salut sama kamu yang peduli banget sama mereka." Puji Aruna.
"Jangan terlalu memuji, aku tidak sebaik itu sayang." Kata Adam tersenyum mengejek ke arah David membuat David benar benar muak dan tidak tahan mendengar bualan Adam.
"Papa balik kantor dulu ya, kamu pulang dianter sama Adam." Pamit David tampak berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Loh, tapi papa belum makan." Protes Aruna karena makanan yang dipesan saja belum datang dan David pergi begitu saja.
"Kamu aja yang makan ya, Papa buru buru." Kata David mengelus kepala Aruna dan segera pergi meninggalkan Aruna.
Aruna terlihat bingung menatap ke arah David yang kini sudah keluar dari restoran.
"Aneh banget sih Papa." Gumam Aruna masih tidak mengerti dengan sikap Papanya itu.
"Mungkin Om ada kerjaan mendadak jadi langsung pergi." Kata Adam lagi yang akhirnya diangguki oleh Aruna.
Makanan pesanan mereka datang, Aruna dan Adam menikmati makanan mereka.
"Punya Papa gimana nih? Aku udah kenyang kak." Keluh Aruna melihat makanan yang dipesan oleh Papanya masih utuh belum ada yang menyentuh.
Tanpa mengatakan apapun, Adam memanggil salah satu pelayan restoran, "Mbak bisa minta tolong, ini dibungkus saja." Pinta Adam yang langsung diangguki pelayan restoran.
"Sayang banget kalau dibuang." Kata Adam yang diangguki Aruna.
Keduanya keluar karena bill sudah dibayar oleh David. Tanpa disangka makanan yang tadi dibungkus oleh Adam diberikan pada seorang pengemis yang ada didepan restoran.
"Buat makan siang pak." Kata Adam sambil mengulurkan makanan pada pengemis yang duduk itu.
"Terimakasih Aden, terima kasih banyak." Ucap pengemis itu tampak senang mendapatkan makanan dari Adam.
Adam dan Aruna segera memasuki mobil. Aruna tak henti hentinya memandangi Adam. Ia merasa sangat kagum dengan kekasihnya yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi.
__ADS_1
"Ngapain sih diliatin terus?" Tanya Adam tampak salah tingkah karena Aruna menatap ke arahnya.
"Salut aja sama Kakak, masih muda tapi jiwa sosialnya tinggi banget. Kakak baik banget sama orang orang yang bahkan banyak yang nggak peduli sama mereka."
Adam tersenyum, "Karena aku tahu rasanya nggak punya Run jadi setiap ada aku lebih mikirin mereka dari pada aku sendiri." Ungkap Adam membuat Aruna semakin bangga.
"Ck, kayak gini dibilang brengsek, dasar kak Bian nyebelin." Batin Aruna yang mendadak ingat dengan ucapan Bian yang selalu mengatakan jika Adam pria brengsek.
"Mau mampir ke apartemen dulu nggak? Nanti aku kenalin sama Adik ku." Ajak Adam.
Dan tanpa berpikir panjang, Aruna mengiyakan permintaan Adam, "Boleh deh kak."
Sejujurnya Aruna penasaran, Nysa mengatakan jika Adam tidak memiliki adik membuat Aruna ingin tahu siapa adik yang di maksud Adam itu.
Aruna memasuki apartemen Adam, terlihat rapi dan bersih meskipun ukuran apartemen sangat kecil.
"Duh ternyata adik aku pergi." Ungkap Adam terlihat kecewa.
"Yahh padahal mau kenalan, ya udah kak kita balik aja kalau gitu." Kata Aruna yang merasa tak nyaman jika harus berada di apartemen berdua dengan Adam.
"Eh kok buru buru sih, duduk dulu aku bikinin minum." Kata Adam memegang bahu Aruna menuntunya untuk duduk namun seketika Aruna menghindar dan duduk sendiri.
Aruna sangat tidak nyaman disentuh oleh pria meskipun itu Adam pria yang Ia sukai yang kini menjadi kekasihnya.
"Minum dulu Run." Pinta Adam menyodorkan segelas jus jeruk untuk Aruna.
Aruna tak langsung meminum, Ia seolah ragu untuk minum.
"Minum dulu Run." Pinta Adam yang akhirnya diangguki Aruna.
Aruna meneguk sedikit jus jeruknya, lalu Ia taruh dimeja.
"Kok cuma sedikit? Habisin dong sayang." Kata Adam yang kini semakin dekat dengan Aruna bahkan Adam mulai memegangi pipi Aruna membuat Aruna terkejut dan langsung menyentak tangan Adam.
"Kenapa? Bukankah sekarang kita berpacaran jadi aku boleh dong megang pipi kamu?" Bisik Adam membuat Aruna merasakan perasaan aneh.
Adam mengelus bibir Aruna, meskipun tangan Aruna menyingkirkan tangan Adam.
Adam mendekatkan bibirnya ingin mencium Aruna, "Kak jangan..." pinta Aruna menutupi bibirnya.
Adam kesal dan menyingkirkan tangan Aruna namun sekuat tenaga Aruna menutupi bibirnya hingga...
BRAKKK...
Suara pintu yang didobrak mengejutkan keduanya.
__ADS_1
Bersambung...