MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
25


__ADS_3

Bian tidak bisa konsen bekerja, sebelum berangkat Bian melihat wajah Aruna yang pucat, Aruna sedang sakit.


Bian sudah memanggil dokter dan meminta Aruna tidak pergi kekampus agar bisa istirahat dirumah namun tetap saja Ia sangat khawatir dengan keadaan Aruna.


"Kalau memang ingin pulang, pulang saja pak dari pada ada disini tapi pikiran dirumah, biar saya handle semua pekerjaan. Toh hari ini sudah tidak ada lagi pertemuan dengan klien." Kata Sadam melihat wajah Bosnya gelisah sedari tadi.


"Emang nggak apa apa Dam kalau gue balik awal lagi?"


Sadam tertawa, "Nggak berangkat aja juga nggak apa apa pak, kan sudah jadi bos sekarang!"


"Ck, apa sih Dam, nggak ada bos disini. Kita yang bangun usaha ini bareng jadi bukan gue aja yang Bos tapi Elo juga?" Kata Bian merasa tidak enak hanya dirinya yang dianggap bos.


"Jadi berhenti manggil gue pak, geli dengernya." Kata Bian yang kembali membuat Sadam tertawa.


Bian keluar dari kantor, memasuki mobilnya. Sebelum melajukan mobilnya, Bian menelepon Aruna, "Gue pulang sekarang, Lo pengen dibeliin apa?"


"Emm apa ya..." suara Aruna terdengar sedang berpikir.


"Satu detik atau nggak jadi dibeliin!"


"Es dawet sama siomay kak!"


"Eh bocah, Lo tu lagi sakit. Bisa bisanya minta es dawet!"


Aruna tertawa, "Yang sakit kan kepalanya kak, perutnya nggak sakit kok!"


"Nggak ada es, yang lain aja!"


"Maunya itu kalau nggak mau beliin ya udah nggak usah aja!"


Bian langsung saja mengakhiri panggilan, Ia merasa sangat kesal dengan Aruna yang keras kepala dan seenaknya.


Meskipun begitu, Bian tetap menuruti permintaan Aruna, membelikan es cendol dan siomay digerobak abang abang yang ada didekat taman kota.


Bian sedang menunggu pesanannya, Ia terkejut kala seseorang menepuk bahunya, Bian berbalik dan seketika wajahnya berubah malas saat melihat siapa yang menepuk punggungnya. gadis genit itu lagi batin Bian.


"Ketemu lagi kan kita, jangan jangan jodoh." Kata gadis itu penuh percaya diri padahal Bian saja lupa dengan nama gadis itu.


"Lagi beli siomay?" Tanya Keisha sok ramah.


"Menurut Lo?" Sinis Bian malas menanggapi Keisha.


"Mau makan disini? Gue temenin kalau mau makan disini." Tawar Keisha.


"Enggak gue harus pulang soalnya ini beliin istri gue yang lagi ngidam." Kata Bian yang membuat Keisha terkejut.


"Lo udah ..."

__ADS_1


Bian mengangguk dan memperlihatkan jari manisnya dimana ada cincin warna putih yang melingkar disana, "Gue udah married." Kata Bian membayar pesanannya lalu pergi meninggalkan Keisha yang masih melonggo tak percaya.


"Mau pesen neng?" Tanya Abang penjual siomay pada Keisha yang masih berdiri disana.


"Nggak!" Keisha segera berbalik meninggalkan gerobak siomay dan memasuki mobilnya.


"Anjir malu banget gue, dia udah married ternyata." Gumam Keisha lalu memukul kepalanya disetir mobil berkali kali.


"Tapi tunggu, banyak lagi yang udah punya istri tapi masih ngelirik cewek diluar." Guman Keisha lagi lalu tersenyum jahat.


Sementara itu Bian tampak tersenyum puas sudah mengerjai gadis genit itu. Bian menatap cincin yang melingkar dijarinya, cincin couple yang juga dipakai oleh Aruna ternyata sangat berguna untuknya disaat seperti ini.


Bian sampai dirumah, membawa pesanan Aruna ke dapur.


"Pindahin ke piring sama gelas ya Mbok." Pinta Bian pada Mbok Inem.


"Siap Den."


Setelah siap, Bian membawa nampan berisi sepiring siomay dan segelas es dawet ke kamar Aruna dimana Aruna asyik ngemil sambil menonton televisi.


"Gila nih bocah, dikantor gue khawatir setengah mati ee ternyata asyik ngemil sama nonton!" Batin Bian kesal dengan dirinya sendiri.


"Apa itu kak?" Tanya Aruna saat Bian membawa masuk nampan.


"Wahhh es dawet sama siomay." Kata Aruna terlihat senang saat melihat Bian membelikan pesanannya.


"Udah, tadinya aku pikir hamil kak!"


Uhuk uhuk, Bian langsung saja tersedak mendengar ucapan Aruna.


"Eh bocah, gimana bisa Lo ngomongin hamil!"


"La kemarin kak Bian nyium Runa, siapa tahu langsung hamil."


Bian hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan kebodohan adiknya itu.


"Run, Lo nggak pernah nonton blue film?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Blue film itu apa kak?" Aruna terlihat bingung.


Bian tersenyum geli, "Beneran polos banget bini gue!" Batin Bian.


"Apa sih kak malah senyum senyum, nggak jelas banget."


"Habisin dulu deh makanan Lo, nanti kalau udah selesai gue liatin blue film biar otak Lo tu paham gimana caranya bikin anak." Kata Bian menggelengkan kepalanya lalu keluar dari kamar Aruna.


Setelah menghabiskan siomay dan es dawetnya, Aruna pergi ke kamar Bian karena tak sabar ingin melihat blue film bersama Bian.

__ADS_1


"Kak..."


Aruna memasuki kamar Bian namun kosong tidak ada Bian disana. Terdengar gemericik air dikamar mandi menandakan Bian sedang mandi.


Pintu kamar mandi terbuka, Aruna terkejut melihat Bian keluar hanya terlilit handuk dipinggangnya sementara bagian dadanya polos tidak tertutup apapun.


"Gila, ternyata kakak keliatan Cool kalau lagi telanjang gini." Suara Aruna membuat Bian terkejut karena tak menyadari jika Aruna sudah duduk diranjangnya.


"Heh ngapain Lo disini?" Buru buru Bian segera mengenakan baju.


"Katanya kakak mau ngajak nonton blue film." Kata Aruna dengan polosnya.


Bian kembali menggelengkan kepalanya, Ia benar benar masih tidak percaya dengan kepolosan Aruna.


"Ayo kak, udah penasaran ini." Kata Runa begitu semangatnya.


"Jangan nyesel Lo ya!"


Bian mengambil ponselnya, Ia mengunduh satu blue film durasi tiga menit. Selesai mengunduh, Bian duduk disamping Runa.


"Lo lihat nih cara bikin anak, dijamin ampun langsung jadi." Kata Bian memberikan ponselnya pada Aruna.


Baru saja sedetik Aruna melihat adegan diblue film, Aruna langsung membanting ponsel Bian diranjang.


Mendadak hatinya berdesir dan merasa tubuhnya geli.


Bian tertawa, "Tonton sampai selesai."


"Nggak!" Aruna segera berdiri dan hendak keluar namun Bian menahan tangannya.


"Kenapa pengen Lo?"


Wajah Aruna langsung memerah malu karena mendadak Aruna mengingat ciuman Bian kemarin siang, ciuman yang brutal namun membawa kenikmatan yang tak terlupakan.


"Dasar mesum!" Aruna melepaskan cekalan tangannya lalu keluar dari kamar Bian membuat Bian tertawa terpingkal pingkal.


"Dasar cewek aneh, tadi minta sendiri sekarang ngatain mesum."


Aruna memasuki kamarnya tak lupa mengunci kamarnya agar Bian tidak bisa masuk dan mengejeknya lagi.


Deg... deg... deg... jantung Aruna berdegup sangat kencang. Adegan blue film yang baru saja Ia lihat mengingatkan Aruna pada ciuman pertamanya dengan Bian.


"Sadar Run, sadar. Dia kakak elo!" Ucap Aruna sambil menepuk nepuk pipinya.


"Meskipun dia bukan kakak kandung." Ucap Aruna lagi lalu tertunduk lesu.


Bersambung...

__ADS_1


Jangann lupa like vote dan komenn


__ADS_2